
"Jadi, bagaimana langkah anda selanjutnya setelah membunuh satu pimpinan musuh?" perempuan di hadapanku bertanya, dan aku yang mendengarnya tersenyum tipis.
"Aku selanjutnya maju bersama teman-temanku yang kini menjadi Hunter rank S dengan prestasi mereka masing-masing, dan melihat kedua orang tuaku yang bertarung melawan banyak musuh."
"Melihatnya membuatku sempat mengira kalau mereka berdua tak mungkin bisa mengatasinya, tapi aku teringat sesuatu..."
"Hunter rank SS tak mungkin kalah semudah itu, mereka telah melalui banyak hal, berbeda denganku yang masih sedikit melewati pertarungan, sudah menjadi Hunter rank SS, bahkan aku saja sulit mempercayai medali RedWhite yang memiliki tujuh bintang di dadaku ini." aku menunjukkan medali yang tersemat di jas bagian dadaku, "Satu hal lagi, medali ini adalah milik kakekku."
"Ah, anda adalah cucu dari Hunter rank SS tertua di dunia yaitu kakek Bintang, dan anak dari Hunter rank SS yang disebut menyetarai Assassin terbaik dunia yaitu Joko Taru, ah, garis keturunan anda terlalu sulit dijelaskan..." perempuan di hadapanku menggaruk kepalaku.
Aku bisa menjelaskan, aku dulunya adalah anak dari dua Hunter rank S Indonesia, yaitu Joko Taru dan Ayu Diah, serta cucu dari Hunter rank S terkuat di dunia yaitu Bintang Langit, tapi setelah ibu pertamaku meninggal di Surabaya akibat tertimpa atap rumah ketika kehancuran, dan ayahku menikah lagi, ibuku sekarang adalah Esterosa de Esquede, Hunter rank SS dari IronBlast. Sulit dipercaya bukan, bahwa orang-orang yang ada di atasku adalah orang-orang yang amat kuat.
Bahkan aku sulit mempercayai juga kalau kakek dari kakek buyutku adalah Hunter juga, Hunter rank SS pula!
"Anda juga mematahkan rekor Yuuki Ken yang menjadi Hunter rank SS termuda di dunia, dan menjadi Hunter rank SS di usia tiga belas tahun, bagaimana anda menjelaskannya?" tanya perempuan itu, dan aku menghela napasku.
"Seingatku, aku dipromosikan menjadi Hunter rank SS setelah aku menyelesaikan Raid Kanada bersama teman-temanku serta seluruh Hunter rank SS yang ikut bertempur waktu itu..."
***
Mereka tak mungkin kalah, aku harus percaya kalau mereka kuat dan mereka tak mungkin kalah!
Dipukul seperti bagaimanapun, ditendang seperti bagaimanapun, semuanya tidak akan bisa menjatuhkan dua Hunter rank SS yang kini bertarung di hadapanku.
Ayahku melawan seekor beruang raksasa, sementara ibuku melawan semut raksasa yang kedua tangannya bergerak cepat menanggapi semua serangan ibuku.
Ayahku melompat dan menghindari serangan beruang raksasa itu, kemudian ia melompat ke tangan beruang itu dan berlari di atasnya. Ia mengangkat belatinya kemudian merobek leher beruang itu, kemudian ia melompat turun, lalu ia bergerak cepat merobek kaki beruang itu.
__ADS_1
Serangannya bisa kusebut amat cepat, aku sedikit kesulitan mengikuti gerakannya, tapi sayangnya ayahku kuat di kecepatan, kekuatan sayatannya tak terlalu besar terlihat di tubuh beruang itu.
Dua sayatan yang dilepaskan ayahku sudah disembuhkan oleh beruang itu, dan beruang itu meraung keras.
Aku menarik pedangku kemudian berlari cepat menuju beruang itu, aku akan pergi membantu ayahku dulu baru ibuku, meskipun aku merasa tak perlu melakukannya.
Ada satu alasan kenapa aku memilih membantu ayahku dulu baru ibuku, yaitu karena jangkauan belati ayahku amat pendek, dan ia pastinya akan kesulitan melawan Monster raksasa hanya dengan belati kecil itu. Salah perhitungan, maka ia yang akan mati.
Pemanas di pedangku sudah menyala dan sudah diperkuat dengan skill aktif Pedang Api, dan aku bergerak cepat menuju kaki beruang itu kemudian menebasnya hingga terjatuh.
Ayahku melirikku sekilas, tapi ia tak melakukannya lebih lama karena ia mungkin tahu kalau aku memberikan bantuan padanya. Ia langsung bergerak cepat menuju leher beruang itu kemudian menusuknya lalu memotongnya.
Luka lebar tercipta di leher beruang itu, dan luka itu mulai pulih seiring beruang itu bangkit lagi.
"Ayah, kau tahu teknik andalan ketua Frans dan kakek Vigo, kan? Kita lakukan!" aku berseru, dan ayahku mengangguk.
[3070/3075]
Aku menatap ke atas, dan ayahku melompat amat tinggi! Ia mengangkat belatinya tinggi-tinggi dan menghujamkannya ke dada beruang itu, amat tepat sasaran sehingga beruang itu berteriak keras dan jatuh ke atas salju.
Ayahku menusuk dada beruang itu dengan belatinya lagi dan melakukannya berulang kali, dan aku mengedarkan pandanganku untuk mencari ibuku, dan ia ada di dekat kami, sedang bertarung melawan semut yang berukuran setara dengan Tom Cage.
Keduanya seimbang, dan ibuku sama sekali tak kesulitan melawannya, yah, karena urusanku dengan beruang itu sudah selesai, mungkin aku harus membantu ibuku.
Aku menarik kedua pedangku dan melesat maju dengan kecepatan tinggi, kedua pemanas di kedua pedangku sudah menyala sejak tadi dan mulai mengeluarkan asap tipis.
Aku mengayunkan kedua pedangku ke kanan, dan ibuku menghindari tebasanku sambil melompat mundur, dan aku maju menahan semut itu dengan kedua pedangku.
__ADS_1
Aku mengangkat kedua pedangku lagi dan menebaskannya ke tubuh semut itu, tapi kedua tangannya bergerak cepat menanggapi semua tebasanku dan menahannya dengan sempurna.
Biar begitu, kedua pedangku sudah mencapai suhu yang cukup panas, para Monster normalnya akan kesulitan bernapas jika mereka ada di dekat sumber panas, tapi Lord kurasa tidak seperti itu.
Semut ini saja masih bertahan melawanku, dan ibuku maju kemudian menusukkan pedangnya ke dada semut itu.
Semut itu melompat mundur menghindari tusukan ibuku, dan celah terbuka di tubuhnya, aku melihatnya sebagai kesempatan untuk menyerang, dan aku langsung bergerak cepat dengan kedua pedangku yang sudah siap menusuk ke depan.
"Menusuk Langit!"
Semut itu tak bergerak menjauh, ia berbunyi sebentar, dan sepertinya ia terkejut ketika kudengar suaranya yang seperti Kiik?! itu...
Kedua pedangku tepat menusuk dada semut itu, kemudian ibuku muncul dan memotong kepala semut itu, dan last hit diambil oleh... Ibuku!
Aku tak mendapatkan EXP sama sekali dari membantu ayah dan ibuku membunuh Lord, apa-apaan ini?! Hei sistem, berikan aku EXP! Assist seharusnya dihitung!
Seharusnya, Assist ketika membantu membunuh musuh dalam game akan mendapatkan EXP, tapi di sini, aku tak mendapatkan EXP sedikitpun... Apa-apaan ini?
"Kombinasi kalian bertiga setidaknya kuperkirakan bisa melawan dua Lord langsung..." suara terdengar, dan aku langsung menoleh.
Seekor burung, tidak, lebih tepatnya manusia dengan sayap burung di punggungnya muncul, dan ia bertepuk tangan sambil mendekat, "Kalian lumayan hebat..."
"Siapa kau?" tanya ayahku, dan pemanas di belatinya menyala lagi, "Jawab."
"Aku adalah Fire Bird Lord, aku adalah sekutu Flame Emperor, aku dikirim kemari untuk membantu kalian, tapi nampaknya kalian tak membutuhkan bantuan..." burung itu menggelengkan kepalanya, "Kurasa aku sudah berpihak di sisi yang benar..."
Teman-temanku mendekat, dan kuperhatikan senjata mereka sudah diselimuti darah berwarna hitam, jadi kusimpulkan mereka sudah melawan Monster lagi setelah aku pergi membantu ayah dan ibuku.
__ADS_1
"Meskipun bukan Wadah, kalian tetap kuat..." Fire Bird Lord melirik teman-temanku, "Manusia memang menarik..."