Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
43. Aku yang tak punya kerjaan


__ADS_3

Aku menelungkup di teras rumah kakekku sambil menghembuskan napas panjang, hari masih siang dan panasnya amat terik, hingga aku merasa amat malas untuk bergerak.


"Huuh..." Aku kembali menghembuskan napas panjang, panas telah merasuki tubuhku hingga yang terdalamnya.


"Halo Langit, apakah kau lapar?" Seorang perempuan tua muncul dan ia masuk ke halaman rumah kakekku, "Bibi ada mengantarkan bakwan jagung nih..."


Aku berdiri dengan lemah dan bertanya, "Darimana bibi mendapatkannya?"


"Bibi memasak bakwan dan ternyata kelebihan, jadi bibi membaginya kepadamu, siapa tahu kau belum makan..."


Tahu saja deh aku belum makan dari tadi, hanya pagi saja aku makan pisang yang kubeli di pasar empat hari lalu sebelum kepergian kakekku ke Surabaya.


Perempuan tua itu bernama bibi Sri, dia tinggal di pinggir desa, jadi dia sering mengunjungiku empat hari terakhir ini.


Oh ya, berita tadi pagi menyebutkan tentang kembalinya sang legenda Hunter rank S yang mampu menghabisi Monster rank SS seorang diri di misi terakhirnya sebelum pensiun, ialah Bintang Langit sang Pendekar Jubah Hitam.


Selain kakekku, ada Hunter tua lain yang kembali, ia adalah Vigo yang dipanggil Pedang Naga dan merupakan kakak dari Frans, sekaligus Vigo adalah mantan ketua organisasi RedWhite sebelum pensiun dan digantikan oleh adiknya.


Ngomong-ngomong, aku tak percaya kalau Indonesia pernah memiliki Hunter rank SS, Hunter itu adalah Vigo, ia memegang peringkat itu selama sepuluh tahun sebelum ia pensiun. Dan kini ia mengambil kembali peringkat itu dan membuat Indonesia kembali memiliki Hunter rank SS.


Meskipun hanya satu, lewat tatapannya saja, aku bisa tahu kalau Vigo itu lebih kuat sedikit dari kakekku. Entah apa yang membuatku bisa menebak itu...


Karena berita di lima saluran televisi rumah kakekku memberitakan tentang kembalinya dua Hunter andalan Indonesia, aku pun memilih keluar dan berlatih sedikit, berlatih Aliran Pedang Bumi yang diajarkan kakekku.


Tentang Aliran Pedang Bumi, aku telah menguasainya dengan baik, tetapi kalau diadu dengan kakekku, tentu aku akan kalah sih dengan kecepatannya.


"Status."


[Nama: Langit Satria


Level: 14


Usia: 7 tahun


Jenis kelamin: Laki-laki


Pekerjaan: Flame Emperor


Title: Pejuang Sejati, 2+


HP: 475


STR: 85

__ADS_1


INT: 20


VIT: 26


DEX: 25


DEF: 19


LUCK: 20


Bonus poin: 9


Stamina: 80/80


Skill pasif: (Raja Api: Lv. 2)


Skill aktif: (Sprint: Lv. 6) (Pedang Api: Lv. 2) (Lv. 15) (Lv. 20) (Lv. 25) ( Lv. 30) (Lv. 50)


Equip: Shirt (E) Shorts (E)]


"Langit, apakah kau lapar?"


"Tentu saja aku lapar, bi..." Aku mengatur napasku, "Aku boleh minta?"


"Hah? Jam dua belas?!"


***


"Makannya pelan-pelan saja..." Bibi Sri mengingatkan, "Nanti tersedak..."


Yah, rasanya seperti tidak makan berhari-hari, sekali suap masuk mulut, ahh, sedap!!


Karena lapar lalu kalap, aku langsung makan tanpa doa dan membuat bibi Sri terkejut melihatnya.


"Bintang Langit akhirnya kembali ke dunia Hunter dengan mengikuti Raid yang diadakan oleh empat organisasi Hunter besar."


"Selain beliau, ada Vigo Andreas yang memutuskan kembali, hingga kekuatan organisasi RedWhite yang dulunya menurun karena berhentinya dua Hunter andalannya, kini bertambah kembali seperti sebelumnya."


"Raid kali ini dilakukan dengan tujuan menghabisi seekor laba-laba raksasa yang telah meratakan Islandia bersama pasukannya yang berjumlah ribuan laba-laba itu."


"Menurut pengalaman ketua Tom Cage yang pernah menghadapi Monster besar seorang diri, laba-laba itu diperkirakan setara dengannya atau bisa lebih kuat darinya, sebab itulah beliau menyarankan agar Raid ini diikuti oleh banyak Hunter rank S."


"Kini, pasukan RedWhite akan berangkat ke Amerika Serikat untuk bergabung dengan pasukan dari organisasi lainnya yang memilih ikut serta..."

__ADS_1


Televisi menyala dengan menayangkan berita di Jakarta. Terlihat barisan Hunter berjalan santai menuju sebuah pesawat besar berwarna abu-abu, dimana angin di sekitar pesawat itu terlihat kacau.


Aku bisa melihat kakekku dan Frans ada di barisan Hunter itu, dengan Frans yang berdiri paling depan bersama seorang pria yang membawa pedang besar di punggungnya.


Dengan melihat tatapan dan besarnya senjata yang ia bawa, aku yakin kalau pria itu amat kuat, tetapi kalau dipikir-pikir lagi, pedang itu memiliki ukiran ular dengan warna kuning. Apa itu yang namanya naga, ya? Aku tidak tahu...


Terakhir, aku melihat orang dengan jas panjang, dengan tudung yang menutupi seluruh kepalanya hingga aku tak bisa melihat wajahnya, dan entah kenapa, aku merasa familiar dengan orang itu.


"Begitulah seharusnya kakek Bintang..." Bibi Sri berkata pelan, "Seorang Hunter sudah seharusnya untuk mengabdikan kekuatannya demi umat manusia."


"Aku rasa, kakekku berhenti karena usianya yang tidak mungkin untuk terus bertarung." Aku tidak mungkin menceritakan tentang kakekku yang memiliki kekuatan dari Monster, jadi aku mengatakan hal yang lainnya, "Kakekku pasti memiliki alasannya untuk kembali bertarung padahal ia sudah berusia tua..."


"Kau benar nak, kakekmu seharusnya hanya bertarung melawan Monster lemah saja karena usianya, tetapi jika beliau memaksakan diri untuk melawan Monster kuat dengan memunculkan dirinya lagi ke dunia, itu artinya beliau akan kembali bertarung di barisan depan." Bibi Sri menghela napasnya.


Aku tahu itu, kini kakekku tak seharusnya bertarung, tetapi jika itu adalah kewajibannya yang ia bawa sejak menjadi Hunter, maka biarlah saja.


Aku menghabiskan makananku hingga piringku bersih mengkilap, setelah itu bibi Sri mengambil piringku dan membersihkannya.


Selagi bibi Sri membersihkan piring yang aku pakai makan, aku memindahkan siaran televisi sebelum aku mendengar sesuatu.


ROOAAARR!


DRRRRTTTT!!


Mataku melebar, aku langsung mematikan televisi dan bergerak ke dapur.


Sesampainya aku di dapur, aku melihat bibi Sri yang sedang berlindung di bawah meja, sambil menutup telinga.


Bibi Sri menyadari kedatanganku, jadi ia keluar dari bawah meja dan menarikku keluar dari rumah.


Kalau aku tak berlatih di bawah bimbingan kakekku, mungkin aku akan melemas dan membiarkan diriku ditarik oleh bibi Sri, tetapi aku yang sekarang berbeda dari diriku yang sebelumnya!


Aku melepas pegangan bibi Sri dan berseru, "Bibi tunggu disini, aku akan mengambil senjata api dulu!"


Aku langsung berbalik menuju kamarku dan meninggalkan bibi Sri di ruang tamu yang memanggilku kembali, dengan nada yang panik.


Panik hanya membuat semuanya jadi tidak terkendali, jadi aku berusaha tenang dan mencari solusinya, karena aku adalah Hunter, sang manusia yang bisa melawan Monster.


Ditambah aku memiliki kekuatan Flame Emperor, salah satu Monster terkuat di dunia lain, aku wajib melindungi semuanya yang lemah!


Aku meraih jaketku dan memakainya kemudian meraih Pedang Naga Iblis yang tergantung di dinding kamarku dan kembali keluar, menemui bibi Sri yang berdiri dengan kaki bergetar.


"Ayo!"

__ADS_1


Aku menarik tangan bibi Sri keluar dari rumah dan pergi menuju desa, ke tempat yang kuduga menjadi pusat dari keributan ini.


__ADS_2