
"Kakek, aku pulang..."
Aku membuka pintu dan melihat kakekku yang sedang memegang ponselnya yang berwarna hitam.
Aku menatapnya dengan wajah serius, aku berusaha menebak apa yang dilakukannya dengan ponselnya.
Akhir-akhir ini, kakekku terlalu sering memegang ponselnya dengan wajah serius, aku yakin kalau aku tidak salah lihat, tetapi yang kulihat benar-benar tak pernah kulihat sebelumnya.
Kakekku yang sering kulihat adalah seorang laki-laki tua yang selalu bersikap ceria, kocak, keras kepala, dan selalu memaksakan keinginannya padaku, tetapi yang kulihat hari ini berbeda dari biasanya.
Aku menelan ludah dan berjalan masuk, dan aku menyapa kakekku sambil meletakkan belanjaan di atas meja, "Kakek, aku datang."
"Ah, selamat datang..." Kakekku memasukkan ponselnya ke kantong celana pendeknya, "Bagaimana musuhnya? Lemah atau kuat?"
Aku meletakkan Pedang Naga Iblis di atas meja dan menjawab dengan memasang wajah kesal, "Lemah sekali! Aku bahkan memenggalnya dengan satu tebasan saja!"
Kakekku tersenyum tipis dan ia duduk dan meletakkan kedua tangannya di atas meja, "Baguslah kalau begitu..."
Aku menatap kakekku dalam-dalam, aku yakin kalau ia akan berkata lagi.
"Itu artinya kau sudah bertambah kuat, dari yang dulunya melawan anjing dengan gergaji menjadi melawan serigala dengan pedang." Tambah kakekku, "Kau harus bangga dengan itu."
Aku tersenyum lebar dan tertawa, "Hahaha, akulah Langit Satria sang Hunter! Hahaha!"
Kakekku tersenyum kecil dan ia memalingkan wajahnya, membuatku menghentikan tawaku dan menatapnya lagi, "Ada apa?"
"Ah, tidak ada..." Kakekku menggelengkan kepalanya, "Apakah kau menemukan sesuatu di pasar?"
"Sesuatu?"
"Semacam kejanggalan?" tanyanya dengan wajah datar, membuatku kesal saat melihatnya.
Aisshhh, anak kecil sepertiku disuruh memerhatikan kejanggalan di sebuah kejadian?! Kakekku ini!!
Tapi yah, aku senang kalau kakekku kembali seperti sebelumnya, tetapi kurasa hanya saat ini saja...
***
Siangnya...
"Usahakan untuk selalu menebaskan Pedang Naga Iblis dengan sekuat tenaga!" Seru kakekku sambil memakan sebuah pisang, "Masih kurang itu!"
Aku berdecak kesal dan mengangkat pedangku lagi, dan menebaskannya ke bawah, hingga angin sepoi muncul dari tebasanku dan membuat kakekku terkejut.
"Kau... Sudah mampu membelah angin? Terlalu awal..." kakekku mendekatiku dan menepuk pundakku, "Kalau begitu, kau harus mempelajari sebuah aliran pedang."
"Hah?"
__ADS_1
"Aliran pedang adalah kumpulan jurus pedang, yang mana jurus-jurus ini bukan sembarang jurus, tetapi jurus-jurus yang mencerminkan nama dari kumpulan itu..." Kakekku berkata, "Salah satunya adalah Aliran Pedang Bumi."
Sejauh yang kulihat, semua jurus yang kakekku pakai amat hebat dan keren saat dilihat, jadi aku sangat bersemangat saat kakekku dulu mengajarkan bagaimana caranya memakai pedang.
"Jadi, karena kau telah berhasil membelah angin, dimana itu adalah permulaan dari perjalanan panjang ilmu pedangmu, kakek akan mengajarkan kumpulan jurus yang namanya Aliran Pedang Bumi." Kakekku mengambil pedang yang kupegang, "Lihat ini..."
Kakekku mengangkat pedangnya ke atas kepalanya tinggi-tinggi dan mengayunkannya ke bawah dengan cepat, hingga angin kencang muncul dari tebasannya.
"Tebasan ini namanya Membelah Samudra, tetapi biasanya kakek salah ucap sih, jadi Membelah Gunung..." Kakekku menggaruk kepalanya, "Selanjutnya..."
Kakekku mengangkat pedangnya ke kiri, meletakkan bilah pedangnya dekat dengan sisi kiri dadanya dan mengayunkannya ke kanan, dan angin kencang kembali muncul.
"Namanya Menebas Gunung..."
Setelah itu kakekku memasang posisi lagi dan memajukan kaki kirinya, kaki kanannya menekuk sedikit, ujung pedangnya yang mengarah ke depan dan ditarik sedikit ke belakangnya, sehingga kakekku menghadap ke kanan, kemudian menusukkan pedangnya ke depan, melepaskan tekanan angin yang berhembus ke depannya.
"Namanya Menembus Langit..."
Kakekku melirik ke kanan-kiri dan berkata, "Ini adalah jurus yang amat rahasia, yang jarang kakek perlihatkan pada dunia..."
Kakekku mengangkat pedangnya dan terlihat, bilah Pedang Naga Iblis yang sebelumnya berwarna perak berubah menjadi merah menyala, bahkan ada api yang menyelimuti bilahnya.
Setelah itu, kakekku melesat ke depan dengan kecepatan tinggi, dengan pedangnya yang menusuk ke depan dan dari gerakannya, terlihat seperti api yang bergerak cepat.
Untung saja kakekku ingat menghentikan dirinya sendiri, kalau tidak maka ia akan menabrak pagar rumahnya sendiri...
"Namanya Tusukan Spasial!" Seru kakekku dan ia kembali lagi, "Tunggu disana..."
Ya iyalah, buat apa juga aku pergi, kan pedangku kakekku yang membawanya...
"Aliran Pedang Bumi tak banyak memiliki jurus, hanya tujuh saja dan yang baru kakek perlihatkan hanya empat saja, karena yang tiga lagi memerlukan pernapasan dan Stamina yang amat banyak untuk bisa melakukannya." Kakekku berkata, "Tetapi biar kau tidak tidur siang dengan rasa penasaran, kakek akan memperlihatkan tiga lagi..."
Kakekku mengangkat pedangnya lagi dan menarik napasnya, membuatku yakin kalau yang kakekku katakan barusan bukanlah omong kosong belaka, melainkan apa yang sudah ia rasakan sendiri.
Napas keluar secara perlahan dari hidung kakekku, dan ia menajamkan matanya dan berlari dengan kecepatan tinggi, dengan pedangnya yang terayun ke sana kemari, membuat angin di halaman rumah kakekku kacau balau.
Angin berhembus ke segala arah, menerbangkan daun-daun kering yang berserakan di atas halaman, dan kakekku bergerak terus dengan pedangnya yang mulai mengeluarkan api merah.
Mataku melebar melihatnya, apakah pedang yang diselimuti api adalah salah satu skill yang kakekku miliki?
Langkah lari kakekku berhenti di depan pintu masuk halaman rumahnya, ia memasang posisi seperti permulaan Menembus Langit, dan ia melesat dengan cepat, hingga berhenti di belakangku, dan sehabis gerakannya, api muncul di jalur yang sebelumnya kakekku lewati.
"Namanya Tarian Raja Bumi."
"Baru lima..." Kakekku mengatur napasnya, ia menancapkan pedangnya dan meregangkan jari-jarinya, hingga berbunyi keras, "Dua lagi..."
Kakekku menarik pedangnya dan saat ia berniat memasang posisi, suara berderak terdengar dan kakekku menjatuhkan pedangnya dan berlutut sambil memegangi lengan kanannya.
__ADS_1
"Yah, kurasa aku terlalu bersemangat..." Kakekku tersenyum pahit, "Tubuh tua ini sudah tak kuat bertarung lagi..."
Yah, karena aku tak tega melihat kakekku yang berlutut di atas tanah, aku memilih membantunya berdiri dan mengajaknya masuk kembali ke rumah.
***
Malamnya...
"Eh, eh, eh, eh, sakit!"
Saat ini, aku sedang memijat lengan kakekku dan yah, mungkin aku berlebihan memakai tenagaku...
"Jangan terlalu keras! Tulang tua ini bisa patah!"
"Yaa maaf..." Aku melanjutkan pijatannya, hingga akhirnya kakekku berdeham sejenak.
"Langit..." Kakekku berdeham, "Ada yang ingin kakek sampaikan..."
"Apa itu?"
"Begini..." Kakekku memejamkan matanya, "Kakek rasa, kakek akan kembali bertarung bersama RedWhite."
"Hah?! Apa maksudnya itu?! Bukankah kakek sudah pensiun?!"
"Tak ada kata pensiun dengan arti berhenti dari pekerjaan dalam dunia Hunter, pensiun sesungguhnya adalah saat Hunter itu tewas dalam pertarungannya." Ujar kakekku, "Jadi kakek tidak pensiun, hanya beristirahat dari kerasnya dunia Hunter."
"Jadi?" kurasa aku mulai memahaminya...
"Di Islandia, sebuah gate muncul dan mengeluarkan ratusan laba-laba yang meratakan Islandia dalam satu kali serangan. Enam organisasi Hunter terkuat mengatur rencana untuk merebut kembali Islandia dari tangan laba-laba itu dan menjaganya, dan dalam rencana itu, RedWhite mengharapkan agar kakek kembali dan membantu mereka dalam Raid kali ini."
Sejak aku belajar sejarah dengan kakekku, aku selalu mendengar kata Raid, apa artinya coba?
"Kakek, Raid itu apa?"
"Raid adalah sebuah serangan ke sebuah wilayah dengan tujuan mengambil kembali wilayah itu dan menjaganya dengan bantuan organisasi Hunter yang ada di dekat wilayah itu. Raid juga berarti menyerang suatu individu atau satu Monster kuat dengan kekuatan yang besar, bukan satu Hunter melawan satu Monster, bukan satu Hunter melawan banyak Monster, tetapi satu Monster melawan banyak Hunter."
"Kau masih ingat dengan peristiwa tiga naga yang turun dalam tiga ratus tahun terakhir, bukan? Para Hunter yang bersatu itu membentuk pasukan besar dan menyerang naga itu, kan? Itu juga Raid."
Aku angguk-angguk mendengarnya, aku paham maksudnya Raid itu apa. Dengan kata lain, kakekku berencana mengikuti Raid itu dan membantu pasukan gabungan organisasi Hunter kuat, begitu...
"Kapan kakek berangkat?"
"Kakek sebenarnya menunggu kabar dari Frans, dia yang mengurus tentang rencana itu bersama Tom Cage dan Oga Haruno." Ujar kakekku.
Tom Cage? Tom Cage yang sempat disebutkan oleh Christo itu, kan? Si burn apalah arm itu, kan? Dia disebut oleh Christo sebagai Hunter rank SS terkuat di seluruh dunia, apakah laba-laba itu tak bisa ia hadapi seorang diri?
Oga Haruno? Siapaan tuh? Aku tidak tahu, hehehe...
__ADS_1
Ponsel kakekku berbunyi dan kakekku langsung meraihnya dan menjawab telepon itu.
"Baik!"