
Kota 6...
"Fuuh..." seorang laki-laki meletakkan lima karung berukuran besar ke atas meja kemudian menyeka keringatnya yang membasahi seluruh wajahnya, "Lima karung terakhir..."
Seorang perempuan paruh baya mendekatinya dan menepuk lengan berotot laki-laki itu, "Tenagamu luar biasa ya..."
Perempuan itu membungkuk dan menghitung, "Dua puluh karung beras kau turunkan seorang diri, bahkan dalam waktu sebentar saja..."
"Tidak heran kau pernah dipercaya untuk bertarung di baris depan bersama sang pahlawan..."
"Ah, itu hanya masa lalu, sekarang aku sudah pensiun." laki-laki itu membantah dan ia menadahkan tangannya, "Upah?"
"Ah iya, hampir aku lupa..." perempuan itu merogoh kantongnya dan mengeluarkan uang lima puluhan ribu, "Seharusnya sepuluh ribu per orang, tapi karena kau mengerahkan tenaga setara dengan lima orang, jadinya upahmu lima puluh ribu."
"Terima kasih banyak Bu..."
Laki-laki itu pergi dan berkeliling pasar sambil memasukkan uangnya ke kantong celananya.
Ia sesekali berhenti untuk membantu orang-orang mengangkat barang-barangnya, entah itu sayur, beras, daging, atau apapun itu, ia membantu semua orang tanpa memandang siapa orang itu...
Setelah beberapa jam berada di pasar untuk bekerja sebagai tukang angkut barang, ia memutuskan pergi dari pasar dan mampir ke warung makan.
"Pak, nasi campur dua porsi seperti biasa dan air putih!"
"Siap!"
Laki-laki itu merogoh kantongnya lagi dan mengeluarkan semua kertas yang berada di dalamnya, kemudian ia menghitung lagi...
"Hanya delapan puluh ribu saja, ya..." laki-laki itu menghela napasnya, dan tak lama pesanannya tiba.
"Nasi campur dua porsi seperti biasa." penjual nasj meletakkan pesanan laki-laki itu di depannya.
Pesanannya lumayan... Banyak, sampai memakai dua piring untuk menyajikannya. Tak lupa air putih berisi es batu dengan gelas besar.
"Pak, nasi campur dua porsi dan air putih."
Laki-laki itu yang baru selesai berdoa dan bersiap untuk makan, ia mendengar suara yang familiar di telinganya...
__ADS_1
"Sebentar..." ia meletakkan sendok makannya dan melirik ke kanannya.
Seorang laki-laki dengan jas hitam dan tas besar di punggungnya duduk di sebelahnya, di sebelah laki-laki berjas itu ada perempuan dengan jas berwarna hitam juga...
Matanya melebar melihat dua orang yang duduk di sebelahnya, dan ia membuka mulutnya sedikit...
"Nampaknya hidup sang Scarlet Fist amat bahagia ya..." laki-laki berjas itu berkata, "Bekerja di pasar, lalu makan siang di pinggir jalan sambil menghitung penghasilan, nampaknya lebih menyenangkan dibanding bekerja di militer."
"Padahal bekerja di militer tidak susah-susah amat, lagipula sang Scarlet Fist memiliki jabatan yang lumayan bagus di militer..."
"Namun nampaknya dia lebih memilih bekerja sebagai tukang angkut biasa..."
"Apa yang mau kau katakan? Jenderal Langit?"
Laki-laki berjas itu tersenyum lebar, dan dua piring diletakkan di depannya kemudian dua gelas besar berisi air putih dicampur es batu.
***
Aku tersenyum lebar, dua piring diletakkan di depanku kemudian dua gelas diletakkan di depanku.
Vina meraih satu piring kemudian makan dengan tenang setelah berdoa. Ia tak banyak bicara setelah masuk kemari.
Dan pencarian kami terhenti sejenak saat melihat sosok yang kami kenal, kemudian kami mengikutinya dan sampailah kami di situasi ini.
"Apa yang mau kau katakan?"
"Apa kau sudah menonton berita semalam? Tentang konferensi militer internasional?" tanyaku balik.
"Sayangnya tidak, aku tidak tertarik pada yang namanya konferensi. Aku benci orang ramai dan diskusi." Jawabnya.
Ahahaha, khasnya Scarlet Fist deh...
Oke, mungkin aku belum menjelaskannya juga, kalau laki-laki dengan kaos tanpa lengan dan celana pendek dengan handuk yang tersampir di lehernya adalah salah satu dari lima Hunter rank SS yang dimiliki RedWhite, dijuluki Scarlet Fist, dan namanya adalah Rei Artawan.
Kabar terakhir yang kuterima adalah kematiannya di hutan Jawa, namun api yang kutinggalkan di tubuhnya masih menyala yang artinya ia masih hidup, dan kebetulan saja aku tidak semudah itu percaya kalau orang sekuat Rei tewas begitu saja.
"Rei banget..." Vina berkata pelan, dan kulihat Rei hanya menghela napasnya.
__ADS_1
"Kudengar kalian sudah menjadi perwira militer ya, aku mengucapkan selamat pada kalian..." ujar Rei kemudian ia makan, "Aku makan dulu."
Ia mulai makan dalam diam, dan aku ikut makan.
***
Rumah bibi Ayu masih sama seperti sebelumnya sejak empat tahun lalu terakhir aku datangi. Namun bedanya, bibi Ayu mulai menua dan kulihat paman Antha tidak ada di tempat.
Yah, paman Antha sudah gugur sejak lama, dan aku menyayangkan kepergian Hunter sekuatnya.
"Mari duduk..." Rei menarik dua kursi kemudian berteriak, "Dian, kemari sebentar!"
Aku diam, Dian? Siapa dia?
Rei duduk di satu kursi kemudian ia menatapku dengan tatapan heran, "Kenapa kau masih berdiri? Duduk disini..."
Aku duduk di tempat yang ia sediakan, sementara Vina juga duduk di satu kursi lain.
Dan suasana seketika senyap lagi...
Aku masih belum memahami beberapa hal...
"Bagaimana dengan kehidupanmu? Apakah bahagia atau sebaliknya?" tanyaku, dan Rei menghela napasnya.
"Bukankah kau tadi sudah bertanya? Kalau aku merasa hidup seperti ini lebih dari cukup." jawabnya dan ia mengeluarkan beberapa lembar uang, "Penghasilan harian di pasar kurasa sudah cukup untuk menghidupiku dan keluarga kecilku disini."
"Meski hanya seratus ribu kurang atau lebih, aku tetap bersyukur, karena aku beruntung ada orang-orang yang mempekerjakanku sebagai tukang angkut di pasar."
Aku diam, kata-kata seperti itu hanya akan keluar jika ia sudah melalui banyak ujian hidup, dan Rei tidak pernah berkata sebijak itu selama ia berada di sampingku.
Dan satu lagi, keluarga kecil? Apa maksudnya?
"Rei, ini kopinya." seorang perempuan... Yang berwajah cantik bagiku, datang dan meletakkan gelas yang berisi cairan berwarna hitam di depan Rei, kemudian ia bertanya, "Siapa mereka?"
Aku merasa lenganku disikut, dan kulirik Vina yang mengikut lenganku, kemudian ia berbisik pelan, "Itu istrinya Rei, kan?"
Alisku mengerut, jika itu benar, artinya...
__ADS_1
Kulihat Rei menceritakan semua yang terjadi tadi pagi, kemudian ia menceritakan pertemuannya denganku dan Vina, lalu terakhir ia menjelaskan siapa aku dan Vina sebenarnya.
"Aku bisa katakan mereka berdua adalah teman lamaku." ujar Rei setelah ia selesai menjelaskan, "Kuharap kau mengerti..."