
"Hmm? Apa itu benar?" Esterosa terlihat berusaha tenang mendengar laporan Al, "Katakan kalau itu salah..."
"Sayangnya sinyal jam tangan Alex dan Joko menghilang bersamaan, jadi aku menyimpulkannya begitu..." Al mengepalkan tangannya, ia siap dengan apapun yang dikatakan Esterosa selanjutnya, "Joko sudah gugur bersama dengan Alex. Tubuh keduanya tak akan bisa ditemukan sampai kapanpun..."
Esterosa memejamkan matanya, "Ah, begitu ya..."
Dengan tewasnya Joko dan tubuhnya yang tak ditemukan, Esterosa secara tidak langsung sudah menjadi seorang janda... Ya...
"Garis keturunan keluarga Esquede tak boleh putus sampai Alteron..." Esterosa mengangkat pedangnya lagi, "Aku akan melindungi anak itu..."
Ia pun keluar dari ruangan, meninggalkan Al yang masih duduk di tempatnya dengan tubuh lemas.
Al tahu persis bagaimana kuatnya Esterosa, jika perempuan itu tak mampu menahan amarahnya, Al bisa saja terkena imbasnya dan tubuhnya mungkin akan sedikit hancur dipukuli oleh Esterosa.
Yang bisa ia harapkan sekarang hanyalah Esterosa tidak akan berbuat aneh-aneh karena kematian suaminya...
"Paman Al!" seorang anak laki-laki masuk ke dalam ruangan, "Apa yang terjadi dengan ibu?!"
Al melirik anak kecil itu dan menjawab, "Sedikit kabar buruk..."
"Apa itu?" anak kecil itu bernama Alteron dan ia meletakkan lancernya di atas lantai, "Apakah kak Langit sudah kalah?"
"Bukan begitu..." Al menghadap Alteron kemudian mengusap kepalanya, "Kuatkan dirimu dan jangan melakukan hal aneh setelah kau mendengar kabarnya..."
Alteron mengangguk dan Al menarik napas panjang, "Ayahmu menghilang dan aku menyatakan kalau ayahmu sudah gugur."
"Oh..." Alteron berdiri dan Al menarik tangannya, "Mana Monster yang membunuh ayahku?"
"Jangan melakukan hal aneh-aneh..." ujar Al kemudian ia menatap layar komputer di depannya, "Jalani pertarunganmu dengan gagah berani, agar ayahmu tidak kecewa padamu."
Siapa yang tidak tahu Joko Taru? Seseorang yang memiliki keluarga kecil, dan setiap anggota keluarganya adalah orang-orang hebat.
Istrinya adalah wakil ketua IronBlast dan juga orang terkuat kedua disana, anak pertamanya yang bernama Langit Satria adalah ketua RedWhite yang juga menduduki posisi pertama di seluruh dunia, dan anak keduanya yaitu Alteron menjadi Hunter rank SS di usia sembilan tahun.
Tetapi, jika seluruh masa lalunya dikorek kembali, maka hidup Joko Taru tidak semudah itu...
Alteron keluar dari ruangan dan Al kembali fokus ke layar komputer, mengawasi jalannya pertempuran.
***
"Rusia adalah negara yang luas, kau sendiri saja tidak akan mampu melindunginya, jadi aku datang membantu." William mengangkat tangannya, mengajak Mir bersalaman.
"Terlebih kau tahu fakta kalau FreedomLight sudah melebur dengan IronBlast, sudah menjadi kewajibanku untuk membantu sesama..."
"Oh, terima kasih atas bantuanmu, tetapi..." Mir menjabat tangan William, "Siapa yang menjaga Eropa sementara kau disini?"
"IronBlast tidak kekurangan Hunter kuat, ada Esterosa, Alteron, dan beberapa Hunter rank SS yang menunggu perintah disana." jawab William kemudian mengangkat tasnya, "Jadi, mana Monsternya?"
"Tak ada Monster yang bisa membuat kita turun tangan, Monster yang muncul sejak tadi hanyalah keroco-keroco saja." jawab Mir, "Mungkin kau mau berkeliling Rusia?"
"Boleh..."
William ditugaskan ke Rusia oleh Al, karena menurut laporan Mir, FreedomLight memerlukan bantuan untuk mengatasi lautan Monster yang mengepung Moskow.
FreedomLight mampu bertahan, dan saat kedatangan William, FreedomLight berhasil mengusir monster-monster yang datang.
Dan dalam perjalanan saja, William sempat dikeroyok kleh segerombolan monstery, dan untungnya William menempuh perjalanan lewat darat jadi ia bisa melawan gerombolan itu dengan mudah. Lain ceritanya kalau William dikeroyok di udara, mungkin William sudah gugur duluan.
"Nampaknya FreedomLight tak membutuhkan bantuanku, kekuatan militer Rusia saja sekiranya cukup untuk menghancurkan satu gelombang serangan dan kalau digabung dengan kekuatan Hunter, seharusnya kalian bisa bertahan di pertempuran sekarang." William berkomentar setelah melihat tumpukan senjata berat di sekitarnya.
__ADS_1
"Sekarang kita tak bisa meremehkan serangan Monster. Ingat kata-kata Langit?" Mir melirik William yang menatapnya serius, "Sekarang adalah pertempuran akhir dan seluruh Monster akan turun dalam pertempuran ini. Siapa yang bisa bertahan, maka dialah yang akan menguasai bumi ini."
"Yap, aku ingat. Hanya saja aku tidak mengira kalau butuh waktu selama ini." William terkekeh, "Kau tahu, kalau semuanya mungkin sudah direncanakan?"
"Maksudmu?" Mir menaikkan alisnya mendengar perkataan William.
"Nanti saja." jawab William dengan senyum lebar...
Keduanya berjalan bersama dalam diam menuju markas untuk mengambil kendaraan yang akan dipakai berkeliling Rusia.
Yah, mungkin saja maksudnya ingin berpatroli selain berkeliling Rusia...
***
"Kami berdua sudah lebih dari cukup untuk membersihkan Kola Superdeep Borehole." Mir melipat tangannya, "Kalian harus menjaga Moskow selagi kami pergi."
"Tapi apakah kalian tidak butuh Strategic Missile? Suplai kehidupan? Gas panas?" Hunter muda di depan keduanya bertanya dengan nada panik, dan Mir hanya menghela napasnya.
"Kau harus tahu kalau satu Hunter rank SS mampu menghancurkan satu kota jika ia serius?" tanya Mir dan Hunter muda itu mengangguk pelan.
Memang begitulah adanya, Hunter rank SS sudah melalui ujian hidup yang panjang dan tubuh mereka sudah terlatih, jadi mengamuk adalah hal biasa bagi mereka.
"Baiklah kalau begitu, hati-hati..." Hunter muda itu memberi hormatnya kemudian melanjutkan aktivitasnya lagi.
Mir melempar kunci kendaraan ke William kemudian berjalan, "Ayo..." William menangkap kunci itu kemudian mengikuti Mir.
Menurut laporan Hunter yang berpatroli, Kola Superdeep Borehole atau lubang terdalam di dunia kedatangan tamu, yaitu gerombolan Monster.
Dan lubang berukuran besar muncul di dekat sana, dengan Gate ungu di atasnya, membuat para Hunter ketakutan dan memilih melapor kemudian meminta bantuan.
***
"Heh..." Mir mengangkat tombaknya dan menyalakan pemanasnya, "Tak ada serunya kalau Monsternya hanya keroco begini..."
Keduanya berlari menuju gerombolan Monster yang berkerumun di sebuah kota di bawah mereka, dan gerombolan itu menyadari kedatangan dua Hunter itu.
Monster-monster dengan berbagai bentuk dan suara bergerak dengan kacau ke arah keduanya, dan benturan antara Monster dengan William dan Mir tak bisa dihentikan.
William mengayunkan kapaknya dengan kuat dan satu ayunannya cukup untuk memotong kepala belasan Monster, hingga kepala-kepala Monster bergelinding di atas tanah.
Mir mengayunkan tombaknya dan menghabisi satu persatu Monster dengan tusukannya. Meski serangannya hanya tusukan saja, Mir mampu bergerak cepat menarik tombaknya dan menyerang Monster lain, jadi ia bisa mengimbangi gerakan William dan terus menempelnya.
Keduanya terus masuk ke gerombolan Monster itu, dan gerakan mereka semakin tak bisa dihentikan, para Monster habis menjadi potongan-potongan besar karena keduanya.
"Biarkan dua manusia itu menjadi lawanku!" suara seruan keras terdengar, dan gerombolan Monster yang masih banyak itu langsung menepi.
William dan Mir berhenti bertarung dan keduanya mengambil posisi siaga, keduanya mendengar suara seruan tadi dan keduanya mengetahui kalau Monster yang lebih kuat sudah muncul.
"Ternyata ada juga manusia lain yang sama kuatnya seperti Langit Satria!" sosok singa besar muncul dari kejauhan, pasir-pasir beterbangan membuat kedatangannya terasa mencekam.
Singa itu berhenti di depan keduanya dan ia berdiri, "Dan rencanaku berhasil sepenuhnya..."
"Apa kau pikir tipuan itu akan bekerja padaku dan Mir? Tidak..." William mengangkat kapaknya dengan sebelah tangannya, "Kalau kau mengaku pimpinan mereka, maka maju dan hadapi aku!"
Singa itu hanya menyeringai lebar dan ia menghilang dari pandangan William, sebelum ia merasakan hawa dingin di lehernya.
"Ap-...?!"
"Will-?!"
__ADS_1
William menoleh ke kanan, ke arah Mir berdiri, dan singa tadi sudah menusuk punggung Mir hingga tembus ke dadanya.
Tombak biru Mir jatuh ke atas tanah, mengiringi kepergian sang Light Spear yang perkasa itu meninggalkan dunia fana ini...
Catatan:
Ehem...
Tes, tes, tes...
Manuk?
Oke, manuk...
Selamat pagi, siang, sore, malam, atau kapanpun itu saat kalian membaca catatan yang mungkin ga guna ini, dan dimanapun kalian membacanya, kuharap kalian mengerti dengan maksudku ini~...
Oke, serius...
Jadi begini, entah berapa hari sudah berlalu tanpa pertempuran akhir yang seharusnya aku targetkan tamat di akhir tahun 2022 ini... Seminggu atau lima hari yak? Lama dah pokoknya...
Ada alasannya kenapa aku ga pernah up, apalagi sekedar nongol di grup MT, yaitu karena sibuk di RL. You know lah, RL itu apaan...
Oke, Real Life...
Kesibukanku di RL makin ga terkendali aja, semisalnya ngebut ngerjain tugas lah, nguli daily, dan kegiatan keagamaan.
Yap, gara-gara kurikulum baru yang menyuruh guru lebih sering memberikan tugas, aku jadi sedikit punya waktu ngerjain hal lain_-
Lagian buat apaan guru sering ngasi tugas ke murid kalo ujung-ujungnya murid lebih sering nyontek buat nyelesain tugas?
Apalagi deadline satu tugas itu singkat banget, ditambah tugas yang banyak... Senangnya jadi murid indo...
Apaan emanh tugasnya? Keliatannya ribet banget?
Oh, ada powerpoint, makalah, portofolio, tugas video, presentasi, karya seni, dan lain-lain...
Peningnya...
Ah, malah jadi curhat...
Selain itu, masalah kesehatan juga jadi alasan aku jarang update. Kondisi kesehatanku terus naik turun sejak awal bulan ini, dan aku beberapa kali juga tidak masuk sekolah karena masalahku ini.
Yaaa, mungkin aja karena kurang air dan cuaca yang tidak menentu bisa jadi penyebab kesehatanku naik turun.
Yah, mungkin ga banyak yang bisa aku sampaikan sekarang, karena aku menyelesaikan chapter ini di atas tempat tidur juga dan aku juga ga tau harus ngasi tau apalagi...
Oh iya, tentang satu hal lagi...
Punya teori tentang kelanjutan perang dunia ketiga ini? Tuliskan disini dan aku akan membacanya untuk mengisi waktu rebahanku...
Aku mungkin bakal lama tidak update setelah chapter ini, dan kalau lewat dari tanggal 31 Desember aku tidak lanjut, kalian boleh meninggalkan novel ini dan pergi mencari kisah lain yang lebih seru dari ini...
Yah, memang rencananya aku berhenti ngetik karena kesibukanku, mungkin setelah aku menamatkan novel keempatku yang sudah jadi sekitar 5 chapter yang akan rilis tahun depan...
Itu aja, terima kasih kalau sudah membaca catatan pendek yang mungkin tidak penting bagi kalian, see you in December!
Salam,
Rio Andriana.
__ADS_1