
Gerakan Rei semakin cepat, begitu juga dengan Senja yang mengikutinya sambil sesekali menembakkan peluru dari pistolnya.
Monster dengan bentuk gorila mengejar keduanya dengan kecepatan tinggi, dan seluruh Hunter yang bersama mereka yang hanya berjumlah tiga orang saja sudah dihabisi gorila itu.
Tiga orang itu adalah Hunter rank S masing-masingnya, jadi jika ketiganya gugur secara bersamaan itu berarti Monster yang menghabisi ketiganya tidak bisa diremehkan begitu saja.
"Rei, bagaimana?! Gorila itu sudah menghabisi rekan kita, dan kita kabur begitu saja?!" seru Senja dan ia mengisi peluru lagi kemudian menembak ke belakang.
Gorila itu menghindar dan ia melompat maju, tetapi Senja bisa bergerak semakin cepat dan menghindari serangan yang dilancarkan gorila itu.
"Mau bagaimana lagi, kita minta bantuan pada Andhika dan Vina! Aku sedikit ragu pada kekuatanku saat ini!"
Rei merasa gentar.
Itulah faktanya, untuk pertama kalinya ia merasa gentar di hadapan musuh yang kuat. Ini bukanlah pribadi yang biasa ditunjukkan Rei di depan teman-temannya.
Semua orang di dunia tahu nama Scarlet Fist Rei Artawan, yang tidak tahu hanyalah orang bodoh yang tidak mengikuti perkembangan dunia.
Scarlet Fist Rei Artawan adalah Hunter rank SS spesialis pukulan terbaik saat ini setelah kematian Tom Cage di negerinya. Dikatakan bahwa ia mampu imbang melawan Langit Satria dan ia dikatakan akan mewarisi gelar ketua RedWhite jika seandainya Langit gugur di medan perang.
Itu adalah hal yang semua orang tahu tentang Rei Artawan, dan hanya teman-temannya saja yang tahu rahasia dibalik kekuatan dahsyatnya itu.
Rei adalah percikan api kecil dari api dahsyat.
Ia bisa mengukur kekuatan musuh hanya dalam satu kali pertukaran tatapan mata dengan musuh, dan kali ini, gorila yang sedang mengejarnya adalah Monster yang setara dengan Emperor.
Ia tak paham bagaimana ceritanya Monster sekuat itu bisa ada di Indonesia sementara penjaga terkuatnya sedang melawan pimpinan musuh.
Tetapi ia pernah diberitahu sesuatu oleh Langit, tentang keberadaan satu benda yang diincar oleh seluruh Monster di dunia lain.
***
"Kau mencari ini?" Aku meletakkan satu batu di atas meja, sebuah batu berwarna biru muda dengan kilauan yang menyilaukan mata.
"Bagaimana benda ini bisa ada di tanganmu?" Siegfried menatapku tak percaya, "Aku yakin sudah membuangnya di dunia yang jauh..."
"Kau tidak mengerti itu, begitu juga denganku." aku mengambil batu itu lagi, "Dengan begini, aku punya kekuatan sepuluh Emperor sekaligus."
__ADS_1
"Kekuatan Flame Emperor, Void Emperor, Sword Emperor, Ice Emperor, Tyrant Emperor, Black Emperor, Dragon Emperor, Wisdom Emperor, dan War Emperor, serta batu biru ini..." aku mengangkat pedangku lagi, "Dan anggap saja, semua Emperor ada dalam diriku saat ini..."
Yah, tubuh sekecil ini menampung kekuatan semua Emperor yang pernah ada di alam semesta, bukankah itu mengerikan?
"Jadi, kau belum menjawab pertanyaanku..." aku menarik pedangku dari atas meja, "Apa kau dewa? Sampai bisa mengatur segala hal yang kulalui selama ini?"
"Tidak, hanya saja..." Siegfried menghela napasnya, "Menyenangkan saja saat melihat semut-semut berlarian-..."
BUGH!
***
"Apa mungkin ia mengincar itu?" Rei jatuh dalam renungannya, dan tak lama ia mendengar sesuatu.
Suara dua benda, pedang dan pukulan diadu terdengar di belakangnya, dan ia berhenti kemudian menoleh ke belakang.
Senja mengangkat pedangnya dan menebas tangan gorila itu kemudian ia melesat maju dan melancarkan tusukan cepat ke arah gorila itu.
Gorila itu melompat mundur, disaat yang bersamaan Senja berpindah ke sebelah Rei dan berseru, "Kita bunuh dia disini!"
Rei terdiam, rencananya adalah menarik gorila itu mendekati Jakarta dan pasukan RedWhite termasuk dirinya akan menghabisi gorila itu, tetapi apakah Senja melihat kekurangan dalam rencananya?
Ia menarik pedangnya lagi dan menunjuk Monster itu dengan pedangnya, "Menjaga pulau Jawa ada dalam tangan kita, jika kita gagal melakukannya, maka kita gagal juga melakukan rencana yang sudah dibuat Langit!"
Rei menghela napasnya, ia merasa sedikit bodoh saat ini. Kenapa ia mengatur rencana sementara biasanya ia hanya asal pukul saja, meskipun rencana sudah tersedia di depannya?
"Aneh-aneh saja diriku ini..." ia mengangkat kedua tangannya dan memasang posisinya, "Ayo kita bunuh sialan itu!"
***
"Ketidakseimbangan muncul lagi di alam semesta..."
"Apa maksudmu?"
"Akibat dari dua Watcher yang berpindah dunia, membuat kekuatan aneh dari dimensi lain berpindah dunia dan membuat dunia kembali kacau..."
"Bahkan saat ini pertempuran akhir sedang terjadi di lima dunia, membuatku yakin kalau generasi sekarang adalah generasi yang akan menghasilkan raja-raja terbaik..."
__ADS_1
"Langit, Ray, Zione, Ferio, Ryan, Siegfried, Antonos, Hao Zheng, Xiefan, Yuliano, Yulion, Maximus..."
"Hmm, kau hapal calon-calon petarung di King of Kings ya..."
"Karena aku wasitnya, mana mungkin aku lupa dengan pesertanya..."
***
Rei melancarkan pukulan, gorila itu mengangkat tangannya yang terkepal dan mengadunya dengan pukulan Rei, suara yang mirip seperti dua beton yang diadu terdengar keras di hutan.
Senja melompat ke samping dan menebas lengan gorila itu, tapi gorila itu bisa menghindarinya dan ia melompat menjauhi keduanya.
Senja dan Rei menjauh, napas mereka sedikit tidak teratur, dan mungkin saja, mereka kehabisan akal untuk menghabisi gorila itu.
"Sialan, bagaimana caranya kita menghabisi Monster aneh ini?" Rei menyeka keringatnya yang menetes dari dagunya dengan tangannya, "Gerakannya cepat, refleknya juga lebih baik dari kita, dan aura yang dilepaskannya sedikit menyesakkan..."
Apakah ini rasanya melawan musuh yang jauh lebih kuat dari diri sendiri? batin Rei.
Seumur-umur ia bertarung, baru kali ini ia menghadapi musuh yang berada di level yang berbeda jauh dengan dirinya...
"Kurasa aku harus serius..." Rei melepas jamnya dan menyerahkannya pada Senja, "Bawa ini..."
Setelah jam itu diterima oleh Senja dengan alis terangkat, Rei mengalirkan seluruh energi gaib yang ia miliki hingga kedua tangannya diselimuti api merah yang berkobar sangat besar.
"Biarkan aku yang mengurusnya, kau pergi saja..." ujar Rei, sebelum ia merasakan dingin di lehernya.
"Jika kau maju selangkah, maka pedang ini akan memotong lehermu seperti memotong tahu..." Senja mengacungkan pedangnya ke leher Rei, "Mundur dan hadapi Monster itu bersama-sama."
Rei memejamkan matanya dan ia menepis pedang itu kemudian melesat maju ke arah gorila itu.
Suara tebasan pedang terdengar, dan kaki gorila itu berdarah sedikit, dan Rei melihatnya sebagai kesempatan untuk menjatuhkan gorila itu.
Ia bergerak cepat, menghindari beberapa pukulan yang dilancarkan gorila itu kemudian melancarkan pukulan dengan kekuatan penuhnya ke perut gorila itu.
Gorila itu meraung keras, sebelum ia mengangkat kedua tangannya dan meraih Rei kemudian melemparnya menjauh. Mata Senja terbuka lebar, tetapi suara seruan terdengar keras di hutan itu.
"Salah satu diantara kita harus hidup dan melapor pada Langit! Pergi, Senja! Jangan sia-siakan-...!"
__ADS_1
Senja mengepalkan tangannya, ia tak ingin melakukannya, tetapi jika ia dan Rei mati di hutan, maka tidak ada yang melaporkan tentang keberadaan Monster sekuat itu di hutan Jawa.
Ia menyarungkan pedangnya dan berlari menjauh, tangan kanannya yang masih menggenggam erat jam tangan yang diberikan Rei.