Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
95. Keinginan seorang ayah untuk anaknya


__ADS_3

Aku memiliki trik untuk melawan ayah Rei, tetapi trik sederhana, yaitu memakai kecepatanku yang dikombinasikan dengan Pukulan Kehancuran berkali-kali untuk mencari peluang efek Burn yang bisa memberikan rasa terbakar pada lelaki itu.


Aku bergerak cepat menghindari semua pukulan ayahnya Rei dan melompat mundur, berusaha mengambil jarak sejauh-jauhnya dari lelaki itu.


Kalau bisa, aku harus mengambil ancang-ancang dari jauh untuk membuat kecepatanku semakin tinggi dan ketika sudah dekat, mungkin ia tidak memiliki kesempatan melawan balik dan saat itulah aku akan melancarkan Pukulan Kehancuran berkali-kali.


Peluang efek Burn tidaklah besar, hanya ketika aku memakai pedang sajalah efeknya amat besar, jadi aku harus memanfaatkan kekurangan yang ada untuk menciptakan kesempatan dalam pertarungan ini.


Aku membungkuk sedikit dan bergerak maju dengan kecepatan normalku ditambah Sprint, membuatku yakin kalau wajah ayahnya Rei terkejut melihatnya.


Sebagai catatan, aku tak bisa bertarung serius kalau tak memegang pedang di tanganku, tapi kecepatan ini adalah kecepatan penuhku yang tak bisa kutambahkan lagi...


Semakin dekat kakiku semakin cepat melangkah, dan aku mulai memutar gerakanku dan berputar mengelilingi ayah Rei dengan kecepatan tinggi, berusaha membingungkan lelaki itu.


"Tapi sayangnya kau tak bisa melakukan trik itu padaku!" ia berteriak keras dan memasang posisinya, tapi ia tak kunjung menyerang, membuatku yakin kalau ia tak bisa melihat kecepatanku.


Aku berhenti dan mengubah gerakan menuju ayah Rei saat ini, dan ia menyadarinya dengan cepat, tapi kecepatannya menyadari keberadaanku dan kecepatan bergerakku tak sama, lebih cepat aku melancarkan pukulanku dan mendarat sempurna di perut lelaki itu.


Sesuai rencana awal, aku melancarkan Pukulan Kehancuran berkali-kali dan dengan tiap pukulan mengandung Stamina yang besar berharap bisa memperbesar peluang efek Burn terjadi.


[Pertahanan lawan terlalu tinggi! Tak bisa menanamkan efek Burn!]


Yah, aku sudah menduganya sih sebelumnya, dan aku melompat mundur kemudian menghembuskan napasku perlahan.


Ganti rencana...


Pukulan Kehancuranku adalah pukulan pamungkasku, jika ini tak berhasil maka mau tak mau aku menerapkan Aliran Pedang Bumi menggunakan tanganku.


Kakekku sempat mengatakan kalau Aliran Pedang Bumi bisa digunakan tanpa pedang, menggunakan tangan, tetapi tentu efek serangannya tak seperti ketika aku memakai pedang, berkurang tujuh puluh persennya.


"Layak dicoba..." Zon berkata, "Aku tak pernah berpikir kalau ilmu pedang bisa digunakan tanpa pedang."

__ADS_1


Aku memasang posisiku dengan kedua tangan terbuka dan semua jari-jariku tertempel rapat satu sama lainnya, dan mengarahkan tanganku ke depan.


Jurus pertama yang akan kucoba adalah Menusuk Langit, dimana jurus ini menekankan seluruh kekuatanku pada tusukan yang cepat dan kuat.


Aku bergerak cepat ke depan dan menghadap ayah Rei dengan cepat kemudian menusukkan tanganku ke depan dengan kecepatan lebih lagi lalu mengambil jarak.


[Critical 1857!]


Wah, bisa menghasilkan serangan kritis juga? Baru tahu aku...


"Itu mungkin adalah efek dari STR mu yang sudah melewati 200 poin, jadi ada peningkatan Defense Pierce di setiap seranganmu." Zon menjelaskan, dan aku baru tahu ada efek seperti itu.


Kalau kuterjemahkan dengan pikiran sederhana, Defense Pierce kurang lebih artinya menembus pertahanan, jadi mungkin aku bisa memberikan serangan kritis terlepas dari DEF lawan yang besar.


Ayah Rei bergerak mundur dan aku bergerak lagi ke depan, melancarkan tusukan demi tusukan yang terus menghasilkan serangan kritis.


[Critical 982!]


[Critical 2005!]


Semakin lama, tusukanku menunjukkan dampaknya pada tubuh ayah Rei.


Ayah Rei meringis menahan semua seranganku, sebelum ia menghindar dan tersandung kakinya sendiri kemudian jatuh.


Aku tak menyerangnya lagi, melainkan berjalan mendekatinya dan menjulurkan tanganku, menawarkan bantuan.


"Bisa berdiri?"


Pria itu tak menjawab dan ia berdiri sendiri. Ia menepuk pundakku dan berkata, "Kurasa kau bisa dipercaya."


Aku diam, dan memikirkan maksud dari perkataan itu, bisa dipercaya? Apakah ia memiliki suatu rencana?

__ADS_1


"Kau harus tahu, tak ada orang tua yang akan membiarkan anaknya berada dalam bahaya, begitu juga denganku. Rei adalah anak yang sulit diatur, berandalan yang bodoh, dan nekat, tapi di balik itu ia memiliki sisi yang baik."


"Ia ingin hidup mandiri, tak diatur oleh siapapun, hidup bebas tanpa kekangan siapapun, selalu ingin menang apapun caranya."


"Sudah sejak lama, ia ingin menjadi Hunter untuk melawan banyak musuh dan membuat sisi berandalannya hilang, tapi sayangnya aku tidak mempercayainya."


"Dia itu lemah, nekat, bahkan ketika berkelahi melawan anak seusianya saja ia bisa menerima banyak luka di tubuhnya, membuatku ragu melepasnya ke dunia Hunter yang kejam."


"Kenapa paman bisa berkata begitu padahal paman terlihat tak berpengalaman di dunia Hunter?" untuk membuktikan pendapatku, aku harus menanyainya secara tidak langsung.


"Karena aku adalah Hunter rank S yang dekat dengan seorang legenda di masa mudaku." jawabnya, dan dengan begitu kebenarannya sudah kudapatkan.


"Dunia Hunter bukanlah soal melawan Monster, menghabisinya, dan menang, tapi lebih dari itu. Hunter adalah pasukan negara, ditugaskan ke berbagai misi sulit yang taruhannya adalah nyawa."


"Jika kau tidak kuat, maka nyawa akan melayang, kalau kau kuat, maka kaulah yang mendominasi, itulah yang dikatakan legenda itu..."


Aku terasa seperti pernah mendengarnya, dan pikiranku langsung tertuju pada empat tahun lalu ketika aku berlatih Cakar Ayam Api bersama kakekku.


"Kau lemah, kau kalah, dan kau kuat, kau menguasai." itulah yang kudengar dari kakekku ketika aku hampir menyerah mempelajari kemampuan Cakar Ayam Api.


Mendominasi dan menguasai bagiku adalah dua hal yang bermakna sama, maksudnya berada di atas semua orang dan menjadi yang tertinggi.


"Jadi, apa yang ingin paman percayakan padaku?" tanyaku, kurasa aku mulai mengerti maksud semua perkataan ayahnya Rei.


"Paman ingin kau membawa Rei ke RedWhite dan mengajarinya banyak hal tentang bertarung dan mempertahankan dirinya dari kematian." jawabnya, dan aku tersenyum.


Aku memang melihat sebuah potensi dalam diri Rei dibalik wajah berandalannya itu, ia memiliki sisi ingin melindungi yang lainnya dengan kekuatannya sendiri.


Dengan potensi itu, ia bisa berkembang lebih baik dari sekarang, dan dari jawaban ayahnya Rei, kini aku bisa membantu Rei mengeluarkan semua kemampuan yang tersembunyi di dalam dirinya dan meningkatkan semua kemampuan yang ia miliki.


Aku tersenyum dan menjulurkan tanganku, "Tenang saja paman, serahkan Rei padaku, akan kubuat dia menjadi manusia yang lebih baik dari saat ini, dan bisa membuat paman dan bibi bahagia saat melihatnya nanti."

__ADS_1


Kalau bisa sih, karena ilmu yang kumiliki dengan hal yang biasa ia latih berbeda, mungkin ia akan lebih banyak berlatih sendiri dibanding denganku.


"Kalau begitu, paman akan menunjukkan sesuatu padamu, ikut aku."


__ADS_2