
"Jadi, lima Hunter muda sudah ada disini, bagaimana kalau kalian adu kekuatan saja?" usul paman Lein.
Oke, kalau kuperkirakan, aku jelas yang paling kuat disini. Aku masih belum tahu kemampuan apa saja yang dipelajari oleh Senja selama lima tahun terakhir, dan pastinya banyak yang sudah dipelajarinya.
Kalau Vina, aku hanya tahu kemampuan menembaknya yang hebat, hingga ia dijuluki Iblis Penembak.
Kalau Andhika, aku tahu kalau ia memiliki kemampuan bertarung memakai pedang meliuknya yang bernama Keris Raja Singa, dan mungkin ia masih menyimpan kemampuannya yang lain yang belum ia tunjukkan padaku.
Sejauh yang kuketahui, Rei mempelajari kemampuan pukulan saja, ditambah dengan ilmu Tangan Iblis jadi ia sudah bertambah kuat sejak duel kami di kota 6 untuk pertama kalinya.
Aku? Memakai pedang, bergerak cepat, memakai pukulan, tapi aku masih belum tahu apakah semua kemampuan yang kumiliki berguna melawan mereka berempat.
Omong-omong, Vina dan Senja sudah kenal sejak pertama bertemu lima tahun lalu, mereka sering berlatih bersama dan bertarung bersama di sekitar Jakarta, jadi hubungan pertemanan mereka sudah dekat sekali.
"Oke, jadi aku akan mengaturnya..." Vano mengangkat telunjuknya, menunjukku kemudian menunjuk Andhika, "Kalian bertarung duluan..."
"Setelah itu Senja melawan Rei, dan antara kalian berempat kan ada dua pemenangnya, selanjutnya kalian berdua bertarung, mengerti?" Vano menjelaskan, "Kalau Vina, kalian berlima akan melawannya dalam adu menembak..."
Yah, meskipun aku memenangkan pertarungan jarak dekat begitu, aku akan kalah kalau masalah adu menembak... Huhuhu...
Aku melirik Andhika dan tersenyum lebar, "Andhika, akan kuhabisi kau..."
Tentunya itu bohong...
Andhika memasang wajah seriusnya sambil menarik Keris Raja Singa, "Akan kuterima..."
Aku menarik Pedang Naga Iblis dan menghunuskannya, begitu juga dengan Andhika yang sudah menghunuskan pedangnya.
"Aturannya salah satu dari kalian mengaku kalah, pemanas tak diijinkan, berbagai teknik diijinkan selama tak berpotensi membunuh, arenanya adalah seluruh tempat ini..." Vano mengangkat kedua tangannya, "Siap?"
"Tentunya aku siap." aku menguatkan genggamanku pada pedangku.
__ADS_1
"Siap." Andhika hanya menjawab singkat.
"Mulai!" Vano menurunkan kedua tangannya cepat kemudian melompat mundur. Yang lainnya menjauh dariku dan Andhika.
Aku bisa saja mengakhiri pertarungan ini dalam satu kali serangan, itupun bukan serangan yang mendarat di tubuhnya, melainkan serangan ancaman, tapi pastinya itu saja kurang untuk membuat Andhika menyerah, aku yakin itu...
Andhika mengangkat pedangnya dan melompat ke atas, menebaskan pedangnya ke bawah dengan kecepatan yang masih bisa kulihat.
"Lambat..." aku mengangkat pedangku dan memegang sisi tidak tajam pedangku, mempersiapkan skill pasifku.
Ketika pedang Andhika sudah hampir menyentuh pedangku, aku menarik pedangku sedikit kemudian mendorongnya ke atas dengan cepat, mendorong pedang Andhika ke belakang.
[Skill pasif Counterattack aktif! Kau mengembalikan 30% dari serangan musuhmu!]
Andhika terdorong mundur dan ia mendarat sempurna, dan celah di tubuhnya terbuka lebar, membuatku melihat banyak celah untuk diserang.
Aku menunduk sedikit dan berlari maju, menusukkan pedangku ke depan, "Menusuk Langit!"
Selanjutnya aku mempersiapkan tebasanku dari kiri dan melepaskan tebasan dari kiri ke kanan yang ditahan oleh Andhika dengan pedangnya.
"Langit! Serius!"
Oh sayangnya aku tak bisa serius, kalau aku serius mungkin kau akan terluka parah, wahai anak muda...
Aku melompat mundur dan memegang gagang pedangku dengan kedua tanganku, "Hah? Tolong diulangi..."
"Serius! Buat aku menyerah!" Andhika berjalan maju dengan wajah kesal, "Aku merasa kau meremehkanku!"
"Darimana kau menebaknya begitu?" tanyaku, aku tak mengerti alasan kenapa dia berkata begitu. Ataukah, dia menyadari semua seranganku tak memiliki niat melukainya dan itu terkesan meremehkannya?
"Seranganmu mudah kubaca, bahkan aku bisa menahannya sambil menahan napas..." Andhika mengangkat pedangnya, hampir menyentuh dadaku, "Serius!"
__ADS_1
Aku tersenyum tipis, aku mengangkat tanganku cepat dan meraih ujung Keris Raja Singa kemudian meremasnya hingga hancur, membuat Andhika melebarkan matanya.
"Ap-?!" Andhika bergerak mundur menjauhiku.
Aku melepas peganganku pada ujung Keris Raja Singa yang sudah hancur, tapi tak membiarkannya mundur, aku menarik sarung Pedang Naga Iblis dan melesat maju mendekati Andhika.
Aku bergerak cepat, setelah sudah ada di depan Andhika, aku mengangkat sarung Pedang Naga Iblis kemudian mengayunkannya ke pipi Andhika dengan cepat.
Sarung Pedang Naga Iblis mengenai pipi kanan Andhika dengan keras hingga Andhika menoleh ke kiri dengan paksa, dan pipi kanannya terlihat memerah sedikit.
Aku menyarungkan Pedang Naga Iblis kemudian menarik Pedang Api Hitam yang masih tersarung kemudian aku menggunakan kedua pedangku untuk menusuk ke depan. Semuanya kulakukan dengan cepat hingga Andhika tak sempat membalas semua seranganku.
Setelah itu aku menyimpan Pedang Naga Iblis dan menarik Pedang Api Hitam dari sarungnya kemudian memakai sisi tidak tajamnya untuk menyerang sisi kiri leher Andhika, dan ketika Andhika sudah jatuh, aku mengangkat Pedang Api Hitam kemudian menempelkan sisi tajamnya ke leher belakang Andhika.
"Kau terpojokkan..." ujarku pelan, "Bergerak sedikit saja, maka Pedang Api Hitam akan mencabut nyawamu..."
[Skill pasif Raja Api aktif! Semua kawan akan menurut padamu dan semua lawan akan gentar menatapmu!]
Andhika benar-benar tidak bergerak, ia mengangkat kedua tangannya dan berseru, "Aku menyerah!"
Aku menarik pedangku dan menyarungkannya kemudian berbalik, hanya untuk melihat wajah terkejut kakek Vano, paman Lein, Senja, Rei, dan Vina. Beberapa Hunter entah kenapa ada di dekat mereka berempat.
"Apa-apaan kecepatan itu?" Senja berlari dan berhenti di depanku, "Darimana kau mendapatkan kecepatan itu?"
Ah iya, aku lupa menahan kecepatanku...
Kakek Vano mendekat dan ia menepuk pundakku, "Bagaimana kau bisa memiliki kemampuan seperti itu padahal kau bukan Hunter?"
Hei kakek tua, meskipun aku bukan Hunter dan belum banyak melawan manusia dan Monster, tapi aku pernah melawan seorang Hunter rank SS bernama Bintang Langit, jadi aku cukup terbiasa bertahan menghadapi kecepatan serta berbagai serangan gila kakekku.
"Harusnya saya mengatakan kalau sudah ribuan kali saya melawan kakekku, dan selama itu saya sudah terbiasa menghadapi kecepatan penuh kakek saya, jadi selama lima tahun ini saya banyak berlatih agar kecepatan saya bisa mengimbangi kaki beliau..." jawabku, karena itulah yang kulakukan selama lima tahun ini selain melatih skill aktif Sprint.
__ADS_1
"Dan juga, tadi bukan kekuatan penuhku, jika kalian ingin melihatnya maka cobalah melawanku dengan niat membunuh yang pekat..." aku menyimpan Pedang Api Hitam kembali di tempatnya, "Selanjutnya, Rei dan Senja, bukan? Tunjukkan kemampuan terbaik kalian..."