Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
251. Tebasan membelah dimensi!


__ADS_3

"Apakah kau sadar kalau Langit yang dulu kuhina kini telah bangkit menjadi seorang Monster?" Kyle menatap televisi di depannya, yang menampilkan pemandangan gurun luas dengan beberapa Hunter yang sedang mengeroyok satu Hunter lainnya.


"Ya..." Floria menunduk, "Saat ayah dan paman Tom tewas, kita tak ada untuk membantu keduanya, malahan Langit yang muncul untuk membantu paman Tom."


"Apa artinya bagimu?" tanya Kyle dan ia mengecilkan volume televisi, "Apakah kita cukup kuat untuk bertahan di pertempuran nanti?"


"Kurasa... Tidak..." Floria tersenyum tipis, "Menghabisi Lord saja sampai bekerjasama, sementara Langit dan teman-temannya? Mereka mampu menghabisi Lord tanpa kesulitan."


"Apa itu artinya kau iri dengan mereka?" tanya Kyle, dan Floria menghela napasnya.


"Sulit juga dikatakan begitu." Floria melirik pedang yang tersarung di sampingnya, "Ayahku tak boleh marah karena aku tak bisa menjadi Hunter yang kuat sepertinya."


***


Pasir-pasir perlahan mulai turun perlahan, dan kulihat nyala senjata api di kejauhan, dan tak lama, leherku terasa dingin..


Aku menebas ke belakang dan ayahku melompat mundur kemudian melancarkan tembakan beruntun dengan pistolnya, dan aku menghindari semua tembakan itu dengan kesulitan.


Kecepatan peluru itu lebih dari kecepatan suara, bahkan saat pelurunya sudah bersarang di perutku, suara tembakannya baru terdengar, jadi aku amat mewaspadai yang namanya tembakan.


Vina mungkin tak memiliki keistimewaan lainnya, tapi ia mampu merakit senapan dan tahu apa saja yang diperlukan agar tembakannya tidak terdengar oleh musuh.


Aku bisa menghindari tembakannya tadi karena beruntung saja, kalau aku ingin menang, aku harus mengatasi Vina terlebih dahulu.


Suara tembakan terdengar lagi, disertai suara deru mesin yang mendekat.


Aku menyiapkan Pedang Api Hitam dan aku menebas ke kanan, hembusan angin tercipta lagi dari tebasanku yang kembali membuat pasir-pasir beterbangan ke atas.


Suara tembakan terdengar, dan aku melirik ke kanan kemudian menebaskan pedangku, aku merasakan pedangku seperti memotong sesuatu yang kecil...


Mobil terlihat mendekat, kulihat Vina sedang mengarahkan senapannya ke depan, sementara Marie mengendarai mobil.


"Akan kutabrak manusia itu!" serunya dan ia melajukan mobilnya lebih cepat lagi.


Suara langkah kaki terdengar keras mendekatiku, dan pasir-pasir yang beterbangan terbelah, menunjukkan ibuku yang sedang menebaskan pedangnya kemudian ia menebas sekali lagi.


Aku mengangkat pedangku kemudian menahannya, sebelum hawa dingin menyelimuti perutku, dan menusuk perutku lumayan dalam...


Sialan, siapa pula itu?!


"Langit, kau lengah!" William melompat dan kapaknya terangkat tinggi, "Esterosa, minggir!"


Ibuku melompat mundur, kemudian William mengayunkan kapaknya dan aku melompat mundur, menghindari tebasan kapak besarnya yang amat berbahaya itu!

__ADS_1


Satu kali tebasan William bisa memotongku jadi dua bagian! Bukankah itu mengerikan?!


Aku melompat mundur menghindari tebasan kapak William, aku memasang posisi menusuk kemudian menusuk ke depan, mungkin tusukanku menciptakan energi pedang lurus menusuk ke depan, dan William menghindari tusukanku kemudian mengayunkan kapaknya lagi.


Aku bisa merasakan perutku yang pulih perlahan, dan aku melompat mundur sejauh-jauhnya dari William, keluar dari jarak serangnya dan aku mulai memperhatikan sekitar.


Memakai kekuatan abnormal yang kumiliki adalah hal yang tak boleh kulakukan sekarang, karena katanya Carroline, pertarunganku ditayangkan di seluruh dunia sebagai bukti kalau Langit Satria bukanlah remaja yang bisa diremehkan begitu saja.


Tapi aku kebanyakan memakai kekuatan abnormal selama ini, jadi aku harus mulai melatih ilmu pedangku lagi, sudah terlalu lama aku terlena dengan Energi Gaib yang kumiliki.


Aku menarik napasku panjang kemudian menghembuskannya perlahan, aku mengangkat Pedang Api Hitam ke atas kepalaku kemudian memasang kuda-kuda menyerang.


Nyala pedangku kurasa semakin besar, aku menghembuskan napasku perlahan sekali lagi dan kulihat orang-orang sedikit waspada melihatku, mereka mendekatiku perlahan.


Alteron berlari ke arahku dengan cepat, lancernya sudah menyala terang mengarah ke aku.


John, Carroline, dan Mir bergerak maju mengikuti Alteron, dan aku menyiapkan diriku.


Pengguna tombak dan Lancer lumayan jarang ditemui, padahal ilmu tombak dan Lancer terhitung ilmu bersenjata yang sebenarnya sederhana saja.


Katanya Carroline yang ahli dalam beberapa senjata api, tombak bisa dipakai dengan menusuk saja sudah cukup, dan beberapa teknik menebas dengan mata tombaknya juga mengikuti, tetapi teknik dasarnya masihlah tusuk.


Ya, tusuk.


Kuperhatikan juga kemarin dalam beberapa berita, Alteron mampu melancarkan tusukan beruntun dengan cepat, sementara John juga bisa melancarkan tusukan beruntun selain mampu mendorong mundur Lord dengan ayunan tombaknya yang terlihat asal-asalan itu.


Aku harus waspada, itu saja. Kesempatan menganalisa disaat bertarung tidak banyak...


Alteron muncul dan ia menusukkan lancernya berkali-kali, aku menghindarinya dengan cepat dan aku menahan posisiku sambil melompat mundur.


Aku harus mewaspadai bayangan hitam yang mungkin saja adalah ayahku atau Alex yang bisa menyerangku kapanpun tanpa kusadari, celahku terbuka lebar dengan posisiku saat ini dan keduanya bisa memanfaatkannya untuk menyerangku.


Carroline melempar tombaknya dan aku melompat ke kiri menghindari lemparan tombak Carroline kemudian aku menebaskan pedangku ke bawah.


Hembusan angin kencang tercipta dari tebasanku dan menghempaskan Alteron yang bertubuh kecil jauh dariku, sementara Carroline masih berdiri tegak, John berlari ke arahku dan menusukkan tombaknya dengan cepat bersama Mir.


Aku menepis semua tusukan yang dilancarkan John dan Mir dengan cepat, mengimbangi gerakan keduanya yang masih terlihat lambat di mataku mudah saja bagiku.


"Lambat!" aku berseru, dan aku menahan kedua tombak yang menyerangku dan aku berseru, "Kurang!"


Keduanya melompat mundur, dan aku mengatur napasku sejenak kemudian menyentuh jari manis kiriku yang memakai cincin merah berhiaskan batu merah mengilap, "Sekarang adalah saatnya bagi pedangku untuk melihat dunia baru..."


Cahaya menyelimuti cincinku sebelum berubah menjadi pedang lengkung berwarna hitam dan aku memegangnya dengan tangan kiriku.

__ADS_1


Aku memasang posisiku dan aku bergumam pelan, "Kurasa Black Flame Soul Katana akan kubawa sampai pertempuran akhir..."


"Aliran Pedang Api Amarah, Gaya Pertama, Membelah Dimensi!" aku mengangkat kedua pedangku ke kiri kemudian menebaskan pedangku ke kanan dengan cepat, menciptakan hembusan angin yang mendorong banyak pasir menjauh dariku.


Orang-orang yang melawanku menahan hembusan angin itu, dan aku melesat maju, aku sudah selesai pemanasannya!


***


Tempat yang hangat, tanpa adanya perang, tempat dimana ketenangan dan tawa bisa hadir tanpa adanya masalah...


"Ada banyak manusia yang mampu mengendalikan api..." laki-laki berpakaian biru melipat tangannya menatap bola di depannya, "Bukan hanya Ray sang Dewa Kebebasan itu..."


"Kau pikir ahli api hanya dia saja? Tidak..." laki-laki berpakaian merah menghela napasnya, "Ada banyak ahli api di dunia..."


"Mau kusebutkan?" laki-laki berpakaian merah mengambil cangkir tehnya.


"Tidak." laki-laki berpakaian biru menggeleng, "Tapi jangan salah, elemen petir banyak peminatnya loh..."


"Tapi mereka semua bodoh-..."


"Kau harus mencontoh Ferio, dia benar-benar pintar memanfaatkan kekuatannya, ia juga punya kemampuan memimpin yang hebat. Satu lagi, dia tampan." laki-laki berpakaian biru melipat tangannya dan tersenyum lebar, "Orang-orang petir itu rata-rata tampan loh..."


"Dan juga, kenapa ada lubang dimensi lagi?! Ini sudah ketiga kalinya!" laki-laki berpakaian hijau dengan buku di tangannya membanting bukunya, "Aliran energi tidak seimbang kembali mengalir keluar dari dimensinya seharusnya!"


"Oh..."


"Huoyang, kau jangan santai saja! Ini menyangkut hubungan antar dunia!"


"Lagipula apa yang bisa kita lakukan?" laki-laki berpakaian biru menggelengkan kepalanya, "Kita tak bisa mengatur hal semacam memperbaiki celah dimensi, hanya kau seorang yang bisa, Shikong..."


"Yah, aku bisa mengatasinya..." laki-laki yang dipanggil Shikong mengelus dagunya, "Tapi aku sebenarnya ragu dengan Hesui..."


"Apa maksudmu?" tanya laki-laki yang tadi dipanggil Huoyang itu, "Apa dia membuat masalah dengan sistemnya?"


"Ya, masalah di bumi milik Langit Satria sedang kacau balau, begitu juga dengan bumi milik Siegfried..." Shikong mengelus dagunya, "Apakah Hesui dan Benario memiliki keterkaitan dengan dua dunia itu? Bagaimana pendapatmu, Shanjin?"


"Kurasa... Iya..." laki-laki berpakaian biru hang dipanggil Shanjin memejamkan matanya, "Kekuatan Siegfried yang dipanggil Death Emperor terlalu dahsyat untuk ukurannya, aku yakin ada sesuatu di baliknya..."


"Mengendalikan kekuatan lawan dan mencipta medan statis yang bisa mengatur kekuatan siapa pun yang ada di dalamnya, bukanlah kekuatan yang Monster bisa miliki..." Shanjin berkata lagi, "Varihin, bagaimana pendapatmu?"


"Siegfried membuat kontrak dengan Benario, itulah yang kupikirkan saat ini..." laki-laki dengan pakaian tempur lengkap berkata kemudian pergi, "Jangan tanya aku kemana..."


***

__ADS_1


Fyi, sosok Joko Taru kubuat meniru sosok ayahku yang sudah meninggal sebulan lalu, Ayu Diah yang kubuat dengan mengikuti sifat ibuku yang suka melawak, kakek Bintang yang senang melawak dan kadang bijaksana meniru sosok kakekku.


__ADS_2