Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
280. Anak muda


__ADS_3

Beberapa hari sudah berlalu sejak kembali...


Para Hunter yang gugur telah disemayamkan dengan penuh kehormatan, penduduk sipil menjalani hidup mereka di kamp pengungsian selagi beberapa kota dibangun kembali.


Menurut data yang dikumpulkan Yuuki, ada kurang dari sepuluh kota yang masih berdiri kokoh setelah pertempuran selesai. Yaitu Jakarta, Denpasar, London, Tokyo, Moskow, dan terakhir Melbourne, selebihnya hancur lebur.


Selain itu, dari laporan William yang menyisir wilayah Amerika untuk mencari tubuh Carroline yang gugur, Amerika ada dalam kondisi terbakar sepenuhnya, api membara tanpa henti, terutama di New Washington.


Dengan kata lain, bunker yang ada di New Washington ikut hancur beserta penduduk sipil yang mengungsi kesana. Ada beberapa potongan tubuh yang hangus terbakar, dan semuanya sedang diidentifikasi di Tokyo.


"Hasilnya belum keluar, tetapi menurut potongan laporan yang kuintip sedikit, ada satu potongan yang diduga sebagai tangan Carroline Cage." ujar William, "Aku tak bisa membayangkan Monster macam apa yang menyerang Amerika..."


Tak ada laporan yang masuk tentang bentuk Monster yang menyerang Amerika, selain sinyal terakhir yang dipancarkan mantan ketua organisasi StarSam itu.


"Selain itu, ada beberapa kamera drone yang menangkap beberapa penampilan misterius di medan perang..." Al meletakkan sebuah hardisk, "Coba lihat ini..."


Aku meraihnya dan menyambungkannya dengan laptop di depanku, kemudian aku membuka beberapa file dan melihat isinya...


Manusia api?


Kapal besar yang melayang di udara?


Corrupt?


Petir?


Lingkaran merah?


Hei, hei, hei! Apa-apaan ini?! Bagaimana hal aneh seperti ini hadir saat Perang Dunia ketiga kemarin?!


Meski Yuuki sudah menceritakannya beberapa hari lalu, aku masih tak percaya kalau yang ia katakan itu benar adanya...


"Bagaimana semuanya bisa terjadi?!" aku menatap William, mungkin aku menatapnya terlalu tajam, jadi paman tua itu sedikit bergetar.


"Itulah hasilnya, dan ada kemungkinan Carroline gugur karena salah satu dari dua makhluk aneh yang datang kemari saat kau tak ada." jawabnya.


Kalau manusia petir sudah diceritakan oleh Yuuki kalau ia membantunya melindungi Jepang, tersisa manusia api saja yang terlihat mencurigakan di mataku.


"Storm Bringer ya... Kau diam di pihak mana, manusia petir?" gumamku pelan, dan mungkin didengar oleh William.


"Ya? Apa kau berkata sesuatu?"


Aku memejamkan mataku dan menggelengkan kepalaku, "Panggil Hunter rank tinggi, aku ingin mengatakan sesuatu..."


***


Ada setidaknya dua puluh orang yang berdiri di ruangan pertemuan RedWhite, dan Langit tahu kalau beberapa orang yang ia kenal tak ada di tempat.


Hunter rank SS dan Hunter rank S yang tersisa hanya tiga puluh Hunter, ratusan lainnya gugur dalam perang dunia ketiga.


"Kekuatan dunia sudah hilang amat banyak, ya?" ujarku pelan, dan kulihat semua orang mengangguk.

__ADS_1


Angin malam terasa sejuk, aku jadi merasakan kesedihan yang amat mendalam...


Meski sudah hampir sebulan sejak perang selesai, rasa kehilangan masih belum pergi sepenuhnya...


Terlebih, kawanku yang bernama Rei masuk dalam daftar Hunter yang sinyalnya hilang dan jasadnya tak ditemukan.


Tak hanya itu, ayahku juga hilang, dan lokasinya berhasil dilacak, yaitu samudra Pasifik, sebab itulah jasadnya tak pernah ditemukan sampai kapanpun...


"Lalu, setelah semuanya selesai, apa langkahmu selanjutnya?" tanya Vina.


"Sederhana, aku ingin membangun kembali dunia sebagaimana kondisi dunia sebelum invasi Monster terjadi..." jawabku.


Itulah yang kupikirkan, bagaimana membangun dunia kembali seperti semula, seperti saat masa-masa kedamaian sebelumnya...


Masalah biaya, aku yakin pemimpin dunia pasti bersedia merogoh kantong negara untuk membangun dunia, apalagi banyak kota yang hancur selama perang, pastinya banyak orang yang kehilangan tempat tinggalnya...


"Lalu bagaimana dengan selanjutnya juga? Apa kau sudah memikirkan sesuatu?" tanya William.


Sesuatu apa lagi paman? Aku sudah-...


"Pendidikan Langit, ingat..." Andhika menatapku, "Kita masih dalam masa menuntut ilmu..."


Menurut buku yang kubaca di rumah kakek, dikatakan kalau usia 6 sampai 19 tahun adalah usia menuntut ilmu, setelahnya seseorang bisa memilih melanjutkan pendidikan sesuai yang diinginkannya atau bekerja...


Aku masih 15 tahun, yang artinya aku masih bersekolah, seharusnya...


"Apalagi empat petinggi organisasi RedWhite adalah remaja, aku tidak tahu bagaimana reaksi jenderal lain jika melihatnya..." Yuuki memejamkan matanya.


Peraturan dunia akan kembali seperti semula...


Apakah aku masih bisa bertahan nantinya? Aku yang hidup selama ini tanpa adanya ilmu dari instansi pendidikan? Hanya ilmu dasar yang kupelajari dari kakekku?


"Kurasa kemiliteran adalah tempat yang benar bagi Langit meski usianya belum mencukupi..." ujar Al, "Dengan prestasinya saat ini, bukan tidak mungkin Langit bisa duduk di kursi parlemen sebagai menteri pertahanan."


Ini lagi, menjadi menteri pertahanan hanya dengan pengalam bertempur? Jangan bercanda...


"Hanya menteri pertahanan yang paling tinggi bisa kupikirkan, tetapi itu semua tergantung presiden saja." tambah Al, "Paling buruk kau menjadi penasihat presiden."


Lebih buruk lagi...


"Tapi yah, aku tak ingin memikirkan itu, aku hanya memikirkan bagaimana caranya kita memulihkan seluruh dunia." aku memejamkan mataku, aku sudah memikirkannya sejak lama, "Apa kalian bisa mempertemukan aku dengan pemimpin negara yang tersisa?"


"Membicarakan perekonomian ya? Masuk akal, akan kubantu..." William tersenyum tipis, dan ia pergi.


Satu persatu Hunter pergi, menyisakan aku seorang di ruangan...


***


"Pagi pemimpin negara sekalian yang kuhormati..." aku membungkuk sedikit, "Maaf jika aku mengundang kalian semua datang saat kondisi begini..."


"Aku tidak akan berlama-lama lagi..." aku mengangkat hardisk yang kudapat kemarin dari Al, "Aku akan menunjukkan sesuatu."

__ADS_1


Aku menyambungkannya dan menampilkannya di layar besar di belakangku, "Kalian sudah lihat ini? Sudah tahu kondisi negara di dunia seperti apa?"


Mereka terdiam, bahkan saat aku menunggu pun mereka tak ribut sama sekali...


"Kuanggap kalian paham." aku mencabutnya dan menyimpannya, "Jadi, apa yang kalian pahami?"


"Dunia sudah hancur..."


"Tak ada lagi yang tersisa..."


"Hanya memperbaikinya dan memulihkannya seperti semula."


Kulihat pak Oka menunduk, ia tak mengangkat wajahnya saat aku berbicara.


"Jadi, langkah apa yang harus kita lakukan?" tanyaku lagi.


"Memperbaikinya." beberapa pemimpin negara menjawab dengan pelan, dan aku merasa sedikit kejanggalan...


"Kemana perginya simpanan negara?" tanyaku, dan seketika, semua menunduk.


"Dipakai untuk suplai perang."


Suplai perang kebanyakan dari IronBlast, EasternDragon, dan dari GodBless, jadi rata-rata suplai perang berasal dari sumbangan organisasi Hunter, sedikit yang mengambil dari simpanan negara.


Aku curiga...


"Kalian tidak korup bukan?" tanyaku lagi, aku makin curiga...


Pejabat korup bukan hal biasa di dunia, malah katanya sering terjadi sebelumnya, bahkan saat aku menjabat sebagai ketua organisasi RedWhite, aku banyak mendengar pejabat yang korup.


Rasanya aku geram dan ingin memenggal kepala semua pejabat yang korup, tetapi kakekku selalu mengingatkan satu hal...


"Membunuh satu penjahat sama dengan melahirkan seribu penjahat, maka berhati-hatilah dalam memberi pelajaran pada orang jahat."


"Tentunya tidak, kami tidak korup, bawahan kami juga tidak."


Pemimpin yang menutupi aib bawahannya terasa busuk dibanding sosok pemimpin diktator...


"Kalau begitu, satu permintaanku..." aku mengangkat jariku, "Jika benar simpanan negara masih, maka bangunlah dunia ini. Aku menunggu sepuluh tahun lagi."


Aku meraih Pedang Api Hitam kemudian berjalan keluar dari ruangan, kurasa para pemimpin negara masih belum terpojokkan...


Aku berbalik lagi dan membuka pintu lalu berkata, "Jika dalam sepuluh tahun aku tak melihat perubahan, maka bersiaplah untuk kepala kalian kupenggal."


Suara seketika menghilang, tak ada bisik-bisik yang tadinya saling bisik-bisik... Aku melangkahkan kakiku dan berjalan pergi.


Tiba-tiba, Vina datang dan ia berdiri di depanku, "Mau menikmati masa muda?"


Aku tersenyum tipis, "Mau jadi kekasihku?" tanganku terangkat, mengajak Vina untuk memegang tanganku.


"Ayo..."

__ADS_1


__ADS_2