
Insiden Bali yang diserang oleh Monster dan makhluk misterius telah berhasil dilewati, dan tak ada korban jiwa kali ini.
Kedatangan Monster ke dunia memang menimbulkan pertanyaan di benak semua peserta konferensi, namun semuanya seketika hilang setelah aku kembali dengan selamat dan aku mengatakan bahwa gate sudah aku tutup lagi.
Orang-orang sulit percaya kalau aku punya kemampuan menutup gate seorang diri, namun itulah adanya.
Para Monster yang menyerang tidak bisa berkutik di hadapan delapan Hunter rank SS yang ada, dan digabung dengan seluruh tentara yang ada, mereka semua berhasil dihentikan dengan mudah.
Itu saja sudah membuktikan bahwa meski lima tahun telah lewat, kemampuan para veteran perang dunia ketiga dalam melawan Monster belumlah hilang sepenuhnya.
Agenda hari pertama sudah selesai malam ini setelah pertempuran singkat, dan malam ini diadakan sedikit jamuan singkat sebelum istirahat untuk melanjutkan ke hari kedua.
"Jadi, bagaimana dengan tadi? Apakah kau kesulitan melawannya?" tanya Rei dengan pipi yang merah. Meski nampaknya mulutnya terasa sakit, namun ia tetap memaksakan dirinya untuk makan dan aku mungkin harus menahan tawaku saat melihatnya.
"Tidak, malah ia membantuku melawan Monster yang datang selanjutnya." aku menghela napasku.
"Bahasanya sulit aku pahami, dan aku hanya bertanya apa tujuannya datang kemari..." Senja menggaruk kepalanya, "Eh aku malah ditendang..."
"Bahasanya mirip seperti bahasa Monster, jadi aku bisa memahaminya sedikit." aku meraih cangkir di atas meja kemudian meminum teh di dalamnya, "Ia tidak berasal dari dunia ini, malahan ia tidak paham bagaimana caranya ia berada disini."
"Ia mengenalkan dirinya sebagai Skei, dan aku merasa itu bukanlah nama dari dunia ini, jadi aku percaya pada kata-katanya kalau ia bukan manusia dunia ini."
"Ia tak memiliki kemampuan aneh apapun seperti yang kalian lihat padaku, ia hanya mengandalkan kekuatan fisiknya yang luar biasa gilanya itu sampai bisa merepotkanku yang memiliki kekuatan ratusan Emperor."
"Dan satu lagi, setelah aku menghabisi boss musuh, ia menghilang seolah aku tak pernah melihatnya sebelumnya. Bukankah itu aneh?"
"Tentunya aneh, orang yang hanya memiliki kekuatan fisik sepertinya bisa berpindah dunia." Andhika mengelus dagunya, "Meskipun aku tidak paham sepenuhnya tentang berpindah dunia, namun setahuku, orang-orang yang bisa berpindah dunia pastinya memiliki kemampuan gaib."
"Jadi maksudmu mereka yang bisa berpindah dunia adalah orang yang memiliki kemampuan di luar nalar?" tanya Vina, dan Andhika mengangguk.
"Sangat tepat." Andhika menjentikkan jarinya, "Kau bisa melihatnya pada contoh paling dekat, yaitu Langit..."
"Langit bisa berpindah dunia karena ia bisa melakukannya dengan skill bawaannya, jadi masuk akal." Andhika menggaruk kepalanya, "Ah sialan, berpikir membuatku lapar..."
__ADS_1
Ia berdiri dan pergi menjauh, entah apa yang akan ia ambil selanjutnya setelah satu piring besar berisi kue kecil.
"Halo jenderal..." pundakku ditepuk, dan saat aku melirik ke belakang, William berdiri bersama Yuuki.
Keduanya berjalan dan duduk di sebelah Rei, kemudian meletakkan piring masing-masing yang isinya secukupnya saja.
"Diluar perkiraan, Monster bisa muncul lagi..." William mengambil minuman yang ada di depan Rei kemudian meminumnya, "Aku tidak tahu pertanda apa ini, namun yang pasti konferensi harus diselesaikan lebih cepat agar tidak menimbulkan masalah lagi."
"Dari ceritamu tadi, kurasa masuk akal mengatakan kalau manusia pedang panjang itu bukan manusia dari sini." Yuuki mengambil cangkirku dan menuang isinya ke cangkirnya sendiri, "Dan masuk akal juga Storm Bringer bukan manusia dari sini."
"Storm Bringer?" William melirik Yuuki, "Siapa itu?"
"Jika kau ingat kilat biru yang muncul di drone, itulah Storm Bringer." jawabku kemudian mengambil cangkir yang diambil Yuuki, "Kekuatannya di luar pikiranku, dan tebakanku, ia setara denganku jika kami bertarung dengan seluruh kemampuan masing-masing."
"Begitulah..." Yuuki meraih cangkir di depannya kemudian meminumnya, "Dunia terlalu luas untuk kita yang kecil ini..."
***
"Sekian kalimat pembukanya, kita akan masuk ke pembahasan yang kemarin belum kita selesaikan..." Antonio menatapku, "Mungkin ada pembelaan dari jenderal Langit?"
Yap, aku terkena sanksi karena meninggalkan konferensi tanpa ijin serta dianggap melanggar kode etik militer, jadi aku akan diadili.
Seharusnya begitu, namun kakek William, Yuuki, Marie, dan Al berjanji akan membantuku terlepas dari hukuman.
"Aku dewasa di medan tempur selama tiga belas tahun, dan aku sudah merasakan berbagai hawa menyeramkan yang dipancarkan para Monster. Aku tidak tahu apakah mantan Hunter seperti kalian bisa menyadarinya atau tidak, namun aku harus melakukan langkah pertama sebelum Monster menyerang kalian."
"Jika kalian paham dengan keamanan, maka seharusnya kalian tidak mempermasalahkan itu lebih jauh."
"Sebagai Hunter dan tentara, apakah kita bisa seterusnya berpatokan pada prosedur? Bahkan jika situasinya berada di luar perkiraan sekalipun? Apakah kita harus terus menunggu perintah untuk menyelamatkan umat manusia? Pikir itu baik-baik sebelum mengadiliku."
"Aku bukannya tampil sok berkuasa, namun aku hanya melakukan tugasku sebagai Hunter dan tentara."
"Sekian pembelaanku, kurasa itu saja cukup."
__ADS_1
"Dan satu hal lagi, apa kau bisa menjelaskan bagaimana caranya kau bisa mengetahui makhluk misterius yang menyerang?" satu orang mengangkat tangannya.
"Oke cukup, kurasa kita tak perlu memperpanjangnya lagi, itu akan menghabiskan waktu hanya untuk hal sepele." Antonio menatapku lagi, "Aku akan mempertimbangkan itu sebagai aturan baru di seluruh dunia."
Dan konferensi berjalan sebagaimana mestinya...
Aku tak banyak mengeluarkan pendapat. Bagiku, berhasil mengatur militer dan politik dalam negeri serta melenyapkan orang-orang yang ingin kudeta sudah lebih dari cukup untuk menjaga kedamaian...
Yang jadi masalah adalah keserakahan orang-orang untuk menguasai semuanya untuk dirinya sendiri...
Aku masih belum menemukan orang yang mengajukan pendapat soal wilayah, langkah yang diambil setelah pembagian wilayah, serta masalah penyerangan secara brutal terhadap satu negara.
Jujur saja, apa yang kuinginkan saat mengikuti konferensi ini hanyalah hal-hal kecil itu saja...
"Oke, kurasa semuanya sudah disepakati bersama..." Antonio mengangkat tabletnya, "Aku akan membacakannya..."
"Ada beberapa yang bisa kusimpulkan..."
"Yang pertama, gencatan senjata. Aku merasa semuanya harus meletakkan senjata masing-masing dan berfokus pada pemulihan dunia. Meski sudah lima tahun berlalu, namun aku melihat efek dari invasi Monster dan perang dunia ketiga masih belum hilang sepenuhnya, malah lebih parah dari sebelumnya, jadi aku merasa militer tidak boleh bertindak keras lebih jauh lagi. Pemulihan harus dilakukan lebih cepat."
"Kedua adalah keterlibatan militer. Seperti yang kukatakan sebelumnya, kemiliteran tak boleh mengambil tindakan kekerasan terlalu jauh dalam urusan pengambilan wilayah yang sudah tidak memiliki penghuni lagi. Diplomasi adalah cara yang harus dilakukan untuk membagi wilayah-wilayah yang tersisa dan semua negara yang ada harus bekerjasama dalam mengurus wilayah yang ada, sampai putusan lebih lanjut diturunkan."
"Militer juga masih berperan penting meskipun militer tidak mengambil bagian dalam urusan politik maupun urusan diluar militer, jadi kalian harus fokus dalam mengurus ******* yang masih meresahkan dunia."
"Masalah lebih lanjut mungkin akan kubahas dalam pertemuan PBB selanjutnya, karena ini adalah konferensi militer, yang harus dibahas adalah semua yang ada dalam cakupan militer. Diluar itu akan aku bahas bersama presiden dan pemimpin negara lain."
Aku merasa putusan Antonio sudah lebih dari cukup. Dengan dikeluarkannya keputusan ini, seharusnya negara lain tidak akan mengganggu Indonesia lebih jauh lagi.
Antonio seperti melindungi Indonesia, namun aku tahu kalau ia berusaha yang terbaik untuk menenangkan konflik yang terjadi saat ini.
Militer adalah kekuatan terbesar saat ini, yang berpotensi untuk menguasai dunia jika orang-orang cerdas tidak mampu mengendalikan mereka, aku memahaminya setelah melihat sendiri kekuatan para tentara elit Indonesia, serta satu lagi kekuatan yang bisa menghancurkan Indonesia dari dalam...
Kekuatan para pemberontak...
__ADS_1
Mereka kekuatan yang tak bisa diremehkan begitu saja, sebab itulah aku merasa kalau militer memang kekuatan yang harus dikendalikan sebaik mungkin jika tidak ingin dunia dikuasai oleh para jenderal yang jelas memiliki kepemimpinan yang amat keras serta berpotensi melahirkan para diktator dan penguasa kejam lainnya.
Konferensi berakhir dengan dua putusan itu, dan hari kedua diakhiri dengan tepuk tangan kemudian semua peserta kembali ke hotel untuk selanjutnya penutupan konferensi.