Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
222. Pengkhianat


__ADS_3

"Saya tidak tahu banyak tentang kemampuan Rei Artawan, yang saya tahu hanyalah ia mampu mengimbangi Langit Satria selama beberapa menit sebelum ia kalah. Selain itu, ia juga dirumorkan menguasai ilmu Tangan Iblis yang disebut-sebut adalah ilmu tangan kosong terbaik di dunia selain bela diri tradisional yang biasa orang-orang tahu."


"Lalu? Apakah pengetahuanmu tentang Hunter hanya sebatas itu saja?"


"Saya hanya bisa memberitahu semua yang saya tahu, tetapi informasi tentang Rei Artawan, saya sedikit tahu hal itu..." jawab laki-laki berpakaian serba hitam dengan cakar di kedua tangannya, "Dia selalu menyembunyikan kekuatannya."


"Lalu bagaimana dengan kematian salah satu komandanku saat mencoba merebut batu itu? Bukankah menurut berita yang melakukannya adalah Rei, Senja, dan Andhika? Kenapa kau tak mengetahuinya?" tanya Dragon Emperor dengan tatapan tajam, "Mungkinkah, kau sedang berpura-pura?"


"Sekali lagi saya tegaskan bahwa saya tidak berpura-pura, saya yakin sekali kalau Rei itu sering menyembunyikan kekuatannya." jawab laki-laki itu dengan tubuh bergetar, tetapi ia paksakan agar tetap tegak, "Yang bisa saya lihat hanyalah api di sekeliling tubuhnya."


"Baiklah kalau begitu, tugasmu disana hanyalah mencari informasi lebih lanjut tentang Rei, aku yakin kalau Rei adalah calon Wadah selanjutnya..." Dragon Emperor mengangkat tangannya dan Gate tercipta di belakang laki-laki itu, "Sana, kembalilah dan laksanakan tugasmu!"


"Baik tuan..." laki-laki itu membungkuk kemudian masuk ke dalam Gate itu.


Setelah laki-laki itu masuk ke dalam Gate, Dragon Emperor memejamkan matanya dan ia bergumam, "Tak kusangka kalau Flame Emperor punya caranya tersendiri dalam menyebarkan kekuatannya..."


***


Jerry berjalan melewati Surabaya dengan waspada, ia menerima tugas dari ketuanya agar berjaga di Jawa timur bersama Vein, tapi sayangnya Hunter itu menghilang semalam di desa sebelah.


Ia berencana mencarinya pagi ini sekaligus juga bergerak ke Surabaya untuk berjaga.


"Kondisi kota ini semakin hancur sejak pertarungan trio temannya pak Langit melawan Monster itu, aku tidak tahu apa yang ada di kota ini, tapi kudengar kalau pak Langit berasal dari kota ini dulunya..." gumam Jerry, "Hmm, apakah ada sesuatu di kota ini?"


Satu persatu Monster berlarian ke arahnya, tapi tak ada satupun yang mampu menjatuhkannya, Jerry menghabisi semua Monster yang mengincarnya dalam satu gerakan tombak.


"Jumlah Monster disini diperkirakan hampir menyetarai jumlah Monster yang sering muncul dalam Raid, mungkin saja kota ini sudah menjadi sarang Monster, seperti kebanyakan kota lainnya di seluruh dunia." Jerry berjongkok dan ia duduk di atas jalan besar, "Itu mungkin saja sih..."

__ADS_1


Seharian ia sudah berkeliling di Surabaya, dan ia setidaknya berhasil menemukan beberapa hal menarik.


Kebanyakan toko ataupun minimarket telah kehilangan fungsinya dan beralih menjadi sarang Monster, Gate putih di segala tempat, bentuk Monster yang bervariasi, beberapa Monster yang bertubuh besar, dan satu lagi sebuah batu berwarna ungu di taman.


Jerry yakin batu berwarna ungu yang ada di tengah-tengah batu sikat di taman bukanlah batu biasa, karena batu itu adalah satu-satunya batu berwarna ungu diantara batu lainnya yang kebanyakan berwarna putih, hitam, ataupun hijau.


Tetapi ia tak boleh memprediksi sejauh itu, ada kemungkinannya ia salah...


"Fuuh, perjalanan lintas dimensi selalu bermakna aneh bagiku..." Jerry berdiri dan ia melihat seseorang keluar dari sebuah Gate berwarna ungu, "Eh, Jerry?"


Orang itu adalah Vein dan ia menggaruk kepalanya sambil menatap Jerry, "Apa yang kau lakukan disini?"


"Yang lebih membingungkan adalah kenapa kau keluar dari Gate? Bukankah kau adalah manusia?" Jerry menyalakan pemanas di tombaknya, ia langsung memasang posisi siaga, "Ataukah, kau bukan manusia?"


"Hei, hei, hei, kau tak boleh berprasangka buruk begitu, kau tidak tahu kenyataannya..." Vein menaikkan bahunya, "Turunkan tombakmu..."


Wajah Vein berubah menjadi kesal, pemanas di kedua cakarnya langsung menyala tanpa ia menekan tombol apapun, dan setelah itu, Jerry langsung melesat maju menuju Vein.


Vein mengangkat kedua tangannya dan ia menahan ayunan tombak Jerry yang mengandung kekuatan penuhnya.


Jerry melompat mundur dan ia menusukkan tombaknya ke depan, "Pengkhianat!"


Ia menusukkan tombaknya berkali-kali ke depan, dan Vein menghindarinya dengan mudah kemudian meraih ujung tombak Jerry dan menghancurkannya.


Jerry melompat mundur dan ia menarik pistolnya kemudian melepaskan tembakan beruntun, yang semuanya bisa dihindari dengan mudah oleh Vein.


"Apa-?! Bagaimana mungkin kau bisa menghindari tembakan secepat 300 m/s yang bahkan Hunter rank SS sekalipun kesulitan melakukannya?!" Jerry terlihat terkejut melihat hal yang dilakukan Vein.

__ADS_1


"Peluru itu amat lamban di mataku, aku bisa menghindarinya dengan mudah." Vein mengangkat kedua tangannya ke samping, dan entah bagaimana, aura berwarna hitam keluar dari tubuhnya, "Aku yang sekarang bukan sekedar Hunter rank S saja..."


Jerry menyimpan pistolnya dan memegang tombaknya dengan kedua tangannya dengan erat, "Sialan..."


Jika Vein serius dengan kata-katanya, berarti hanya ada satu orang di Indonesia yang bisa mengalahkannya...


Langit Satria adalah orangnya.


"Pak Langit, kuharap kau bisa datang tepat waktu..." gumam Jerry kemudian ia mengangkat tombaknya yang sudah kehilangan mata tombaknya, "Aku akan menahannya!"


Ia melesat maju, dan Vein tak bergerak, sebelum tepat sesenti tombaknya mengenai leher Vein, sesuatu menembus dadanya.


"Akkkhhh!" Jerry menjerit, dan Vein menyeringai lebar.


"Ahahaha, hanya begini saja sudah kesakitan, kau itu masih lemah..." Vein tertawa lepas, dan ia mengangkat tangannya kemudian mencekik leher Jerry, hingga leher Jerry melepuh akibat panas di kedua cakarnya.


...


...


...


Kilatan terlihat berkelebat dari kejauhan, dan Vein melepas cekikannya pada leher Jerry kemudian melemparnya menjauh, sementara ia mengambil jarak sejauh-jauhnya dari Jerry.


"Sudah kuduga, kau memanglah seorang Hunter yang menyimpan sesuatu..." seseorang berhenti berlari di sebelah tubuh Jerry dan ia memegang pedang melengkung yang pemanasnya sudah menyala hingga mengubah warna bilah pedangnya menjadi merah menyala, "Dan prediksiku sekali lagi benar..."


"Langit..." Vein mengepalkan tangannya geram, "Bagaimana mungkin kau bisa sampai secepat ini?"

__ADS_1


Yahohohoho, Vein adalah pengkhianat! Ulululu!


__ADS_2