Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
30. Rumah kakekku - Arc 1 - The End


__ADS_3

Dua hari kemudian...


RedWhite datang dalam waktu yang lebih cepat dari perkiraan Frans, dan seluruh penduduk desa yang tidak sampai seratus itu naik ke kereta lapis baja andalan RedWhite.


"Tetap tenang!" Seorang Hunter mengatur para penduduk agar berbaris dengan rapi.


Kakekku sadar kalau penduduk desa amat menunggu datangnya hari ini, sebab itulah saat mereka mendengar suara kereta datang, mereka langsung berkemas seluruh barang mereka.


"Meski tidak sampai seratus, RedWhite kewalahan juga..." Ujarku sambil menatap barisan orang-orang.


"Bagaimana lagi, desa ini terancam hancur jika kita tidak datang dan kakek melawan Monster itu..." kakekku tersenyum tipis, "Kalau mereka sudah naik, kita akan melanjutkan perjalanan."


Aku mengangguk, menurut kakekku kemarin malam, jarak dari desa ini ke rumah kakekku tinggal sehari perjalanan saja dengan kecepatan lari kakekku.


Yah, jika kakekku berkata begitu, itu memiliki maksud lain kalau kakekku akan menggendongku. Aku sih akan menolak keras...


"Yah, baiklah..." aku menunduk.


"Kakek Bintang, terima kasih atas bantuannya...." Pria tua yang menampung kami selama di desa itu membungkuk, "Kami tidak akan melupakan kebaikan anda."


"Ah, santai saja, lagipula aku hanya menjalankan tugasku sebagai Hunter..." kakekku mengibaskan tangannya, "Kalian harus jaga diri."


Pria itu mengangguk dan ia berbalik, naik ke dalam kereta lapis baja dan melambaikan tangannya, "Sampai jumpa!"


Kereta lapis baja itu berjalan dan bergerak cepat menembus hutan.


Sementara itu, kami berjalan meninggalkan desa itu setelah memastikan tidak ada Monster yang tersisa. Perjalanan kami pun berlanjut...


***


Sehari kemudian...


Ternyata, dugaanku benar, kakekku menggendongku lalu dia berlari menuju rumahnya yang ada sedikit jauh dari desa sebelumnya.


Dan sebelum kami sampai di rumah, kami harus melewati sebuah desa dulu, dimana desa itu lumayan besar bagiku.


Saat kakekku menunjukkan dirinya di depan semua penduduk desa, ia langsung disapa ramai-ramai, membuatku paham kalau kakekku lumayan terkenal di desa ini.


Dan sekali lagi, sebelum kami menuju ke rumah, kami mampir dahulu ke pasar untuk membeli bahan makanan.


Kakekku membeli cukup banyak bahan makanan, tetapi yang hebatnya, kakekku hanya membeli sayur-sayuran, tidak membeli daging sedikitpun.


Pedagang sayur sampai menaikkan alisnya saat melihat kakekku yang membeli sayur banyak tetapi tidak membeli daging.


"Apakah kakek tidak ingin membeli daging?" Tanya pedagang itu dan kakekku hanya menggeleng.


"Makan sayuran bisa membuat tubuh lebih langsing, loh..." Ujar kakekku, "Jadi aku membeli sayur saja biar terlihat lebih tampan lagi..."

__ADS_1


Saat kakekku berkata tampan, aku langsung memalingkan wajahku dan bergumam, "Bukan kakekku..."


***


Rumah kakekku tidak ada bedanya dengan rumah penduduk desa seperti biasanya. Rumah dengan ukuran cukup kecil dengan sumur di depannya, dan halaman yang luas yang ditanami oleh berbagai tanaman.


Aku berpikir kalau kakekku pasti mengambil air dari sumur... Tidak jadi, kakekku tidak memakai sumurnya, melainkan memakai pipa air seperti rumah pada umumnya.


"Nah, sebelum masuk ada baiknya kita untuk mencuci tangan, kaki, dan wajah..." Ujar kakekku dan berjalan menuju sebuah ember besar kemudian membersihkan tangan, kaki, dan wajahnya. Aku mengikutinya.


Setelah selesai, kakekku mengenalkan rumahnya beserta isinya, yang menurutku juga tak ada bedanya dengan rumah pada umumnya.


Yang membedakan hanyalah terdapatnya perpustakaan yang berisi buku-buku, entah itu novel, buku pelajaran, buku motivasi, ataupun komik...


Eh, komik?


"Ah, ternyata kakek masih menyimpan komik satu ini..." Kakekku mengambil satu buku kecil yang bersampulkan gambar yang... Keren abiss!


Kakekku duduk membaca komik itu sementara aku duduk di dekatnya, sambil melirik ke segala penjuru.


Rumah kakekku kukatakan cukup sederhana, dengan berbagai ruangannya yang dibuat sekecil mungkin agar cukup di rumahnya itu. Biar kecil, aku merasa rumah itu nyaman untuk ditinggali.


"Oh ya, nenek dimana?" Tanyaku. Dari baru sampai hingga sekarang, aku masih belum melihat nenekku.


"Ah, nenekmu? Dia sudah meninggal setahun lalu..." Jawab kakekku kemudian meletakkan komiknya dan mengambil selembar kertas yang ada di dekat sana, "Lupakan itu, aku akan merancang latihanmu."


"Cih, hanya menggendong tas kecil saja, kakek bahkan bisa mengangkat dua anak sepertimu dalam waktu yang sama..." Kakekku mengetukkan bolpoinnya ke kepalaku, "Jangan kira hanya karena kakek sudah tua, bisa membuatmu meremehkanku."


Aku menelan ludah, apakah sekeras ini latihan calon Hunter?


***


Esok paginya...


"Langit! Bangun! Sudah jam sembilan pagi! Sarapanmu sudah kakek habiskan!"


Aku yang mendengarnya langsung bangun dan berlari ke kamar mandi yang ada di depan kamarku.


Yah, aku tak tahu apakah yang dikatakan kakekku itu benar atau tidak, tetapi yang pasti...


"Kenapa di luar masih gelap?!" Aku melempar gayung ke lantai dengan kesal, "Kakek sialan!"


Karena aku sudah bangun dan rasanya sulit bagiku untuk tidur lagi, terlebih kini aku berada jauh dari tempat tidurku, jadi aku terpaksa mengambil gayung itu lagi dan mulai membersihkan diri.


"Langit! Jangan malas!" Teriak kakekku lagi, "Kalau kau malas, akan kulempar kau ke jurang!"


"Iya, iya, iyaaa! Tunggu sebentar!" Aku ikut berteriak.

__ADS_1


Perkiraanku, sekarang masih pagi sekali, mungkin subuh, sekitaran jam lima hingga jam enam. Tetapi kurasa bisa lebih rendah dari itu deh...


Selesai mandi, aku kembali ke kamarku tanpa pakaian dan melihat kaos tanpa lengan dan celana pendek.


"Hah? Punya siapa ini?"


"Ah, pakaianmu berlatih berbeda dari pakaian sehari-harimu, jadi pakai kaos dan celana pendek yang ada di atas kasur itu!"


Sialan, kakekku ternyata yang meletakkan kaos dan celana pendek ini!


Aku hanya menghela napas dan memakai pakaian sederhana itu, sebelum aku sadar, pakaian yang kupakai sekarang tidak seharusnya dipakai di pagi hari yang dinginnn sekaliii!!


***


"Sarapanmu hanya tiga buah pisang dan air saja. Kakek yang akan memakan roti-roti ini..." Ujar kakekku sambil meletakkan segelas besar air putih.


Aku yang melihatnya hanya bisa diam, apa maksudnya sarapanku hanya pisang dan air putih saja? Apa nanti aku tidak kelaparan?


"Jangan banyak pikiran, sekarang sudah hampir jam enam pagi, kau harus bisa menyelesaikan latihan pertamamu di jam sepuluh nanti." Ujar kakekku sambil meminum susu.


"Eee, aku minta susunya kek..." Aku menadahkan tangan, meminta segelas susu dari kakekku.


"Ha? Apa kau tidak dengar yang tadi? Sarapanmu mulai sekarang hanya pisang dan air putih saja, tidak ada yang lain!" Kakekku meletakkan gelas dengan keras hingga bersuara keras.


Aku diam dan aku memakan bagianku sambil berpikir, apakah latihan menjadi Hunter benar-benar seperti ini?


Cold Blooded Hunter: Seeker of Peace - Arc 1 - Namanya Langit Satria - The End


Catatan Penulis:


Yo, Rio Andriana disini...


Arc 1 novel ini akhirnya selesai pada chapter 30 tanggal 27 Oktober...


Nah, di promosi ane sebelumnya, ane bilang kalo ane cuman bakal nyediain Arc 1 novel ini, tapi karena ada waktu lebih, jadi ane nyiapin Arc 2 juga, yang akan rilis 2 hari lagi.


Semua chapter yang kalean baca selama ini, sebenernya diketik dua bulan sebelumnya, jadi catatan penulis yang kalean baca sekarang juga, cuman ketikan lama doang...


Ah sudahlah, intinya, ane cuman bakal nyediain 2 arc aja sampe MWiSW tamat, keknya lagi dikit deh, soalnya babang Ray kita lagi nyusup ke Benua Westerie, gehehehe... (Karena chapter dan catatan penulis ini diketik bersamaan dengan bagian itu...)


Dalam arc selanjutnya, ane bakal nyeritain tentang latihan si Langit ini dan beberapa rahasia besar di balik kekuatan beberapa Hunter kuat, seperti yang disebutin sama Tang Liao sebelumnya, tapi ga semua, karena ini masih permulaan, aneh rasanya kalo memulai permulaan dengan hal-hal berat semacam rencana jahat dua Emperor gitu dan niat nguasain dunia...


Itu aja, sampe jumpa 2 hari lagi untuk chapter 31 doang! Babay...


Salam,


Rio Andriana.

__ADS_1


__ADS_2