
"Apa?!" tanganku bergetar memegang ponsel, "Aku diberhentikan oleh pihak akademi?! Kenapa?!"
"Seorang petinggi, baik itu petinggi militer, petinggi organisasi Hunter, politikus parlemen, atau Hunter rank SS, tak diijinkan untuk mengikuti pembelajaran di akademi. Kau masih diijinkan untuk mengikuti pembelajaran sebelum mengakhiri kelas 1, setelah rapat guru beberapa menit lalu, dewan guru memutuskan untuk memberhentikanmu dari proses pembelajaran." Jawab Tom, dan ia hanya menghela napasnya, "Maaf saja, kau sudah terlambat untuk melakukan sesuatu..."
Tanganku terkepal kuat, mungkin juga hawa kesal mulai muncul dari tubuhku, "Kenapa? Bukankah aku masih memenuhi satu syaratnya?"
"Syarat yang mana?" Tom bertanya balik, dan aku sedikit kebingungan dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Aku kan berumur tiga belas tahun, aku memenuhi syaratnya!" tanpa sadar aku berteriak kesal.
"Oh, itu..." Tom terdengar menghela napasnya lagi, "Sayangnya tetap tidak akan bisa, kau sudah menjadi wakil ketua RedWhite, tak mungkin kau menjadi murid di Akademi Hunter StarSam."
Aku menurunkan ponselku dan mematikannya, bahkan sebelum Tom selesai bicara.
"Ah, aku belum menyelesaikan pendidikanku di akademi..." aku jatuh terduduk ke atas tempat tidur.
***
Hari ini adalah hari terakhir Rei berada di kota 6, sebelum ia kembali lagi ke Jakarta dan pergi ke akademi. Musim panas sudah selesai dan pembelajaran akan dimulai lagi.
"Yah pokoknya, kau harus bersemangat menghadapi tugas-tugas wakil ketua RedWhite." Rei menepuk pundakku, dan ia berkata lagi, "Kita akan menyelesaikan pertarungan kita..."
"Oke..." aku mengepalkan tanganku, kesalku masih ada bahkan setelah keesokan harinya setelah aku menerima berita aku diberhentikan oleh akademi.
Sesuai kata-kata Rei, kami berjalan menuju halaman luas rumah Rei, dimana paman Antha sedang duduk sambil minum kopi, dan ia terlihat kebingungan melihat kami.
"Ayah bodoh! Jadilah wasit pertarungan kami!" Rei berteriak, dan paman Antha hanya mendengus.
"Buat apa? Jelas kau akan kalah..." jawab paman Antha.
Aku menatap Rei, dan aku mulai melihat perubahan dalam tubuh Rei, bukan hanya itu, api menyala dengan kobaran yang besar menyelimuti tubuhnya.
Aku mengedipkan mataku, dan pemandangan yang kulihat bukanlah ilusi, Rei benar-benar diselimuti api!
Tapi bagaimana? Rei bukan Wadah, aku tahu karena tak ada level di atas kepalanya, jadi aku yakin kalau itu hanya ilusi.
Santai Langit, itu hanya ilusi...
[Kau melawan Hunter dengan tekad yang membara seperti api!]
__ADS_1
...
...
...
Woh, tekad membara seperti api? Apaan maksudnya?
"Aku duluan!" Rei berseru, dan ia berlari kencang ke depanku kemudian memasang ancang-ancang ingin memukul.
Aku bisa melihat gerakannya dan aku melompat mundur, tapi sayangnya Rei ikut bergerak, ia melesat maju dan melancarkan pukulan dengan kekuatan... Yang amat besar!
[4550/4575]
Sial, kekuatan serangannya amat besar, bahkan ketika dia biasa menghajarku saat latihan di akademi saja tak sekuat ini!
Kekuatannya setara dengan paman Antha saat aku melawannya pertama kali! Penuh kekuatan dan stamina yang amat dahsyat!
Rei memakai jempolnya untuk menggosok hidungnya dan ia memasang posisi lagi, "Itu saja kau sampai melompat mundur?"
Aku merasakan perutku yang campur aduk, tapi aku bisa menahannya dan Skill aktif Darah Burung Api membuat serangan apapun bisa kunetralisir sedikit.
Rei tersenyum lebar, "Memang begitulah Hunter rank SS!" ia berteriak keras dan ia melesat maju.
Kedua tangannya sudah terkepal dan diselimuti oleh api membara, tapi aku yakin kalau itu hanyalah perwujudan tekad yang membara yang dimiliki Rei.
Ia melancarkan pukulannya, dan pukulan selanjutnya dilancarkan, dengan cepat dan tanpa ragu sedikitpun.
Aku menangkis tiap pukulannya, tapi biarpun begitu Rei masih terus dengan semangat melancarkan pukulan demi pukulan selanjutnya.
"Tak ada satupun yang mendarat di tubuhku..." aku berkata, dan Rei berhenti memukul kemudian melompat mundur.
"Kalau begitu, bukankah kau hanya lebih kuat dariku?" tanya Rei, sebelum ia melompat ke arahku dan ia berteriak, "Bintang Jatuh!"
Aku terdiam menatap Rei, ia benar-benar tidak tahu perbedaan kekuatan yang jauh antara aku dengannya.
Bukannya aku sombong, tapi begitulah yang ada, aku yang sekarang bukan lagi Hunter biasa yang bisa ditusuk oleh Monster dengan mudahnya, aku yang sekarang bisa melakukan perlawanan.
Kalau Rei, meskipun ia bisa menghindari serangan Monster, ia masih belum banyak melawan Monster, sementara aku sudah melawan ratusan bahkan mungkin ribuan Monster selama liburan ini. Jelas perbedaan pengalamanku dengannya amat berbeda jauh.
__ADS_1
Kalau mempertimbangkan soal pengalaman melawan manusia, mungkin Rei unggul sedikit... Dia mungkin saja bisa membaca seranganku nantinya...
Pukulannya mendarat di dadaku, dan aku jatuh terduduk, sementara Rei melompat mundur dan ia menghembuskan napas panjang.
[4520/4575]
"Apa kau membual tentang Hunter rank SS?" tanya Rei, dan aku tersenyum tipis mendengarnya.
Aku berdiri perlahan, dan aku menatapnya dengan senyuman lebar, "Oh, sayangnya aku hanya bermain-main tadi..."
Aku mengepalkan kedua tanganku, dan melesat maju, tak butuh waktu sedetik, aku sampai di depan Rei kemudian melancarkan pukulan dengan separuh kekuatanku.
Rei terlihat terkejut, dan ia tak sempat bereaksi karena aku lebih cepat mendaratkan pukulanku di perutnya kemudian membuatnya terlempar mundur.
Ia berguling di atas rumput, dan ia memegangi perutnya dengan wajah meringis.
"Mau lagi?" tanyaku, dan Rei berdiri perlahan kemudian mengangkat jari tengahnya... Wah, kasar sekali orang ini...
"Kenapa kau memukulku dengan pukulan kekuatan penuhmu?!" Rei berteriak sebelum ia terbatuk-batuk.
"Yo salahmu itu, kenapa kau tadi mengatakan kalau aku membual tentang Hunter rank SS yang kumiliki?" tanyaku balik, dan aku menaikkan bahuku, "Intinya, kau harus mulai belajar membaca kemampuan orang dari penampilan luarnya."
Aku mulai melihatnya, tekad dan semangat Rei yang membara layaknya api, terlihat ia tidak akan menyerah hanya karena aku memukulnya sekali.
Aku tersenyum melihatnya, aku akhirnya merasa kalau mengajak Rei dulu adalah sesuatu yang baik nantinya ke depannya...
***
Rei kembali lagi ke Jakarta, karena ia mengatakan kalau Andhika sudah ada di Jakarta, menunggunya sebelum pergi bersama-sama ke New Washington.
Aku? Yaaa, aku kembali melanjutkan perjalananku, selanjutnya aku berniat pergi ke desa tempatku berlatih dulu.
Satu hal yang menguntungkan adalah adanya jalan kecil di hutan, jadi aku tak perlu khawatir dengan kata yang bernama TERSESAT.
Ya, tersesat adalah satu hal yang paling aku takutkan terjadi padaku. Tersesat tidak pernah baik padaku, terakhir kalinya aku tersesat saat di Kanada dan berujung aku ikut campur dalam pertarungan para Emperor...
Sial kan diriku ini?
Aku sempat berpikir alasan aku tidak beruntung adalah karena poin LUCK yang hanya berjumlah 20 poin saja, dan sedikitpun aku tidak pernah melihat poin LUCK yang lebih dari 20 poin!
__ADS_1
Dan pada akhirnya, setelah entah berapa hari aku tidak menghitungnya, aku akhirnya sampai di desa, tempatku dan kakekku tinggal...