
"Hmm, jadi ini yang disebut markas ******* ya..." aku melipat tanganku menatap bangunan rapuh di hadapanku.
Rei yang berada di kananku menjawab, "Ya, aku dan Andhika menemukannya beberapa hari lalu. Aku dan singa itu sudah sempat melakukan kontak dengan ******* itu, namun kami kalah jauh, baik dalam jumlah maupun persenjataan, jadi kami bergerak mundur dan menjauh."
Menurut laporan Rei sebelumnya, setidaknya ditemukan sepuluh markas ******* di Bali, dan itu tergolong jumlah yang amat besar mengingat Bali menjadi markas utama militer angkatan laut, jadi aku mulai merasa kalau kinerja militer menurun drastis sejak aku keluar dari militer.
Aku tiba di Bali pukul enam pagi waktu setempat dan aku langsung diarahkan ke Bali bagian timur, aku tidak terlalu paham nama kota di Bali, namun aku yakin kalau kota ini dulunya amat ramai di masa lampau.
Tak banyak pasukan yang aku minta, aku hanya meminta Rei seorang dan ia mau-mau saja ikut kuajak, namun Andhika menyarankan agar membawa beberapa tentara lagi. Jadi sekarang aku membawa sekitar lima puluhan tentara di belakangku dan Rei sebagai tambahan.
"Apa kita menyerang dulu?" tanya Rei dan aku memejamkan mataku.
Mata Surgaku menyusuri bangunan itu serta sekitarnya dalam radius seratus meter, dan aku tak menemukan banyak orang, selain ******* berjumlah seratus sampai seratus lima puluh orang...
Bangunan rapuh seperti itu aku yakin tidak akan bisa menampung banyak orang, aku yakin itu...
Aku menarik pedangku dan aku melirik ke samping, "Arahkan yang lain untuk berpencar dan bersiaga di sekitar sini dalam radius seratus meter."
"Eh? Apa kau maju sendirian lagi?" tanya Rei, dan aku mengangguk.
"Jumlah musuh di depan hanya dua ratus orang dan aku memperkirakan kalau aku tidak akan bisa menghabisi semuanya sekaligus. Beberapa dari mereka akan kabur, jadi habisi mereka di luar dengan kemampuan kalian. Sekian, laksanakan."
"Siap laksanakan." Rei memberi hormatnya dan langsung pergi melakukan perintahku.
Aku menatap ke depan lagi, hidungku menarik napas berjumlah besar kemudian aku melesat cepat menuju bangunan tua itu.
"Oke, dengarkan arahanku!" Rei mengangkat tangannya dan meminta waktu sebentar.
Semua tentara merapat lagi dan bersiap mendengarkan arahan, kemudian satu tentara mengangkat tangannya.
"Pak, saya punya pertanyaan!"
"Ya?" Rei menaikkan alisnya kemudian duduk, "Pertanyaan apa itu?"
"Bagaimana pak Langit bisa tahu jumlah musuh disana? Pengalaman saja rasanya tidak cukup untuk melakukannya. Rasanya ada yang lebih lagi..." tentara itu masih menaikkan tangannya, kemudian ia menurunkannya, "Maaf jika bertanya hal di luar tugas."
"Tenang, aku juga bingung sebenarnya..." Rei memejamkan matanya kemudian menghela napasnya, "Namun aku sudah menarik kesimpulannya, Langit yang kukenal memang ahli dalam urusan prediksi, dan soal prediksi, ia memang yang terbaik diantara semua Hunter terbaik di seluruh dunia."
"Selain kemampuan bertarungnya, ia juga kuat dalam prediksi seperti yang kukatakan sebelumnya. Dan bagaimana ia mendapatkannya? Ia banyak-banyak membaca situasi sekitarnya dan menarik kesimpulan dari semua yang ia rasakan sejauh ini."
__ADS_1
"Dan juga ia mengatakan kalau kemampuannya ia dapatkan sejak masih kecil, itulah yang menyelamatkannya dari kematian saat masih kecil."
"Akan panjang ceritanya, jadi aku hentikan sampai disini saja..." Rei menggelengkan kepalanya, "Ayo semuanya, dengarkan apa yang kukatakan selanjutnya!"
"Tak banyak makanan yang bisa kita jarah di sekitar sini."
"Banyak kota yang sudah hancur..."
"Dan suplai makanan akan semakin tipis..."
Beberapa orang dengan pakaian serba hitam meletakkan puluhan plastik besar di atas lantai kemudian salah satunya berseru, "Kami akan membagikannya sama rata!"
Mereka kemudian mulai membagikan makanan, yang nampaknya terdiri atas kripik, biskuit, roti, puding, buah, air, teh, dan kopi. Semuanya dibagikan sama rata...
Sampai suatu kejanggalan terjadi...
"Sebentar, aku tak pernah melihatmu selama ini. Siapa kau? Kapan kau bergabung?" salah satu orang yang nampaknya adalah pemimpin kelompok itu bertanya, namun ia menurunkan kewaspadaannya.
"Aku anggota biasa..." orang yang ditanyainya menjawab, ia menurunkan topi jasnya dan ia tersenyum tipis, "Dan namaku adalah Langit Satria."
...
...
...
Ratusan senjata api diarahkan ke arahku, dan semuanya langsung memasang posisi siaga. Dan aku tentunya tidak tinggal diam, aku langsung menarik pedangku dan memasang posisi siaga.
Biarpun mereka *******, pergerakan mereka lumayan teratur dan mirip seperti militer, malahan aku merasa kalau mereka adalah anggota militer alih-alih anggota kelompok *******.
Menurut laporan Rei juga yang digabungkan dengan laporan Andhika, ******* yang kini kembali menyerang Bali dan sekitarnya adalah pasukan ******* World Freedom. Apa yang mereka cari? Tentu saja aku dan mereka nampaknya berniat menghancurkan konferensi militer tiga tahun lagi.
"Darimana kau masuk?!"
"Apakah orang yang dulu kita kejar mengirimmu kemari?!"
"Orang yang mana?" aku menyalakan pemanas di pedangku, "Banyak orang yang sudah kutemui selama ini..."
"Jangan bohong kamu!" suara keras terdengar, dan aku yakin mereka sedang panik dicampur takut.
__ADS_1
Siapa ******* yang tidak takut di hadapan tentara militer? Terlebih tentara itu adalah seseorang yang memiliki kemampuan besar dan diakui dunia...
"Orang dengan pisau dan pukulan itu pasti melapor padamu dan kau datang kemari langsung!"
Aku mengorek hidungku dan aku membuang kotoran hidungku ke samping kemudian berkata lagi, "Sudahlah, yang kuinginkan saat ini hanya satu, siapa yang mengutus kalian kemari dan apa tujuan kalian?"
"Jika kami mengatakan kalau kami tidak menyukai sistem yang sekarang dan kami ingin mengubahnya sesuai keinginan kami, bagaimana jawabanmu?" salah satunya yang mungkin adalah pemimpinnya maju dan ia berkata, "Untuk sekarang kami menyerah."
Ia menjatuhkan pistolnya dan tak lama, semuanya langsung menjatuhkan senapan masing-masing.
Aku yang melihatnya hanya terdiam saja, nampaknya pemahamanku tentang ******* masih belum dalam...
"Baik, aku akan mendengarkan..." aku menyarungkan pedangku dan meletakkannya di atas lantai, "Apa yang ingin kalian katakan?"
"Sebenarnya, kami ingin beberapa hal..."
Tahun 2335...
Aku menatap diriku di depan cermin, seorang laki-laki tinggi dengan wajah sedikit... Tampan... Dan pakaian militer lengkap dengan medali, nama, serta bendera merah putih berdiri di hadapan cermin saat ini.
Siapa dia? Itu adalah aku, Langit Satria. Aku kini berusia dua puluh tahun, dan sudah berlalu lima tahun sejak Perang Dunia ketiga selesai.
Waktu terasa berjalan amat cepat, bahkan aku sulit memahami kalau bocah kecil yang dulu bertarung dengan gergaji dan sabit kebun melawan Monster kini telah tumbuh dewasa menjadi jenderal besar militer Indonesia. Yap, dan itu resmi!
Pelantikannya adalah hari ini dan aku rencananya ditunjuk sebagai menteri pertahanan di kabinet selanjutnya.
Yaaa, berhubung aku tidak terlalu mengikuti perkembangan politik, aku hanya menggeleng dan menjawab kalau aku masih belum siap, sekian dan terima kasih.
Namun setahuku, menteri pertahanan adalah orang ketiga yang akan memegang negara dalam kondisi darurat dan presiden serta wakil tidak bisa melindungi negara. Dengan kata lain, menteri pertahanan bekerjasama dengan menteri dalam negeri untuk mengatur negara yang berada dalam kondisi darurat.
Wih, rasanya susah percaya kalau aku sudah sedewasa ini...
Rasanya dua puluh tahun hidupku selama ini terasa singkat...
Namun ada yang kurang...
Aku belum menyelesaikan pendidikan akademikku, tak ada satupun...
Jika pendidikanku dihitung kecuali akademi militer, artinya aku tidak lulus SD dan aku langsung melompat ke akademi militer...
__ADS_1
Sialan...
Tapi apakah itu penting? Bukankah dunia hanya memerlukan orang yang ahli dalam bertindak dibanding nilai dan gelar akademik?