
"Jadi, apa kau kemari hanya mempertanyakan kemanusiaanku?" tanyaku, aku merasa Senja mendatangiku tak hanya untuk menanyakan itu saja.
Senja mendekat dan berdiri tepat di depanku, amat dekat denganku. Ia membungkuk sedikit dan mendekatkan wajahnya dengan wajahku, "Aku ingin tahu semuanya..."
Aku memundurkan wajahku dan bertanya dengan alis terangkat, "Semuanya? Apanya?"
Oh ayolah, apa yang kau lakukan, Senja?! Orang bisa salah paham ketika melihatmu begini!
Senja berdiri tegak lagi dan berjalan kemudian duduk di sebelahku, "Kau tahu, aku mengalami banyak sekali halangan ketika hidup selama lima tahun setelah kita berpisah..."
Hmm, aku paham, aku juga begitu, mungkin lebih banyak darimu...
"Apa saja itu?" tanyaku, dan pada akhirnya, aku penasaran apa saja yang ia lakukan selama lima tahun ini.
"Latihan, memperkuat tubuhku, dan membuatku terpengaruh oleh sebuah pengetahuan bernama Doktrin Hunter." jawabnya, dan itu cukup membuatku terkejut.
Kakekku pernah berkata, Doktrin Hunter adalah sebuah pengetahuan yang mampu mempengaruhi para manusia yang ingin menjadi Hunter agar membenci Monster. Pengetahuan ini dianggap mampu membuat manusia bergabung dengan dunia Hunter dan melawan Monster.
Kakekku tak pernah mengajariku tentang pengetahuan itu, karena menurut kakekku, orang-orang yang mempelajari pengetahuan ini akan memiliki keinginan menghabisi Monster yang lebih besar daripada Hunter yang tak mempelajarinya.
"Setidaknya, ada beberapa orang lainnya yang ikut menerima Doktrin Hunter selain aku, termasuk Vina..." ujar Senja, "Dan yah, aku hanya perlu waktu setahun agar bisa menguasai pengetahuan dasar yang diperlukan oleh Hunter, dan tak butuh waktu lama, aku terjun ke tempat pertempuran, dengan senjata api pertamaku yang kudapatkan dari kakekku."
"Kakekmu namanya Vano Irawan, kan?" tanyaku.
Seingatku, orang yang membawa Senja ke Jakarta namanya Vita, kan? Apa dia masih hidup?
"Iyap..." Senja mengangguk kecil, "Nenekku juga membantu melatihku, jadi aku mendapat pelatihan dari dua Hunter rank S."
Oh, begitu ya? Aku yang pernah dilatih oleh Hunter rank SS dan seorang... Seekor? Lebih baik seekor sepertinya... Aku yang dilatih oleh Hunter rank SS dan seekor Emperor merasa itu bukan hal yang mesti dibanggakan...
"Jadi? Bagaimana pertarunganmu selama ini?" Aku meliriknya, Senja membawa pedangnya. Tapi aku juga begitu, membawa kedua pedangku dan memakai Cakar Ayam Api, jadi sekarang aku dalam bentuk siap bertarung kapanpun itu jika ada serangan.
"Aku memakai senjata api versi terbaik tipe jarak dekat milik kakekku, beliau memberinya nama Kilat Ungu." ujar Senja, "Dan dengan ini, aku bisa menebas banyak Monster dengan mudah."
__ADS_1
Ia mengangkat pedangnya dan menunjukkannya padaku, "Lihat? Ini benda yang membuatku bisa bertahan selama ini, selain tongkat besi yang dulu kita temukan di rumah kosong itu!"
Dia terlihat antusias, dan aku mengingatnya dengan jelas, ketika aku menemukan tongkat besi yang saat itu kami pakai untuk melawan Monster berbentuk anjing, bersama paman Christo yang saat itu duduk santai menunggu kami menghabisi anjing-anjing itu.
"Boleh kulihat?" tanyaku, dan Senja memberikannya padaku.
[Kilat Ungu (SS): Pedang dua sisi tajam yang ditempa di Thailand. Merupakan senjata api tipe jarak dekat yang dimiliki oleh Vano Irawan, Hunter rank S dari RedWhite. Terbuat dari logam Flaming yang diberi warna dengan darah Wolf Flash yang dihabisi oleh Allen de Esquede, Hunter rank SS dari IronBlast.
Atk: +650
Crit. Rate: +3%
Crit. Dmg: +20%
Suhu tertinggi: 2000-2010°C
Pasif: Kecepatan menghindar meningkat sebesar 10% ketika menebas dengan separuh kekuatan, serta meningkatkan atk sebesar 20% jika menebas dengan kekuatan penuh.]
Hah? Statnya biasa saja, bahkan mirip dengan Pedang Naga Iblis yang kumiliki...
"Kau kekurangan pengalaman melawan musuh yang bergerak cepat, jadi instingmu tak terasah baik..." ujarku, dan itu membuat Senja terlihat seperti kebingungan.
"Insting?"
"Ya, insting..." sepertinya dia tidak tahu apa itu insting, jadi aku akan menjelaskannya sedikit padanya, "Insting itu seperti perasaanmu ketika berada dalam suatu situasi atau akan melewati suatu situasi."
"Sebagai contoh, apa yang kau rasakan ketika melihatku yang sekarang?" aku menatap Senja dengan tatapan tajam, "Jawab..."
Dan seperti tebakanku sebelumnya, Senja terlihat ketakutan melihatku, dan kulihat tubuhnya bergetar sedikit.
"Jadi?" aku memejamkan mataku, dan menatapnya dengan senyuman tipis, "Apa yang kau rasakan ketika melihatku?"
"Ketakutan..." hanya satu kata yang ia ucapkan, "Apa itu yang kau dapatkan dari Monster?"
__ADS_1
Aku mengangguk kecil, "Itulah yang kusebut insting, apa ada lagi yang kau rasakan ketika melihatku tadi?"
"Aku ingin lari, menjauh darimu."
Oh ayolah, apa aku semengerikan itu?!
"Oke, oke, tak usah dilanjutkan, kau boleh mengambil napas..." aku menepuk pundaknya, "Tenang..."
Senja mengatur napasnya, dan aku merasa ia sudah tenang, jadi aku melanjutkan lagi.
"Insting bisa kau asah dengan melalui banyak pertarungan, atau aku bisa menyebutnya seperti firasat. Dengan insting yang kuat, kau setidaknya bisa menghindari suatu pertarungan yang memiliki potensi membunuhmu." tambahku, dan Senja angguk-angguk.
Ia menatapku dalam-dalam, dan bertanya, "Apa saja yang sudah kau lalui selama lima tahun ini? Sampai kau mengerti hal seperti itu?"
"Sederhana saja, aku melawan banyak bentuk Monster, dari yang kecil, sampai seukuran pohon..." jawabku, "Dan, untuk melatih instingku, aku biasa pergi ke hutan dan bertahan disana dengan beberapa peralatan sederhana."
"Di hutan, aku menemukan banyak sekali ancaman, membuatku terlatih memprediksi kapan ancaman akan datang, kapan aku akan aman, dan lainnya." tambahku, "Dan untuk kecepatan, aku biasa berlatih melawan kakekku, dan pergerakan kakekku amat cepat, yaaa, kau masih ingat dengan saat ketika kakekku melawan Monster berwajah manusia dulu itu, kan?"
Senja mengangguk, dan aku melanjutkan lagi, "Nah, untuk bisa mengimbangi gerakan kakekku, aku melatih kecepatan serta kemampuan memprediksi serangan kakekku. Caranya dengan melawan Monster yang lebih kuat dariku..."
Semuanya kualami selama lima tahun ini, jadi mungkin, pengalamanku lebih banyak daripada Senja.
"Melawan Monster yang lebih kuat darimu? Bagaimana caramu melakukannya?" Senja sedikit terkejut, "Aku saja kesulitan melawan Monster rank B yang setara denganku..."
"Itu karena kau kurang memperhatikan pola serangannya." aku mengangkat telunjukku, "Beberapa Monster setidaknya memiliki pola serangan yang mudah diperkirakan..."
Jika aku menemukan pola serangan yang belum pernah kulihat, maka langkah pertama adalah memperkirakan serangannya selanjutnya dari awalan serangannya.
[Perhatian! Musuh mendekat!]
Jendela informasi muncul di hadapanku, dan apa yang muncul membuatku terkejut.
Siapa Monster yang cukup gila memasuki wilayah kekuasaan organisasi Hunter terkuat di Indonesia? Kecuali...
__ADS_1
"Yo, Wadah Flame Emperor..." seseorang muncul di balik kegelapan malam, "Nampaknya kau semakin kuat dari tahun ke tahun..."