Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
40. Panggilan untuk sang legenda dan pasar


__ADS_3

Bintang menatap ponselnya lalu menghela napasnya, sudah beberapa hari terakhir ia mendapat panggilan dari RedWhite, dan ia terus mengabaikannya.


Tetapi ia tak bisa terus-terusan mengabaikan panggilan itu, meskipun ia sudah pensiun, tetap saja dia adalah Hunter, tak ada istilah pensiun dalam dunia Hunter, pensiun sesungguhnya adalah saat Hunter tewas dalam pertarungannya.


"Kakek Bintang, kami meminta bantuan anda sekali lagi! Kami mohon, kembalilah!"


Bintang mengangkat ponselnya dan meletakkannya di telinganya dan berkata, "Akan kudengarkan..."


Seharusnya kalian tahu kalau meminta orang tua kembali ke pertarungan besar itu amatlah salah, tak seharusnya begitu. Generasi muda lah yang harus menyelesaikan pertarungan selanjutnya menggantikan para generasi tua, batin Bintang dalam hatinya.


"Sebuah gate raksasa muncul di Islandia dan gate itu mengeluarkan beberapa Monster laba-laba besar yang berhasil menghancurkan kekuatan Hunter negara Islandia." Ujar suara dari ponselnya.


"Jadi? Apa masalahnya? Tom Cage dan pasukannya lebih dari cukup untuk mengurus laba-laba itu..." Bintang menaikkan telunjuknya, "Ingatlah, pasukan StarSam adalah pasukan terkuat di dunia, seharusnya kalian meminta bantuan pada mereka, bukan padaku."


"Bukan itu masalahnya, tetapi karena kemunculan laba-laba raksasa yang memiliki wajah seperti manusia itulah yang membuat StarSam ragu untuk mengirimkan pasukannya."


Bintang memasang wajah serius, "Hanya StarSam saja? Bagaimana dengan EasternDragon? BraveWarrior? FreedomLight? IronBlast? Apakah mereka tak ada yang berniat menghadapi laba-laba itu?"


"Tak ada kabarnya, tetapi Tom Cage langsung yang meminta bantuan pada kami."


"Sebab itulah, kembalilah agar organisasi Hunter besar lainnya bisa membantu!"


"Atas dasar apa kalian meminta bantuan padaku? Kalian seharusnya masih mampu menghadapi musuh manapun..." Bintang meletakkan ponselnya dan duduk, "Apakah kekuatan kalian berkurang jauh?"


"Bukan begitu, tetapi kami sudah berusaha mengumpulkan kembali para Hunter rank S yang telah pensiun, termasuk anda juga, bahkan mantan Hunter rank SS yang dulu pernah dimiliki Indonesia, Vigo sekalipun sedang kami bujuk."


"Baiklah..." Bintang mengangguk, "Aku paham situasinya..."


Suara dari ponselnya menghela napas lega, sebelum Bintang berkata sesuatu.


"Tetapi jangan libatkan Indonesia saja dalam Raid kali ini, tetapi libatkan juga negara lain, karena lawan yang kita hadapi sekarang amat kuat."


Bintang tahu siapa lawan mereka sekarang. Lord adalah lawan mereka, lebih tepatnya Spider Lord.

__ADS_1


"Sesuai kata-kata Grasshooper Lord ya? Kenapa dia membocorkan rencana mereka?" Bintang bergumam pelan, "Apakah belalang itu berniat berkhianat pada Black Emperor?"


"Anda merencanakan Raid?" Suara itu bertanya, "Biarkan kami dengar rencana anda..."


"Begini, dengan kekuatan tiga Hunter rank SS yang ada di dunia, setidaknya kita bisa menghabisi laba-laba itu. Tetapi masalahnya, kita tidak tahu apakah gate itu akan tertutup jika semua pasukan musuh sudah muncul, atau ada bantuan lagi..."


"Jadi, sebagai jaga-jaga, aku merencanakan agar empat Hunter rank SS ikut dalam Raid kali ini, dengan aku bergabung dengan mereka berempat." ujar Bintang dan ia berpikir lagi.


Ya, ia akan ikut, tetapi siapa yang akan menjaga Langit dalam latihannya? Penduduk desa? Ia merasa tidak aman meninggalkannya pada penduduk desa...


RedWhite? Bisa dipercaya, tetapi Bintang intinya masih belum ingin meninggalkannya di RedWhite, ragu rasanya...


"Kakek Bintang? Anda masih disana?"


"Ya, aku masih disini, jadi biarkan aku mengurus rencananya dulu-..."


"Kakek, aku pulang..."


Suara anak kecil terdengar dan Bintang mengangkat ponselnya dan berbisik, "Kita lanjutkan nanti malam..."


Aku membantu para pedagang makanan membereskan dagangan mereka yang diacak-acak serigala tadi.


"Bocah, darimana kau mendapatkan pedang itu?" Tanya pria tadi, "Kalau bukan Hunter, maka yang paling mungkin adalah murid Hunter."


Aku berdiri dan berkata, "Aku adalah Hunter, tetapi aku masih belum bergabung dengan RedWhite, aku masih menunggu usia lima belas tahun agar bisa bergabung dengan mereka."


Lima belas tahun, ya? Masih lama ah, sekitar delapan tahun lagi...


Tapi menurut kakekku, kalau aku bisa membuat prestasi hebat di bawah usia lima belas tahun, maka aku akan direkrut menjadi bagian dari RedWhite, ini adalah cara orang yang tidak dilatih langsung oleh RedWhite untuk bergabung dengan mereka.


Kalau dilatih langsung oleh RedWhite, maka saat anak itu sudah memegang senjata api, anak itu sudah bisa dipanggil sebagai Hunter, meskipun usianya di bawah sepuluh tahun. Vina adalah salah satunya.


Aku berencana bergabung dengan RedWhite saat usia dua belas tahun, saat tubuhku sudah bertambah tinggi dan terlihat berotot tentunya, maka saat itulah aku akan bergabung dengan RedWhite.

__ADS_1


Tetapi yah, Hunter muda rata-rata berusia lima belas tahun sampai enam belas tahun, jadi kalau aku bergabung saat tubuhku masih pendek dan tak banyak yang tahu diriku, maka aku akan terus diremehkan.


"Wah, tapi dengan kekuatanmu yang sekarang, paman rasa bergabung langsung dengan RedWhite bukanlah masalah besar." Pria itu menggaruk kepalanya, "Dari yang paman dengar, RedWhite biasanya melakukan perekrutan pada Hunter muda dengan menguji mereka dengan beberapa ujian."


Aku tersenyum lebar, "Ujian? Pasti bisa kuatasi..."


"Yah, melihatmu membelah kepala serigala itu dengan satu serangan, membuatku yakin akan hal itu..." Pria itu mengangkat sebuah kotak, "Apalagi dengan kakekmu di sisimu, pasti RedWhite akan segan menolakmu."


Aku diam, kalau begitu bukankah aku hanya akan bergantung pada kakekku?


"Aku tidak memerlukan bantuan kakekku untuk bergabung dengan RedWhite." Aku mengangkat sebuah panci besar dan meletakkannya di atas meja, "Aku bisa sendiri."


Aku berdiri dengan tegak dan merogoh kantong jaketku lagi, mengambil selembar kertas yang tadi diberikan kakekku dan berjalan menuju pedagang sayur yang kembali melanjutkan kegiatannya setelah sebelumnya terhenti akibat serangan serigala lapar itu.


"Bi, saya ingin membeli..." Aku menyebutkan satu persatu sayur yang diinginkan kakekku, dan pedagang itu mengambilkan sayur yang kuminta.


Setelah itu, pedagang itu menghitung semua yang kubeli, dan setelah selesai, pedagang itu menyebutkan harganya.


Aku angguk-angguk saja, ini adalah pertama kalinya aku ke pasar sendirian, dan sekalinya ke pasar, belanjaannya banyak sekalii! Sampai satu plastik besar penuh oleh sayur belanjaanku...


Aku merogoh kantong lagi dan menyadari sesuatu...


"Kakek sialan! Tidak dikasi uang, dong!" aku menghentakkan kakiku ke lantai dengan kesal, "Bisa-bisanya kakek lupa memberikanku uang!"


"Kalau begitu kau ambil saja dulu barangmu, nanti atau besok kau boleh membayarnya." Mungkin kasihan, pedagang itu menyerahkan plastik besar berisi belanjaanku dan bertanya, "Apakah kau bisa membawanya?"


Karena aku tidak tahu apakah mengambil barang lalu beberapa hari kemudian baru membayarnya adalah hal yang baik, aku langsung saja mengambil belanjaanku dan berbalik pulang.


Dalam perjalanan pulang, aku dilihati oleh orang-orang karena aku membawa plastik besar di punggungku dengan pedang yang tersarung di pinggangku.


Karena aku sudah bisa memegang pedang, kakekku membuatkan sebuah tempat untuk meletakkan pedangku di jaketku dan di celana panjangku.


Dalam perjalanan pulang juga, aku sesekali melihat seorang ayah yang sedang bermain dengan anaknya di halaman rumah mereka.

__ADS_1


Saat melihatnya, entah kenapa dadaku terasa sesak, aku tidak paham kenapa bisa begitu, tetapi yang pasti, aku menginginkan ayahku untuk ada di sebelahku saat ini...


__ADS_2