
Lein dirawat oleh medis secepatnya dengan perintah paman Antha, sementara aku juga menerima perawatan karena di tubuhku terdapat beberapa luka yang tak terlalu parah.
Menurut paman Antha, luka yang dialami Lein cukup parah, ia bisa saja mengalami pendarahan hebat kalau ia tak cepat dirawat.
"Luka yang diterimanya hanya tusukan dan tebasan, tapi itu cukup untuk membuatnya mengalami pendarahan. Kami berhasil menghentikan pendarahannya, tetapi ia masih tak sadarkan diri." ujar Hunter yang mengurusnya.
Omong-omong, di dunia Hunter, tak ada yang namanya dokter di medan pertempuran, karena bagi para Hunter, para dokter yang tak memiliki kemampuan bertarung hanya akan menghambat, jadi mereka merekrut orang-orang yang pintar bertarung tapi juga pintar dalam ilmu kedokteran untuk mengurus para hunter yang terluka. Para dokter hanya untuk para manusia biasa yang tak bertempur.
Sebab itulah, kata kakekku, tak sedikit jurusan kedokteran berisi para Hunter yang belajar ilmu kedokteran, jadi tak ada yang heran kalau di sebuah sekolah tiba-tiba saja ada yang datang membawa senjata api, masuk kelas, dan belajar.
Jurusan lain juga begitu, para Hunter bisa saja muncul di berbagai jurusan, dengan alasan untuk memperbanyak pengetahuan.
Para Hunter yang punya kemampuan lain selain bertarung biasanya banyak dicari oleh organisasi Hunter, begitulah kata kakekku.
"Berapa jam tepatnya? Sudah mau pagi masalahnya, ia harus memberikan penjelasan atas kerusuhan semalam." ujar paman Antha, "Atau kuwakilkan saja?"
Aku diam saja, tubuhku diperban di beberapa bagiannya dan rasa sakitnya berkurang setelah diobati.
"Tak ada Hunter yang mau menggantikan Lein, jadi bagaimana sekarang?" tanya paman Antha lagi, "Apa kalian yakin ingin membiarkan warga bertanya-tanya tentang semalam?"
Ah, tentang semalam, ketika aku berlari di atas atap untuk kabur dari markas Hunter, itu pastinya menimbulkan keributan, jadi para warga mungkin saja kebingungan dan mereka perlu konfirmasi.
"Baiklah, anda saja yang mewakili pak Lein untuk memberikan penjelasan pada warga kota." ia menggelengkan kepalanya, "Pak Lein tak memiliki wakil untuk menggantikannya jika situasi sekarang terjadi."
"Baik, aku akan pergi..." paman Antha mengibaskan tangannya, "Aku akan pergi."
Aku berdiri dan mengikuti paman Antha keluar setelah mengucapkan terima kasih pada Hunter yang mengobatiku.
***
__ADS_1
"Namamu Langit? Bisakah kau menjelaskan tentang kemampuan anehmu itu?" tanya paman Antha tiba-tiba.
Aku terkejut ia menanyakan itu, dan aku menjawab meskipun sedikit terkejut, "Aku sering berlatih, itu saja."
"Jadi, apakah kau bisa menjelaskan asal usul Pedang Api Hitam bisa ada di tanganmu?" tanya paman Antha lagi, membuatku tersentak sedikit.
"Bi-Bisa..." aku menjawab dengan sedikit gugup.
Meskipun aku sudah mengetahui kalau paman Antha dulunya adalah seorang Hunter rank S, tetap saja aku terkejut kalau paman Antha tahu nama pedangku bahkan mengingat bentuknya.
"Darimana paman tahu tentang Pedang Api Hitam?" tanyaku, ingin mengetahui tentang alasan dibalik pengetahuannya tentang Pedang Api Hitam.
"Kenapa tidak tahu? Aku itu dulunya adalah salah satu dari lima belas Hunter rank S di RedWhite pusat di Indonesia, dan aku dekat dengan Hunter rank S terkuat nomor dua di RedWhite, yaitu kakek Bintang Langit." jawab paman Antha sambil tersenyum lebar, "Aku takkan melupakan senyuman kakek Bintang yang lebar itu."
Aku menunduk ketika paman Antha membahas kakekku, itu seperti membangkitkan berbagai kenangan indah bersama kakekku.
"Aku sering bertanya banyak hal pada kakek Bintang, bagaimana bertahan hidup di medan tempur, bagaimana caranya mengantisipasi serangan dadakan dari Monster, dan masih banyak lagi." senyuman paman Antha semakin lebar, "Dan aku tidak akan pernah melupakan konsepnya tentang menguasai dan dikuasai..."
Kau kuat, kau menguasai, kau lemah, kau kalah.
"Aku sudah menjelaskannya, sekarang giliranmu." paman Antha menurunkan senyumannya dan ia melirik ke arahku, "Darimana kau mendapatkan Pedang Api Hitam?"
Aku menarik Pedang Api Hitam dan menariknya dari sarungnya, "Pedang ini adalah warisan terakhir kakekku sebelum meninggal. Nama kakekku adalah Bintang Langit."
"Pedang Api Hitam telah menemani pertarungan terakhir kakekku di dunia Hunter di Raid Islandia, pedang ini telah menunaikan tugas terakhirnya menemani kakekku di pertarungan terakhirnya." tambahku.
Paman Antha terdiam mendengarnya, ia tersenyum tipis dan bertanya lagi, "Apa beliau sudah meninggal?"
Aku mengangguk, "Ya, beliau telah meninggal seminggu lebih lalu, di pagi hari."
__ADS_1
"Apa permintaan terakhirnya?" tanya paman Antha.
"Kakekku ingin agar tubuhnya diselimuti dengan bendera merah putih dan bendera itu ikut dikubur bersamanya, sebagai benda yang bisa memeluknya dalam dinginnya tanah." jawabku, "Ia ingin agar merah putih terus memeluknya, tak lebih..."
Paman Antha menghela napasnya dan angin dini hari terasa menyejukkan ketika kami bercerita seperti itu.
"Sampai meninggal sekalipun, beliau masih menghormati bendera merah putih." paman Antha terkekeh kecil, "Yah, biar bagaimanapun beliau lebih berani dibanding aku..."
"Aku dulunya memang Hunter rank S, sering bertarung di barisan depan dengan ilmu Tangan Iblis serta Demon Gauntlet, tapi meskipun begitu, aku masih belum bisa melindungi sosok yang berharga bagiku."
"Aku takut kehilangan lagi jika Rei pergi ke Jakarta menjadi Hunter, ini seriusan, aku tak ingin kehilangannya. Sudah cukup aku kehilangan Mai ketika Raid..."
Orang yang dicintai, ya? Bagaimana rasanya mencintai dan dicintai?
"Kehilangan, ya?" gumamku.
"Ketika aku melihatmu bertarung, aku seketika tersadar, kenapa anak kecil sepertimu berjuang habis-habisan melawan Lein meskipun kau beresiko tewas dalam pertarungan itu, sementara aku yang merupakan Hunter dan lebih dewasa darimu malahan kabur dari tugas utamaku sebagai Hunter? Sebab itulah, aku ingin kembali dalam dunia Hunter."
Kasusnya paman Antha mirip seperti ayahku, yang memilih kembali bertarung di barisan depan setelah terpuruk karena kehilangan keluarganya.
"Aku akan membantu Lein mengurus kota, aku akan pergi ke Jakarta untuk berkata pada Frans, aku akan bertarung lagi. Aku sudah cukup menikmati kedamaian ini." Paman Antha mengangkat tangannya, "Demon Gauntlet dan Tangan Iblis sudah terlalu lama tidur, mereka perlu kupakai lagi untuk membantai Monster."
"Aku terinspirasi darimu, bagaimana kau berjuang di usiamu yang muda ini, aku tak ingin kalah dari anak kecil sepertimu, harga diriku sebagai Hunter rank S tak bisa menerimanya. Meskipun aku takut, jika aku terus takut dan berlindung, aku tidak akan pernah bisa membebaskan dunia ini dan memberikan dunia yang baik untuk istriku dan Rei."
Aku tersenyum lebar, "Begitulah seharusnya Hunter berpikir, meskipun takut, lawanlah ketakutan itu dan terus maju, maka kebebasan bisa kita lihat sedikit."
Terkadang, aku berpikir, apa yang membuat para Hunter mundur dari barisan depan dan memilih untuk berdiam dalam kedamaian?
Itu karena mereka takut kehilangan sosok yang berharga baginya dan takut menghilang dari dunia, mereka pastinya ingin terus melihat orang-orang terdekat mereka tersenyum dan tertawa bahagia, aku yakin ayahku berpikir begitu ketika pensiun dulu.
__ADS_1
Kini, aku mengerti, tak semuanya ingin maju bertarung sekedar ingin menghabisi Monster, tapi untuk memberikan kebebasan dan dunia yang baik untuk orang terdekat mereka.