
Hawa berat ini... Musuh lagi?!
Lima tahun sudah kami lewati dengan suasana tenang, dan masih ada makhluk fana lain yang ingin menghancurkan kami? Salah apa kami sampai banyak yang ingin menghancurkan kami semua?
Aku melepaskan Mata Surga ke seluruh arah, dan menyusuri setiap daratan yang ada di pulau Bali, dan tak ada sesuatu yang mencurigakan...
"Siapa..." aku bergumam, dan nampaknya konferensi masih berlanjut...
Mata Surgaku menyusuri darat, dan aku mulai melebarkan Mata Surgaku ke langit, menyusuri langit yang luas itu.
Hawanya terasa amat kuat dan singkat, aku benar-benar terkejut karena merasakan hawa sekuat dan secepat itu...
Monarch? Monster? Watcher? Praktisi? Mana yang datang menyerang kali ini?
Aku yakin kemampuan makhluk itu lebih besar dariku, dan aku ragu bisa mengalahkannya jika bertarung sambil melindungi orang-orang disini...
Hawanya hanya terasa satu saja, namun itu saja sudah cukup membuat orang terkuat disini merasa sedikit gentar...
Kemampuan seperti itu tak boleh diremehkan... Aku harus menyiapkan pertahanan...
"Andhika..." aku mengangkat tanganku, "Aku ingin mengatakan sesuatu..."
"Apa itu?"
"Aku merasakan firasat yang buruk..." aku melirik Andhika, "Pergi keluar dan perintahkan pasukan untuk lebih siaga. Masalah di dalam, serahkan saja padaku."
"Firasat?" Andhika terlihat menaikkan alisnya, "Apakah firasatmu amat buruk sampai kau berkeringat begitu?"
"Eh?" aku terdiam, apakah aku benar-benar berkeringat?
"Aku mendapat firasat buruk, dan semakin lama aku diam disini, firasatnya semakin kuat. Jadi cepat, keluar dan awasi situasi disana." aku menatap ke depan, "Ini perintah."
"Siap komandan." dan aku mendengar suara langkah kaki menjauh.
Oke... Biar aku lihat lagi...
...
...
__ADS_1
...
Sebentar...
Hawanya muncul lagi dan bertambah kuat! Hawa keberadaan macam apa itu?!
Aku mengalirkan Energi Gaib ke kedua tanganku sebagai persiapan dan aku kembali fokus ke penglihatan Mata Surga. Benar-benar senyap...
Sedikit meragukan, namun aku selalu percaya pada firasatku, bahwa ada musuh disin-...
BRUKK!
Suara keras tertangkap telingaku, dan aku melihat bahwa tak ada satupun di ruangan itu yang menyadari suara sekeras itu. Diskusi masih berlangsung tanpa halangan...
Aku menaikkan tanganku ke atas meja, dan disaat yang bersamaan, Mata Surgaku menangkap sosok hitam dengan kotak di tangan kirinya. Ia bergerak cepat memukul satu persatu tentara.
Mataku melebar, kedua tanganku terkepal, dan mungkin saja, ruangan sedikit bergetar oleh auraku.
Sosok itu mendekat ke ruangan, dan aku berdiri dengan cepat kemudian mengangkat tanganku lalu mengarahkannya ke kiri, ke arah pintu yang ada di sisi kiriku.
Pintu terlihat terdorong cepat dari dalam, dan suatu dorongan dari luar mendorongnya dengan kekuatan lebih besar dari yang kukerahkan saat ini.
Tak ada sosok yang mendorong pintu, aku meraih pedangku yang tersandar di samping kursiku kemudian berlari ke pintu, kemudian keluar dari ruangan.
Suasana di luar ruangan terlihat kacau, gedung yang dijaga ketat oleh barisan tentara serta puluhan mantan Hunter yang masing-masingnya dipersenjatai dengan senjata modern, berhasil dibobol? Siapa yang mampu melakukannya?
Oke, di seluruh dunia ini, aku harus mengakui kalau hanya aku seorang yang mampu menghancurkan pasukan militer gabungan seluruh dunia seorang diri. Bahkan kelompok ******* pun akan berpikir dua kali untuk menyerang.
Dan serangan kali ini terlihat dilakukan hanya dengan satu orang saja... Manusia macam apa itu?
Suara tepuk tangan terdengar, dan kulihat seseorang mendekat diantara debu-debu yang beterbangan...
Penampilannya... Mirip Hunter dari masa invasi Monster...
Berjaket hitam, kaos berwarna coklat, celana hitam, memanggul kotak hitam di pundak kirinya, rambut berwarna hitam dan aku melihat sedikit warna biru, serta satu lagi, pupil matanya berwarna merah.
Karena pupil matanya yang berwarna merah itulah, aku jadi tahu kalau makhluk itu bukan Monster, melainkan manusia. Karena Monster seluruh matanya berwarna merah, serta satu lagi, aura yang ia pancarkan berwarna putih, bukan merah hitam seperti Monster biasa pancarkan.
Dan satu lagi, pupil mata berwarna merah amat jarang di dunia ini, kebanyakan berwarna biru atau coklat. Merah bukan warna dari dunia ini, yang artinya... Dia adalah manusia dari dunia lain...
__ADS_1
Jika ia berasal dari dunia lain, ada kemungkinan aku bisa berkomunikasi dengannya...
"Hai, kenapa kau merusuh disini?" aku menaikkan kedua tanganku, "Aku-..."
Ucapanku dipotong dan orang itu berkata dengan santai, namun herannya...
"Aku Skei, aku datang untuk mencari jalan pulang."
Mataku melebar. Bagaimana mungkin ia memahami bahasaku? Kecuali...
Bahasa di semua dunia itu sama...
Masih banyak yang belum kupahami...
"Dan kenapa kau membawa pedang di pinggangmu? Apakah kau menganggapku Monster seperti orang-orang itu katakan?"
"Eh?"
"Akui saja! Aku tahu semua manusia disini menganggapku seperti itu!"
Ia mengangkat kotaknya kemudian membukanya cepat, menarik sesuatu seperti pedang dari dalam kotaknya kemudian menutup kotaknya lalu memasang posisinya.
"Rasanya aku bertambah kuat sejak datang kesini..." ia mengangkat pedangnya, "Kenapa bisa begitu ya?"
Sialan, aku merasa dia tidak akan bisa diajak berbicara baik-baik... Hanya pedang saja yang bisa membuatnya diam dan berbicara...
Aku menarik pedangku dan mata orang yang bernama Skei itu menyala sejenak, sebelum ia bergerak maju dan mengangkat pedangnya.
Pedangnya kurang lebih memiliki panjang sama dengan pedangku, dan ada bentuk lingkaran di perbatasan antara bilah dan gagangnya. Lingkaran itu berisi sebuah kristal, aku tak tahu kristal apa itu...
Ia mengangkat pedangnya dan menebaskan pedangnya dengan cepat dari atas ke bawah.
Aku melompat menjauh dan aku bisa merasakan kekuatan fisik yang luar biasa yang baru saja Skei tunjukkan itu. Ia benar-benar orang yang tak bisa kuremehkan...
"Bunuh aku jika kau bisa!" ia mengangkat pedangnya, mengacungkannya ke arahku dengan tatapan sombongnya...
Yah, kurasa aku harus meluruskan semuanya, kalau aku tidak ingin membunuhnya dan hanya ingin menanyai alasannya merusuh disini...
Aku mengangkat pedangku dan api mulai menyelimuti pedangku secara perlahan, "Oke, tunjukkan kemampuanmu padaku! Maju!"
__ADS_1