
"Kakek tua, apakah selama hidupmu disana, kau selalu hidup sendirian?" tanyaku setelah pandanganku berubah menjadi gelap.
"Tidak, aku bersama banyak sekali teman, tapi mereka sudah tewas saat Perang Dunia Praktisi Pertama..." jawab Zon sambil menunduk.
Kekuatan, keberanian, tekad, tidak banyak berguna ketika berjuang melindungi orang yang dekat bagi Duvian, sakit pasti rasanya...
Aku masih terngiang kata-kata Duvian ketika gurunya tewas, yaitu ambisinya ingin melindungi orang-orang yang disayanginya, dia pasti belajar dari kesalahannya di kehidupan sebelumnya, yang gagal melindungi ibunya.
"Tapi aku gagal melindungi mereka, sekali lagi..." Zon mengepalkan tangannya, hingga kulihat tangannya diselimuti api yang amat besar, "Tapi, kehidupanku selanjutnya, aku bisa melakukannya..."
Aku melihat semuanya dengan tatapan kagum, bagi Zon, kegagalannya melindungi orang yang disayanginya menjadi motivasinya untuk berubah lebih baik lagi di kehidupan selanjutnya.
Zon terlahir di keluarga praktisi, dimana sejak kecil ia sudah hidup mewah, tapi sayangnya ia tak menginginkan semua itu, ia hanya menginginkan kehampaan.
Tentunya Zon menyembunyikan keinginan sebenarnya, ia ingin menjadi lebih kuat dengan belajar di alam bebas.
Ia kabur dari rumahnya dan berpetualang, hingga bertemu dengan seorang praktisi yang menolongnya karena kasihan, sederhananya dipungut.
"Aku amat bodoh waktu itu, aku terus melupakan keinginanku dan terus kabur, karena aku merasa kalau ia lemah dan tidak akan bisa menyetarai guru Zhao, tapi sayangnya, beliau mengubah semuanya..." Zon tersenyum pahit.
Aku bisa melihat, detail dari tiap kejadiannya hadir secara lengkap, berbeda dengan dua kehidupan sebelumnya yang singkat dan banyak dipotong, yang artinya dilupakan.
Namanya adalah Tenzhu, itulah nama guru Zon sekarang. Kalau kuperhatikan, Tenzhu tidak banyak menunjukkan kemampuannya, jadi aku sulit memperkirakan seberapa kuat Tenzhu itu sebenarnya.
Aku tertawa ketika melihat Zon yang berlutut di hadapan gurunya dan berseru akan berlatih keras menjadi praktisi agar tidak diremehkan oleh Monster.
"Lucu kan? Itulah hal lain yang membuatku ingin berlatih ilmu keabadian." ujar Zon, "Aku ingin menunjukkan tiap detailnya, tapi itu pastinya akan menghabiskan waktu..."
Zon berlatih keras dibawah bimbingan Tenzhu, bersama satu orang lagi yang memiliki rambut berwarna biru.
Aku pun mematung saat melihat satu bagian, yang membuatku teringat lagi dengan kakekku.
“Guru, untuk apa aku berlatih ilmu tangan kosong?” tanya Zon.
“Kau ahli dalam ilmu pedang, bukan? Akan ada suatu saat dimana pedangmu terlepas dari tanganmu dan tak bisa kau ambil, saat itulah ilmu tangan kosongmu akan berguna...” jawab Tenzhu.
__ADS_1
“Kalau begitu, aku juga akan berlatih ilmu tangan kosong agar jika saat nanti pedangku hancur ataupun patah, aku terlindungi oleh ilmu tangan kosong, begitu?” tanya Zon, memperdalam pengertiannya.
“Kurang lebih begitu...” Tenzhu mengacak-acak rambut Zon yang berwarna hitam pekat.
"Kata-kata yang hebat dari guruku..." ujar Zon dan ia menghela napasnya.
Keduanya berlatih keras, hingga akhirnya Tenzhu tewas di tangan musuhnya, bersama laki-laki rambut biru yang merupakan muridnya.
Zon yang melihatnya, marah besar dan ia bersumpah akan membalaskan dendam kematian gurunya.
"Hal yang terulang lagi..." ujarku, dan Zon mengangguk.
Setelah itu, Zon berpetualang dan menemukan sekte yang menjadi asal dari pembunuh gurunya, dan ia maju berniat menghancurkan sekte itu, tapi sayangnya ia kalah dan hampir dibunuh, tapi seseorang datang.
"Namanya Tianyun..." ujar Zon, dan seseorang berpakaian serba biru muncul dan menolongnya dari kematian.
Setelah itu, keduanya berteman dekat, berpetualang bersama ke berbagai tempat, dan berlatih bersama. Hingga hari dimana hubungan pertemanan mereka putus karena satu hal...
"Zon, kembali! Kita belum membicarakan kesepakatannya!" Tianyun mengejar Zon yang kabur membawa dua pedang.
Pada akhirnya, Tianyun tak mengejarnya dan memilih membawa satu pedang saja dan membuang empat pedang lainnya.
Zon berpetualang sendirian lagi, mencari orang yang bisa dijadikan lawan sepadan baginya, dan sayangnya, ia terlalu kuat, tak ada yang bisa melawannya.
"Pelatihan panjang membawaku pada satu hal besar, tentang menjadi dewa..." ujar Zon, "Aku menemukannya..."
Zon menemukan rahasia menjadi dewa, tapi sayangnya catatannya tidak lengkap karena Kera Sakti yang memberikannya tidak mau memberikan lebih banyak lagi dan memilih pergi.
Hingga akhirnya, ia pun pergi berpetualang lagi dan bertemu lagi dengan Tianyun, ketika ia sudah berusia hampir seribu tahun, diajak oleh seorang laki-laki berpakaian serba hijau untuk menghentikan perang yang sedang terjadi saat itu.
"Perang Dunia Praktisi Kedua, melibatkan banyak sekali praktisi dan mengambil banyak sekali nyawa..." ujar Zon.
Setelah itu, Zon pergi ke sebuah hutan aneh yang memiliki suatu kekuatan yang menekan dirinya dan hidup menyendiri disana, sampai ia merasakan sesuatu.
"Mana yang amat dahsyat! Melebihi kapasitas penuh Manaku!" Zon pergi ke tempat ia merasakan Mana berkekuatan dahsyat itu, dan bertemu dengan tiga orang, dua laki-laki dan satu perempuan.
__ADS_1
Tiga orang itu tak percaya kalau Zon adalah orang kuat, jadi Zon menunjukkannya dengan menembak satu pohon dan membakarnya, membuat mereka bertiga percaya dan meminta Zon menjadi guru mereka.
Dua tahun dihabiskannya untuk melatih mereka bertiga, dan setelah itu, sesuatu mendekatinya, era perang akan dimulai lagi.
Zon ditawari untuk bergabung dengan Aliran Putih, tapi ia tak mau dan memilih kabur, pergi menyendiri lagi.
Belum ada satu tahun, ia bertemu lagi dengan tiga muridnya, beserta satu orang yang dulunya pernah ia anggap sahabat, yaitu Tianyun.
Zon dan Tianyun bekerjasama untuk melatih tiga orang itu dan menjadikan mereka bertiga lebih kuat dari sebelumnya.
Hanya dalam dua tahun saja, tiga orang itu memutuskan untuk pergi berpetualang lagi dan meninggalkan dua gurunya.
"Aku tak banyak mengingatnya, tapi yang pastinya, aku akan langsung masuk ke satu kejadian besar yang mengubah kehidupan dunia itu..."
Zon melawan satu makhluk kuat dan memotong lengannya, sebelum sebuah lelang dilakukan dan ia terlibat dalam lelang itu, sebagai penjaga.
Satu muridnya, membawa obat yang mampu menumbuhkan kembali lengannya seperti semula, dan obat itu bekerja pada Zon, bahkan membuat lengannya yang sebelumnya putus tumbuh kembali lebih kuat dari sebelumnya.
Lelang yang dilakukan, berjalan mulus, sebelum sesuatu muncul.
"Langit, kita berhenti sampai sini..." Zon tiba-tiba berkata, dan ingatannya yang baru sampai di bagian dimana Zon mengamuk menghancurkan tempat lelang itu dilakukan, langsung menghilang, "Sesuatu datang, aku tidak tahu apa itu..."
Aku kebingungan, tapi aku tak sempat bertanya karena aku langsung merasakan tubuhku lagi dan Zon menghilang.
***
Aku membuka mataku perlahan, dan melihat Vina yang duduk di depanku sambil tersenyum manis, saat aku membuka mataku sepenuhnya, Vina bertanya padaku, "Apakah tidurnya nyenyak?"
"Ya..." aku meregangkan kedua tanganku ke atas, dan aku melebarkan mataku melihat suasana di kelas, "Eh?! Sudah sore?!"
"Ya, kau tidur dari jam sebelas siang, dan sekarang sudah jam lima sore..." ujar Vina, "Kami tak bisa membangunkanmu, jadi Andhika, Senja, dan Rei sudah pergi duluan bersama Carroline."
"Melakukan apa?"tanyaku.
"Berkeliling..." jawab Vina lalu memalingkan wajahnya dari pandanganku, "Untuk sekarang, bersihkan dulu mukamu, ada liur menetes di mulutmu itu..."
__ADS_1
Buat yang mau tau kelanjutan dari kehidupannya Zon sampe tewas, baca di Moving World in Strange Ways.