
"Rute kereta lapis baja menuju Surabaya masih ada, ya?" aku tersenyum melihatnya.
Menjadi ketua organisasi Hunter tidak seburuk yang kupikirkan, wakil ketuaku yang bernama Vina banyak membantuku mengatasi banyak hal, dan setelah aku menugaskannya ke Kalimantan bersama Senja, aku merasa beban pekerjaanku kembali seperti sebelumnya.
Dan rute kereta lapis baja menuju Surabaya yang masih ada adalah satu hal yang menghiburku selama ini.
Kenapa? Karena aku punya rencana menengok kembali kota dimana semuanya dimulai, bagaimana kondisinya setelah tujuh tahun sejak kehancurannya.
Terakhir aku mendatanginya setelah menjadi wakil ketua, kondisinya amat buruk, banyak Monster yang bertebaran di setiap sisi kotanya dan berkuasa layaknya Surabaya adalah rumah mereka.
Aku yang kesal tentunya langsung menghabisi banyak Monster disana, tetapi sayangnya tak semuanya karena aku sendirian dan aku masih belum hapal seluruh peta kota Surabaya.
Yang kuingat hanyalah posisi markas cabang RedWhite yang bernama SuraBaya dan posisi rumahku yang ternyata dekat sekali dengan markas dimana aku bertahan hidup disana bersama Senja dan kakekku dulu.
Ayahku menjelaskan kalau ia sudah memakamkan ibu dan kakakku di halaman rumah, ketika aku sampai kedua makam itu masih ada dan melihatnya membuatku teringat masa-masa kehancuran itu.
"Pak Langit?" sebuah tangan terlihat bergerak di depan mataku, dan aku langsung mengedipkan kedua mataku dengan cepat.
"Ah ya, ada apa?" tanyaku, dan Hunter yang ada di depanku menaikkan alisnya.
"Ehem, jadi kereta lapis baja menuju Surabaya sudah siap untuk anda naiki." ujarnya, dan aku mengangguk.
Sebentar...
"Siapa yang memberitahumu kalau aku ingin pergi ke kampungku?" tanyaku.
Aku saja baru mengetahui kalau rute kereta lapis baja lintas Jawa masih ada, dan darimana mereka tahu padahal aku tidak ada memerintahkannya?
"Aku yang memberitahu mereka..." seseorang terdengar berkata, dan kulihat Senja masuk ke ruangan.
"Saya undur diri dulu..." Hunter yang tadi berkata memberi hormatnya kemudian keluar dari ruangan. Ia juga memberi hormat pada Senja sebelum menutup pintu.
Sementara itu, Senja berjalan dan duduk di depanku. Ia menatapku kemudian berkata, "Aku yang menyuruh para Hunter untuk mempersiapkan kereta lapis baja sebagai persiapan kita pergi ke Surabaya."
__ADS_1
Aku menatapnya serius, "Apa ada masalah disana?"
"Tidak ada memang, tapi aku hanya ingin mengunjungi kota dimana kita bertemu dulu." jawabnya dan itu kembali membangkitkan ingatan dalam kepalaku.
"Ah, iya..." aku mematikan laptop kemudian mengelus daguku, "Jadi, kapan kita bisa berangkat?"
"Kapanpun itu, sesuai perintahmu." jawabnya, dan aku mengangguk.
"Oke, mungkin nanti sore aku akan berangkat bersamamu saja..."
***
"Pak Langit, apa anda bercanda lagi?! Pergi keluar Jakarta hanya bersama Bu Senja?!"
"Pak Langit, tolong jangan bercanda! Di luar pastinya berbahaya-!"
Para Hunter berkumpul di sekelilingku, dan aku hanya menghela napasku.
Sejak aku dianggap punya hobi menghilang, para Hunter terasa lebih protektif padaku, mereka terlalu keras melindungiku, padahal jika ada ancaman serius aku yang mengurusnya bukan mereka...
"Tenang saja, aku hanya perlu seorang masinis untuk membantuku, selebihnya tak ada." ujarku, dan aku mendengar suara helaan napas.
"Aku hanya meminta pada kalian untuk berjaga di Jakarta dan patuh pada perintah Rei, ia memegang posisi ketua untuk sementara selagi aku di luar." aku menambahkan, "Baiklah, sampai jumpa..."
Aku naik ke atas gerbong, dan saat kulirik ke belakang, para Hunter yang tadinya mengerumuniku terlihat seperti berat melepasku, padahal aku hanya pergi ke Surabaya...
***
"Hei Senja, bukankah ini mengingatkan kita pada sesuatu?" tanyaku sambil memasukkan kedua tanganku ke dalam kantong celana panjang dan menatap keluar jendela.
Kereta melaju kencang melewati rimbunnya hutan Jawa, dan menurut perkiraan masinis, kami akan sampai di Surabaya setelah dua hari perjalanan.
Ya, dua hari perjalanan jika tak ada Monster yang menghadang...
__ADS_1
Senja kulirik sedang duduk di atas sofa dan ia memainkan ponselnya, dan aku hanya mengangkat bahu melihatnya, kurasa ia tak mendengar apa yang kukatakan...
Sudah lebih dari tujuh tahun sejak aku melihat kehancuran Surabaya, selama itu aku sudah bertarung melawan banyak Monster dan akhirnya sampai di titik ini, dimana aku memimpin sebuah organisasi Hunter yang didirikan oleh leluhurku, serta menjadi Hunter rank SS. Perjalananku tersisa selangkah lagi hingga aku menjadi Hunter rank SSS.
Jika dipikir-pikir lagi, mungkin aku yang mewujudkan impian yang tak sempat diwujudkan oleh kakakku dulu.
Kakakku yang bernama Bintang Satria selalu bermimpi dan mengatakan pada ayah kalau ia ingin menjadi seorang Hunter rank SSS dan mengakhiri era invasi Monster. Sayangnya, yang mewujudkannya adalah aku...
Impiannya berakhir di Surabaya, ketika ia memilih menyelamatkanku dibanding menyelamatkan dirinya sendiri.
Apa yang terjadi selama ini telah membentuk diriku yang sekarang, seorang Hunter rank SS yang dijuluki Cold Blooded Hunter dan memimpin organisasi Hunter terkuat di Asia tenggara bernama RedWhite.
"Langit, apa kau menyadari sesuatu?" kudengar Senja bertanya, dan aku menggeleng.
"Menyadari apa?" tanyaku.
"Di usia seperti kita sekarang, memegang senjata dan bertarung bukanlah sesuatu yang remaja biasanya lakukan." jawabnya.
"Darimana kau mengetahuinya?" tanyaku.
Bagiku, di usia muda sudah memegang senjata api dan bertarung melawan Monster di era ini adalah hal biasa, bahkan kudengar Hunter rank S termuda di dunia yang bernama Alteron de Esquede alias adikku sendiri, sudah memegang senjata api di usia tujuh tahun, di usia yang sama ketika aku mulai berlatih kemampuan Hunter.
Aku berbalik dan berjalan menuju sofa kemudian duduk di depannya, "Apa yang ingin kau katakan?"
"Di masa lalu, di usia semuda ini, kita menjalani kehidupan remaja yang menyenangkan, bermain bersama teman-teman, dan satu lagi, belajar tentang cinta." ujarnya dan ia menunjukkan ponselnya, "Seperti ini."
Aku menatap layar ponselnya dalam-dalam, lagian apa pula cinta itu? Nama kegiatan kah?
"Apaan cinta itu?" tanyaku sambil menggaruk kepalaku, aku benar-benar tidak mengerti satu kata itu.
"Semacam kau menyukai seseorang dengan alasan yang masuk akal..." jawabnya sambil menggaruk kepalanya, "Di novel ini tak dijelaskan definisi dari cinta sih, jadi aku sulit menjelaskannya pada otak petarung sepertimu..."
Menyukai seseorang dengan alasan yang masuk akal? Sepertinya Carroline pernah mengatakannya sebelumnya...
__ADS_1
"Carroline juga pernah mengatakannya, tentang cinta begitu..." aku mengingatnya sedikit, Carroline pernah mengatakannya saat kami terjebak di dunia lain, "Dan ia mengatakan kalau ia mencintaiku. Apa maksudnya?"
Aku melihat wajah Senja yang seperti dipenuhi amarah, dan aku diam, apakah aku mengatakan sesuatu yang salah?