Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
39. Sang pelindung desa


__ADS_3

Dua bulan kemudian...


"Status."


[Nama: Langit Satria


Level: 12


Usia: 7 tahun


Jenis kelamin: Laki-laki


Pekerjaan: Flame Emperor


Title: Pejuang Sejati, 2+


HP: 425


STR: 75


INT: 20


VIT: 24


DEX: 21


DEF: 17


LUCK: 20


Bonus poin: 7


Stamina: 70/70


Skill pasif: (Raja Api: Lv. 2)


Skill aktif: (Sprint: Lv. 5) (Pedang Api: Lv. 2) (Lv. 15) (Lv. 20) (Lv. 25) ( Lv. 30) (Lv. 50)


Equip: Shorts (E)]


"Haih, dua bulan berlalu, baru dua level naik..." Aku menghela napas, "Sulit amat menaikkan level sistem satu ini..."


Masih di awal saja sudah susahnya minta ampun, apalagi kalau levelnya sudah semakin besar, kesulitannya pasti akan bertambah jauh...


Aku mengerutkan alisku, "Apakah aku perlu berburu? Bertarung melawan Monster dan menghabisinya? Apakah itu akan menaikkan banyak levelku?"

__ADS_1


Seharusnya sih mungkin, karena aku adalah Hunter, masa Hunter kerjaannya hanya olahraga dan latihan saja, apa mungkin itu sebabnya?


Aku menghela napas dan memejamkan mataku, memilih beristirahat sebelum esoknya aku kembali melalui latihan panjang...


***


"Langit! Bangun! Ada Monster!"


Aku membuka mataku cepat dan bertanya, "Dimana?!" Aku bangun dengan cepat dan melompat dari tempat tidurku.


"Di pasar!"


Langkahku berhenti saat mendengar kata pasar, pasti kakekku sedang mengisengi diriku yang baru bangun...


"Baru bangun disuruh bertarung, apa-apaan deh kakek bodohku ini..." Aku menggelengkan kepalaku dan berjalan mengambil pakaian yang biasanya kupakai kalau disuruh pergi membeli apapun di desa dan berjalan menuju kamar mandi.


Meskipun iseng begitu, kadang-kadang kakekku akan serius dengan kata-katanya, bahkan pernah seekor Monster serigala muncul dan mengacak-acak pasar, sebelum kakekku dan aku datang ke pasar dan menghabisi serigala itu.


Tentunya ada aku, karena aku ditarik paksa oleh kakekku saat aku sedang menggosok gigi, jadinya aku ikut kakekku dengan mulut yang masih tersisa busa-busa dari kegiatan gosok gigiku yang belum selesai itu...


Karena sudah biasa dikejar oleh kakekku, aku pun ikut terbiasa mandi cepat, jadi pagi ini aku mandi dengan cepat dan memakai kaos, celana panjang, jaket biru, dan topi kemudian meraih Pedang Naga Iblis.


Oh ya, kakekku memberikanku Pedang Naga Iblis sebagai senjata pertamaku karena menurutnya, memakai senjata yang lebih kuat tetapi tidak bisa mengendalikannya hanya akan membuat senjata itu tak lebih dari senjata yang kehilangan kendalinya.


Aku berlari keluar dan sebelum keluar, kakekku mencegatku dan berkata, "Belikan kakek dua kol, satu kilo kecambah, enam wortel, setengah kilo bawang putih, dua butir bawang bombai..."


"Nih..." kakekku menyerahkan selembar kertas dan berkata, "Setelah selesai bertarung, kau beli semua yang tertulis di kertas ini."


Setelah itu kakekku duduk lagi di dekat radio dan mendengarkan lagu yang musiknya cukup rusuh di pagi hari.


"Ishh!" Kesalnya aku pada kakekku, tetapi aku tak membantahnya dan pergi ke pasar...


***


Desa yang ada di dekat rumah kakekku jaraknya sekitar lima sampai sepuluh menit jika menempuhnya dengan sepeda kayuh, tetapi aku bisa mencapainya dalam waktu lima menit dengan kecepatan lariku sekarang.


Tak butuh waktu lama sebelum aku sampai dan melihat desa yang ramai.


Aku mendekat dan bertanya, "Ada apa?"


Wajahku cukup dikenal oleh orang-orang desa karena aku sering lewat untuk jalan-jalan ataupun memburu Monster, jadi aku lumayan terkenal deh...


"Ada Monster di pasar, kami tak berani mendekat sejak tadi pagi." seorang pria tinggi berkata padaku.


Aku mengepalkan tangan kesal, kan ada kakekku, sedang apa dia sebenarnya dari pagi heh? Mendengarkan radio? Apakah itu adalah sikap yang pantas untuk Hunter rank S?!

__ADS_1


"Sedang apa dia saat kalian terakhir kali melihatnya?" Tanyaku lagi.


"Makan nasi punyanya pedagang nasi bungkus."


Aku diam, apakah semua makhluk di dunia ini senang melawak?


Tapi aku mengabaikan itu dan berkata, "Baiklah, aku akan pergi."


"Eh? Apa kau serius? Monster itu terlihat kuat, sampai-sampai melukai lima pria dewasa!" Ujar pria itu lagi.


Aku tahu kalau aku sebenarnya sedang diremehkan, tetapi aku bisa memahaminya karena orang-orang menilaiku dari penampilanku yang pendek ini.


Biarpun pendek, aku ini bisa melawan lima pria dewasa seorang diri dan menghajar mereka di bagian penting mereka... Yang menggantung itu loh...


"Kakekku sedang sakit perut, jadi aku yang dikirim kemari." Ujarku dan menarik Pedang Naga Iblis, "Minggir, biar aku menggantikan kakekku."


Keramaian itu terbagi dua, dan aku diberikan jalan oleh penduduk desa, dan yah, untungnya mereka bisa memahaminya, harusnya...


"Jangan bercanda, kakek Bintang adalah satu-satunya Hunter yang kami percayai!"


Aku paham...


"Kakekku sedang sakit perut, jadi biarkan aku yang mengurus pekerjaannya!" Tanpa sadar, aku melepaskan aura Raja Api yang telah aku asah dengan melawan para Monster, dan tekanan serta suhu di tempat itu bertambah sedikit.


Semua orang terkejut, dan mereka langsung membiarkanku lewat, tanpa banyak bicara lagi, aku memasang posisiku dan berlari dengan cepat ke arah pasar yang jaraknya kurang dari semenit jika aku berlari cepat.


Sesampaiku di pasar, aku melihat seekor serigala besar yang sedang mengacak-acak sebuah gerobak yang kulihat berisi makanan dan beberapa kertas.


Aku menguatkan genggamanku pada pedangku dan berlari maju.


Dengan panjang pedangku yang sedikit lagi menyetarai tinggi tubuhku, jarak seranganku lumayan luas.


Aku mengayunkan pedangku dari kiri ke kanan dan maju lagi, membuat serigala itu menyadari kedatanganku.


[Kau mengaktifkan title 'Pemburu makhluk buas'! Setiap seranganmu meningkatkan Crit. Rate sebesar 15% dan meningkatkan serangan tipe Physical pada musuh Monster!]


Title ini kudapatkan saat aku dulu dikeroyok oleh tiga serigala rank E dan aku berhasil lolos, dan setidaknya, dengan title ini membantuku bertarung melawan Monster selama ini.


Aku tersenyum lebar dan menekan tombol di gagang pedang, membuat bilah pedangku bercahaya merah terang dan aku melompat tinggi sambil berseru, "Membelah Gunung!"


Jurus ini tak pernah diajarkan kakekku, tetapi aku tak sengaja melihatnya dan sayangnya, serigala itu tewas hanya dengan satu tebasan saja, dengan kepala yang terbelah, hingga seisi kepalanya keluar dari batok kepalanya.


[Naik level!]


[Naik level!]

__ADS_1


Aku mengangkat pedangku dan mengibaskan ke kanan, menghilangkan darah hitam yang sebelumnya menyelimuti pedangku dan menyarungkannya.


Setelah itu, aku merogoh kantong jaketku dan mengeluarkan kertas yang tadi diberikan oleh kakekku sambil bergumam, "Kurasa akan lama deh..." dan melirik ke sekitarku yang kacau.


__ADS_2