Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
152. Pernyataan Zon


__ADS_3

"Jangan... Ganggu... Raja..." Suara terdengar, dan Esterosa bersama Joko menatap ke seisi ruangan gelap, tempat mereka dipindahkan.


Tak lama, wajah yang tak mereka kenal muncul, dan ia berkata lagi, "Jangan... Ganggu... Raja... Kami..."


Melihat itu, keduanya bergetar, keringat mengucur deras di sekujur tubuh mereka, hanya satu hal yang mereka rasakan ketika melihat wajah itu...


Amarah yang amat kuat...


"Mundur! Jangan mendekati Raja!"


Keduanya mundur secara perlahan, sebelum mereka merasa kembali ke ruangan yang semakin panas dari yang terakhir mereka ingat.


Esterosa melirik Joko, "Apa kau memahami maksud Monster itu? Siapa yang ia maksud Raja?"


Joko menggeleng, "Entahlah, aku tidak banyak bisa berkata saat ini, aku perlu menganalisisnya terlebih dahulu..."


Raja? Apa maksudnya? Itulah yang terus dipikirkan Joko, dan ketika ia menyimpulkan kalau kekuatan Flame Emperor sudah bangkit di dalam tubuh Langit, ia merasa kalau Langit yang sekarang bukan anak kecil biasa yang ia ingat dulu.


"Apa pemicunya? Harusnya berburu di Kanada tak banyak mengubahnya..." Joko memegang dagunya, "Apakah... Kehadiran para Emperor membuat kekuatannya bangkit? Kenapa bisa begitu?"


Ia menggelengkan kepalanya lagi dan melirik Esterosa, "Sekarang, kita harus menjaga jarak dengannya, ia yang sekarang pastinya tak bisa mengendalikan kekuatannya..."


Esterosa mengangguk, "Baik..." ia melirik beberapa Hunter yang sedari tadi memperhatikan dengan kaki gemetar, "Kalian boleh keluar..."


Hunter-Hunter itu mengangguk kemudian memberi hormatnya dan keluar dari ruangan.


Setelah para Hunter itu keluar, Andhika mendekat dan ia berkata, "Panas..."


"Itu berasal dari tubuhnya, tapi aku tidak tahu apa sebabnya tubuhnya bisa mengeluarkan panas seperti itu..." Esterosa menjawab, "Satu hal yang pasti, kita tak boleh mendekatinya untuk saat ini."


"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Vina.


"Menunggu..." Joko melipat tangannya, "Flame Emperor pastinya memiliki caranya tersendiri untuk membantu Wadahnya..."

__ADS_1


***


Aku menggelengkan kepalaku, aku benar-benar kehilangan kendali atas tubuhku, dan kini, aku tahu kalau aku kembali ke alam bawah sadarku.


"Dan seperti biasa, kau kembali sekarat..." Zon muncul, "Hadeh, raja macam apa kau ini?"


Hei hei hei, apa maksudmu api tua?! Apakah Langit Satria yang sekarat adalah hal biasa?!


"Yah, sekarat adalah hal yang biasa kau alami setelah kau menerima kekuatan Flame Emperor..." Zon menaikkan bahunya, "Dan kini, karena kekuatan Flame Emperor sudah bangkit separuhnya di dalam tubuhmu, kau kini mewarisi regenerasinya yang cukup hebat."


"Jadi?"


"Kau kini sedang memulihkan dirimu..." Zon menjelaskan, "Meskipun kau melakukannya secara tidak sadar, tetap saja tubuhmu memulihkan tubuhmu secara otomatis ketika kau menerima luka yang fatal."


"Jadi, kenapa aku disini?" tanyaku, setidaknya aku memahami semua yang dikatakannya.


"Kau sedang tidak sadar, dan kesadaranmu berpindah kesini secara tidak sengaja..." Zon menjelaskan, "Kau akan kembali lagi setelah proses pemulihannya selesai."


"Berapa lama?"


Tidak lama dan melakukan berbagai hal, ya? Apa yang bisa kulakukan?


Ini adalah alam bawah sadarku, dan pastinya ada beberapa hal yang tak kuketahui ada di tempat ini...


"Langit, aku ingin memberitahu sesuatu..." Zon muncul lagi di depanku, dan ia duduk, "Duduk dulu..."


Aku duduk, "Apa yang ingin kau beritahu?"


"Ini tentang sesuatu yang seharusnya kulakukan sejak dulu, tapi aku meminta hal lain pada Dewa Kematian." ujarnya, "Kau tahu apa itu?"


"Tidak."


Dalam ingatan Zon, tak ada bagian yang menjelaskan ia bertemu dengan Dewa Kematian, jadi aku tidak memahami apa maksudnya.

__ADS_1


"Biasanya, arwah yang bereinkarnasi tak memiliki kesempatan untuk mengingat kehidupannya sebelum mati, tapi aku berbeda. Akibat latihan praktik yang panjang, melelahkan, dan penuh lika-liku kerasnya dunia praktik, aku memahami sedikit tentang kehidupanku sebelum menjadi manusia yang bernama Zon. Aku mengetahuinya tak lama setelah menjadi praktisi Soul Rebirth, dan entah kenapa, semuanya terasa melelahkan."


"Aku mengingat secara samar perjanjianku dengan Dewa Kematian sebelum bereinkarnasi menjadi Zon, aku meminta kesempatan diberikan kemampuan menyimpan ingatan dari kehidupanku sebelumnya, dan ia menyetujuinya, dengan syarat harus menjadi lebih baik dari sebelumnya, dan seperti yang kau tahu, aku berkembang menjadi lebih kuat dari kehidupan sebelumnya."


"Dan kini, ia memberikan kesempatan untuk membuat tubuh baruku berkemampuan lebih baik lagi dari sebelumnya dengan cara memberikan tubuh baru yang sudah berisi arwah lain dan memasukkan arwahku ke sini, ke tubuh anak kecil bernama Langit Satria."


"Dengan kata lain, Langit Satria memiliki dua arwah yang berbeda?" tanyaku, dan Zon mengangguk.


"Ya, aku diberikan kemampuan lain, yaitu bersatu dengan arwah lain dalam tubuh Langit Satria dan mewariskan seluruh ingatan serta kekuatan dari tiga kehidupan yang kuingat." jawab Zon, "Dan, syarat untuk melakukannya hanya satu saja..."


"Apa itu?"


"Membantu tubuh Langit Satria berkembang menjadi kuat, dan setelah aku merasa tubuh Langit Satria mampu menampung kekuatanku, maka aku bisa melakukannya." jawab Zon sambil tersenyum pahit.


"Tapi pastinya ada bayarannya setelah kau melakukan hal semengerikan itu..." aku bergetar, kekuatan dua kehidupan Zon amat kuat, dan aku mendengar dari gurunya Zon, kalau sebuah kekuatan dahsyat bersemayam dalam tubuh manusia yang lemah, maka tubuh manusia itu akan meledak akibat tidak mampu menahan tekanan kekuatan itu.


"Hal yang besar selalu ada bayarannya..." Zon tersenyum, senyuman paling sendu yang pernah kulihat selama ini, "Setelah aku menyatu dengan arwah tubuh Langit Satria, maka aku akan menghilang..."


Aku kini memahami alasan kenapa Zon banyak membantuku saat berlatih, ternyata karena hal ini... Tapi tunggu dulu...


Kekuatan Divine Root elemen api milik Scarlet Cloak Warrior Zon sang praktisi terkuat, digabungkan dengan kekuatan dari penguasa api dari dunia lain yaitu Flame Emperor, bukankah itu terasa...


"Ya, sesuai pikiranmu, kau akan menjadi lebih kuat dariku dan Flame Emperor, kau bahkan bisa membunuh seluruh Destruction Army, Ice Legion, Titan Raged, dan Death Army beserta seluruh pimpinan mereka dengan mudah, dan membebaskan dunia ini dari invasi Monster." Zon melipat tangannya dan tersenyum lebar, mengabaikan sesuatu yang buruk yang akan terjadi padanya, "Bukankah itu hal yang kau inginkan? Kekuatan yang dahsyat yang mampu memberikan kebebasan pada bumi?"


Aku menunduk, yah, itu memang sesuatu yang kuinginkan, tapi jika bayarannya adalah kehilangan teman terdekatku, mungkin aku tidak bisa menerimanya...


"Hei Langit, tersenyumlah, kau akan lebih kuat dari siapapun yang ada di duniamu, kau mungkin bisa mengalahkan muridku yang bernama Ray. Apa kau tidak senang?" Zon terdengar seperti bisa membaca pikiranku...


"Aku senang, tapi lebih baik kau tak menghilang seperti yang kau katakan..." aku mengepalkan tanganku, entah berapa kehilangan lagi yang harus kualami...


"Dunia memang sekejam itu, kau terpaksa membiarkan orang lain mati demimu agar kau bisa berkembang lebih kuat lagi..." Zon menepuk pundakku, "Kau harus merelakannya."


"Aku memang tak bisa kau ajak bicara lagi, tapi semua kenanganmu tentangku akan selalu kau ingat dalam hatimu..." Zon berdiri kemudian aku merasa kepalaku ditepuk, "Pemulihannya akan selesai, persiapkan dirimu..."

__ADS_1


Ia berjalan menjauh, dan kudengar ia berkata sesuatu, "Saat kau sudah menerima kekuatanku, jangan sekarat lagi seperti sekarang! Kau tidak akan punya orang yang bisa menghiburmu seperti sekarang!"


Saat aku mengangkat wajahku, Zon sudah menghilang dari pandanganku.


__ADS_2