Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
268. Perpecahan di RedWhite


__ADS_3

"Apa alasanmu meninggalkan Rei sendirian di hutan?" Vina menatap Senja tajam, "Dia adalah kartu as kita, dan kau meninggalkannya sendirian di hutan?!"


"Aku tak punya pilihan! Musuh terlalu kuat dan ia melemparku menjauh, dan saat aku mencoba bergerak, aku tak menemukannya!" Senja berteriak, terdengar kalau ia berusaha keras meyakinkan Vina.


"Kau bahkan tak bisa membantu Rei disaat ia kesulitan, medali rank SS tak cocok dikenakan olehmu..." Vina mendekat dan tangannya bergerak meraih medali tujuh bintang di dada kiri Senja, tetapi Senja menahan tangan Vina dan menatapnya tajam.


"Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku tak pantas menjadi Hunter rank SS? Dan apakah jabatan wakil ketua RedWhite bisa memberimu kewenangan untuk mencabut peringkatku?" Senja menatap Vina tajam, "Hanya karena aku gagal membantu Rei?"


"Menurut aturan memang begitu, tetapi pengecualiannya adalah aku berhak mengambil tugas ketua jika ketua sebenarnya tak berada di tempat, jadi aku berwenang mencabut peringkatmu dan menurunkanmu ke rank S." Vina mengepalkan tangannya.


Di situasi begini memang sulit untuk tetap mempertahankan ketenangan sendiri, bahkan jika Langit menyuruhnya begitu, Vina akan kesulitan tenang dan jika ia tak mampu mempertahankan ketenangannya, ia hanya akan membuat perpecahan di dalam komando RedWhite.


"Jadi kau sekarang tampil seperti ketua, ya? Kalau begitu, kenapa kau tak mengikuti rencana Langit dan malah mengirimku bersama Rei ke hutan ditemani hanya dua puluhan Hunter saja?" Senja melepas tangan Vina dan melipat tangannya, "Kau menyebutnya itu kepemimpinan?"


Senja tahu jumlah Hunter yang tersisa karena ia sempat berbincang sebentar dengan Langit, dan kalau dia pikirkan lagi, jumlah yang berpatroli dengan yang bersiaga di ibukota sangat berbanding terbalik, terlebih peringkat masing-masing orangnya juga berbeda jauh


"Keamanan, jika kau membantah lagi, maka kau harus pergi ke hutan dan mencari Rei, sendirian!" Vina berbalik dan meraih ponselnya, "Aku akan mengirimkan beberapa Hunter untuk membantumu-..."


"Aku tak perlu bantuanmu, simpan saja bantuanmu untuk menjaga ibukota..." Senja berjalan pergi, dan tak lama terdengar ia berkata sesuatu, "Vina tak mau turun tangan, ia pasti takut..."


...


...


...


DOR!


"Apa kau bilang?"


Lantai di ruangan berlubang, tepat beberapa milimeter dari kaki kanan Senja, dan Senja melirik lubang itu.


"Kau membicarakan orang sementara kau masih berada di ruangan orang itu, dan orang itu punya kemampuan mendengar yang lebih baik dari orang kebanyakan, apa kau bodoh?"

__ADS_1


"Kalau iya kenapa? Marah hanya menunjukkan kalau hal yang kukatakan itu benar." Senja berbalik dan ia menarik pedangnya, "Kau kelewatan kali ini..."


"Hooh, apa kau yakin? Pedang itu tidak akan bisa menyentuh leherku saat ini..." Vina mengangkat senapannya dan menekan sesuatu, tak lama sebilah pisau muncul dari bawah lubang tempat peluru keluar, "Aku sudah berlatih keras selama ini..."


Ia mengangkat senapannya dan mengarahkan bilah pisau itu ke Senja, sementara Senja mengarahkan pedangnya ke Vina.


"Akan kubuktikan kalau bukan aku yang meninggalkan Rei..."


"Dan akan kubuat kau menyesal karena telah melawan wakil ketua RedWhite..."


***


Andhika menancapkan pedangnya dan ia menekan sesuatu yang menempel di telinganya, sebuah alat komunikasi yang menghubungkannya dengan markas cabang dan markas pusat.


"Andhika, ini gawat! Vina dan Senja berkelahi! Alasannya masih belum diketahui, dan saat ini keduanya tak bisa memimpin kita semua!"


Wajah Andhika mengerut, tak biasanya dua orang itu berkelahi, selama ini mereka hanya sebatas berdebat saja jika perbedaan pendapat, tetapi apa maksudnya itu?


"Kami memintamu untuk memegang posisi ketua untuk sementara selagi kami melerai mereka!" kak Budi terdengar panik, "Mohon perintahnya!"


Karena Jawa adalah pusat dari segala pemerintahan di Indonesia, pulau Jawa menjadi pulau terlemah di Indonesia meskipun dengan keberadaan Langit Satria sang Hunter rank SSS sekalipun.


Jika Jawa berhasil dikuasai Monster, maka Indonesia akan kehilangan pusat pemerintahannya dan perlahan akan hancur dengan sendirinya.


Djawa adalah koentji:v


"Apa kau tahu apa saja yang baru saja diperintahkan oleh Vina?" tanya Andhika dengan cepat. Ia menarik pedangnya dan berlari cepat menuju markas.


"Ia terakhir memerintahkan Senja dan Rei pergi berpatroli di seluruh pulau Jawa bersama beberapa Hunter, dan tadi, aku sempat melihat Senja datang seorang diri, tanpa orang-orang yang sebelumnya bersamanya."


Andhika meletakkan pedangnya dan memejamkan matanya, hanya ada satu kemungkinannya...


"Rei tewas, jadi Vina menuduh bahwa Senja tak bisa melindunginya dan mungkin saja itu adalah penyebab keduanya terpecah." jawab Andhika dan ia berkata lagi, "Untuk sekarang, aku akan bergerak ke Jakarta, jadi berusahalah untuk melerai mereka. Tak baik bagi dua pejabat seperti mereka berkelahi seperti itu."

__ADS_1


"Baik pak!"


"Aku tutup!"


***


"Nona Vina, nona Senja, kita sekarang sedang berperi, tolong hentikan pertarungan kalian!"


"Hentikan pertarungan kalian!"


"Kalian adalah kunci kita saat ini, kalian tak boleh kehilangan tenaga kalian karena pertarungan ini!"


Vina menusukkan pisaunya ke depan dan Senja menepis tusukan itu kemudian melancarkan tusukan cepat, yang nyatanya mampu dihindari wakil ketua RedWhite itu.


"Sudah sejak lama aku melihat kalau kau tak pantas menjadi Hunter rank SS..." Vina menguatkan genggamannya pada senapannya, "Kemampuanmu masihlah tumpul..."


"Lalu bagaimana denganmu? Kau bertarung di belakang, dan kau bahkan lebih buruk dariku soal bertahan!" Senja mengangkat pedangnya dan menusukkan pedangnya ke arah Vina dengan cepat, "Kau hanya beruntung, sialan!"


"Kau diadu dengan Andhika ataupun Rei, kau bahkan kesulitan bertahan!" Vina mengangkat senapannya dan menodongkannya ke Senja, "Maju maka bukan hanya posisimu ditarik, tetapi juga nyawamu akan melayang!"


Senja menarik pistol dari kantongnya dan ia menodongkan pistol itu ke Vina, "Dan mungkin kau akan mati setelah ini..."


Situasi terlihat semakin kacau, Budi sedikit kesulitan mengatasi masalah ini karena ia belum percaya dengan kesimpulan yang baru ia dengar dari Andhika.


Rei tewas?


Manusia sekuat itu tewas?


"Semuanya, bubar dan kembali pada posisi! Tetap bertahan dan jangan ada yang masuk! Serahkan masalah disini padaku!"


Suara menggelegar seorang pria terdengar, dan Budi berbalik dan melihat seorang laki-laki muda dengan pedang besar meliuk-liuk di punggungnya berjalan mendekat.


Matanya melebar, ia sulit percaya kalau orang itu benar-benar datang ke Jakarta hanya untuk mengatasi masalah yang baru saja terjadi itu...

__ADS_1


"Andhika, kau akhirnya datang!"


__ADS_2