
Stonehenge adalah sebuah situs purba yang terletak di Salisbury, Inggris. Situs ini berupa batu-batu yang ditumpuk hingga membentuk lingkaran jika dilihat dari atas, dan tujuan pembangunannya tidak diketahui. (Source: Google)
"Gate ungu muncul tepat di tengah-tengah Stonehenge, membuat mitos kalau Stonehenge dibangun oleh alien itu terasa benar adanya." seorang Hunter yang mengendarai mobil berkata, dan aku mengangguk saja.
Menurut buku sejarah yang kubaca di rumah ibuku kemarin malam, Stonehenge diperkirakan dibuat dengan mendirikan dua batu besar secara bersebelahan, kemudian membuat gunungan tanah di sekitarnya, lalu batu besar lainnya ditarik memakai tali menggunakan banyak orang hingga ada di puncak gunungan tanah itu. Setelah itu, gunungan tanah itu dirubuhkan. Begitu seterusnya hingga membentuk lingkaran.
Batu-batu besar itu diambil di gunung dekat sana, yang menjadi pertanyaan bagaimana caranya orang-orang di masa itu, dengan peralatan seadanya, berhasil membuat bangunan yang amat besar, yang mungkin manusia zaman sekarang akan kesulitan membuatnya.
"Tapi dengan kedatangan Monster dan munculnya gate disini, entah kenapa ada banyak sekali Hunter yang berspekulasi kalau Stonehenge sebenarnya dibangun dengan bantuan Monster dari luar dunia ini..." tambah Hunter itu.
Hei, hei, hei! Kenapa teorinya liar sekali?! Darimana coba kalian berpikir begitu?!
Setelah beberapa menit bergerak, kami akhirnya sampai di dekat Stonehenge, dimana kami memilih berhenti di tepi jalan, sementara aku mencoba menganalisis situasi.
"Menurut Sir William, aku hanya ditugaskan mengantarkan anda kemari, tapi sepertinya saya memang harus membantu..." ujar Hunter yang mengendarai mobil, "Di dekat sini ada kamp yang berisi para Hunter..."
"Tidak, aku saja sudah cukup..." aku menggelengkan kepalaku dan membuka pintu mobil, "Kau tunggu saja disini, aku akan menghubungimu jika aku memerlukan bantuan..."
Tapi sepertinya aku tidak memerlukan bantuan deh...
Aku keluar dari mobil kemudian menyipitkan mataku, aku bisa melihat bentuk-bentuk Monsternya.
Serigala, laba-laba, kalajengking, beruang, dan beberapa burung yang bertengger di batu paling atas, mereka semua memiliki level 60 sampai 70, aku bisa mengatasi mereka sendirian.
Aku berlari melewati jalanan, sambil menarik kedua pedangku, aku mencoba memperkirakan situasi yang akan terjadi selanjutnya.
Gate ungu tidak pernah dijelaskan oleh kakekku, jadi aku sedikit tahu mengenai gate satu ini, selain kenyataan bahwa Gate ini pernah muncul dua kali di dunia di hadapan orang-orang, dan satu kali di hadapanku.
Aku agak merinding saat memikirkannya saja...
Aku berhenti berlari di dekat Stonehenge, di dekat batu yang terpisah jauh dari Stonehenge sambil mengatur napasku.
Untuk pertama kalinya, aku bertarung di bangunan purba, di dekat gate pula, dan rasanya aku sedikit gugup.
Sebentar, tapi aku kan sudah pernah bertarung di dekat Gate, saat di Kanada, seharusnya begini bukan masalah bagiku...
__ADS_1
"Oi!" aku berteriak, dan sontak saja, semua Monster itu menoleh ke arahku.
"Yo?" oke, satu hal yang pasti aku sedikit menyesal telah memanggil mereka...
Mereka bersuara keras sebelum mereka bergerak bersama-sama, hingga aku melihat mereka seperti melihat ombak besar yang siap menghancurkan apapun yang ada di depannya.
Aku menyalakan pemanas di kedua pedangku kemudian bergerak maju dengan cepat.
Monster-monster berbentuk beruang mengayunkan cakarannya, dan aku menghindarinya dengan mudah kemudian melancarkan tebasan yang langsung merobek perut lima Monster beruang yang ada di dekatku. Organnya terburai keluar dari perutnya, dan aku melompat mundur.
Saat aku melompat mundur, aku merasakan ada serangan dari belakang, dan aku berputar sambil menebaskan pedangku, memenggal serigala-serigala yang ada di belakangku.
Pertarungan terasa mudah, aku membantai mereka tanpa ampun, dan perlahan kedua pedangku diselimuti darah berwarna hitam, kedua cakarku yang berwarna merah mulai diselimuti darah berwarna hitam.
Tak terhitung Monster yang sudah kuhabisi, dan selama itu... Levelku belum naik sedikitpun!
[Level up!]
[Level up!]
[Hadiah: All Stat+30]
[Maaf, ada kesalahan...]
Aku melompat mundur sejauh-jauhnya, menyarungkan kedua pedangku kemudian mengarahkan tangan kananku ke depan, lalu aku menekan satu tombol di pergelangan tanganku.
Ada dua tombol di Cakar Ayam Api, yang pertama tombol untuk menyalakan pemanas di seluruh jari-jarinya, dan yang kedua untuk menyalakan penyembur api yang ada di telapak tangan. Aku menyalakan penyembur api di Cakar Ayam Api kali ini, tapi sejujurnya aku jarang bertarung memakai Cakar Ayam Api yang pemanasnya menyala sih...
Semburan api dahsyat keluar dari telapak tanganku, dan aku menyalurkan Staminaku ke Cakar Ayam Api, hingga semburannya semakin besar.
Semburan api semacam ini disebut sebagai Energy Attack, yang mana tidak akan bisa ditahan oleh Monster manapun, kecuali Lord dan Emperor.
Monster juga bisa melepaskan Energy Attack, dan menahannya diperlukan perisai dan armor super tebal yang memiliki ketahanan yang amat tinggi terhadap berbagai serangan apapun itu.
Aku melihat ke depan, Monster-monster kesulitan bergerak maju, mereka tertahan di tempat mereka dan tak bisa menerobos maju.
__ADS_1
Aku yakin pada jumlah Staminaku, yang tidak akan habis kalau dipakai untuk menyemburkan api sekecil ini.
Perlahan, beberapa Monster mulai bergerak mundur, dan aku menghentikan api di telapak tanganku kemudian menarik kedua pedangku lagi.
Monster-monster itu menatapku sekilas, sebelum mereka bergerak maju bersamaan.
Aku menyalakan pemanas di kedua pedangku kemudian mengangkat Pedang Api Hitam ke depan lalu berseru, "Maju kalian!"
***
"Sial, aku benar-benar tidak melihat celah dimana aku bisa membantu!" seorang Hunter di dalam sebuah mobil menggigit bibirnya sendiri, "Bagaimana ini? Aku tidak mungkin meninggalkan Sir Langit sendirian disana..."
"Tapi kalau aku tetap disini, aku mungkin akan diserang Monster..." ia menoleh keluar jendela, "Kalau aku tetap bergabung dengan Sir Langit, aku akan menjadi beban disana..."
Berbagai kemungkinan yang hasilnya buruk selalu muncul di kepalanya, hingga akhirnya ia memilih satu keputusan yang memaksanya harus meninggalkan bocah Hunter rank SS itu bertarung sendirian di Stonehenge...
"Arrggghh!" ia menyalakan mobilnya kemudian melajukannya menjauh dari Stonehenge, "Aku akan meminta bantuan di kamp saja!"
***
"Apa?!" seorang laki-laki berpakaian tentara memukul meja, "Sir Langit ada di Stonehenge sendirian?!"
"Itu benar, Sir Morgan!" ujar satu orang lainnya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?!"
"Membantunya! Dia bertarung di dekat Gate yang sejak tadi saya perhatikan terus mengeluarkan Monster! Sekalipun ia adalah Hunter rank SS, dia tetaplah manusia dan akan kesulitan mengatasi Gate itu sendirian!"
"Terlebih Gate itu adalah Gate ungu, kelas Gate yang belum berhasil Hunter rank SS Madam Jenny Anderless analisis tingkat berbahayanya!"
"Kurasa kau benar, kita harus pergi membantunya!" Hunter berpakaian tentara berkata, "Siapkan pasukan, kita akan bergerak ke Stonehenge secepatnya!"
Fun fact: Setelah aku baca-baca di google, dan setelah sedikit meneliti kemungkinan cara kerja setrika, aku baru sadar kalau prinsip dasar cara kerja senjata api kurang lebih mirip seperti setrika!
Setrika memerlukan energi listrik yang kemudian diubah menjadi energi panas yang kemudian disalurkan ke plat logam, begitu juga dengan senjata api yang memerlukan gas panas untuk menghasilkan panas yang kemudian disalurkan ke logam Flaming hingga panas yang diinginkan.
__ADS_1
Jadiii, inspirasi untuk senjata api ada di sekitar kita, bahkan sering dipakai :)