
Vigo berjalan sambil menunduk dan menyeret pedang besarnya yang sedikit rusak di bilahnya, wajahnya menunjukkan wajah marah meskipun ia sudah menghabisi Monster tanduk itu.
"Yo, Vigo-san..." Yuuki muncul dan menepuk pundak Vigo, "Ada apa?"
"Tidak..." Vigo menggeleng, "Aku tak apa, kau boleh pergi duluan..."
Yah, Vigo bisa melihatnya, kalau kondisi Yuuki lebih mengerikan darinya.
"Remaja itu, sudah pedangnya patah, dicekik pula, seperti sudah jatuh, ketimpa tangga pula..." Vigo menggelengkan kepalanya, "Aku yakin pasti Oga akan melarangnya bertarung..."
Ia berjalan terus kemudian memasuki pesawat lapis baja dan langkahnya berhenti saat melihat seorang pria berdiri di hadapannya.
"Taru..."
"Pak Vigo..." Joko menghela napasnya, "Apa anda memakai Dragon Fang Dagger?"
Vigo menaikkan alisnya, "Hah?"
"Jangan bohong deh, pasti anda mencuri belatiku dan aku melihatnya jelas di layar ruang kendali." Joko menadahkan tangannya, "Mana?"
Vigo menghela napasnya, memang benar ia mencuri belati yang terselip di balik pinggang Joko, dan ia membawanya ke tempat bertarung, sebagai jaga-jaga jika pedang besarnya tak bisa ia gapai.
"Cih, sudah mencuri, tak mengaku pula..." Joko berdecak, "Apa ini adalah sikap yang pantas ditunjukkan mantan ketua RedWhite?"
"Sayangnya tidak..." Vigo menarik sebuah belati, "Nih, kukembalikan..." Setelah itu ia berjalan pergi melewati Joko.
Joko melirik Vigo sebentar sebelum menatap belatinya lagi, ia tahu kalau belatinya sudah menolong Vigo di saat yang sulit baginya.
"Yah, jika aku membantu secara tidak langsung, maka itu lebih dari cukup..." Joko menghela napasnya dan berjalan menuju pintu keluar, "Semuanya, bawa para Hunter yang terluka kemari, aku sudah memanggil medis!"
***
"Gelombang keempat sudah selesai, dan tak ada musuh yang bisa membuat Hunter rank SS untuk turun langsung melawannya." Tom berkata, "Kekuatan tempur kita sudah menurun jauh di gelombang ketiga..."
__ADS_1
Yang dimaksud oleh Tom adalah tentang Monster bertanduk yang membantai seperempat Hunter yang turun bersama Vigo dan Yuuki dua hari lalu.
Sudah dua hari sejak Vigo dan Yuuki melawan Monster rank SS bertanduk itu, dan gelombang keempat berhasil mereka atasi.
Kini, Bintang memperkirakan kalau gelombang kelima akan hadir hari ini, dan ia meminta para Hunter yang tersisa untuk bersiaga.
"Ya, kalau kita meminta bantuan pada BraveWarrior yang berjaga di Hawaii, mungkin disana akan kekurangan penjagaan." Vigo mengelus dagunya sambil menatap peta dunia yang ditampilkan di layar besar yang ada di ruangan, "Apa kita meminta bantuan saja pada IronBlast mengingat Eropa paling dekat dengan Islandia?"
"Tak bisa, William mengatakan kalau gate ungu itu muncul lagi, tetapi tak ada yang keluar dari gate itu." ujar Alex, "Kita tak bisa meminta bantuan pada IronBlast."
"Bagaimana kalau New Washington? Disana seharusnya sudah terjaga dengan keberadaan Esterosa, tapi entah kenapa firasatku mengatakan akan terjadi hal buruk disana." Mark menggaruk kepalanya dengan wajah kusut, "Dimana kita meminta bantuan? GodBless?"
Pilihan terakhir memang hanya GodBless, tetapi kekuatan mereka hanya terfokus pada kekuatan persenjataan militer, Hunter mereka tak terlalu kuat. Biar begitu, kekuatan persenjataan militer amat diperlukan dalam sebuah Raid.
"Tak ada pilihan, kita tahan sebisa saja..." Joko melirik Tom, "Kan masih ada pak Tom yang bisa menahan ratusan Monster sendirian..."
***
Selagi menunggu, para Hunter di pesawat lapis baja itu mempersiapkan berbagai persenjataan, karena selama dua gelombang terakhir, mereka tak ada memakai senjata pesawat karena Hunter-Hunter kuat mereka turun langsung melawan Monster, jadi pada gelombang kelima mereka berencana memakainya langsung.
Setelah selesai mempersiapkan senjata pesawat, para Hunter bersiaga lagi, sembari menunggu perintah Tom selanjutnya.
"Sejauh ini, tak ada yang bisa menyulitkan kita setelah pak Vigo menahan Monster bertanduk yang disebut adalah Monster rank SS itu."
"Tapi apakah kita akan seterusnya mengandalkan mereka? Kita juga harus berguna dalam Raid ini..."
Alex bisa mendengarnya, berbagai penyesalan dari para Hunter yang tak bisa melakukan apa-apa saat atasan mereka kesulitan.
Yah, ia bisa memahaminya karena ia pernah, bukan hanya pernah, tapi sering mengalaminya saat ia masih menjadi ******* dahulu.
Ia berjalan kembali menuju kabin atas, dan saat melewati tangga, ia melihat Joko yang sedang berdiri menghadap jendela pesawat sambil menatap ponsel, yang pastinya bukan ponselnya.
"Hei Taru..." Alex mendekat, "Apa kau tak berencana menghubungi anakmu, memberitahunya kondisimu saat ini?"
__ADS_1
"Ah, ketahuan, ya?" Joko menatap Alex, "Yah, aku rencananya begitu, tapi kalau aku mengatakannya langsung, mungkin akan terdengar aneh baginya dan ia bisa saja tak percaya kalau aku masih hidup, di belahan dunia lain..."
"Apa rencanamu sebenarnya, tak mengatakannya padanya? Membuatnya berpikir keras?"
Joko menatap jendela lagi, "Aku berencana bergabung dengan StarSam dan menjadi pengajar di Akademi Hunter StarSam..."
"Wah, boleh juga rencanamu..." Alex mengangguk kecil, "Apa tujuannya?"
"Pendidikan Hunter di Akademi Hunter StarSam adalah yang terbaik di dunia, bahkan saat dulu aku masih remaja, ayahku hampir mengirimku ke sana untuk memperdalam pengetahuanku tentang dunia dan Hunter." jawab Joko, "Dan aku merasa, Langit akan pergi kesana mengingat sifatnya yang suka belajar..."
Alex angguk-angguk saja, dalam beberapa hari terakhir sejak ia bertemu dengan Joko, pertemanannya dengan Joko semakin dekat terlepas dari peringkat mereka yang berbeda, tetapi mungkin karena usia mereka yang sama, membuat mereka memiliki banyak topik pembicaraan.
"Hanya firasat..." Alex melirik jendela, "Nampaknya ini akan berakhir sedikit lagi..."
"Darimana kau tahu?"
"Firasat..."
"Sialan..."
***
"Serpent, pasukan kita sudah turun empat kali dan bahkan komandan Destruction Army sudah turun, jadi tak ada gunanya menunggu lagi..." Makhluk berbentuk seperti manusia dengan telinga runcing ke belakang berkata pada makhluk berbentuk manusia dengan mata seperti ular, "Terus begini, maka kitalah yang kalah..."
"Secara tidak langsung, kau ingin aku turun, begitu?" Tanya si manusia bermata ular itu, "Katakan saja dengan sejujurnya..."
"Hanya kau yang kupercaya memiliki kekuatan besar, lebih dari Bear Lord..." Manusia bertelinga runcing menjawab, "Kau... Sedikit lagi menyetaraiku yang merupakan Lord terkuat..."
"Ah, bagimu begitu..." Si mata ular itu mengangguk, "Baiklah, ijinkan aku membawa beberapa High Goblin dari Destruction Army milikmu..."
"Oke, kuberikan lima ratus High Orc sebagai tambahan pasukanmu..."
"Kalau begitu, aku bisa menjalankan perintahmu..." Si mata ular menyeringai, "Akan kuberikan kepala para manusia kuat disana padamu, Tuan Dragon Lord..."
__ADS_1