Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
271. Dua raja


__ADS_3

Aku maju dan duduk di satu kursi, sementara ada satu makhluk hitam lagi yang menatapku dengan mata merah yang sangat tajam menatapku.


"Lalu, bagaimana dengan benda yang kau cari, iblis?" tanya makhluk hitam itu, dan Siegfried hanya memejamkan matanya.


"Lupakan, batu itu hanya pengalihan saja untuk mengubah sejarah..." ujar Siegfried.


Batu? Apakah batu itu?


Ya, kakekku mengajakku pergi ke air terjun lagi, air terjun yang sama ketika aku mendapatkan sistem untuk pertama kalinya.


Ia berenang di kolam dangkal itu kemudian ia memberikan sebuah batu yang bercahaya biru terang padaku. Katanya, "Jagalah batu ini, jangan sampai pihak jahat mendapatkan batu ini..."


Aku teringat pada legenda tentang Death Emperor yang menghancurkan satu pasukan besar Divine Legion seorang diri setelah ia memegang batu misterius. Dan aku berpikir kalau batu yang disebutkan di legenda itu adalah batu yang sama dengan batu yang saat ini kubawa kemanapun aku pergi.


"Kau mencari ini?" Aku meletakkan satu batu di atas meja, sebuah batu berwarna biru muda dengan kilauan yang menyilaukan mata.


"Bagaimana benda ini bisa ada di tanganmu?" Siegfried menatapku tak percaya, "Aku yakin sudah membuangnya di dunia yang jauh..."


"Kau tidak mengerti itu, begitu juga denganku." aku mengambil batu itu lagi, "Dengan begini, aku punya kekuatan sepuluh Emperor sekaligus."


"Kekuatan Flame Emperor, Void Emperor, Sword Emperor, Ice Emperor, Tyrant Emperor, Black Emperor, Dragon Emperor, Wisdom Emperor, dan War Emperor, serta batu biru ini..." aku mengangkat pedangku lagi, "Dan anggap saja, semua Emperor ada dalam diriku saat ini..."


Yah, tubuh sekecil ini menampung kekuatan semua Emperor yang pernah ada di alam semesta, bukankah itu mengerikan?


"Jadi, kau belum menjawab pertanyaanku..." aku menarik pedangku dari atas meja, "Apa kau dewa? Sampai bisa mengatur segala hal yang kulalui selama ini?"


"Tidak, hanya saja..." Siegfried menghela napasnya, "Menyenangkan saja saat melihat semut-semut berlarian-..."


BUGH!


Aku kesal mendengarnya...


Siegfried jatuh dari kursinya, dan aku memukul meja hingga meja patah menjadi dua, menjatuhkan semua benda yang ada di atasnya.


Makhluk hitam itu berdiri dan berniat pergi, tapi aku menyadarinya dan aku bertanya, "Mau kemana kamu?"

__ADS_1


"Kau mencoba menghentikanku?" makhluk hitam itu langsung menjawab tanpa berpikir panjang, "Kau ingin menahan dewa?"


Aku menyipitkan mataku, "Apa maksudmu?"


"Aku adalah Benario, bergelar Demon God dan menjadi salah satu dari sekian banyak dewa-dewi di tingkat alam lain..." jawabnya dan tak lama, aku merasakan tubuhku yang berat dan sulit hanya untuk berdiri saja...


"Sialan..."


Jadi makhluk hitam itu ada dewa? Terlebih dewa iblis? Apa-apaan itu?


"Aku penguasa neraka, dan kau tak bisa macam-macam denganku, karena aku tidak akan macam-macam denganmu." ujar Benario sebelum ia menghilang tanpa jejak.


Aku tak bisa mengejarnya, bahkan sebelum aku sempat bergerak pun ia sudah menghilang.


Suara dari gerakannya pun tak bisa kudengarkan, jadi ini membuatku yakin kalau Benario benar-benar sosok yang tidak akan bisa kulawan bahkan dengan kekuatanku saat ini...


Aku melirik Siegfried, dan makhluk itu berdiri perlahan sambil membenarkan mulutnya, yang mungkin saja geser akibat pukulanku tadi...


"Semangat yang bagus, anak muda..." ujar Siegfried dan ia mengangkat tangannya, "Cukup membuatku memakai Energi Gaib hanya untuk memulihkan tulangku yang patah..."


"Fisik yang kuat bisa kurasakan hanya dari pukulanmu saja, jika digabung dengan segala teknik yang kau miliki, mungkin kau bisa merusak istana ini dengan mudah..." jawab Siegfried dan sebilah pedang berwarna hitam muncul di tangannya.


"Kulihat kau adalah ahli pedang dan ahli tangan kosong..." Siegfried mengangkat pedangnya, "Bisakah kau menunjukkannya padaku?"


Aku menaikkan alisku, Siegfried seperti tahu banyak hal tentangku... Ataukah ia memiliki mata-mata di duniaku yang melaporkan segala hal yang terjadi padanya?


Vein adalah mata-mata, yang berhasil kubunuh di kota kelahiranku. Apakah ada mata-mata lain?


Sumber informasi Siegfried hanya dari Vein dan pasukannya, sementara aku membawa ingatan dari banyak Emperor, jadi perbedaan informasi tentang musuh diantara kami berdua jelas berbeda jauh.


"Kau mau melihatnya?" aku menarik pedangku dan aku mengalirkan Energi Gaib ke pedangku, "Aku akan menunjukkannya sedikit..."


Aku mengangkat pedangku ke atas kepalaku, sementara Siegfried melebarkan matanya dan ia melompat menjauh, dan kudengar ia berseru, "Boleh juga!"


"Membelah Samudra..."

__ADS_1


Aliran Pedang Bumi bentuk pertama, Membelah Samudra, adalah jurus yang sering kulatih dengan tiga variasi. Seperti memakai fisik murni untuk melakukannya yang ternyata mampu memotong pohon dengan akurat, memakai Energi Gaib yang mampu menciptakan angin dahsyat di sekitarku, dan terakhir adalah kombinasi keduanya.


Memakai fisik serta Energi Gaib untuk melancarkan Membelah Samudra, nyatanya benar-benar mampu membelah samudra sebagaimana nama jurus itu sendiri.


Aku hanya melatihnya di pulau terpencil, untuk menghindari kerusakan berlebihan pada daerah sekitar jika aku memakainya di ruang latihan.


Beberapa kali aku membelah lautan dengan tebasan ini, dan aku tidak pernah mengeluarkannya di depan yang lain, tidak akan pernah...


Pedangku turun dengan cepat, dan angin berhembus kencang dari bekas tebasanku, dan lantai retak, sebelum akhirnya terbelah dengan sendirinya.


Tidak hanya itu, lantai-lantai lain ikut terbelah dan tanah seketika terbelah dua, istana itu ikut bergetar mengiringi tanah yang terbelah itu.


Siegfried sudah melompat menjauh, Energi Gaib mengalir kencang di tubuhnya, pedang hitamnya juga kulihat diselimuti sesuatu berwarna hitam.


"Lumayan..." ujar Siegfried dan ia mengangkat pedangnya, "Boleh juga! Kau pantas menjadi lawanku!"


Auranya keluar dengan cepat, menggetarkan seisi istana, tetapi tidak denganku, aku tak bergeming sedikitpun pada auranya.


"Hebat! Lebih baik lagi!" seru Siegfried dan ia melesat ke arahku, "Hibur aku dengan pembelah dimensimu itu!"


Aku mengangkat pedangku, menahan tebasannya, tetapi kekuatannya amat tak terduga. Aku terlempar keluar dari jendela, dan jatuh di atas pohon dengan daun yang lebat.


Sialan, dia benar-benar di level yang berbeda dengan Emperor lain...


Aku turun dari pohon itu kemudian menebasnya dan menjatuhkannya, kemudian aku menatap ke atas lagi. Tak ada siapa-siapa...


Aku berlari memutar, dan tak butuh waktu lama, aku tiba di depan gerbang besar, sebelum aku merasakan hawa kematian yang amat pekat di sekitar gerbang itu.


"Apa-apaan ini..." aku rasanya sulit bernapas, hawanya terlalu dahsyat...


"Hohohoho, kau mengatakan akan membunuhku, maka kau harus melangkahi mayat Death Army-ku ini!!" Suara menggelegar terdengar, dan gerbang terbuka dengan sendirinya.


Aku masuk, dan kulihat barisan makhluk hitam di hadapanku, aku tak bisa menghitungnya...


Siegfried berdiri di atas tangga, kedua tangannya direntangkan ke samping, matanya terlihat merah menyala, dan ia berseru lagi, "Keluarkan pasukanmu, wahai Flame Emperor!"

__ADS_1


__ADS_2