
Upacara bendera berlangsung cukup lama, tapi aku dan yang lainnya hanya menonton sampai pengangkatan paman Frans menjadi Hunter rank SS, setelah itu kami pergi ke organisasi Hunter RedWhite yang ada tak jauh dari sana.
Aku benar-benar tak sabar ingin memegang kartu lisensi Hunter milikku sendiri, jadi aku ingin menyuruh paman Lein membawa mobil lebih cepat lagi.
"Paman Lein, lebih cepat lagi!" aku berseru dan paman Lein kulihat hanya menghela napasnya.
Yah, rasanya tidak akan diterima deh...
"Tidak, meskipun kita Hunter kita tak bisa bertindak seenaknya saja, kita ada di wilayah kekuasaan RedWhite yang juga bekerjasama dengan polisi dan TNI, jadi sedikit saja kita melakukan kesalahan, maka itu dianggap meremehkan tiga kekuatan ini." paman Lein menjelaskan, dan aku menurut saja.
"Tapi tenang saja, kita sedikit lagi sampai di markas RedWhite, dan disana kita akan berpisah." ujar paman Lein tenang, "Jika saatnya tiba, kita akan bertemu lagi."
Dan sesuai kata-kata paman Lein, sebuah pintu gerbang raksasa mulai terlihat di hadapan kami, dan sebuah papan yang terletak di dekat pintu gerbang itu menunjukkan nama tempat itu beserta tanggal berdirinya.
"Jakarta, 17 Agustus 2045, itukah tanggal berdirinya RedWhite?" aku melihatnya sekilas.
"Ya, tanggal itu bersamaan dengan tanggal kemerdekaan Indonesia, dan menurut sejarah RedWhite didirikan oleh 3 jenderal angkatan darat, laut, dan udara yang ketika itu sudah menjadi Hunter rank S yang dipromosikan oleh IHO di Amerika Serikat." paman Lein menjelaskan, "Dan nama organisasi ini didasarkan pada warna kebanggaan negara kita, merah dan putih."
Pintu gerbang RedWhite dijaga oleh dua Hunter, dan mereka menahan kami sejenak kemudian memeriksa kami.
"Kalian siapa?" tanya salah satunya, "Kami akan mengijinkan kalian masuk jika identitas kalian tak mencurigakan."
Paman Lein mengeluarkan kartu lisensi Hunter miliknya dan mengatakan, "Namaku Lein Artha, aku adalah Hunter rank A yang diperintahkan untuk memimpin kota 6."
"Kenapa anda kembali?" nada bicara Hunter yang tadi bertanya berubah menjadi nada menghormati ketika mendengar nama Lein Artha, "Apa ada urusan?"
"Aku membawa tiga anak kecil yang ingin bergabung dengan RedWhite..." jawab paman Lein, "Dan juga aku ingin berbicara dengan pak Frans langsung."
"Maaf sekali, pak Frans menghadiri upacara bendera di istana negara, jadi mungkin nanti siang beliau akan kembali." jawab Hunter itu, "Tapi pak wakil ketua Dito Kusuma ada di kantor, mungkin anda bisa berbicara dengannya."
"Ah, baiklah, kalau begitu kami masuk dulu." ujar paman Lein dan ia melajukan mobilnya lagi, masuk melewati gerbang RedWhite.
__ADS_1
***
Markas RedWhite berukuran besar, aku mengakuinya karena banyaknya bangunan yang ada di halamannya.
Bendera-bendera, orang-orang yang sibuk berkeliaran di sekitar jalan, dan kukatakan, luas markas ini mungkin melebihi luas desa tempatku besar.
"Sedikit lagi kita sampai di kantornya, persiapkan diri kalian..." ujar paman Lein, dan mobil melaju lebih cepat lagi.
Setelah beberapa menit berjalan, mobil berhenti di depan sebuah bangunan besar yang tak terlalu tinggi tapi merupakan bangunan paling besar yang kulihat. Nama RedWhite tertempel di dindingnya.
"Yap, jadi kalau kita sudah sampai di depan kantor ini, maka kita sudah sampai di markas RedWhite..."
Kami turun dari mobil dan ketika berhenti sejenak, kami bisa melihat besarnya bangunan yang menjadi kantor utama markas RedWhite.
Penampilannya bisa kukatakan mirip seperti bangunan istana negara, bedanya ada tulisan RedWhite-nya, tapi secara keseluruhan yaaa mirip dengan istana negara.
Pintunya dijaga oleh dua Hunter yang kuperkirakan adalah Hunter rank A karena hawa keberadaan mereka hampir menyetarai paman Lein.
Kami berjalan masuk setelah menurunkan senjata apiku dan Andhika, dan kami tak dihentikan oleh dua penjaga itu, mereka malahan menyapa paman Lein kemudian kembali pada tugas mereka.
Beberapa orang terlihat mengerjakan sesuatu di atas kertas, ada yang menelepon, ada beberapa orang yang berdiri di dekat orang menelepon, dan lainnya, semuanya sibuk.
Aku melirik ke sebelahku, Andhika sedang mematung melihat semua itu.
"Apa pekerjaan Hunter memang seberat ini?" gumam Andhika, dan aku menghela napas kemudian menariknya agar lebih cepat berjalan.
Kami lewat dengan cepat agar tidak mengganggu pekerjaan mereka, kemudian berjalan santai lagi setelah melewati para Hunter yang sibuk bekerja.
***
Paman Lein membawa kami menuju sebuah ruangan yang terpisah jauh dari keramaian tadi, dan di pintunya tertulis nama Dito Kusuma.
__ADS_1
"Di ruangan ini ada orang yang merupakan wakil ketua RedWhite, begitu?" tanya Rei, dan paman Lein mengangguk.
"Jika kalian melihatnya maka kalian tidak akan percaya kalau lelaki itu adalah wakil ketua RedWhite..." paman Lein mengetuk pintu kemudian berkata, "Saya Lein melapor."
"Ya, silahkan masuk!"
Paman Lein membuka pintu perlahan kemudian berkata, "Permisi, kami masuk..."
Pintu dibuka dan kami masuk, seisi ruangannya rapi dan luasnya terlihat sekali!
"Minimalis..." gumamku, dan seorang pria yang sedang duduk di belakang meja tersenyum lebar melihatku.
"Hmm, ada orang yang memiliki penampilan layaknya kakek Bintang..." ujarnya kemudian berdiri, "Dan hawa yang kau pancarkan mirip seperti kakek Bintang."
Sial, aku tidak percaya orang sepertinya adalah wakil ketua RedWhite, sementara ketuanya adalah orang garang seperti itu...
Penampilannya terlihat muda sekali, tapi ada rambut putih sedikit di rambutnya, dan tubuhnya terlihat biasa-biasa saja, aku akan menilainya seperti orang biasa kalau saja ia tak memakai pakaian tentara lengkap dengan tali di bahunya serta warna-warni di dada kirinya. Di dada kanannya ada namanya dan lambang RedWhite di atas namanya. Namanya adalah Dito Kusuma.
Dia mendekat dan paman Lein memasang posisi tegap kemudian berkata, "Pak Dito, nama saya Lein dan saya akan melapor!"
Aku terkejut sedikit melihat paman Lein, bahkan Rei dan Andhika yang ada di sebelahku ikut terkejut melihat sikap serius paman Lein.
"Jadi, apa laporanmu?" tanya Dito, "Dan kenapa kau tak melapor dengan ponsel saja?"
"Maaf sebelumnya, tapi saya datang langsung karena ingin mengatakan sesuatu pada pak Frans terkait tawarannya pada saya mengenai promosi Hunter rank S." jawab paman Lein, "Saya menolaknya."
"Hah, jadi kau menolaknya, ya? Oke deh..." Dito mengibaskan tangannya, "Tapi bagaimana dengan kota 6 yang kau tinggalkan itu?"
"Pak Antha masih hidup, dan ia memegang posisi walikota selagi saya pergi."
Wajah si Dito itu berubah dan ia mengerutkan keningnya, "Apa maksudnya? Bukankah dia hanya pensiun, bukan gugur dalam pertarungan?"
__ADS_1
"Ah, begitu ya? Maaf, saya lupa..."
Sialan, padahal sudah serius, eh salah lapor...