Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
83. Pembicaraan kecil dengan Zon


__ADS_3

"Jika saat itu tiba, berusahalah untuk selalu menatap ke depan, hadapi segala rintangan yang ada, jangan pernah menoleh ke belakang dan meratapi masa lalumu. Jadikan tujuan hidupmu sebagai alasanmu dalam menjalani hidup..."


"Hiduplah dengan rasa bangga, Langit Satria sang Ksatria Langit..."


Kalimat-kalimat itu terus kupikirkan, bahkan Zon sampai kebingungan kenapa kata-kata itu terus membekas di pikiranku.


"Langit, aku ingin mengatakan kalau semua yang dikatakan oleh kakekmu itu benar adanya..." ujar Zon di malam hari, "Aku bisa melihatnya meskipun samar-samar..."


"Aliran Stamina yang biasanya tenang, terasa bergerak cepat, berusaha mendorong aliran pengganggu yang menempel di tulang, otot, beserta organ dalamnya, berbentuk seperti gas ungu..."


"Aku bisa mengatakannya seperti racun, dan racunnya terlalu kuat untuk disembuhkan dengan ilmu pengetahuan kalian..."


"Aku sebenarnya memiliki beberapa teknik menghilangkan racun itu, tetapi sayangnya teknik-teknik itu tak bisa dilakukan menggunakan pengetahuan dunia ini yang masih terbatas."


"Hah?" semakin panjang penjelasan Zon, aku semakin tidak mengerti, "Maksudnya?"


"Kau masih ingat dengan ingatan kehidupanku sebelumnya, kan?" Zon bertanya, "Apa kau bisa memahami alasan kenapa aku tak bisa melakukannya meski memiliki tekniknya?"


Aku memejamkan mataku, mencoba mengingat-ingat apa yang berhasil kupelajari dari ingatan Zon, dan aku berhasil menemukannya, meskipun bukan jawaban aslinya, melainkan hanya kesimpulan semata...


"Tekniknya menggunakan Mana sebagai sumber kekuatan, dan alasan kenapa paman tak bisa melakukan teknik itu adalah karena di dunia ini tak mengenal yang namanya Mana, kan?" aku menyimpulkannya.


"Itu benar, meskipun aku bisa merasakan energi alam yang murni di dunia ini, tak ada yang bisa menggunakannya karena tidak ada manual yang bisa dipakai sebagai panduan menggunakan energi alam." jawab Zon dengan helaan napas, "Kalian terlalu bodoh untuk manual itu."


"Cih, apaan maksudnya coba? Meremehkan?" aku melipat tanganku, "Jangan bodoh deh..."


"Aku tidak bohong, dalam jarak beberapa ratus meter aku masih bisa merasakan samar-samar aura Mana, dan sedikitpun tak ada manusia di sekitar sini yang memiliki Mana..." Zon menjawab, "Tapi jarakku merasakan hanya satu persen saja, mungkin tidak ada di sekitar sini."


Menurut ingatan yang kudapatkan, semasa hidupnya Zon memiliki kekuatan yang amat dahsyat dan hebat serta kuat, banyak hal yang bisa digunakan untuk menggambarkan kekuatan yang Zon miliki di kehidupan lainnya.

__ADS_1


Ia mampu menciptakan api dengan energi alam yang disebut Mana, mengendalikan api, menggunakan pedang yang sudah diselimuti api merah, menghajar musuh dengan pukulan yang telah diselimuti api, dan satu lagi, memiliki fisik yang amat hebat, melebihi fisik Tom yang pernah tayang di televisi sewaktu Raid Islandia.


Zon tewas karena melawan penyusup dari luar benuanya, ia berjuang habis-habisan untuk melawan penyusup dan pengkhianat ras manusia, tetapi ia gagal dan berujung pada perutnya yang ditusuk oleh penyusup itu.


"Paman Zon..." aku berkata, "Apakah paman memiliki murid yang amat hebat?"


Selain kekuatan dahsyat yang dimiliki Zon, aku juga memiliki beberapa ingatan tentang murid-murid Zon yang berjumlah tiga orang, dua laki-laki dan satu perempuan.


"Ya, nama ketiganya adalah Ray, Agus, dan Mira, menurutku mereka bukanlah manusia dari duniaku, melainkan dari dunia lain." Zon menjawab, "Aku sudah banyak membaca dongeng tentang dunia lain, tetapi aku pertama kali melihatnya secara langsung..."


"Kau tahu, Langit? Dalam perjalananku menuju reinkarnasi yang keempat, aku mengingat tentang kata-kata malaikat maut yang mengantarku..." Zon berkata, "Ia berkata, garis takdir Ray itu adalah puncak dunia, itu tidaklah aneh karena memang, kekuatannya amat hebat, bahkan ia mampu menyatukan tiga aliran yang sebelumnya berperang dan melawan balik musuh."


Puncak dunia? Puncak dari segalanya? Apakah maksudnya Ray itu adalah puncak dari segalanya, sosok terkuat yang mampu mengatur segalanya?


"Abaikan, cara untukmu menjadi kuat hanya dengan berlatih dan terus menaikkan levelmu, itulah yang terpenting." Zon berkata, terdengar seperti mengganti pembicaraan.


"Menurut guide book yang kumiliki yang diberikan oleh Flame Emperor, untuk bisa berevolusi ke sistem yang lebih baik adalah saat level telah mencapai level 100." tambah Zon, "Dan untuk mencapainya, perlu sekitar tujuh puluh lima level lagi."


"Perkiraan saja, sekitar lima hingga sepuluh tahun, selama itu seharusnya para Lord dan Emperor tidak akan menyerang." jawab Zon, "Kau bisa memanfaatkan jeda itu untuk terus menaikkan level, mewaspadai setiap pergerakan Monster dan berusaha sejauh mungkin dari para Monster kuat itu."


Berbicaranya mudah, melakukannya susahnya minta ampun hei...


"Kau boleh berpikir kalau melakukan apa yang kulakukan itu lebih sulit dibandingkan berbicara saja, tetapi kau harus tahu, saat ini di sisimu ada Wadah yang telah melewati level 100, yang pastinya dia sudah memiliki sistem yang lebih baik." Zon berkata lagi, dan hanya ada satu sosok yang kupikirkan...


"Maksudnya kakekku? Memangnya dia bisa melindungiku dengan kondisinya yang amat parah itu?" tanyaku kebingungan.


Yaaa, pikir saja lagi, jika seandainya Monster yang mirip seperti di pertarungan terakhir pada Raid Islandia muncul lagi, kakekku akan kesulitan melindungiku, bukan hanya melindungiku, tetapi juga melindungi penduduk desa, ia pasti akan kesulitan.


Jika aku maju membantu, aku hanya akan menjadi beban saja baginya...

__ADS_1


"Tak ada yang namanya manusia beban, yang ada hanya manusia yang tidak mau berjuang..." ujar Zon tiba-tiba, "Dalam dunia, ada dua tipe manusia..."


"Tipe pejuang dan tipe pengecut, hanya dua tipe itu saja yang ada di dunia. Mereka yang akan menjalani kehidupan akan memilih diantara dua pilihan itu, ingin menjadi pejuang yang akan terus berjuang, memilih, dan melawan dunia, atau menjadi pengecut yang selalu berpikir bahwa hidup itu berdasarkan nasib dan menjalani alur hidup yang biasa-biasa saja, jauh dari kata berjuang keras."


"Kutanya satu hal..." nada suara Zon semakin terdengar tegas, "Mana yang kau pilih, pejuang atau pengecut?"


Takdirku sebagai Wadah Flame Emperor serta memiliki roh praktisi terkuat di dunia lain, memaksaku untuk memilih yang pertama, meskipun aku tak ingin, tetapi takdirku menyuruhku untuk menjadi pejuang, jadi aku tidak akan mundur, sekalipun didorong mundur oleh musuh sekuat Death Emperor, aku tidak akan mundur sedikitpun.


"Aku tetap pada pilihanku yang pertama sebelum menjadi Hunter, yaitu menjadi pejuang dan melawan dunia."


***


Di sebuah tempat yang jauh dari Indonesia, New Washington, Amerika Serikat...


"Tom, aku tak tahu apa yang terjadi, tetapi tubuhku semakin lemah semakin waktu berjalan..." Mark berkata dengan wajah penuh kesakitan, "Bagaimana ini?"


Tom memejamkan matanya, ia mengetahui kalau efek terkontaminasi racun telah berjalan lebih cepat dari perkiraan, dan ada kemungkinan kalau Bintang, Oga, Yao, Yun, dan Vigo mengalami kondisi yang sama dengan Mark.


"Apa kau tahu hal yang membuatmu terpaksa berbaring di atas tempat tidur meskipun kau adalah Hunter?" Tom bertanya pada Mark, "Itu karena kau terkena racun ular besar itu dan karena racun itu, sisa hidupmu berkurang hingga sisa hidupmu adalah satu tahun lagi."


Mata mata melebar, ia jelas terkejut karena kabar itu. Ia mengepalkan tangannya dan melancarkan ke arah Tom lalu bertanya dengan nada marah, "Kenapa kau tak memberitahuku sebelumnya?! Kenapa kau hanya diam saja?!"


"Aku sudah memberitahumu, tetapi kau terdengar seperti mencoba terlihat tenang padahal kau mengalami sesuatu yang mengerikan, itu membuatku berpikir kalau kata-kata dokter hanyalah lelucon semata..." Tom berlutut di sebelah tempat tidur Mark, "Sekarang, efeknya telah menjadi sebuah penyakit yang terus menggerogoti tubuhmu, dimulai dari otot, tukang, hingga semua oeganmu akan terkontaminasi racun."


"Jika itu benar terjadi, maka kita tak memiliki satu carapun untuk menghalanginya, melambatkannya saja tidak akan bisa meskipun telah mencoba berbagai cara." Tom menjelaskan, "Racun itu bergerak ke otakmu dan nampaknya, racun itu memang dirancang untuk menyerang dan mematikan semua fungsi pada otak."


"Aku begini, apakah kau akan membuangku?" tanya Mark tiba-tiba, "Apakah kau akan memecatku dari posisi Hunter rank SS StarSam?"


"Tidak, meskipun kau sakit tetapi kau memiliki prestasimu tersendiri, tetapi sayangnya pemakamanmu nanti sedikit yang datang..."

__ADS_1


"Jangan berkata begitu, aku masih belum mau mati..." Mark menatap Tom sendu, "Bisakah kau mengajak Alexia kemari? Aku ingin melihatnya..."


Itulah kalimat terakhir yang diucapkan oleh Mark Wei sang Smoke and Rifle sebelum kepergiannya...


__ADS_2