
Lein mengangkat pedangnya dan menusukkannya ke depan, ke arahku dengan kecepatan yang lambat.
Aku memahaminya karena kondisi ruang yang sempit bagi senjata seperti itu, jadi aku juga harus mengurangi luas pergerakanku.
Pedang itu mengarah padaku, dan aku melompat ke samping kemudian bergerak menuju Lein dengan kecepatan tinggi.
[Skill aktif Sprint aktif! Meningkatkan kecepatan gerak sebesar 10%! 1 Stamina akan dikonsumsi tiap detik!]
Jari-jariku sudah siap mencakar Lein, tapi sayangnya rekannya muncul dan memukulku hingga terjatuh di sebelah Lein.
[1352/1375]
Untung saja poin DEF milikku cukup tinggi, jadi bisa menahan serangan dadakan itu dengan baik.
Menurut guide book, jika poin DEF mencapai jumlah tertentu, sebuah serangan kuat bisa saja tak mengurangi HPku, dan aku masih tak tahu berapa tepatnya jumlah DEF yang diperlukan agar kondisi itu bisa terjadi.
Aku melirik ke atas dan kaki Lein terarah ke aku, seperti akan menginjakku, dan aku langsung berguling menghindari kaki Lein kemudian menarik orang yang tadi memukulku hingga terjatuh.
Aku berdiri dengan cepat dan mengarahkan pistolku ke arah Lein, sebelum aku teringat sesuatu.
"Apa pistolnya sudah berisi, kawan?" tanya Lein sambil menarik kembali pedangnya dan menyeringai lebar, "Aku yakin pasti belum..."
Yah, aku tak tahu apakah pistolnya sudah isi atau tidak, tapi yang penting aku memegang senjata saja...
Aku melepas pengamannya dan menarik pelatuknya, menembakkan satu peluru yang telak mengenai perut Lein.
Lein hanya terpukul mundur sedikit, dan kemejanya berlubang karena bekas tembakanku, satu lagi, lubang di kemejanya tak menunjukkan darah sedikitpun.
"Pakai armor rupanya..." gumamku, akan sulit aku bertarung melawan orang yang memakai armor sepertinya.
Defender? Aku meragukannya karena pergerakannya terhitung cepat untuk Hunter yang memakai pedang besar, pak Vigo itu pengecualian.
Striker adalah kemungkinan paling besar, karena pergerakannya lebih ke arah menyerang dibanding bertahan, jadi aku yakin kalau Lein adalah Striker.
Untuk menghadapi Striker, diperlukan satu Sniper dari jarak jauh untuk bisa menghabisinya atau Witch dari jarak dekat maupun jarak jauh. Sementara aku, hanya bertipe Striker dan Witch yang tak membawa senjatanya, huhuhu...
__ADS_1
"Itu kan salahmu, bodoh, kenapa tak salah satu dari tiga pedang yang ada di dekat pintu?!" Zon berteriak padaku, "Sekali lagi kukatakan kau adalah pendekar pedang yang bodoh!"
Berisik ah, daripada berisik begitu lebih baik bantu aku...
[Quest Obtained!
Kalahkan Lein Artha dan kawanannya!
0/20]
Sebuah jendela informasi muncul di hadapanku dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun sejak aku mendapatkan sistem, jendela informasi itu muncul di hadapanku.
Guide book mengatakan kalau akan ada beberapa kondisi yang memiliki peluang memunculkan misi yang disebut Quest, dan semua Quest yang muncul akan memberikan hadiah tersembunyi. Aku tak tahu apa itu.
Dalam guide book juga mengatakan, Quest harus diselesaikan bagaimanapun caranya, penuhi semua syarat yang diperlukan untuk menyelesaikan Quest itu agar Quest bisa terselesaikan, atau penalti akan didapatkan.
"Dua puluh Hunter termasuk Lein, ya? Boleh juga..." aku mengepalkan tanganku, "Dengan cara apa aku melawan mereka?"
***
"Merampas senjata musuh adalah cara yang bagus..." Zon memberi saran tiba-tiba, "Lebih baik kau memakai senjata untuk meningkatkan jangkauan seranganmu dibanding memakai pukulan yang hanya sejauh kurang dari satu meter."
Apakah perlu sebuah trik mengecoh untuk bisa merampas senjata musuh? Seperti apa itu?
Aku berhenti dan berbalik, menghadap para Hunter yang mengejarku yang berjumlah 5 orang.
"Lima orang..."
Aku menarik napasku kemudian berlari maju sambil menyiapkan pukulanku, dan ketika sudah ada di hadapan para Hunter, aku melancarkan pukulanku yang hanya mengenai angin karena mereka menghindari pukulanku.
Hunter bukanlah manusia biasa yang tak bisa berkelahi, mereka lebih berpengalaman dibandingkan para pengacau yang hanya tahu tawuran menggunakan senjata seadanya dan demo rusuh, jadi pukulan lambat yang kulancarkan masih bisa mereka lihat.
Aku membungkuk dan memukul ke depan, ke arah perut satu Hunter yang memegang pedang dan ia menjatuhkan pedangnya. Yang lainnya bergerak mengayunkan senjata masing-masing untuk menyerangku.
Mereka pastinya sempat melihat pergerakanku jadi mereka mengayunkan senjata mereka ke arahku, tetapi sayangnya aku lebih cepat.
__ADS_1
Aku berjongkok dan melompat ke depan, melewati antara kaki satu Hunter kemudian menyentil belakang lututnya hingga ia jatuh berlutut. Aku berdiri dengan cepat kemudian menendang ke belakang, mengenai dagu satu Hunter lainnya yang datang dengan sarung tangan besi.
[7/20]
"Baru tujuh Hunter, kurang tiga belas lagi..." aku harus menyelesaikannya secepatnya, atau tidak Lein akan kabur dan melapor pada RedWhite pusat. Jika itu terjadi, maka habislah hidupku.
Aku meraih satu pedang yang dijatuhkan dan menghunuskannya, sambil melirik ke segala arah.
Koridor tempatku saat ini dikepung oleh lebih dari lima Hunter cukup luas, jadi dalam kondisi ini aku lebih diuntungkan karena bertarung seorang diri, berbeda dengan para Hunter yang harus memperhitungkan kemampuan yang lainnya serta lokasi bertarung yang sempit, serta mereka harus memperhitungkan kerjasama mereka di tempat kecil ini.
"Bagaimana? Masih mau mengeroyokku?" tanyaku sambil tersenyum lebar.
Rata-rata, para Hunter yang kubuat pingsan hanyalah Hunter rank C sampai rank B, artinya hanya Lein satu-satunya yang menjadi Hunter rank A di tempat ini.
Para Hunter saling lirik, sementara aku menunggu dengan tenang. Aku yakin jawaban mereka adalah ya...
"Kau adalah orang yang membuat pak Lein marah, jadi kami harus menyelesaikan masalah beliau." ujar salah satunya kemudian bergerak maju, "Terima ini!"
Kali ini, aku tak bisa mengikuti pergerakannya dan tiba-tiba, ia sudah mengarahkan pukulannya ke arahku dan sedikit lagi mengenai perutku kalau aku tak melompat mundur.
Di belakangku sudah ada Hunter lain dan ia mengangkat pedangnya dan menebas ke bawah, telak mengenai punggungku hingga terluka cukup lebar.
Aku jatuh berlutut, apakah ini rasanya tebasan? Aku tak pernah merasakannya, dan aku berpikir kalau perasaan dilukai seperti ini harus kurasakan.
[1349/1375]
"Heh, hanya begini saja..." aku.berdiri dan menghunuskan pedangku, "Aku belum serius..."
Hoahem, ngantuk gegara latihan keras persiapan lomba, jadi pendek dulu dan agak garing...
Oh ya, apa kalian yakin kalo Joko Taru itu betulan mati? Ngapain dia kira-kira setelah lima tahun sejak Raid Islandia?
Dan apa kalian ingat siapa aja orang yang suka sama Esterosa? Di suatu chapter nanti bakal ada orang yang nikah sama dia... Siapa kira-kira? Ini khusus buat orang yg baca arc 3 sampe habis...
Yang punya pendapatnya respon di komentar yoo, dan ane tunggu teorinya...
__ADS_1