Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
267. Chevalier Bleu


__ADS_3

Esterosa menatap lautan Monster di hadapannya, benteng terakhir Prancis berhasil ditembus, dan pasukannya tersisa sedikit setelah sebelumnya separuh pasukannya terbantai oleh lautan Monster itu.


"Apa mempertahankan Prancis sekarang tidak seperti dulu lagi?" Esterosa memejamkan matanya, tangannya bergetar saat memikirkannya saja.


Negerinya hampir hancur, dan ia tak bisa berbuat banyak, bagaimana mungkin ia bisa tenang begitu saja?


"Kurasa, kata-kata Langit bahwa kita akan gugur itu benar adanya..."


Sudah sejak jauh-jauh hari Langit mengatakan bahwa beberapa Hunter kuat akan gugur di hari perang, dan sebab itulah, semua Hunter dan tentara diminta membuat video kata-kata terakhir mereka sebelum berperang.


Setelah perang selesai, video-video itu akan diberikan kepada keluarga jika Hunter atau tentara gugur, dan video itu dikembalikan ke pembuatnya jika pembuatnya selamat.


Dan Esterosa sudah membuat video itu, ia meletakkannya di kamarnya dan berpesan sesuatu pada Langit.


"Jika aku mati, maka berikan video itu pada Alteron dan tontonlah berdua. Jika Joko masih hidup, ajaklah ia menonton itu."


Esterosa menancapkan pedangnya, angin berhembus pelan, rambutnya yang terikat sedikit bergoyang terkena angin. Rasanya sejuk sekali...


"Nona jendral! Musuh sudah mendekat ke perkemahan! Kami tak bisa menahannya lebih lama lagi! Mohon bantuannya!"


Esterosa melompat turun dari balkon sebuah restoran tua kemudian melesat cepat menyusuri jalanan, ia sudah mendengarnya...


Suara apa yang ia dengarkan?


Suara jeritan, teriakan, desingan peluru, suara dua benda logam beradu, tangisan, ia juga mencium aroma darah yang amat pekat meskipun ia baru bergerak sedikit saja.


Dari segala hal yang bisa ia tangkap dengan inderanya, ia bisa menyimpulkan satu hal... Prancis kini benar-benar terpojokkan...


Apa yang awalnya ia pikirkan terjadi melalui angin yang ia rasakan kini benar-benar terjadi...


"Nona jendral! Bantuan-..."


Esterosa bergerak makin cepat menuju lokasi yang baru saja ia tandai, yaitu di dekat menara Eiffel, lokasi yang sama seperti kemunculan pertama para Monster ke bumi...


Disana, banyak Hunter yang kesulitan dan terlihat jumlahnya yang semakin sedikit, menunjukkan kalau kekuatan Hunter sudah berkurang jauh sejak pertempuran dimulai.


Ia melompat dan menebaskan pedangnya, menyelamatkan seorang Hunter yang terpojokkan oleh seekor serigala hitam dan memenggal kepala serigala itu.


"Terima kasih nona-..."


"Jangan berterima kasih, cepat bantu yang lain!" seru Esterosa dan ia melesat lagi, membantu Hunter lain menghadapi musuhnya.


Dengan ia turun tangan, setidaknya situasi pertempuran mulai berpihak pada Esterosa dan pasukannya.


"Akibat jumlah Hunter yang sedikit, aku jadi kekurangan pasukan..." gumam Esterosa.


Itu benar, Langit sudah membagi sama rata semua pasukan Hunter yang tersisa beserta tentara militer negara lain, tetapi dalam perhitungannya, jumlah Hunter yang digabung dengan pasukan militer biasa pun rasanya akan sulit mempertahankan bumi dari serangan Monster.


Tetapi Langit percaya pada Hunter lain dan ia menyerahkan keselamatan bumi pada Hunter lain sementara ia akan menghadapi pimpinan musuh yang pastinya Monster terkuat di antara Monster kuat yang pernah ia hadapi.


***


"Sialan..." Esterosa memegang pedangnya dengan gemetaran, ia menatap ke sekitarnya dengan mata berkaca-kaca.


Pasukannya sudah habis terbantai, hanya oleh satu Monster saja.

__ADS_1


Ia saja bahkan tak tahu bagaimana caranya Monster itu membantai pasukannya, yang ia tahu hanyalah bagaimana Monster itu berdiri di depannya dengan tangannya yang memegang satu kepala, sepertinya...


"Apa? Kau takut bahkan saat baru melihatku?" Monster di depannya hanya tersenyum lebar kemudian ia melempar sesuatu di tangannya ke depan Esterosa.


Monster itu mendekat, dan tanpa sadar Esterosa berjalan mundur dengan cepat, terlihat Monster itu menyeringai lebar.


Esterosa memejamkan matanya, ia merasa takut...


***


"Rosa, jika kamu sudah besar nanti, kau ingin jadi apa?"


"Hah? Buat apa ibu bertanya begitu? Aku masih kecil, tak perlu memikirkan hal tentang masa depan..."


"Bukan begitu, ibu hanya ingin memastikan, apa kau ingin mengikuti jejak leluhur kita, atau ingin menjadi orang biasa..."


"Ah, kalau begitu aku ingin menjadi orang seperti paman dan ayah!"


"Menjadi Hunter?"


"Benar! Aku akan menjadi Hunter yang kuat dan membuat kalian bangga!"


"Ahahaha, ibu suka dengan semangatmu..."


...


"Rosa, Esquede kini sudah diambang kehancuran, kau harus melanjutkan apa yang sudah kau impikan sejak dahulu..."


"Kakek tak boleh berkata begitu! Kakek pasti bisa mengajariku lebih banyak lagi tentang berkelahi!"


"Apa yang kakek ajarkan bukanlah tentang berkelahi, tetapi itu disebut bertarung untuk menghabisi Monster..."


"Bukan nak, itu hanya peralihan agar kau mau berlatih latihan keras. Jika saatnya sudah tiba, kakek ingin memberitahumu satu hal..."


"Apa itu?"


"Monster tak layak untuk hidup di dunia, mereka harus dihancurkan..."


...


"Esterosa, Antonius menitipkan benda ini padamu..."


"Apa ini?"


"Blue Sword, pedang andalannya dan ia mengatakan kalau ia sejak lama ingin melihatmu memegang pedang ini."


SRING!


"Biru..."


"Ya, pedang ini adalah pusaka keluarga Esquede, dan siapapun yang memegang pedang ini akan menjadi orang yang berpengaruh di seluruh dunia serta ia akan menjadi kepala keluarga dari keluarga militer terbaik di Eropa."


"Baik, aku tidak akan mengecewakan keluarga Esquede..."


***

__ADS_1


"Hah? Apa maksudmu? Tentu saja aku tidak takut..." Esterosa membuka matanya dan menatap Monster itu dengan senyuman lebar, "Kau bukanlah makhluk yang harus aku takuti..."


"Ohohoho, begitukah? Arogan sekali kau ini..." Monster itu mengangkat kedua tangannya dan menyeringai, "Kalau begitu, tunjukkanlah kekuatanmu!"


Kurang dari sedetik kemudian, makhluk itu muncul di depan Esterosa dan ia mengayunkan tangannya yang sudah berubah menjadi sebilah pedang.


Esterosa mengangkat pedangnya dan menahan tebasan itu, kemudian ia menghempaskannya dan menendang Monster itu.


Monster itu bergerak mundur sedikit, dan Esterosa langsung melancarkan tebasan cepat yang melukai bagian depan Monster itu dari pundak kiri ke pinggang kanan.


Para Monster kini mulai bervariasi, dengan bentukannya yang bukan lagi hanya hewan dan tumbuhan, tetapi gabungan dari keduanya dan bahkan mutasi yang lebih mirip seperti iblis.


Bukan hanya itu, kemampuan mereka juga bervariasi, dan setiap pergerakannya seperti dilandasi hasil berpikir yang cermat, jadi menghadapi Monster sekarang sama saja seperti menghadapi manusia yang memiliki pikiran.


Esterosa menusukkan pedangnya ke dada Monster itu, tetapi Monster itu bisa menghindarinya dan menepis tusukan yang dilancarkan Esterosa.


Monster itu mengangkat kedua tangannya dan mengayunkan kedua tangannya, kemudian ia bergerak cepat mendekati Esterosa.


Wanita itu, mengangkat pedangnya, dan tepat saat Monster itu berada tepat di depannya, ia menebaskan pedangnya dari atas ke bawah.


Tebasannya telak memotong tubuh Monster itu menjadi dua, tetapi di saat yang bersamaan, pedang Monster itu juga menembus armornya dan menusuk perutnya.


"Sial! Aku lengah!" Esterosa menarik pedangnya dan bergerak mundur, sementara Monster tadi sudah tewas dengan tubuh terbelah dua.


Konsentrasinya menurun sedikit akibat melihat pasukannya dibantai tepat di depan matanya, tetapi ia berhasil mengatasinya.


Ia menebaskan pedangnya dan menghilangkan darah hitam yang menyelimuti pedangnya, sebelum ia menyadari kedatangan beberapa Monster lagi.


Ia melirik sedikit, dan melihat sekitar empat Monster yang mirip seperti Monster yang tadi ia habisi mendekat, kedua tangan mereka sudah memegang senjata masing-masing.


"Oh sial..." Esterosa mengangkat pedangnya lagi, "Apa aku harus mati disini?"


Perutnya terluka lebar dan ia kini mengalami pendarahan, hanya dengan begitu saja sebenarnya sudah menunjukkan kapan ia akan gugur, sekitar sejam jika ia tak mendapatkan pertolongan.


Ia bisa mengukur agar ia tak cepat gugur dengan menahan laju keluar darahnya, tetapi tak lama, hanya satu jam saja.


"Satu jam adalah waktuku..." ia melesat cepat menuju empat Monster yang baru datang itu dan menebaskan pedangnya, melukai empat Monster itu dengan sedikit kesulitan.


Empat Monster itu menghindari beberapa tebasan Esterosa, membuat Esterosa makin kesal.


Pandangannya makin buram, gerakannya tak lagi cepat, dan tak butuh waktu lama baginya bertahan, beberapa bagian tubuhnya terkena serangan musuh.


Pundak kanan ditusuk, kemudian lengan kiri ditebas hingga ia bisa merasakan tulangnya ikut terkena tebasannya, punggung kiri yang ditusuk dari belakang...


Wanita tangguh itu jatuh ke atas tanah, pedangnya terlepas dari genggamannya.


"Uh..." pandangannya makin buram, ia mulai tak bisa melihat apapun yang ada di depannya.


"Hei lihat, manusia ini sulit sekali mati meskipun sudah kita keroyok..."


"Tidak semuanya begitu..."


Esterosa bisa mendengarnya, bahwa ia dianggap manusia yang sulit mati. Ia tersenyum tipis mendengarnya, "Apakah Langit berpikir begitu juga?"


Ia sudah merasakan pendengarannya menurun, sebelum ia merasakan punggungnya ditusuk sesuatu berkali-kali.

__ADS_1


Ah... Rasanya pedih saat tak bisa melihat masa depan yang ia inginkan...


Masuk akal kan, kenapa para Hunter rank SS banyak yang gugur saat ini?


__ADS_2