
Aku menatap tanganku sendiri, menatap tanganku sendiri saja rasanya seperti takjub begitu...
Bagaimana mungkin remaja sepertiku bisa menampung kekuatan dari tiga Emperor dan satu praktisi yang kekuatannya dikatakan mampu melelehkan separuh bumi?
Aku... Ini... Terasa sulit dipercaya, tapi diriku sekarang adalah buktinya...
"Langit sialan! Baca artikelnya!" Rei memukul meja dan aku menyemburkan airku, "Kau merenung terus sejak jadi Hunter rank SSS, apa kau mau mati?!
"Bukan begitu..." aku meletakkan tablet yang tadi diberikan Rei, "Rasanya, aku ingin melawan manusia lagi..."
"Melawan Monster kurasa membuatmu stres..."
"Seperti apa petarung yang kau mau?" tanya Rei, kurasa ia mulai serius.
"Jarak serang yang luas, kecepatan tinggi, kekuatan tiap serangannya amat mengerikan, satu lagi, bukan satu orang saja, tetapi lebih dari satu." jawabku.
Kriteriaku tadi sudah kudasari dengan apa saja yang dimiliki para Emperor itu. Jarak serang luas, jelas Dragon Emperor ahlinya. Kecepatan tinggi, jelas Tyrant Emperor ahlinya. Kekuatan tiap serangannya amat mengerikan, itu adalah keahlian Ice Emperor.
Jika aku bisa melawan tiga orang dengan kriteria seperti itu, mungkin aku bisa memperkirakan seperti apa serangan yang akan dilancarkan musuhku nanti.
"Kalau begitu kau melawan semua Hunter rank SS saja." jawab Rei. Ia menarik napasnya kemudian mulai berkata panjang.
"William memiliki jarak serang yang luas dan tiap ayunan kapaknya memiliki kekuatan yang amat besar. Vina juga orang yang memiliki jarak serang yang luas, bahkan lebih luas dari William."
"Kekuatan tiap serangannya yang mengerikan, ada banyak. Yuuki, Mir, Senja, Andhika, Esterosa, John, Carroline, Alteron, dan aku mengakui diriku sendiri. Kami memiliki kekuatan yang besar tiap serangan kami. Jika kami melawan Emperor secara bersama-sama, kami mungkin bisa mengalahkan satu Emperor itu."
"Kecepatan tinggi, hanya ada dua Hunter saja yang bisa begitu, yaitu Joko dan Alex. Keduanya bisa bergerak cepat hingga manusia biasa tidak akan bisa melihat gerakan mereka."
"Marie dan Al mungkin tidak memiliki salah satunya, tapi keduanya bisa membantu kami dengan melakukan beberapa hal yang biasa tentara lakukan. Ini kusimpulkan setelah tahu kalau keduanya adalah tentara militer yang memilih terjun ke dunia Hunter."
Aku memejamkan mataku, ide ini boleh juga..
"Baik, aku akan menghubungi orang-orang dulu..." aku menekan beberapa tombol di tabletku kemudian menunggu.
"Halo Hunter rank SSS, ada perlu apa?" wajah William pertama muncul dan ia meminum sesuatu dari cangkirnya, "Aku sedang bersantai, jadi mohon maaf apabila aku terlihat tidak sopan."
__ADS_1
"Selamat pagi pak Langit, apa kabar?" Yuuki menguap, "Masih pagi..."
"Pagi pak Langit!" Al muncul dengan pakaian militer lengkap dan ia memberi hormatnya, "Ada kabar?"
"Malam pak Langit! Ada info apa?!" John muncul dan ia memberi hormatnya, dengan pakaian... Tidur...
"Pagi pak Langit..." Marie muncul dengan topi di kepalanya, "Berita apa?"
"Sederhana saja..." aku berdeham, aku merasa semuanya sudah hadir, "Kalian harus berkumpul di Sahara dan melawanku."
"Kami?" Yuuki menaikkan alisnya, "Yang ada saat ini saja?"
"Tidak, semua Hunter rank SS yang berjumlah lima belas Hunter itu." jawabku, "Lima belas lawan satu, bukankah itu menyenangkan?"
...
...
...
...
...
"Jangan bodoh! Bagaimana caramu melawan kami?!" Mir menatapku tajam, "Biarpun kau adalah Hunter rank SSS, tidak menutup kemungkinan kalau kau masih memiliki kelemahan!"
Ingatan milik Patih Gajah Mada mengalir dalam pikiranku, dan ada ingatan dimana ia bersumpah akan menyatukan seluruh Nusantara di bawah pimpinan Raja Hayam Wuruk, dan sumpahnya dikatakan sedikit lagi terwujud.
Ia menitipkan sumpahnya padaku, dan sumpahnya berlanjut dengan menyatukan seluruh dunia di bawah pimpinan raja yang bernama Langit Satria.
Jelas-jelas aku bukan raja sesungguhnya, tapi kenapa Patih Gajah Mada menganggapku sebagai raja?
Sumpah Palapa diturunkan padaku, dan isinya bukan lagi menyatukan Nusantara, tetapi seluruh dunia!
Pertarungan ini kubuat agar seluruh dunia bisa bersatu melawan pertempuran akhir, dan salah satu rencana yang baru kupikirkan adalah mengeluarkan ratusan ribu pasukan Majapahit yang dimiliki Patih Gajah Mada.
__ADS_1
Tapi aku berpikir, apakah orang-orang yang menonton pertarungan kami akan melihatku sebagai ancaman lain?
"Tunggu, aku yakin kalau Langit punya alasannya." Yuuki terdengar menenangkan Mir, "Mari kita dengar alasannya..."
Aku berdeham, "Terima kasih pada saudara Yuuki yang mau memahamiku..."
"Alasan kenapa aku menantang kalian adalah karena aku ingin mencoba kekuatan yang sudah kukumpulkan selama ini..." aku mengangkat tanganku dan api tercipta di telapak tangan kiriku, "Bukankah semuanya terasa amat cepat? Dua tahun yang kulalui sebagai Hunter terasa amat cepat, aku bahkan sampai sekarang sulit mempercayai kalau aku sudah menjadi Hunter rank SSS..."
"Kekuatan baru?" William menaikkan alisnya, "Aku tak mengira kalau kau benar-benar berhasil menjadi penguasa api yang sesungguhnya..."
"Benar, aku sulit mempercayainya sampai sekarang..." aku memejamkan mataku, "Kalian tentu ingat dengan diriku dulu dua tahun lalu saat pertama kali bertemu denganku..."
"Ya, kurus kering, datang dengan kabar kematian kakekmu, dan mengatakan sebagai Wadah, siapa sangka kalau anak itu telah mencapai titik yang bahkan anak seusianya saja tak pernah pikirkan..." ibuku berkata, "Yah, intinya kau adalah Hunter muda terbaik di dunia..."
"Jadi bagaimana? Apa kalian mau melawanku?" tanyaku menegaskan, "Aku mungkin akan serius, jadi kalian harus serius, lawan aku dengan keinginan membunuh kalian..."
"Jika kau yakin pada dirimu sendiri, maka baiklah..." adikku yang bernama Alteron menyeringai lebar, "Aku akan menghadapimu, kakak!"
Aku menyeringai, "Bagaimana yang lain?"
"Oke, kenapa tidak?" Alex mengangkat belatinya, "Aku tidak pernah melepaskanmu nantinya..."
"Mencekik Hunter rank SSS mungkin akan menyenangkan..." Carroline meregangkan jari-jarinya, "Akan kuladeni!"
"Oke, kalian harus berkumpul di Sahara, dan kalau sudah, beritahu aku!" aku menyeringai makin lebar, "Persiapkan diri kalian!"
***
Fotoku, paman Frans, beberapa orang yang tidak kukenal, kakek Vian, kakek Fajar, beberapa wajah yang tak kukenal, kakek Angkasa, kemudian wajah beberapa wakil ketua RedWhite, seperti pak Dito dan Vina, menghiasi dinding museum RedWhite.
"Bisa kau lihat kalau sebanyak itulah Hunter hebat yang pernah memimpin RedWhite..." ujar kakek Vian di sebelahku, "Dan apakah kau percaya, kalau di masa lalu, RedWhite pernah dipimpin oleh tiga Hunter sekaligus tanpa wakil ketua?"
"Ya.." aku mengangguk, ketiganya adalah orang-orang hebat dan aku mengakui kehebatan mereka bertiga.
"Aku membuat sumpah di hadapan kalian para pendahuluku!" aku mengepalkan tangan kananku dan menempelkannya di dada kiriku, "Aku akan menyatukan seluruh dunia di bawah kakiku dan menghancurkan semua Monster yang melawan manusia! Aku tidak akan berhenti mengejar Monster hingga aku bisa meletakkan kepala para Emperor di atas bumi ini!"
__ADS_1