Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
96. Tangan Iblis dan rencana menjatuhkan pemimpin


__ADS_3

Hihihi, aku mendapat ilmu baru...


Hihihi, kapan aku bisa mempelajari ilmu mengerikan seperti ini?!


Gyahahaha, akulah petarung tangan kosong terbaik!


...


...


...


Aku bisa mendengar Zon yang terus menghela napasnya ketika aku memikirkan ilmu baru yang kudapatkan dari ayahnya Rei.


"Kau ini, tujuan paman itu memberikan ilmunya padamu bukan lain agar kau bisa menurunkannya pada Rei, tak lebih..." Zon angkat bicara setelah beberapa lama menghela napasnya, "Jangan anggap dia memberikanmu ilmu itu secara cuma-cuma..."


Sayangnya aku tak memperhatikanmu, roh tua...


...


...


...


"Ulangi lagi!"


"Tidak mau..."


"Cepat atau kutarik semua ingatanku dari pikiranmu dan menurunkan semua stat INT yang kau miliki!"


Aku hanya terkekeh kecil ketika mendengar suara rajukan Zon, dan aku hanya menggelengkan kepalaku.


Jika kalian penasaran, ilmu yang kudapatkan dari ayah Rei adalah sebuah ilmu tangan kosong bernama Tangan Iblis. Nama yang mengerikan, bukan?


Menurutnya, Tangan Iblis adalah ilmu tangan kosong yang dimiliki oleh Ando Kusuma, Hunter rank SS dari RedWhite sekitar seratus tahun lalu, dan dikatakan, Tangan Iblis bentuk pertamanya bisa memecahkan sebuah batu jika digunakan oleh Ando dan itu adalah bentuk penguasaan tertinggi terhadap ilmu itu.


Kini, siapapun yang ingin mempelajari ilmu ini harus datang pada Antha yang bukan lain adalah ayah Rei sekaligus paman yang pernah kulawan sebelumnya.


Antha menguasai seluruh bentuknya yang berjumlah sepuluh bentuk, dan setiap serangannya akan menciptakan gelombang angin kecil yang bisa mendorong lawan mundur. Di masa mudanya dulu, ia dikenal sebagai Si Penghancur Batu karena kemampuan pukulannya yang bahkan bisa menghancurkan batu jika ia serius.


Tetapi sayangnya, menurut paman Antha, di awal-awal mempelajari ilmu ini, otot dalam tubuh harus benar-benar dalam kondisi sudah terlatih dan tahan digerakkan dengan cepat dan kuat. Kalau tidak, maka tubuh akan menerima serangan sendiri dan membuat tubuh kaku bahkan saat baru melancarkan bentuk pertama yang berupa Memukul Gunung.

__ADS_1


"Karena syarat penggunaannya yang unik ini, membuat tak ada orang yang mau mempelajari ilmu ini." aku membuka buku tipis yang diberikan paman Antha, "Aku tak percaya paman Antha adalah Hunter, tapi beliau tak ingin anaknya menjadi Hunter sepertinya."


"Alasan karena Antha tak ingin anaknya mengalami hal yang sama dengannya, kehilangan orang terdekat, takut kehilangan anaknya dari sampingnya, dan lainnya, itulah yang kurasakan dari sosok Antha ini." Zon berpendapat dan aku setuju dengannya.


Aku kembali membaca buku itu, membalik halaman demi halaman dan menemukan berbagai inspirasi untuk Pukulan Kehancuran milikku sendiri.


"Perhatikan waktu memukul, cari celah yang lebar, perhitungkan waktu pukulanmu bergerak, pastikan pukulanmu mengenai sasaranmu dengan tepat." gumamku ketika membaca catatan dari bentuk pertama yaitu Memukul Gunung.


Dalam memukul arah perut, pastikan untuk menyerang tepat di perut, sedikit ke atas adalah ulu hati dan itu adalah sebuah titik serangan yang bisa mengurangi keseimbangan musuh.


Satu persatu bentuknya kupelajari, dan aku menghabiskan malamku dengan mempelajari buku itu.


***


02.00...


[Kau mempelajari skill baru!]


[Skill series Tangan Iblis telah dipelajari!]


Dalam sistem yang kuterima, aku menerima guide book yang biasa dipegang oleh Zon, dan ia akan menjelaskan semua hal dalam sistem yang dirasanya harus kuketahui.


Skill dalam sistem ini dibagi menjadi dua berdasarkan jumlahnya, yaitu skill aktif biasa yang berjumlah satu aja dan skill series yang berjumlah lebih dari satu.


Aku telah menguasainya dalam sehari, tetapi aku perlu menerapkannya dalam pertarungan.


Aku menutup buku dan melirik ke sebelahku, dimana Andhika sedang tertidur dengan mulut terbuka lebar dan mendengkur dengan keras.


"Hah..."


Sejak tadi kuperhatikan, Andhika memainkan permainan dalam ponselnya, dan aku tak mengerti permainan yang dimainkannya.


Aku turun dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela kemudian membukanya perlahan.


Angin sejuk malam menerpa wajahku dan aku menyipitkan mataku, berusaha membaca situasi sekitar.


"Angin ini tak menunjukkan sesuatu yang baik..." gumamku, dan aku melompat lalu menutup jendela lagi kemudian menggeser kayu besar di dekat sana dan menyangga jendela itu agar tak terbuka dengan kayu itu.


Setelah itu, aku berlari melewati halaman luas rumah paman Antha kemudian melompati tembok.


***

__ADS_1


Suasana di luar rumah di malam hari benar-benar menyedihkan, banyak Hunter yang keluar dan menagih banyak makanan di warung-warung yang masih buka.


Dari sini, aku memahami alasan kenapa bibi Ayu mengatakan kalau pemimpin kota ini menyalahgunakan kekuasaannya, karena ia memakai kekuasaannya untuk memeras warga, meskipun di malam hari ketika orang-orang sudah tidur, hal itu tak bisa dibiarkan.


"Hei, jangan berteriak pada nenek itu!" aku memulai langkahku dengan memperingati seorang Hunter yang sedang menarik pakaian seorang nenek yang tak berani melawan, "Dia sudah mengatakan tak punya benda yang kau inginkan!"


Dari yang kudengar, nenek itu memiliki sedikit uang dan tak memiliki benda yang diinginkan Hunter itu, tetapi Hunter itu memaksa dan mengancam akan membunuh nenek itu.


"Kelakuan mereka tak ada bedanya dengan penjahat." Zon berkomentar, dan aku tak bisa menyalahkannya karena itu benar.


Hunter itu melepas pegangannya pada pakaian nenek itu dan berjalan mendekatiku, "Siapa kau?"


Aku memegang pinggangku dan aku pun tersadar tak membawa Pedang Api Hitam dan Pedang Naga Iblis di pinggangku.


"Bodoh!" Zon tertawa, "Bagaimana mungkin pendekar pedang melupakan pedangnya?!"


Aku tersenyum lebar dan menjawab, "Namaku Langit Satria, atas namaku jangan pernah mengganggu warga disini."


Aku bisa melihat kalau Hunter itu lebih tinggi dariku dan ia tertawa keras mendengar perkataanku.


"Dimana letak kata-kataku yang terdengar lucu bagimu?" tanyaku dengan skill pasif Raja Api yang aktif dengan sendirinya..


[Skill pasif Raja Api aktif! Semua kawan akan menurut padamu dan semua musuh akan gentar menatapmu!]


Hunter itu mundur sedikit ketika aku bertanya, dan aku bergerak maju kemudian membantu nenek itu berdiri, "Apa nenek baik-baik saja?"


Nenek itu mengangguk, "Nenek baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir."


Tetap saja aku kasihan, jadi aku maju...


"Hei bocah, aku belum memaafkanmu karena menghalangiku mengambil barang yang diinginkan pak Lein." Hunter maju lagi dan memegang pundakku, "Kau harus membayarnya..."


Oh, nama manusia sialan yang membuat kota ini kacau adalah Lein, ya? Akan kuhajar dia nanti setelah menghajar anak buahnya...


"Akan kubayar..." aku berbisik pada nenek itu, "Anda mundur dulu, saya akan mengurus ini terlebih dahulu."


Nenek itu pergi menjauh, membuat Hunter itu kesal dan kedua tangannya sudah meraih gagang senjatanya di pinggangnya, "Kau bayar dengan apa?"


"Hmm, coba kupikirkan..." aku mengelus daguku, sambil membaca kemampuan lawan yang tak banyak bisa kudapatkan, "Bagaimana kalau kubayar dengan ini?" tanyaku sambil mengangkat pukulanku.


Hunter itu terlihat kesal, ia menarik senjatanya yang berupa pedang dan berseru, "Takkan kumaafkan kau yang sudah menghalangi pak Lein!"

__ADS_1


Bisa kukatakan, langkahku menjatuhkan pemimpin kita dimulai dari menghancurkan para anak buah pak Lein yang harga diri mereka amat tinggi kemudian barulah menghancurkan pak Lein itu.


__ADS_2