
"Kaulah selanjutnya, persiapkan dirimu."
Pak Oka terdiam, ia mengepalkan tangannya dan menatapku dalam, "Kenapa... Apa kau..."
"Kekuatan dunia lain tak membuatku lupa akan jati diriku sebenarnya sebagai manusia..." jawabku, aku yakin pak Oka berniat menanyakan kemanusiaanku.
Ya, siapapun yang mengetahui aku memiliki kekuatan Monster akan bertanya tentang kemanusiaanku, apakah aku masih memiliki sisi kemanusiaan dalam diriku.
"Ah, jadi begitu ya jawaban dari cucu kakek Bintang..." pak Oka terkekeh kecil, "Ahahaha..."
Ia tertawa kecil, seolah hal yang baru saja kukatakan adalah sesuatu yang melegakan hatinya, tapi kurasa aku harus tertawa sejenak juga...
Aku ikut tertawa, meski aku tidak tahu aku sedang menertawai apa dan apakah hal yang ada di depanku wajar untuk ditertawakan...
Ah, lega rasanya...
"Ehem..." aku menyudahi tawaku, dan aku menatap pak Oka yang sedang batuk kecil, "Jadi, kurasa anda tahu langkah yang harus anda lakukan setelah tahu kenyataannya, bukan?"
"Ya, merahasiakannya agar tidak diketahui publik." jawabnya, "Aku bisa melakukannya."
"Dan juga, apakah anda tahu sesuatu tentang keluargaku?" tanyaku.
Pak Oka sudah memimpin Indonesia sejak delapan tahun lalu, dan sekarang adalah periode keduanya dan tahun terakhirnya ia menjadi presiden, sebelum pemilihan presiden kembali dilakukan dan mungkin saja jabatan presidennya akan berpindah ke tangan lain, atau mungkin ia masih bisa memegang jabatannya untuk empat tahun selanjutnya.
Yah, aku tak terlalu memahami pasal-pasal yang mengatur kepemimpinan seseorang dalam negeri, jadi aku hanya menyimpulkan asal-asalan, ehehehe...
Usianya kini adalah lima puluh tahun, bukan usia yang muda, dan kuperkirakan ia mungkin tahu sesuatu tentang ayahku.
Ayahku kira-kira berusia empat puluh lima sampai empat puluh sembilan tahun, jadi ayahku mungkin sudah lahir saat pak Oka berusia belasan tahun.
"Tak ada yang istimewa dariku, selain aku pernah berjabat tangan dengan almarhum ketua Frans, almarhum ketua Vigo, almarhum kakek Bintang, almarhum Jenderal Bagus, dan beberapa Hunter rank S lainnya." pak Oka mengelus dagunya, "Mungkin kau bisa bertanya pada pak Hendra atau pak Andra untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang organisasi RedWhite. Aku mengetahui kalau mereka punya lebih banyak hubungan dengan organisasi RedWhite, jadi mungkin saja kau bisa mendapat informasi lebih..."
"Ah, baiklah, aku akan bertanya nanti saja..." aku berdiri, "Baik, waktunya kita kembali ke ruangan..."
Aku melirik Andhika dan berkata, "Beritahu Rei, Vina, dan Senja, kita kembali ke ruang kerja pak Oka."
"Baik." Andhika memberi hormat kemudian keluar dari bunker.
__ADS_1
Aku menatap pak Oka lagi, dan berkata, "Aku punya beberapa rencana untuk kali ini..."
"Apa saja itu?" tanya pak Oka.
"Apakah anda ingin penjaga baru, atau tetap pak Ardika saja?" tanyaku.
Aku bertanya begini karena Indonesia punya empat Hunter rank SS dan satu Hunter rank SSS, jadi penjagaan presiden bisa diperketat kembali agar keamanannya terjamin.
Aku berencana menempatkan Andhika atau Rei di sebelah pak Ardika untuk membantunya, karena aku tidak terlalu dekat dengan pak Ardika, jadi Andhika atau Rei bisa menjadi perantaraku dengan pak Ardika.
"Langit, kita kembali sekarang." suara Andhika terdengar, dan aku berdiri.
"Pak Oka, kita kembali ke ruang kerja anda..."
***
"Apakah anda sudah memikirkannya?" tanyaku sekali lagi.
"Hmm, bagaimana mengatakannya ya, dua orang yang kau ajukan memiliki kemampuan yang hebat, mereka juga disegani di antara pasukan militer, aku bingung memilihnya..." pak Oka menggaruk kepalanya.
Aku mengajukan dua orang, pertama adalah Andhika Hendrawan sang Pendekar Singa Merah dan kedua adalah Rei Artawan sang Scarlet Fist.
Aku menyinggung Andhika yang memiliki sikap paling disiplin diantara kami berlima selain Senja. Aku menganggapnya sebagai perubahan besar sejak kami bergabung dengan RedWhite dua tahun lalu.
Andhika dilatih secara kemiliteran sejak masih berusia lima tahun di bawah bimbingan Letnan Jenderal Bagus Wijaya, dan ia juga menjalani latihan berat di bawah bimbingan kakek Vano yang juga melatih Senja tentang Hunter.
Bisa kukatakan, Andhika adalah kandidat terbaik yang bisa kuusulkan saat ini.
Kalau Rei... Barbar, poin disiplinnya amat kurang, dan satu lagi, penampilannya jarang rapi.
Sekarang saja, ia memakai jaket, kaos hitam, dan celana pendek, padahal teman-temannya berpakaian rapi dan sopan.
Tapi yah, aku berpikir kalau disanalah letak keunikan dari Scarlet Fist ini, dia selalu tampil santai dimanapun ia berada, agar ketegangan yang dirasakan kali ini tidak dirasakan oleh orang lain.
"Aku memilih Andhika." jawab pak Oka, "Kuharap dia bisa melakukan tugasnya dengan baik."
"Yah, begitulah..." aku melirik Andhika, "Jangan sampai membuat pak Oka terluka, oke?"
__ADS_1
"Baik pak!" Andhika memberi hormatnya.
***
"Jadi, apa kau benar-benar ingin mendatangi gunung angker? Buat apaan coba?" Vina meletakkan kedua tangannya di pinggangnya, "Mau mati?"
"Kalau mau mati, ya jangan begitu juga caranya..." Rei mengaduk kopinya kemudian meminumnya, "Kalau kau lelah, kau bisa meletakkan pedangmu dan hidup bahagia dengan Vina."
"Jangan asal bicara kau!" kepala Rei dipukul Vina, dan ia menggenggam kepala Rei erat, "Lagipula siapa pula yang suka dengan manusia setengah Monster itu?"
"Eleh, katakan saja yang sebenarnya." ujar Rei sebelum ia menjerit keras.
"Ksatria tidak pernah mengikuti pembicaraan tentang cinta." Senja berkata pelan dan aku mendekati Senja lalu duduk di sebelahnya.
"Hei, jelaskan apa itu cinta." aku duduk di sebelahnya kemudian meletakkan cangkir kopiku.
"Hah? Remaja lima belas tahun sepertimu tidak tahu apa itu cinta?" Rei terdengar bertanya dan kepalanya terangkat sedikit, "Apa isi otakmu itu?!"
"Kau jangan menghina ketua organisasi RedWhite! Kau akan dikeluarkannya!" seru Vina kemudian mengangkat tangannya dari kepala Rei kemudian melipat tangannya, "Hmph, aku tidak ada rasa sedikitpun dengan manusia otak otot seperti Langit, kau, dan Andhika!"
Rasanya aku benar-benar ingin mencekik Vina...
Tapi kurasa, jika ada seseorang memiliki rasa dengan orang lain, itulah yang disebut cinta, begitu?
"Cinta itu, saat satu orang laki-laki atau perempuan menyukai orang lain, dan hubungan mereka lebih dari sebatas teman." jawab Senja, "Kurasa kau harus banyak-banyak membaca buku lagi, otakmu sudah kelewat berisi pertarungan saja."
...
...
...
Ah, inikah yang disebut dengan dihina? Aku sudah lama tidak merasakannya...
"Oke, kembali ke topik awal..." Vina meletakkan tabletnya, "Ada beberapa gunung yang bisa kau datangi..."
"Gunung Agung, gunung Lawu, gunung Semeru, gunung Bromo, gunung Krakatau, gunung Jaya Wijaya..." aku mengelus daguku melihat nama-nama gunung itu, "Ada yang punya catatan ritual?"
__ADS_1
"Hah? Kukira kau hanya sebatas ingin mengunjungi saja, ternyata tidak..." Senja mengambil roti kemudian memakannya, "Kurasa kau punya urusan yang rumit tentang ritual yang kau katakan..."