
[Level up!]
[Level up!]
[Level up!]
[Kau sudah mencapai level 60!]
[Hadiah: All Stat+10]
Aku tak tahu sudah berlalu berapa menit, atau berapa jam sudah kulewati di wilayah Kanada yang dingin ini, dan sejak tadi aku hanya menebaskan pedangku, menghabisi semua Monster yang mengeroyokku yang terasa tak ada habisnya
Dari yang tadinya diam di level 50, kini aku sudah mencapai level 60, bahkan baru saja aku mencapainya, dan setiap seranganku terasa lebih kuat dari sebelumnya.
Aku melompat mundur dan mengatur napasku, bertarung dalam jangka waktu yang terasa lama dan di kondisi yang ekstrim rupanya mampu membuatku kelelahan, dan ini adalah kelelahan pertamaku sejak aku menjadi Hunter.
"Meskipun aku hanya melompat mundur untuk mengambil napas, mereka tidak membiarkanku diam sejenak, ya?" aku tersenyum tipis, "Oke, kuladeni..."
Dan aku benar-benar tak sempat memperhatikan sekitarku, ke tempat pertarungan para Emperor yang tadinya ada di sekitarku, mungkin sekarang sudah menghilang.
"Langit, kau fokus saja pada Destruction Army dan Ice Legion! Jangan pikirkan hal lain!" Zon mengingatkan, "Kekuatanmu makin terasah sekarang, dan pengalamanmu mulai meningkat sedikit demi sedikit!"
"Hah?!" aku menyarungkan kedua pedangku dan melompat mundur, "Heh?!"
"Dan juga, kenapa kau menyarungkan kedua pedangmu?! Kau ada dalam bahaya sekarang!" Zon berteriak lagi.
"Aku akan kabur dulu melihat situasi!" aku berlari cepat menjauhi gerombolan Monster itu, tapi pergerakan mereka cukup cepat dan kuakui, Monster di luar Indonesia benar-benar lebih kuat dari negara asalku.
"Pola serangan mereka juga berbeda, kau mempelajari cukup banyak kemampuan Monster, dan membuatmu mampu melawan banyak Monster, tak seperti dulu ketika kau pertama kalinya melawan Monster kuat, kau yang sekarang bisa menebas leher beruang dalam satu kali tebasan." Zon berkata, dan aku yakin itu maksudnya menyemangati.
"Jadi karena itu, kau harus bertarung lagi!"
"Tapi masalahnya aku kelelahan! Aku harus mencari tempat tenang dulu!" aku berhenti dan mengangkat tanganku cepat, "Flame Destroyer, bangkit!"
Aku tak pernah memakai seruan ini, dan menurut Zon tadi, seruan ini mampu memanggil sedikit pasukan yang dimiliki Flame Emperor untuk kuperintahkan melakukan sesuatu.
Yah, intinya aku tak tahu banyak, sejak aku mencapai level 50, ada satu informasi yang mengatakan kalau aku bisa mengerahkan Flame Destroyer, yang artinya aku bisa mengerahkan seluruh pasukan Flame Emperor jika seandainya dia menurunkan seluruh kekuatannya padaku.
Beberapa makhluk yang terbuat dari api muncul dari tanganku, jumlahnya sekitar lima makhluk, mereka bergerak maju dengan cepat, dan aku melihat level di atas kepala mereka.
[Flame Soldier (Lv. 40)]
[Flame Soldier (Lv 30)]
"Hmm, tidak rata, ya?" aku mengangguk pelan, tapi jendela informasi yang muncul selanjutnya membuatku terdiam untuk sejenak.
[Kau memanggil Summon Flame Soldier! Batas Staminamu ditingkatkan menjadi 1000 poin!]
Stamina sama dengan energi dalam tubuhku, kalau aku mencapai level 200, maka semua Stamina yang kumiliki akan berubah menjadi Energi Gaib, yang artinya aku tak lagi adalah manusia, tapi makhluk dengan kekuatan yang lebih tinggi lagi.
Omong-omong, semua Emperor memiliki energi gaib mereka tersendiri, dan semua energi gaib yang mereka miliki bisa dipakai untuk menciptakan Gate dan membawa pasukan mereka kemari. Setidaknya itulah yang membuat Monster bisa muncul ke bumi.
Tapi intinya, sekarang aku bisa duduk tenang, sejenak saja! Aku akan lanjut lagi nanti!
"Status!"
[Nama: Langit Satria
Level: 60
Usia: 12 tahun
__ADS_1
Jenis kelamin: Laki-laki
Pekerjaan: Flame Emperor
Title: Pejuang Sejati, 4+
HP: 2275/2275 (+50)
STR: 385 (+5) (+1900)
INT: 83
VIT: 137 (+1)
DEX: 136 (+1) (+250)
DEF: 140 (+1) (+200)
LUCK: 20
Stamina: 500/1000
Bonus poin: 26
Skill pasif: (Kaisar Api: Lv. 5) (Pria Api Kejam: Lv. 2)
Skill aktif: (Sprint: Lv. max) (Pedang Api: Lv. max) (Pukulan Kehancuran: Lv. 2) (Darah Burung Api: Lv. 3) (Semburan Api: Lv. 1) (Seruan amarah: Lv. 1) (Tarian Kaisar Api: Lv. 5) (Aura Raja: Lv. 1) (Tangan Penguasa: Lv. 1) (Summon: Lv. 1)
Equip: White Shirt (S) Black Scale Coat (S) Black Long Pants (S) Pedang Naga Iblis (S) Pedang Api Hitam (SSSR+) Cakar Ayam Api (SS)]
"Ubah 10 bonus poin ke stat DEX, 10 bonus poin ke DEF, 5 bonus poin ke STR."
[Nama: Langit Satria
Level: 60
Usia: 12 tahun
Jenis kelamin: Laki-laki
Pekerjaan: Flame Emperor
Title: Pejuang Sejati, 4+
HP: 2275/2275 (+50)
STR: 390 (+5) (+1900)
INT: 83
VIT: 137 (+1)
DEX: 146 (+1) (+250)
DEF: 150 (+1) (+200)
LUCK: 20
Stamina: 750/1000
Bonus poin: 1
__ADS_1
Skill pasif: (Kaisar Api: Lv. 5) (Pria Api Kejam: Lv. 2)
Skill aktif: (Sprint: Lv. max) (Pedang Api: Lv. max) (Pukulan Kehancuran: Lv. 2) (Darah Burung Api: Lv. 3) (Semburan Api: Lv. 1) (Seruan amarah: Lv. 1) (Tarian Kaisar Api: Lv. 5) (Aura Raja: Lv. 1) (Tangan Penguasa: Lv. 1) (Summon: Lv. 1)
Equip: White Shirt (S) Black Scale Coat (S) Black Long Pants (S) Pedang Naga Iblis (S) Pedang Api Hitam (SSSR+) Cakar Ayam Api (SS)]
Aku berdiri lagi, semua sudah cukup, sekarang tinggal menarik lagi semua Summon yang kupanggil.
"Flame Soldier, mundur!" aku mengangkat tanganku, dan semua makhluk api yang kupanggil menghilang, bersamaan dengan jendela informasi yang muncul di depanku.
[Kau memanggil kembali Summon Flame Soldier! Mengembalikan 50% dari konsumsi Stamina saat memanggil Summon!]
"Oke, itu sudah cukup..." aku menarik lagi kedua pedangku, "Nah, baru sampai mana kita tadi?"
Monster-monster itu bergetar, dan aku tak menunggu jawaban mereka, aku langsung maju dan menyerang semua Monster yang ada di depanku.
Yang sekarang, aku harus meningkatkan levelku selagi Monster dan Staminaku tersedia banyak!
***
Jam enam sore waktu setempat...
"Komandan, kami masih belum menemukan dua target yang anda minta!"
Tom yang mendengarnya diam sejenak, apa yang membuat Yuuki dan Langit amat sulit untuk ditemukan? Apakah mereka sudah tewas dan jasad mereka tak bisa ditemukan?
"Baik, aku menerima laporan itu." Tom menjawab, "Bagaimana dengan kondisi Kanada saat ini?"
"Maaf sebelumnya komandan, tapi saya harus melampirkan satu laporan yang membuat kami kesulitan melakukan pencarian!"
"Apa itu?" Tom mengerutkan keningnya.
"Ada pertarungan dahsyat di Kanada saat ini, mulai dari Zona 4 sampai Zona 10, semuanya dilanda pertarungan dahsyat!"
"Maksudnya?"
"Kami berhasil memotret penampakan makhluk-makhluk yang sedang bertarung itu! Kami akan kembali ke New Washington!"
Tom menutup panggilan dan menyandarkan punggungnya, "Makhluk-makhluk apa yang dimaksud?"
Tak lama, pintu terbuka dan dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan masuk ke ruangannya.
"Tom! Bagaimana kondisi Langit? Apakah dia sudah ditemukan?!" laki-laki itu bertanya sambil memukul meja kerja Tom, dia adalah Joko.
"Bagaimana dengan murid-murid lainnya? Apakah baik-baik saja?" satu perempuan lainnya bertanya, dengan nada yang terdengar tenang tapi wajahnya terlihat amat panik, dia adalah Esterosa.
Tom mengayunkan tangannya, meminta keduanya duduk, "Duduk dulu sebentar, aku yakin kalian pasti lelah setelah perjalanan panjang..."
"Tidak, jawab aku secepatnya!" Joko semakin terlihat panik, "Bagaimana Langit sekarang?!"
"Seperti yang kau ketahui, dia ada di Kanada, untuk mengikuti ujian semester, tapi sayangnya ada badai salju yang datang dan Yuuki terpaksa memanggil kembali seluruh murid." Tom mulai bercerita, "Tapi sayangnya, ada beberapa orang yang dikejar Monster raksasa, dan Langit bergerak untuk menahan Monster itu hingga semua orang pergi, dan sampai sekarang, kami belum menemukan jejaknya disana."
"Apa..." Joko jatuh berlutut, "Dalam situasi itupun, Langit masih memikirkan orang lain?"
"Yuuki sudah turun tangan untuk mencari Langit, tapi sayangnya dia juga menghilang." Tom mengangkat ponselnya, "Menurut Yuuki, sinyal gelang yang dipakai Langit terakhir muncul di Zona 9, sebelum sinyalnya hilang sepenuhnya."
"Zona 9? Di dekat Teluk Hudson?" Esterosa mengelus dagunya, "Bukankah itu amat jauh dari titik pendaratan dan wilayah yang dikhususkan untuk ujian semester? Kenapa bisa ada disana?"
"Entahlah, aku masih menunggu laporan dari pesawat tempur yang mencari dari langit, katanya mereka menemukan sesuatu, mungkin akan muncul tak lama lagi..." Tom menaikkan bahunya.
Esterosa duduk di atas kursi, sementara Joko masih berlutut di atas lantai, wajahnya terlihat kesal.
__ADS_1