
Aku tersenyum lebar, "Oh, apa kau yakin? Aku adalah Hunter rank SS loh yang dunia menjulukiku sebagai Cold Blooded Hunter, kau tak boleh meremehkanku begitu saja..."
[Quest Obtained!
Habisi para Destruction Army dan pengkhianat umat manusia!
Pengkhianat: 0/1
Titan: 0/50
Reward: EXP menuju level 210]
"Jangan bodoh!" Vein mengangkat tangannya, menunjuk ke arahku, "Bunuh dia!"
Puluhan Titan itu berjalan maju, dan aku memasang posisiku, "Summon Flame Soldier!"
Puluhan Flame Soldier muncul di sampingku, dan aku menggenggam erat kedua pedangku, "Maju!"
Aku bisa melihatnya, amukan para Titan hampir menghancurkan seluruh pasukanku, dan tak butuh waktu lama sampai mereka dihancurkan sepenuhnya oleh para Titan itu.
"Hmm, kukira keras, ternyata kertas..." Vein menyeringai lebar, dan aku menatapnya biasa saja.
Kenapa aku menganggap pembantaian pasukanku adalah hal biasa? Karena masih pemanasan...
Bukannya aku meremehkan Vein dan puluhan Titan yang dibawanya, tapi aku ingin mengukur kekuatan mereka, dan aku telah mendapatkan jawabannya...
"Kekuatan Titan-Titan itu setara Lord, bukan?" tanyaku, dan Vein terdiam.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Vein mengangkat telunjuknya dan menunjuk ke arahku, "Bunuh dia!"
Lima Titan maju ke arahku, aku mengangkat kedua pedangku dan melesat maju menghampiri kelimanya.
Aku bergerak cepat melewati kaki-kaki mereka, menebas semua pergelangan kaki mereka kemudian bergerak menuju Vein.
Vein terlihat terkejut, ia menunjukku lagi dan ia berseru, "Bunuh dia!"
Aku mendengar suara sesuatu yang menghantam tanah dengan keras, tapi aku tak menghiraukannya dan bergerak cepat menuju Vein.
__ADS_1
Semua Titan yang tersisa bergerak maju bersamaan, dan aku bisa melihat ambisi mereka...
Mereka semua ingin menjadikanku manusia geprek!
Injakan kaki mereka cepat dan kuat, tapi aku bisa menghindarinya dengan mudah. Kaki mereka memang cepat, tapi di mataku semuanya hanyalah gerakan lambat semata...
Aku menghindar sambil menebas pergelangan kaki mereka, sambil aku terus berusaha bergerak maju melewati injakan-injakan para Titan yang berambisi menghancurkanku.
Vein kulihat bergerak menjauh, dan aku berdecak kesal, manusia itu memilih kabur? Oke...
Aku menarik napasku panjang, pemanas di kedua pedangku menyala makin terang, dan aku melesat cepat melewati kaki-kaki para Titan.
"Tarian Raja Bumi!"
Para Titan berhasil kujatuhkan separuhnya seorang diri, dan aku melesat menuju Vein dengan cepat, dan tak butuh waktu lama, Vein sudah ada di hadapanku.
Aku menebaskan pedangku ke bawah, menebas punggung Vein hingga armornya hancur sepenuhnya, dan luka lebar tercipta di punggungnya.
"Akkhh!" Vein menjerit, dan ia jatuh kemudian berguling di atas aspal.
Sayangnya, pedang yang kupakai saat ini adalah Pedang Api Hitam yang merupakan pedang terkuat yang kumiliki, aku yakin seratus persen kalau serangan manusia biasa tidak akan mampu menggores Pedang Api Hitam, dan tak ada satupun Monster yang mampu menggoresnya, karena material yang digunakan untuk pembuatannya amat langka dan berkualitas amat tinggi...
Vein meremas pedangku lebih kuat, aku mengangkat kakiku kemudian menghentakkan kakiku ke atas aspal, hingga suara sesuatu yang menghantam bumi terdengar keras.
Ia berhenti memegang pedangku, ia melompat mundur dan aku melihat api muncul di sekeliling tubuhnya, dan kudengar ia berkata sesuatu, "Sialan..."
Ia merentangkan kedua tangannya, api besar menyelimuti tubuhnya dan membara makin besar, ia menyeringai lebar dan aku menyadarinya...
"Kau... Benar-benar pengkhianat..." aku memasang posisiku, dan aku mendengar suara dentuman keras di belakangku, aku tahu siapa yang melakukannya.
Para Titan yang tersisa kurasa bergerak mengejarku, dan ia takkan melepaskanku sampai mereka berhasil membunuhku.
Vein mengangkat kedua tangannya dan melesat ke arahku, kemudian melancarkan serangan demi serangan dengan cakarnya, aku melompat menghindarinya sambil terus berusaha mempertahankan pendengaranku ke langkah kaki para Titan yang mendekat.
Serangan Vein lebih cepat dari sebelumnya, tapi masih dalam batasanku bisa melihatnya. Aku mengangkat pedangku kemudian melancarkan tebasan cepat dari kanan ke kiri lalu melancarkan tusukan.
Aku berhasil menebas perut Vein, dan luka lebar tercipta di perutnya, dan tusukanku mendarat sempurna di perutnya, menciptakan lubang besar di perutnya.
__ADS_1
Setelah itu, aku melancarkan tusukan beruntun yang berhasil membuat Vein tak berkutik menahan semua seranganku.
[Pengkhianat berhasil dibunuh!]
[Pengkhianat : 1/1
Titan : 0/50]
Aku berbalik dan kulihat para Titan semakin mendekatiku, aku mengangkat pedangku dan mengangkatnya ke atas, "Kalian selanjutnya!"
Satu Titan mengangkat tangannya kemudian menghantamnya ke aspal, aku melompat ke belakang kemudian melompat ke atas tangannya dan berlari menyusuri tangannya menuju kepalanya.
Titan lainnya mengangkat tangannya kemudian memukul ke arahku, aku menarik satu pedangku lagi kemudian memotong jari-jari Titan itu kemudian berpindah ke Titan itu.
Aku berlari di atas tangannya kemudian menebas lehernya, luka lebar tercipta di tempatku menebasnya.
Titan itu jatuh, aku melompat ke Titan lainnya dan menebaskan pedangku, mengakhiri hidup para Titan sialan itu yang sebelumnya mencoba menginjak-injakku sampai aku hampir rata dengan tanah...
***
Senja berlari cepat, ia telah kehilangan jejak Langit sepenuhnya dan satu-satunya hal yang ia ingat hanyalah posisi markas cabang RedWhite di Surabaya yang bernama SuraBaya.
Ia berlari dan sampai di depan markas, kemudian ia mengedarkan pandangannya, "Kemana perginya Langit?"
Ia menghela napasnya kemudian berlari lagi, pergi menyusuri jalan raya dengan pedangnya yang sudah keluar dari sarungnya, berjaga-jaga jika ada Monster yang mendekat.
Tak butuh waktu lama, Senja akhirnya berhasil menemukan orang yang ia cari, dan orang yang ia cari sedang duduk santai di atas tumpukan mayat Monster raksasa, pedangnya masih terpegang di kedua tangannya.
Senja terdiam melihatnya, meskipun ia tahu kalau Langit adalah Hunter rank SS yang terhitung cukup kuat, ia tak mengetahui kalau Langit benar-benar sekuat itu...
"Langit... Menghabisi Monster-monster ini seorang diri? Jangan bodoh..." Senja menyarungkan pedangnya.
"Eh, Senja..." orang yang tadi duduk di atas tumpukan Monster raksasa itu melompat turun kemudian menyarungkan kedua pedangnya, "Bagaimana kau bisa menemukanku?"
Senja menatap orang di hadapannya dengan kaki sedikit bergetar, "Umm, apa kau benar-benar Langit?"
Ga enak bener kuota abis sebelum waktunya, ga bisa ngetik :(
__ADS_1