
Getaran besar terasa di beberapa negara, khususnya di timur tengah dan sekitarnya.
Laut bergoyang sedikit, rasanya tsunami akan datang, tetapi para manusia tidak perlu khawatir karena mereka berlindung di dalam bunker, sementara para Hunter bergerak di atas bumi untuk menghabisi Monster.
"Aku yakin ini adalah kerjaannya musuh." Joko melipat tangannya, "Langit belum menyentuh level ini."
"Darimana kau tahu itu?" Alex menaikkan alisnya, "Lagipula, kenapa kau masih diam disini? Bukankah pembagiannya adalah kau bergerak di Rusia bersama Mir?"
"Aku menukarnya dengan William." jawabnya kemudian meletakkan headphonenya, "William lebih cocok bertarung di tempat terbuka daripada aku."
Memang benar, Alex dan Joko memiliki kemampuan Assassin yang membuat keduanya bisa bertarung di tempat yang kecil dan minim musuh. Kalau keduanya bertarung di tempat yang banyak musuh, kecil kemungkinan keduanya bisa menang meskipun keduanya bekerjasama.
William memiliki kemampuan Striker dan Defender. Ia memiliki segudang gerakan jangkauan luas yang membuatnya mampu untuk bertahan di tengah lautan musuh.
"Jadi kurasa William lebih cocok ditempatkan di Rusia." Joko melirik jendela, "Ya..."
"Jadi, apa kau serius mau membantuku menjadi pengirim cadangan ke seluruh dunia?" tanya Alex tanpa memalingkan wajahnya, ia masih fokus ke depan, "Kemampuanku tak banyak dipakai saat ini..."
Yah, Assassin tak banyak diperlukan saat ini karena skala serangan kali ini amat besar, kemampuan menyelinap dan menghabisi diam-diam tak banyak dipakai saat ini karena banyaknya jumlah Monster yang menyerang.
Situasinya kurang lebih mirip seperti Raid Kanada dua tahun lalu, saat Alex dan Joko lebih banyak berjaga di sekitaran hutan dibandingkan baku hantam dengan Monster langsung.
"Apa kau sudah membuat kata-kata perpisahan?" tanya Alex lagi, memecah hening di pesawat itu.
"Hmm? Untuk apa aku membuat kata-kata perpisahan? Itu hanya membuatku yakin kalau sekarang aku akan mati." Joko terkekeh kecil, "Sudahlah, bagaimana denganmu?"
"Aku tak memiliki seseorang untuk kuberikan kata-kata perpisahan. Orang-orang yang dekat denganku sudah mati, tersisa aku saja sendirian." jawabnya, dan Joko bisa mendengar suara seseorang yang kesepian.
"Oh..." Joko tak bisa berkata-kata lagi.
"Satu lagi, kuharap Esterosa bisa bahagia dengan hidupnya sekarang..." Alex berkata pelan lagi.
"Hmm?" Joko menaikkan alisnya, ia sedikit bingung dengan kata-kata Alex itu...
Keduanya kemudian duduk dalam diam lagi di pesawat jet yang dikendarai Alex. Yah, situasi kurang lebih menegangkan, tetapi di dalam pesawat, tak ada situasi tegang, hanya ada suasana tenang dan percaya kalau semuanya akan terlewati dengan mudah...
__ADS_1
Seharusnya...
Pengiriman suplai perang seharusnya berjalan tenang dan tanpa hambatan...
DUAR!
IronBlast...
"Aku kehilangan kontak dengan pesawat jet yang dikendarai Alex Curran. Pengiriman suplai ke Jepang terhenti sementara dan pesawat lain akan mengirim suplai kesana." Al mengepalkan tangannya, ia masih tak percaya korban akan jatuh secepat itu...
***
Jika saja aku tak menghindari serangan laser yang dilancarkan Dragon Emperor, mungkin aku sudah mati sedari tadi.
Tangan Dragon Emperor yang besar bergerak ke arahku, dan aku menghindari cakarannya kemudian aku melesat cepat menuju kepalanya lagi.
Pertarungan di atas udara tak terganggu sedikitpun, aku jadi tahu kalau Ice Emperor dan Tyrant Emperor tak bisa menggangguku di udara, sederhananya keduanya tak bisa terbang.
Mata Dragon Emperor melebar, tubuhnya mengecil kemudian turun dalam bentuk manusia separuh naga lagi.
Wujud yang membuat pak Tom meregang nyawa, aku harus menghapus keberadaannya sekarang...
Aku mengangkat pedangku, kemudian aku melesat turun dengan kecepatan tinggi.
Tak butuh waktu lama, aku sampai di depannya dan aku langsung menebaskan kedua pedangku dari kiri bawah ke kanan atas.
Dragon Emperor melompat mundur, tetapi gerakanku lebih cepat dan tubuhnya tergores dari pinggang kanan ke pundak kiri.
Aku melirik ke kiri dan kulihat Tyrant Emperor bergerak cepat ke arahku dengan pedangnya yang sudah diselimuti sesuatu berwarna hijau, dan menunjukkan ketajaman senjata itu.
Ia menusukkan pedangnya, tetapi aku bisa melihatnya dan aku melancarkan tusukan cepat yang kurasa berhasil mendarat di perutnya.
Aku menarik kembali pedangku dan melayang lagi, kulihat Ice Emperor masih berdiri di posisinya tadi, dengan tombaknya yang berwarna putih mengilap, aura yang ja lepaskan semakin kuat.
Tak ada kakek Angkasa yang akan mengingatkanku saat bertarung, jadi aku harus membaca semua serangan musuh sendirian...
__ADS_1
Aku mendarat di hadapan Ice Emperor kemudian mendekatinya. Dua Emperor sudah kulukai serius, kurasa keduanya tidak bisa pulih dalam waktu lama.
"Kurasa kau sudah melihatnya." kataku sambil menghunuskan pedangku, "Apa yang akan terjadi jika kau ikut maju, seharusnya kau tahu juga..."
"Lalu kenapa? Kami unggul dalam jumlah serta dalam kekuatan. Kau hanya beruntung saja karena Dragon Emperor belum serius." jawabnya dan ia menurunkan tombaknya, seketika hawa dingin langsung menyelimuti sekujur tubuhku, "Jangan besar kepala, bocah..."
Ia menyentuh pasir dengan ujung tombaknya, dan lapisan es tercipta di sekitarnya, kemudian ia melesat maju.
Tombak putih itu melesat ke arahku dengan cepat, setiap tusukannya dilancarkan dengan cepat disertai tenaga yang amat kuat.
Aku menghindarinya sambil menjaga jarak, kulihat Ice Emperor tak main-main-...
...
...
...
Aku terlempar setelah aku merasakan tubuhku dihantam sesuatu, dan aku berguling-guling di atas pasir. Kedua pedangku lepas dari tanganku.
Tyrant Emperor mendekat dan ia melancarkan tebasan berkekuatan besar ke arah kepalaku, aku berdiri dengan cepat dan melompat menjauh.
Kedua pedangku lepas dari tanganku, itu adalah mimpi yang tak pernah kubayangkan, tetapi untungnya kakekku sudah mempersiapkan beberapa hal yang menutupi kekuranganku kalau tidak memegang pedang.
Yaitu Cakar Ayam Api dan Aliran Tangan Iblis!
Aku mengepalkan kedua tanganku, memasang posisi, kemudian memperhatikan sekitar sekali lagi.
Tyrant Emperor melesat lagi ke arahku, aku melesat ke arahnya, dan aku melancarkan pukulan berkekuatan penuhku ke pedang Tyrant Emperor.
Pukulanku menghancurkan pedang Tyrant Emperor, dan pukulanku bertemu dengan tangannya hingga suara retak terdengar.
Ia jatuh dan aku melesat ke pedangku yang tergeletak tak jauh dari tempatku, kemudian meraihnya cepat.
Dragon Emperor bergerak cepat ke arahku dan ia melepaskan semburan api lagi dari mulutnya, aku menghindarinya dengan mudah kemudian melesat ke tempatnya berdiri.
__ADS_1
Berkat teleportasi yang diberikan oleh dua legenda dari masa lalu, tak butuh waktu lama untuk sampai di depan Dragon Emperor dan melancarkan serangan balik.
Aku melancarkan tebasan cepat yang langsung memotong kepala Dragon Emperor dengan mudah, dan kepala raja para naga itu jatuh ke atas pasir.