
Setelah semua prosesnya selesai...
"Semuanya, namaku adalah Langit Satria dan aku ingin mengatakan sesuatu!"
Ya, aku ingin mengatakan sesuatu pada penduduk desa terkait hal yang selanjutnya akan kulakukan.
Di hadapan makam kakekku, aku berdiri tegak, dengan seluruh perlengkapan bertarungku yang SEMUANYA warisan dari kakekku... Yaaa, sederhananya, aku ini serba memakai punya kakekku...
"Ya, ini tentang langkahku selanjutnya setelah kakek meninggal tadi pagi." ujarku lantang.
"Apa kau berencana menjadi Hunter?" Tanya salah satu warga desa, dan aku mengangguk.
Menjadi Hunter memanglah tujuanku hidup untuk saat ini, sejak kehancuran melanda Surabaya lima tahun lalu, tak ada lagi yang menjadi tujuan hidupku selain satu hal itu.
"Ya, aku akan bergabung dengan RedWhite, akan menjadi Hunter andalan mereka, dan akan melanjutkan tebasan Pedang Api Hitam."
"Langkahku akan dimulai dari sini berbekal ponselku untuk mencari Surabaya, dan dari Surabaya berbekal peta yang kudapatkan dari markas Hunter disana, aku akan mulai perjalananku ke RedWhite."
Ya, aku sudah memikirkan langkah-langkah awalku sudah sejak lama, sebelum kepergian kakekku. Dan mulai hari ini aku akan melakukan semuanya.
"Apa kau yakin? Di usiamu yang muda ini?" seorang pria bertanya, "Apa kau sudah yakin pada kekuatanmu?"
Yah, aku tak bisa menjawabnya dengan jawaban pasti, karena masalah yang kuhadapi belum tentu sama, pasti berbeda-beda, dan pastinya jawaban atas masalahnya akan berbeda.
"Aku yakin pada kekuatanku, jika aku tidak yakin aku pasti sudah mengurung diri di rumah, takut untuk keluar." jawabku. Hanya itu yang benar-benar bisa menjadi jawaban yang tepat.
"Apa kau perlu pemandu untuk membantumu pergi ke RedWhite? Daripada kau berkelana tanpa bantuan, pastinya dengan bantuan akan lebih baik." kepala desa bertanya, "Paman bisa membantumu pergi ke Surabaya."
"Aku tidak perlu itu..." aku tersenyum lebar, aku sudah berniat untuk tak pernah lagi bergantung pada orang lain sejak kepergian kakekku, "Aku akan hidup sendirian, tanpa bantuan orang lain..."
__ADS_1
***
"Sampai jumpa, semuanya, jaga diri kalian baik-baik!" aku melambaikan tanganku, ke arah penduduk desa yang mengantar kepergianku ke dunia luar.
Pada akhirnya, mereka tak bisa menahanku lebih lama lagi, sehingga mereka melepasku, setelah memberikan berbagai nasihat bermanfaat yang berguna bagiku.
Aku merasa keberadaan mereka adalah sebuah penyemangat bagiku, yang setelah kehilangan kakekku. Mereka terlihat berusaha membuatku terus tersenyum ketika memberikan nasihat, dan aku merasakannya.
"Mereka baik sekali padamu..." Zon berkata, "Mungkinkah karena kau adalah cucu Bintang Langit?"
"Tidak ada hubungannya, mereka hanya memberikan simpati yang sepantasnya padaku..." aku menggelengkan kepalaku, "Simpati yang sebaiknya seseorang terima ketika kehilangan sosok yang berharga baginya."
Sekali lagi kutekankan, mereka hanya menyemangatiku, agar tak terpaku pada kesedihan kehilangan orang terdekatku, tak lebih...
Yah, kurasa akan membosankan jika terus memikirkan itu, lebih baik aku bergerak cepat ke Surabaya.
***
Dan hari sudah malam saat ini. Dalam perjalanan aku berhasil menemukan beberapa buah untuk dimakan, dan aku memotongnya dengan pisau.
"Tak ada Monster, apakah mungkin mereka kabur saat melihatku?" gumamku.
Itu benar, tak ada Monster yang masuk dalam jarak penglihatanku sejak tadi siang, padahal aku ingin bertarung lagi.
"Itu benar, mereka kabur ketika merasakan hawa kekuatanmu yang besar, apalagi insting hewan buas lebih baik dari manusia, jadi mereka bisa merasakan bahaya dari jarak yang amat jauh." Zon menjelaskan, dan aku angguk-angguk saja. Apakah kekuatanku memang sebesar itu hingga hewan buas saja tak berani mendekat?
Hari sudah malam, Zon menyarankanku untuk membuat sesuatu sebagai tempat berteduh dan api unggun untuk menakuti makhluk buas yang ingin mendekat.
"Ini adalah pengetahuan dasar tentang bertahan hidup di alam bebas, kau harus mengingatnya selalu." Tambah Zon setelah ia menyuruhku membuat api unggun.
__ADS_1
Membuat api unggun itu mudah, aku cukup mencari beberapa ranting kering dan membakarnya dengan senjata api yang kumiliki. Hebat kan ideku ini?
Setelah selesai membuat tenda dan api unggun, aku merebahkan diri di atas karpet kecil dan memejamkan mataku.
***
Ada dua Monster berbentuk seperti beruang di hadapanku, dan aku yakin bisa menghabisinya hanya dengan memakai Cakar Ayam Api.
Aku mengangkat kedua tanganku dan memasang posisi yang sudah kupelajari selama lima tahun ini.
"Hanya Monster rendahan, tidak akan bisa membuat Wadah Flame Emperor senang..." Zon mendengus, "Bunuh saja mereka dengan cepat."
Aku menyipitkan mataku, menurut ukurannya, dua Monster beruang ini memiliki tinggi sekitar dua meter, dan aku merasakan kalau kecepatan beruang ini ada di garis rata-rata, atau biasa-biasa saja.
"Sekitar rank C lah menurutku." aku menaikkan bahuku dan berlari cepat ke depan.
Kecepatanku sudah berkembang pesat sejak skill Sprint hanya memakai 1 Stamina per detik, jadi aku bisa memakai Sprint setiap saat.
Aku mengalirkan stamina ke cakarku dan saat sudah ada di depan satu beruang, aku mengayunkan cakarku sekuat tenaga dan merobek perut beruang itu.
Beruang itu menjerit keras, sementara satu beruang lainnya bergerak memukul ke arahku, tetapi mataku masih bisa melihatnya dan memotong jari-jari beruang itu.
Ia melompat mundur, tetapi aku bisa mengejarnya dan aku langsung mencakarnya tepat di pergelangan kakinya.
Beruang itu jatuh, dan aku melompat kemudian menancapkan Cakar Ayam Api ke dadanya, kemudian mengoyaknya hingga aku bisa melihat jantung beruang itu.
Disaat aku hampir menyentuh jantung beruang itu, satu beruang lainnya mendekat dan memukul ke arahku, tetapi aku bisa bergerak cepat menghindari pukulan itu dan melompat ke samping kemudian melompat ke leher beruang itu kemudian merobek leher belakang beruang itu.
Beruang itu menjerit dan jatuh menimpa beruang lainnya, sementara aku menarik Pedang Api Hitam dan menusukkannya ke punggung beruang itu.
__ADS_1
"Sekian, terima kasih..." aku menancapkan pedangku ke atas tanah dan membungkuk sedikit, sehingga sosok yang sedang bersembunyi di balik sebuah pepohonan muncul dan bertepuk tangan.