Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
32. Latihan keras II


__ADS_3

Dua bulan kemudian...


Aku berdiri menatap cermin di kamarku sambil tersenyum lebar.


Cermin itu menampilkan tubuhku yang hanya memakai celana pendek tanpa kaos tanpa lengan yang biasa kupakai saat berlatih itu.


"Hmm, apakah aku sedikit tinggi?" Aku menaikkan alis.


Yah, sejujurnya aku cukup meras aneh dengan perubahan ini, awalnya aku tak sampai di atas lemari pendingin milik kakekku, sekarang aku bahkan bisa melihat apa isinya hanya dengan berjinjit sedikit. Dengan catatan lemari pendingin kakekku adalah lemari pendingin kecil dengan satu pintu...


Karena penasaran, aku mencoba melihat diriku di depan cermin dan yah, seperti inilah diriku sekarang...


"Selain bertambah tinggi, lenganku juga membesar, ya?" Aku menaikkan tanganku dan menekuknya ke atas, hingga lenganku terlihat sedikit besar dibanding lenganku yang sebelumnya kurus kecil.


"Efek terlalu banyak push up kali..." Kakekku muncul dan mengomentari tubuhku, "Lagipula, tubuhmu akan bertambah lebih besar lagi jika berlatih lebih banyak lagi."


"Benarkah?"


"Hmm, kau bisa mencoba menambah porsi setiap latihanmu setiap dua bulan sekali, mungkin bisa membuat tinggimu setara dengan kakek setelah dua tahun berlatih begitu." Ujar kakekku sambil melipat tangannya, "Ayo, kita lanjut berlatih lagi..."


***


Sudah dua bulan berlalu setelah kota Surabaya hancur oleh para Monster, dan selama itulah, aku telah berlatih keras di bawah bimbingan kakekku, yaitu mantan Hunter rank S terkuat di negara Indonesia.


Latihannya sama saja seperti olahraga pada umumnya, tetapi porsinya itulah yang olahraganya terasa berat.


Push up, sit up, plank, squat, lari keliling halaman, tarik ulur ember berisi batu, dan back up, semuanya kulakukan dalam dua bulan terakhir ini.


Satu bulan pertama, hitungannya hanya sampai lima puluh kali, bulan kedua hingga sekarang akan memasuki bulan ketiga, memakai hitungan tujuh puluh lima. Kata kakekku, pada bulan ketiga, aku akan langsung memakai hitungan seratus untuk semua latihan yang memerlukan hitungan, sepuluh kali untuk lari keliling halaman, dan lima menit untuk plank. Benar-benar mengerikan, bukan?


Biarpun mengerikan, aku tetap melaluinya agar aku bisa mencapai impianku, yaitu menjadi Hunter rank SSS dan manusia terkuat di muka bumi selain Tang Liao itu.


"Baik, selanjutnya kau akan mengikuti kakek ke air terjun di dekat sini..." Ujar kakekku dan ia berjalan keluar rumah sambil membawa dua Katana.


"Eh? Untuk apa kakek membawa pedang? Kan kita hanya latihan biasa saja." Aku menaikkan alis.

__ADS_1


"Ha? Kakek membawa pedang untuk kita berlatih di air terjun, oh ya, dalam perjalanan ada baiknya kau menyesuaikan dengan benda satu ini..." Kakekku menyerahkan Katana andalannya, yaitu Pedang Api Hitam.


Aku tak tahu apa tujuan kakekku menyuruhku membawa pedang, tetapi aku mengangguk saja dan menerima pedang itu... Dan astaga, Pedang Api Hitam lumayan berat untuk diangkat.


"Be-Berat!" Aku berseru, tetapi beratnya tak terlalu jika dibandingkan beban dua batu berukuran sedang yang sering kupakai tarik ulur ember di sumur.


"Alasan kau, ikuti kakek!" Kakekku berjalan sambil memanggul pedangnya yang diikat dengan tali tebal.


***


Jarak rumah kakek dengan air terjun lumayan jauh, setelah melewati rimbunnya hutan dan jalanan yang sedikit licin, kami akhirnya sampai di sebuah air terjun yang amat indah.


"Tak ada yang tahu air terjun ini, hanya kakek seorang yang tahu air terjun ini..." Kakekku berjalan maju dan menurunkan pedangnya, "Kau ke bawah air terjun itu..."


Aku menaikkan alis, "Hah? Buat apa?"


"Latihan konsentrasi..."


"Demi apa?! Latihan konsentrasi kan bisa di rumah juga, kan?! Kenapa mesti di bawah air terjun segala?!"


"Melawan lagi, hadapi kakek dengan Pedang Api Hitam!"


Aku meletakkan Pedang Api Hitam di atas batu kemudian melepas kaos tanpa lenganku dan berjalan melewati telaga menuju air terjun yang kurasa cukup dingin itu.


"Brr, dingin..." Aku merasa sedikit kedinginan, padahal cahaya matahari sudah menembus ke rimbunnya hutan.


"Nah, selanjutnya kau duduk di atas batu itu dan tutup matamu, berusahalah untuk menyatu dengan alam..." ujar kakekku dari tepi telaga sambil memakan sebungkus roti.


"Maksudnya?!"


"Berlatih bernapas dengan benar." Jawab kakekku singkat, "Anggap saja sebagai latihan konsentrasi sekaligus untuk membuat napasmu lebih panjang dari sebelumnya."


Aku mengangguk saja, aku yakin maksudnya mungkin adalah latihan bernapas agar udara yang kuhirup bertambah banyak serta menambah kapasitas paru-paruku dalam menarik napasnya, aku yakin itu.


Aku mulai menarik napasku dan bernapas seperti biasanya, tetapi sayangnya, guyuran air terjun ini benar-benar membuatku sulit berkonsentrasi.

__ADS_1


Pluk!


Sebuah batu kecil dilemparkan ke arah kepalaku dan tepat mengenainya, sehingga membuat napasku kembali tidak teratur, konsentrasiku pun buyar.


"Apa maksudnya coba?!" aku berdiri dan berniat mendekati kakekku, tetapi kakekku bergerak lebih cepat dan melempariku lebih banyak batu kecil.


Tak ada pilihan, aku memilih menghindari semua batu-batu yang dilempari kakekku hingga akhirnya dua batu tepat mengenai kepala dan perutku.


"Akh!" Aku terjatuh ke dalam telaga dan menatap tajam kakekku, "Apa-apaan itu?!"


"Oh ayolah, kalau kau tak bisa menghindari semua lemparan batu kecilku, kau tidak akan bisa bertahan di dunia Hunter yang kejam itu." Ujar kakekku dan mengambil pedang yang ia bawa kemudian melemparkannya, "Karena kau gagal berkonsentrasi, berlatih pernapasan, dan gagal menghindari dua seranganku, maka kau kuhukum!"


Pedang yang ia bawa jatuh di depanku, membuatku terdiam dan berpikir, dimana letaknya ia bisa gagal menghindari dua serangan kakekku?


Tak tahu harus memikirkan apa, aku memilih mengambil pedang itu dan bertanya, "Selanjutnya?"


"Kau tarik itu pedang."


Aku menarik pedang itu, tetapi ternyata selain berat, pedang lengkung yang kakekku lempar ternyata sulit ditarik juga.


Aku menarik pedang itu dengan sekuat tenaga, tetapi tetap tidak membuat bilah tajam pedang itu keluar dari sarangnya.


"Haish, kau salah cara menariknya." Kakekku mendekatiku sambil membawa Pedang Api Hitam, "Begini caranya..."


Kakekku menarik pedangnya mengikuti lengkungan pedangnya dan bilah berwarna hitam dengan garis berwarna merah di tengah-tengahnya keluar dari sarangnya, dan saat kakekku menekan satu tombol, bilah berwarna hitam itu bercahaya dan berubah warna menjadi merah menyala.


"Itu adalah cara menarik Katana. Meskipun berbentuk lengkung, bukan berarti kau bisa menariknya dengan lurus..." Ujar kakekku, "Sekarang, cobalah..."


Aku mengangguk dan menarik pedangku dengan mengikuti lengkungannya. Terasa sedikit berat, karena aku sedikit waspada pada bilah tajam Katananya.


Butuh beberapa detik lebih lama dari kakekku untukku menarik pedangku, dan saat sudah keluar, bilah berwarna abu-abu, mungkin berwarna seperti cincin perak ibuku, keluar dari sarungnya dan berkilau saat terkena cahaya matahari.


Mataku melebar saat melihat bilah itu, rasanya sedikit... Bagaimana menjelaskannya yah, perasaanku terasa campur aduk saat melihat pedangku, rasanya sedikit senang, terharu juga, dan sedikit ngeri.


"Nah, selanjutnya kau coba menyarungkannya..." Kakekku memasukkan pedangnya dengan bilah tajamnya yang berada di atas dan memasukkannya dengan mengikuti lengkungannya lagi, "Usahakan agar bagian tidak tajamnya berada di bawah dan bagian tajamnya tidak mengenai tangan kirimu yang memegang pedang."

__ADS_1


"Katanya, alasan Katana dibawa terbalik seperti ini adalah agar para samurai dulu bisa bunuh diri jika kalah perang ataupun menjadi tawanan perang." Ujar kakekku tiba-tiba saat aku sedang mencobanya, dan saat mendengarnya, rasanya ngeri begitu deh...


"Tak kukira kalau ada perang juga di dunia ini, bahkan bunuh diri karena kalah perang pun ada..." Sebuah suara terdengar lagi dan mendengarnya membuatku semakin bingung, siapa sebenarnya sosok tak terlihat yang sering berbicara padanya?


__ADS_2