Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
275. Dewa Perang


__ADS_3

Aku bisa melihat ledakan dahsyat di hadapanku, tepat setelah semburan apiku dan serangan yang tidak kuketahui dilancarkan oleh Siegfried, yang kudengar hanyalah Dark Devourer saja...


Tak ada tekanan dahsyat yang kurasakan lagi, yang artinya Seal Field yang dipasang Siegfried sudah dilepas sepenuhnya.


Sesuatu di punggungku bergerak, membuatku melayang di udara, sesuatu yang tak pernah kurasakan seumur hidupku...


"Sudah kuduga, kau menyimpannya..." Siegfried melayang dengan kedua tangannya yang diselimuti sesuatu berwarna hitam, "Kekuatan sang God of War..."


"Dewa Perang? Apa maksudmu?" aku menaikkan alisku.


"Entahlah, kau cukup tahu fakta kalau kau adalah percikan kecil dari kekuatan God of War..." Siegfried mengangkat kedua tangannya dan Energi Gaib terkumpul di kedua tangannya, "Biarpun begitu, itu hanyalah sebagian kecil, kau masih tidak ada apa-apanya dibandingkan diriku!"


Ia melemparkan sesuatu dari kedua tangannya dan aku melesat maju ke arahnya sambil menarik Pedang Api Hitam dari sarungnya, api kulihat menyelimuti pedangku saat bilahnya sudah berada di luar sepenuhnya.


Aku memotong sesuatu seperti bola berwarna hitam itu dengan pedangku kemudian aku bergerak semakin cepat ke tempat Siegfried dengan pedangku siap menusuknya.


"Menusuk Langit!"


Siegfried mengangkat tangan kanannya dan menciptakan pedang, kemudian ia menahan tusukanku kemudian melancarkan tebasan cepat dari kanan ke kiri.


Aku menghindarinya kemudian mengangkat pedangku lagi, melawannya benar-benar sulit...


Oh ya, aku belum memakai semua kemampuan yang dimiliki para Emperor...


Ya...


Aku mengingat beberapa teknik bertarung para Emperor...


Sword Slash andalan Sword Emperor, Destruction Breath andalan Dragon Emperor, teleport andalan dua legenda di masa lalu, masih banyak lagi...


Bodohnya aku tak memakainya...


Aku mengangkat pedangku dan melesat cepat, melancarkan tebasan cepat berkali-kali tanpa henti, dan kulihat Siegfried terkejut dengan seranganku kali ini.


Setelah tebasan cepat berkali-kali, aku melancarkan tusukan cepat yang mendorong Siegfried menjauh, tetapi aku takkan membiarkannya bernapas tenang.


Aku berpindah ke belakang Siegfried kemudian menusuk punggungnya, aku merasakan pedangku menembus armor hitamnya.


"Sialan..." Siegfried melirikku dan aku menarik pedangku kemudian menjauhinya, kudengar ia berteriak kencang, "Sialan kau!"


Aku menyiapkan serangan lagi, dan aku mengangkat pedangku tinggi-tinggi, aku mengalirkan tiga perempat Energi Gaib yang kumiliki dan aku menebaskan pedangku dari atas ke bawah dengan kecepatan penuhku.


Tebasanku memotong angin, kulihat juga awan-awan terbelah akibat tebasanku, dan Siegfried terpotong menjadi dua, kemudian tanah terbelah menjadi dua dan mungkin, lautan juga terbelah.


Instingku merasakan Siegfried belum mati, ia tidak mungkin tewas semudah itu...


Aku mendarat dan aku melihat efek tebasanku di atas tanah yang benar-benar mengerikan...


Angin tipis terasa di sekitarku, aku menarik napas panjang dan mengisi kembali Energi Gaib yang terpakai sebelumnya...


Angin kembali terasa berhembus kencang, dan aku mengangkat pedangku ke kanan, menahan pukulan dari sosok berarmor hitam dari sisi kanan, yang mungkin adalah Siegfried.


Tangan kanannya hilang, tersisa tangan kirinya saja yang dipakai memukul, dan aku tak bisa menahannya, hingga pijakanku melemah dan aku terlempar jauh-jauh.


"Kau pikir bisa membunuhku dengan tebasan itu?! Pikir lagi!" seruan terdengar dan aku berguling-guling di atas tanah.

__ADS_1


Tanganku terasa kram akibat menahan pukulannya, dan rasanya tulangku sedikit bergeser dari tempatnya...


Aku menyarungkan pedangku lagi dan menggeser kembali tulangku ke tempatnya, rasanya sakit, tetapi aku tidak punya waktu untuk pergi ke rumah sakit dan merawat tangan kananku...


Yah, tidak ada rumah sakit disini...


Menggeser tulangku kembali ke tempatnya secara manual dan kekerasan adalah jalan terakhir...


Aku berdiri lagi dan mengepalkan kedua tanganku, kemana pula perginya setan itu?


Suara berisik rumput-rumput terdengar, dan aku menggerakkan sesuatu...


"Jangan menyebutnya sesuatu, ke****t!!! Namanya sayap!!!"


Ehehehe...


Aku menggerakkan sayapku dan melayang ke atas, hingga aku bisa melihat seluruh isi pulau tempat aku bertemu dengan Siegfried...


"Kemana dia..." aku menyipitkan mataku, kemudian aku melepaskan Mata Surga yang kudapatkan dari Zon.


Seluruh pulau terlihat dalam pikiranku, dan kulihat Siegfried duduk sambi memegangi sisa tangan kanannya, nampaknya ia sedang memulihkan tangannya.


"Tapi memangnya bisa?"


Memulihkan tangan yang hancur tidak mudah, butuh waktu bahkan dengan pemulihan super sekalipun tidak akan mempercepat pemulihannya.


Aku melesat ke tempat Siegfried berada, dan dengan sayap yang kumiliki saat ini, mencapai posisi Siegfried dengan cepat bukan lagi masalah bagiku.


"Ice Field!"


Lapisan es tebal tercipta, dan ikut membekukan tubuh Siegfried yang menatapku dengan tidak percaya.


Aku mengangkat tanganku kemudian berjalan maju mendekati Siegfried, aku tahu ia tidak akan tewas semudah itu...


Matanya yang tadinya menatap tak percaya, langsung berubah menjadi merah dan lapisan es yang membekukannya langsung pecah berkeping-keping, kemudian ia bergerak cepat.


Gerakannya amat cepat, hingga aku tak bisa melihatnya bahkan dengan mata sepuluh Emperor yang kumiliki!


Tangannya menyentuh leherku, dan langsung mencekikku tanpa memberiku kesempatan melawan...


Dan bodohnya, buat apa aku mendekatinya kalau aku tahu ia tidak akan kalah semudah itu?!


"Cih, sialan kau..." Siegfried mencengkram kuat leherku, aku merasakan napasku terhenti di leherku dan tak mengalir ke paru-paruku.


Aku yakin ia tidak akan melepasku sampai ia bisa memutus leherku!


Ya...


Aku mengalirkan Energi Gaib lebih banyak ke seluruh tubuhku, menyalakan api yang lebih besar di sekujur tubuhku.


Siegfried terkejut, ia melepas cekikannya dan menendangku menjauh, sebelum ia meregangkan otot-otot jari-jarinya dan berkata, "Nampaknya sulit untuk mengalahkanmu..."


Aku mengatur napasku kemudian menatapnya, "Begitukah? Senang mendengarnya..."


Yahahaha, hari ini aku dipuji oleh musuh berkali-kali...

__ADS_1


Ahahaha...


"Tapi akan tiba saatnya aku berhasil membunuhmu, atau kau berhasil membunuhku." tambah Siegfried, membuatku terdiam.


Ya, pertarungan sudah berlangsung cukup lama, dan aku bisa merasakan Energi Gaib milik Siegfried mulai terkuras, begitu pula denganku.


Pertarungan akan sulit berlangsung lama, dan hasil pertarungan akan ditentukan oleh siapa yang Energi Gaibnya habis duluan...


Entah itu aku atau Siegfried yang akan kalah duluan...


Aku mengangkat pedangku, dan menusuk ke depan kemudian angin kencang muncul dan menghempaskan apapun yang ada di depanku, termasuk Siegfried.


Tetapi Siegfried tak bergeming, ia menahan hempasan angin itu kemudian ia melesat ke arahku dengan pukulannya yang siap memukul musuhnya.


Aku melompat menjauh tepat saat Siegfried berada di depanku dan melancarkan pukulan berkekuatan penuhnya, dan aku membagi dua seluruh Energi Gaibku yang tersisa kemudian mengalirkan separuhnya ke kakiku, kemudian separuh lagi ke pedangku.


Kulihat pedangku diselimuti api membara yang amat besar, dan aku merasakan puluhan tangan ikut memegang gagang Pedang Api Hitam...


Ya...


Aku mempertaruhkan semuanya pada serangan kali ini...


...


...


...


...


...


"Maju, Langit Satria!"


"Tusukkan pedangmu!"


"Kau pasti bisa!"


"Langit!"


"Majulah, titisan dewa perang! Maju!"


"Ramalan raja dulu tidak akan salah, kau akan membunuhnya!"


"Maju!"


"Kau adalah Dewa Perang bagi kami!"


"Jangan kecewakan kami!"


Gerakanku makin cepat, dan Siegfried menatapku tak percaya, tangannya terangkat dan sesuatu seperti perisai terbentuk di tangan kirinya.


...


...

__ADS_1


...


__ADS_2