Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
284. Malam teror II


__ADS_3

"Apa kalian ******* yang akan menghancurkan ibukota?"


Orang-orang itu hanya tertawa lantang, dan salah satunya, yang kupikir adalah pemimpin mereka, ia maju dan berdiri di depanku.


"Kalaupun kami beritahu, kau tidak akan selamat..." ia meraih kerah jasku dan menarikku kemudian mencekikku, "Seluruh perumahan sudah kami kuasai, tersisa asrama militer saja yang harus kami hancurkan..."


Suara klik terdengar, dan dua orang di belakang pemimpin ******* jatuh tanpa terlihat apa yang menyebabkan mereka jatuh.


"Oh, benarkah?" aku menyentuh tangan pemimpin ******* itu, "Kutanya satu hal, apa kalian bisa membunuhku?"


Maaf saja, aku sudah bersumpah setia pada Indonesia, meskipun aku sudah mundur dari militer, tetapi aku mundur secara tidak resmi, secara resmi aku masihlah jenderal besar TNI Indonesia...


Aku menggenggam tangan ******* itu dengan erat, dan kulihat wajah orang itu meringis menahan sakit, bahkan tangan kanannya yang tadinya memegang senapan langsung mengarahkan senapannya ke dahiku dan ia berteriak kencang.


"Akan kutembak kau!"


"Oh..."


KRAK!


DOR!


"Arrggghhh!"


Tangan orang itu patah, dan aku mengangkat pedangku dan menebas tangannya yang kugenggam sampai hancur itu.


Aku melirik orang-orang yang lain, dan kulihat mereka bergetar, arah cahaya mereka tak lagi lurus, melainkan bergetar, menunjukkan ketakutan mereka...


"Aku perlu jawaban kalian..." aku menyarungkan pedangku, "Siapa yang mengirim kalian?"


Tak ada yang menjawab, mereka mengangkat senapan masing-masing dan tanpa aba-aba, suara tembakan terdengar...


Aku berdiri menatap orang-orang yang berjumlah sekitar enam orang itu, mereka semua jatuh dengan kepala yang mengeluarkan darah.


"Langit, apa kau sudah memahaminya?" kudengar Vina bertanya, dan aku menggeleng.


Lampu dinyalakan lagi, dan aku melihat lubang di kepala masing-masing orang kecuali orang yang tadi mencoba mencekikku, "Kurasa mereka tidak menyerang orang secara acak, mereka menyerang orang-orang yang ditargetkan atasan mereka."


"Sesuai apa yang dikatakan mereka, kita harus berkeliling, teror tidak hanya terjadi di rumah kita saja..." aku berjongkok, "Sekarang, naik ke punggungku."


"Hah?!"


"Aku menggendongmu supaya cepat, sekalian juga sebagai bagian dari olahragaku..."

__ADS_1


***


Sesuai dugaanku, teror tak hanya terjadi di rumahku, tetapi juga di sekitar rumah.


Kendaraan berat seperti kendaraan militer terparkir di beberapa tempat, dan Vina sudah melubangi ban semua kendaraan berat yang ada di jalanan, dan aku bergerak lebih cepat.


Suasana perumahan benar-benar senyap, aku jadi ragu kalau serangan ke rumahku hanyalah pancingan saja agar aku keluar dari rumah.


"Berhenti disana atau kami tembak!"


Suara seruan terdengar, dan aku berbalik kemudian aku menguatkan genggamanku pada paha Vina, dan pegangan Vina pada pundakku terasa makin kuat, setelah itu aku melesat cepat ke depanku saat ini.


Beberapa orang, sekitar sepuluh orang, mungkin, mereka menodongkan senapan mereka ke arahku, dan kepala mereka langsung berlubang tak lama setelah aku bergerak cepat ke arah mereka.


Suara tembakan Mata Elang memang senyap, aku bisa tahu hanya dari sentakan tubuh Vina sebelum satu persatu orang di depan kami jatuh.


Mata Elang memang dirancang untuk kondisi di hutan, agar suara tembakan tidak membuat para Monster sadar akan kedatangan Vina, selain itu Vina pintar mencari tempat bersembunyi agar ia bisa menembak secara leluasa tanpa diketahui musuh. Itulah yang menjadi alasan kenapa Vina dijuluki Sniper terbaik sepanjang sejarah.


Suara langkah kaki yang ramai terdengar, dan aku berhenti berlari kemudian melirik sekitar...


"Ratusan orang..." ujar Vina, "Perumahan benar-benar dikepung *******."


"Apa kau bisa bertarung sendirian?" tanyaku sambil menurunkan Vina dari punggungku.


Begitulah, Vina tak hanya dikenal sebagai Sniper, ia juga dikenal sebagai Striker karena pisau di bawah senapannya dan ia sudah berlatih keras selama ini, jadi dia tak bisa diremehkan begitu saja...


Aku menarik pedangku dan bergerak cepat ke arah puluhan orang yang ada di depanku, kulihat mereka terkejut dan sayangnya aku tak peduli.


Pedang Api Hitam terayun cepat, memotong banyak sekali senapan hanya dengan satu tebasan saja, dan aku menebas banyak orang hanya dalam satu tebasan saja.


Jeritan mengisi senyapnya malam, dan aku bergerak cepat menebas banyak *******, tak ada ampun...


***


"Beritahu aku, siapa yang mengirim kalian?"


"Tidak, aku tidak akan memberitahunya!"


Aku menggenggam erat pisau dapur di tanganku, tanganku selalu siap untuk menusuk dada orang ini jika ia tak memberikanku jawaban yang kuinginkan.


"Oke, berapa orang kalian kemari? Siapa saja?" tanyaku lagi, "Jawab sejujurnya, ini bukan sesuatu yang seharusnya kau tidak tahu..."


"Katanya pak Andi, perlu pasukan sebanyak dua ratus orang untuk menyerang perumahan ini. Dan sekitar dua puluh kendaraan militer-..."

__ADS_1


"Apa kau bilang?! Militer ikut campur dalam serangan ini?!" Vina tiba-tiba muncul dan ia menarik kerah jas orang di depanku ini.


"Tunggu sebentar, biarkan dia menyelesaikan kata-katanya..." aku mengangkat tanganku dan mendorong Vina mundur.


"Dua puluh kendaran militer dikerahkan untuk membantu kami. Pak Andi berkata kalau ia memburu orang yang berpotensi membahayakan dunia disini!" orang itu tertawa lantang, "Perumahan sudah tidak aman lagi! Ratusan ******* akan masuk kesini!"


"Oh..." aku merogoh kantong jasku, "Apakah kau tahu ini?" aku mengangkat medali sembilan bintang yang kumiliki.


Orang itu menyipitkan matanya dan ia tertawa lagi, "Sayangnya aku tidak peduli-!"


"Cukup jawab tahu atau tidak, itu saja sudah bisa membuatmu selamat." Vina mengangkat pistolnya dan menodongkannya ke dahi orang itu.


Ada cahaya merah di dekat pengamannya, dan aku jadi tahu kalau Vina memakai pemanasnya untuk menekan orang itu.


"Bunuh saja aku!"


Suara teriakan nyaring terdengar di rumahku, dan suara deru kendaraan terdengar di luar rumah, aku jadi semakin yakin kalau orang yang kutangkap tidak bohong dengan kata-katanya...


"Aku perlu beberapa informasi lagi..." aku mengangkat pisau, "Siapa pemimpinmu, apakah dia ikut, siapa yang mendalangi serangan ini, dan apa nama organisasi yang menyerang saat ini?"


"Aku tidak akan berita-!"


DOR!


Suara tembakan nyaring terdengar, dan Vina meniup lubang peluru pistolnya dan ia menatapku, "Selesai."


"Yah, tak ada yang kita dapatkan selain jumlah orang yang datang..." aku menyimpan pisau ke dalam kantongnya dan menarik pedangku, "Aku akan membantai semuanya..."


Aku membuka pintu, dan cahaya terang langsung menyinari mataku yang terbiasa dengan gelap...


"Jatuhkan senjata dan angkat tangan kalian!"


Aku maju, dan aku langsung bergerak secepat aku bisa bergerak kemudian memotong kepala banyak orang hanya dalam satu tebasan...


Membunuh manusia... Kurasa mulai sedikit menyenangkan...


**Selamat hari raya Nyepi bagi yang merayakan, dan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang merayakan.


Om Santhi Santhi Santhi om


Wassalamu'alaikum


🙏**

__ADS_1


__ADS_2