
"Bukankah itu terlihat menyenangkan?"
Ledakan terjadi dimana-mana, pesawat melintas di udara dengan cepat dan lihai, membuat suasana pertempuran semakin menyeramkan.
"Ledakan, jeritan, tangisan, tembakan, nyawa yang melayang, semua terlihat menyenangkan di mataku..."
"Perang dianggap sebagai sarana perdamaian? Omong kosong, perang hanyalah omong kosong orang-orang yang berambisi kekuasaan..."
"Perang antar manusia membuat hanya membuat kemampuan Monster semakin kuat, dan hanya menunggu waktu sampai Monster datang lagi dan menginvasi dunia..."
"Hahah, perang sebagai awal menuju perdamaian? Bodoh..." laki-laki berpakaian hitam menghela napasnya dan berbalik memasuki sebuah Gate berwarna hitam.
***
Waktu terus berjalan, begitu juga dengan kehidupan, kehidupan akan terus berjalan seiring waktu berjalan.
Manusia terus lahir ke dunia, hidup, kemudian menemui kematian, begitu pula seterusnya, tetapi sayangnya kehidupan manusia selalu berputar di batu raksasa bernama Bumi.
Manusia dianggap memiliki hak tersendiri yang dibawa sejak lahir, baik itu hak hidup secara bebas, hak meyakini keyakinan yang ada, dan hak lainnya. Juga dianggap memiliki potensi tiada batasnya, tetapi apa maksudnya?
Manusia selalu terkurung di dalam batu bernama Bumi, tetapi memiliki hak yang bebas untuk terus hidup, apakah itu saja sudah cukup?
Tentang potensi tiada batasnya, apa maksudnya itu? Apakah hanya memiliki kemampuan yang melebihi manusia pada umumnya, atau hal lainnya?
Manusia berkali-kali mengatakan bahwa manusia bisa bertahan sampai sekarang adalah karena potensi tiada batas itu yang membuat manusia bisa tiba di titik saat ini.
Pemikiran, kerja keras, kerja sama tiada akhir, serta rasa ingin tahu yang tinggi, membuat manusia sampai di titik dimana menghitung pun bisa dilakukan tanpa campur tangan manusia, yah, aku memahaminya sedikit...
"Hmm, tapi apa itu semua cukup?" aku menatap buku di depanku, "Apa hanya berkeliling di sekitar batu Bumi disebut bebas?"
__ADS_1
"Ataukah manusia sedang berusaha melampaui batasan kita sendiri?" aku melirik pedang lengkung yang terpajang di dekat mejaku, "Melewati tata surya dan bergerak menuju luar angkasa yang lebih luas daripada batu Bumi ini?"
Aku menyandarkan punggungku, memikirkannya hanya membuatku bingung sendiri.
"Langit, makan malamnya sudah selesai..." seorang perempuan membuka pintu dan menengokkan kepalanya ke dalam ruangan, "Cepat sebelum makanannya dingin." Setelah itu dia menutup pintu lagi.
"Baik sayang..." aku meletakkan buku di atas meja kemudian berjalan meninggalkan mejaku.
***
"Tak kusangka, pasukanku dan pasukanmu akan bertempur lebih awal dari perkiraanku..." laki-laki berjas hitam dengan pedang yang tersarung di pinggang kirinya berjalan mendekati tiga makhluk dengan bentuk yang bukan seperti manusia.
"Flame Emperor Langit Satria..."
"Kau benar-benar hanya membawa dirimu sendiri, tanpa salah satu dari temanmu.."
"Sesuai dengan apa yang kukatakan, aku yang akan meladeni kapanpun dan dimanapun kalian tiba..." jawab laki-laki berjas hitam itu.
Tiga makhluk dengan bentuk bukan manusia itu melirik ke segala arah, dan salah satunya yang berpakaian serba putih tersenyum lebar, tidak, lebih tepatnya menyeringai lebar.
"Tak ada bantuan, aku pastikan itu..." makhluk berpakaian putih itu tertawa lantang.
"Laki-laki akan selalu menepati janjinya..." Langit menarik pedangnya, "Jadi, kapan kita akan memulainya?"
Setelah Pedang Api Hitam andalan Langit keluar dari sarungnya, api langsung menyelimuti pedangnya dan hawa di gurun Sahara bertambah panas.
Hawa dingin mengikuti hawa panas tadi, dan hawa mencekam mengikuti.
Angin berhembus kencang tak beraturan, dan Langit memejamkan matanya, "Semua terasa amat cepat, kematian pak Tom terasa baru terjadi kemarin..."
__ADS_1
Ia membuka matanya cepat, dan ujung tombak sudah ada tepat di depan matanya, ia melompat mundur dan mengangkat pedangnya, "Membelah Samudra!"
***
"Ya, Ice Emperor telah menyatakan secara terang-terangan akan menyerang bumi." ujarku sambil menyambungkan ponsel Vina dengan laptop, "Ini rekamannya."
Suara percakapanku dengan utusan Ice Emperor terputar di layar, dan seluruh ketua organisasi Hunter yang hadir dalam pertemuan online diam mendengarnya.
Rekaman tak berlangsung lama, dan aku memutus sambungan ponsel Vina dengan laptop kemudian berkata lagi, "Jadi, aku berencana menyiapkan semuanya mulai sekarang..."
"Siapkan Strategic Missile sebanyak-banyaknya, gas alam serta gas inti Monster juga harus dipersiapkan untuk pertempuran kita. Para Monster di bumi mungkin sudah mundur untuk memberi kita waktu untuk bersiap."
"Kenapa kau yakin dengan pernyataan kalau Monster mungkin sudah mundur?" tanya Yuuki kemudian meminum sesuatu dari cangkirnya, "Atau kau sempat melihat sesuatu di luar sana?"
"Yah, seperti yang kau katakan, aku sempat berkeliling di sekitar New Washington dan perkemahan sementara untuk berjaga-jaga, dan aku sama sekali tidak menemukan satu Monster pun..." jawabku.
"Oke, bisa kita percayai itu." Mir mengangguk, "Lalu, langkah lain?"
"Buat diri kalian, para Hunter lainnya, dan tentara militer dalam kondisi prima, kita harus siap siaga dalam menerima perintah dengan cepat. Semua perintah akan diumumkan di seluruh dunia." jawabku lagi, "Aku sudah menjelaskan rencananya pada teman-temanku, dan mereka mendesakku agar cepat melakukan pelantikan Hunter rank SS."
"Peringkat Hunter rank SS memungkinkan pemiliknya untuk bepergian keluar negeri dengan mudah tanpa hambatan, jadi aku bisa menyebar teman-temanku ke empat organisasi Hunter yang membutuhkan bantuan."
"Ada empat Hunter rank SS yang siap bergerak ke seluruh dunia, yaitu Andhika Hendrawan, Rei Artawan, Senja Irawan, dan Vina Celia. Mereka akan bergerak ke organisasi manapun yang memerlukan bantuan, cukup beritahu padaku, salah satu dari mereka akan bergerak kesana."
"Siapkan segala perlengkapan tempur secepatnya, siapkan segala perlengkapan kalian, pertempuran akan datang secara tiba-tiba, dan setelah waktunya tiba, sesuai perintahku, kuharap kalian bisa bertempur dengan baik."
"Siap pak!" sambungan dimatikan bersamaan dan tendaku langsung sepi.
"Kak Budi sudah menyiapkan empat medali Hunter rank SS, jadi kita pulang ke Indonesia tinggal memakainya saja." Vina berkata.
__ADS_1
"Oh iya, kalian belum menjawab pertanyaanku..." Senja melipat tangannya dan melirikku tajam, "Apa yang kalian lakukan di pantai semalam? Vina dan Langit?"
Aku... Merasakan aura tidak mengenakkan dari tiga arah... Inilah yang membuatku ragu untuk buka mulut... Aku bisa terbunuh kapanpun jika aku berkata salah...