Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
207. Truth


__ADS_3

Rei mengeluarkan sebuah pulpen dan meletakkannya di atas meja, "Sekarang, aku ingin bermain sebuah permainan dengan kalian..."


"Apa?"


"Truth." jawab Rei, "Salah satu diantara kita akan memutar pulpen, siapapun yang ditunjuk oleh pulpen akan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh yang memutar pulpen, dan jawabannya harus kebenaran."


Andhika menatap Rei dengan mata sipit, ia merasa ada yang tidak beres dengan Rei.


Rei yang ia kenal selalu berpikir liar, sangat jarang pendapatnya masuk akal seperti tadi, dan sekarang mengajak bermain permainan tentang kenyataan, apa maksudnya?


Ia teringat dengan kata-kata Langit sebelumnya, yaitu, "Aku merasakan firasat yang unik tentang Rei, aku ingin kau menyelidikinya karena waktu santaiku sedikit."


"Firasatku terkadang meleset, tapi kali ini aku yakin ada sesuatu di dalam diri Rei yang membuatnya berbeda dari manusia biasa. Ya, dia kemungkinan bukan keberadaan biasa saja..."


Rei bukan keberadaan biasa jelas membuat Andhika terkejut, dan dalam permainan kali ini ia berencana mengoreknya hingga ia menemukan jawabannya.


"Oke, aku yang pertama memutar..." Rei mengangkat pulpennya, meletakkannya di atas meja kemudian memutarnya.


Suara gesekan pulpen mengisi ketenangan di restoran, dan ujung pulpen yang dipakai menulis mengarah ke Senja.


"Aku ingin bertanya sesuatu..." Rei memangku dagunya dengan tangannya, "Apa kau berteman dengan Langit sejak kecil?"


Senja mengelus dagunya, "Hmm, tidak. Aku bertemu dengannya saat Surabaya hancur, dan dia yang melindungiku selama menunggu bantuan."


"Selanjutnya aku..." Vina meraih pulpen kemudian memutarnya, dan berhenti menghadap Senja.


"Aku lagi?!" Senja menunjuk pulpen dengan kesal, "Benda ini punya dendam apa denganku?!"


"Oh, santai saja, pulpennya tidak punya salah..." Vina berdeham, "Apa hubunganmu dengan Langit hanya sekedar berteman saja?"


"Tentu saja iya, memangnya aku punya hubungan apa lagi dengannya?" Senja melipat tangannya, "Dan juga, keluarkan pertanyaan yang tidak mengandung nama Langit."


"Siapa tahu hubungan spesial dengan Langit..." Andhika tersenyum tipis, "Giliranku."


Ia meraih pulpen kemudian memutarnya, dan berhenti menghadap Rei.


"Rei, aku ingin bertanya sesuatu..." Andhika menatap Rei serius, dan suasana seketika terasa tegang.

__ADS_1


"Apa itu?" Rei bertanya dengan wajah yang tenang, dan membuat Andhika yakin kalau firasat Langit kemungkinan benar, karena Vina dan Senja sudah memasang wajah tegang sementara Rei memasang wajah tenang yang jelas berbeda dari dua perempuan itu.


"Siapa dirimu yang sebenarnya?" tanya Andhika, dan Rei langsung memasang wajah serius.


"Apa maksudmu? Bukankah Rei adalah Rei yang biasa kita kenal?" Vina bertanya, dan Andhika mengangkat telunjuknya, menyuruhnya diam.


"Apa maksudmu? Aku adalah Rei. Benar, aku adalah Rei Artawan." Rei menatap Andhika tajam.


Andhika tersenyum tipis, "Oke..."


Senja meraih pulpen kemudian memutarnya, dan berhenti menghadap Andhika.


"Dhika, mana yang kau pilih? Bertarung atau masa muda?" tanya Senja, dan Andhika tersenyum lebar.


"Aku mempertaruhkan 17 tahun hidupku untuk membuat masa depanku lebih baik." Andhika tersenyum makin lebar, "Langit pernah mengatakan padaku, bahwa dia akan mengakhiri pertempuran melawan Monster, dan aku yakin ia bisa melakukannya."


"Tugasku sebagai Hunter adalah memburu Monster, sudah pasti aku akan bertarung, meski masa mudaku menjadi taruhannya." jawabnya, "Seharusnya kau sudah memikirkan pertanyaan itu, kan?"


"Yah, kurasa kau lebih baik dari sebelumnya..." Vina menggerutu, "Kau yang sekarang mungkin bisa mengimbangi Langit."


Langit adalah remaja terkuat, itulah yang dunia ketahui, begitu juga dengan keempatnya.


"Oke, selanjutnya adalah aku." Rei meraih pulpen kemudian memutarnya, dan berhenti menghadap Vina.


"Tebakanku, kau menyukai Langit, dan kau tidak terima jika Senja lebih dekat dengan Langit, benar begitu?" tanya Rei, dan ia menyeringai lebar.


Wajah Vina yang putih seketika memerah sedikit, dan Andhika terdiam melihatnya.


Rei benar-benar sosok yang berbeda dari yang pertama mereka kenal, bahkan ia bisa menebak apa yang dipikirkan oleh Vina...


"Bu-bukan begitu! Aku hanya mengaguminya!" Vina membantah, dan Rei menghela napasnya.


"Kalau begitu, kenapa wallpaper ponselmu adalah wajah Langit yang ada di suatu artikel di internet?" tanya Rei, dan Vian diam.


"Itu hany mengaguminya saja, tidak lebih." Vina mendengus, "Lagipula, darimana kau tahu hal itu?"


"Aku sempat bersih-bersih di ruang pertemuan, dan ponselmu tertinggal di ruang pertemuan. Aku mengambilnya kemudian menyimpannya, sebelum menyimpannya ponselmu menyala sendiri dan aku melihat wallpapernya." jawab Rei, "Dan satu hal yang kuketahui, kalian berdua sama-sama menyukai Langit."

__ADS_1


Andhika menarik napasnya dan ia meraih pulpen kemudian memutarnya, berakhir menghadap Rei.


"Satu pertanyaan yang sama, siapa kau sebenarnya?" tanya Andhika, dan tatapan Rei seketika berubah menjadi tajam.


"Kenapa kau seserius itu menanyakan hal remeh itu?" Rei menatap Andhika tajam.


"Auramu berbeda dari sebelumnya, kau terasa lebih kuat dari yang kuingat terakhir. Latihan memukul samsak seminggu tidak mungkin bisa mengubahmu lebih kuat dengan cepat." Andhika menatap Rei tajam.


Rei berdiri dan gerakannya cepat, ia meraih pulpen kemudian menyimpannya lalu memukul Andhika.


Andhika mengangkat kedua tangannya dan menahan pukulan Rei, dan ia merasa tulangnya bergeser sedikit.


Ia melompat mundur dan suara teriakan terdengar, ia melirik ke Senja dan Vina yang sedang menodongkan pistol masing-masing ke kepala Rei.


"Aturan utama IHO, tak boleh ada pertarungan antar Hunter kecuali latihan." Vina menatap Rei serius, "Kau bisa dikenakan sanksi jika tak berhenti."


Andhika memegang tangan kanannya yang terasa bergeser sedikit dan ia mendekat, "Aku hanya bertanya, kalau kau tak ingin menjelaskannya pada kami, kau hanya harus memberitahu Langit, ia memiliki wawasan lebih banyak dari kita."


"Apa Langit yang menyuruhmu bertanya begitu padaku?" tanya Rei, dan Andhika menggeleng.


"Hanya inisiatif sendiri, kau tak perlu mencurigainya, kita adalah teman, kita hanya harus berbagi rahasia masing-masing." ujar Andhika dan ia mengulurkan tangannya, "Maaf jika aku tadi berkata sesuatu yang menyinggungmu."


Rei mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Andhika, "Baiklah, maaf jika tadi aku lepas kendali..."


Suasana restoran masih kacau dan tanpa sadar, sesuatu yang buruk sedang terjadi di negara sendiri.


***


Aku duduk di bawah pohon, di sebelahku duduk Carroline yang masih memakai dalaman saja. Kami menatap pakaian kami yang dijemur di atas ranting di tepi kolam air terjun.


"Kau tidak mungkin hanya menyukaiku saja, kan?" tanyaku, dan aku tak mendengar jawabannya.


"Memangnya salah jika aku menyukaimu?" tanya Carroline dan aku menghela napasku.


Biarpun ia berkata begitu, aku tak tahu maksud menyukai itu seperti apa. Meskipun aku tahu, aku tidak akan punya waktu memikirkannya.


Aku lebih memilih menyelesaikan pertarunganku melawan para Emperor dan Monster, menghentikan pertempuran panjang ini kemudian hidup normal seperti remaja pada umumnya.

__ADS_1


Ya, itulah mimpiku...


"Kau akan tahu suatu hari nanti..." aku merasa bahuku ditimpa oleh sesuatu, dan kulihat Carroline menyandarkan kepalanya di bahuku.


__ADS_2