
"Jadi, apakah kau merubah rencana?" William melipat tangannya, "Sampai memanggil semua Hunter rank SS kemari, kau pastinya telah merubah rencana."
Ya, di ruangan pertemuan kantor utama StarSam, sudah ada Yuuki Ken, William Vunion, John Person, Jenny Anderless, Leonard Clocker, Yen Jiu, Frans Andreas, Alex Curran, dan Mir Sveta, para Hunter rank SS yang dijuluki Hunter terbaik di dunia. Serta Tom Cage yang memanggil mereka, bisa dikatakan kekuatan terbesar dunia ada di ruangan itu sekarang.
"Untung saja aku tepat datang kemari, kalau tidak mungkin aku sudah panikan di Indonesia." Frans menyandarkan punggungnya, "Jadi, perubahan rencana apa yang dimaksud William?"
"Sederhana, kita Hunter rank SS akan menghadapi Lord." Tom menjawab, "Joko dan Esterosa sudah pergi duluan ke Kanada untuk mengintai, dan mereka bertemu dengan Flame Emperor, Void Emperor, dan Sword Emperor."
"Flame Emperor menjelaskan kalau mereka kalah melawan Dragon Lord yang sudah berevolusi menjadi Dragon Emperor, dan kini mereka sedang beristirahat untuk memulihkan tenaga mereka."
"Selain itu, kalian tahu Tang Liao, kan?" tanya Tom, "Beliau masih hidup, selama ini beliau tidak tewas, melainkan hanya bersembunyi dari para Emperor yang mengejarnya setelah ia mengalahkan Ice Emperor satu lawan satu di Antartika."
Pernyataan sederhana itu membuat semua orang terkejut, dan Yen Jiu berdiri dengan cepat dan menunjuk Tom, "Jangan bohong! Kakek buyut Tang Liao sudah tewas dan itulah yang kami ketahui! Jangan mengada-ada!"
"Tang Liao yang itu, kan?" Alex mengelus dagunya, "Kabarnya dia hilang di Everest dan dinyatakan tewas oleh IHO, kan? Bagaimana ceritanya dia bisa muncul lagi di Kanada?"
"Joko mengatakan sedikit hal tentang Tang Liao, beliau sebenarnya masih hidup ketika Raid, ia kabur karena tak ingin membuat dunia dalam bahaya jika ia tetap berada di tengah-tengah manusia, jadi beliau kabur dan bermeditasi di kuil di kaki gunung Everest."
"Pokoknya tak banyak yang bisa kujelaskan, intinya kalian semua harus bertarung bersama lagi di Kanada, karena sekarang adalah saat-saat yang menentukan keberadaan ras manusia..." Tom menyalakan layar dan menampilkan beberapa foto, "Aku akan jelaskan siapa saja musuh kita kali ini..."
***
Bandara New Washington bergetar lagi dengan kehadiran Tom Cage yang berjalan bersama sembilan Hunter rank SS menuju pesawat lapis baja andalan StarSam. Ratusan Hunter dan tentara militer memberi hormat pada mereka.
Tom menanggapinya dengan mengangguk kemudian berkata dengan suara keras, "Kita akan bergerak ke Kanada! Bersiap!" Setelah itu ia naik ke pesawat, bersamaan dengan sembilan Hunter rank SS yang mengikutinya.
***
Kanada...
"Masih bisa!" aku melompat ke belakang kemudian menarik napas, "Lord satu ini sulit sekali dihabisi!"
Tembakan Vina yang kukenal amat akurat saja bisa meleset saat melawan Lord, dan aku mulai berpikir kalau aku benar-benar tak bisa melawannya.
"Kau tidak akan bisa menghabisiku!" belalang raksasa di depanku menyeringai, tak lama suara tembakan terdengar lagi, dan belalang itu melompat ke samping dan melesat maju.
Monster yang kulawan bernama Grasshooper Lord, lebih kuat dari Grasshooper Commander yang kulawan lima tahun lalu.
__ADS_1
Baru beberapa menit aku bertemu dengannya, dan selama itu aku belum mendaratkan seranganku di tubuhnya.
Gerakannya kubilang biasa saja, bahkan aku bisa mengimbanginya dengan mudah, tapi masalahnya aku bertarung di tengah-tengah lautan serangga! Banyak sekali gangguan saat aku berniat menyerang Grasshooper Lord!
Meskipun dipaksa fokus ke Grasshooper Lord, aku kesulitan melakukannya karena teman-temanku kesulitan melawan Monster serangga yang mengeroyok kami.
Ayah dan ibuku sudah hilang sejak tadi, keduanya bergerak cepat melewati kami dan meninggalkan kami di belakang, melawan Grasshooper Lord yang membawa pasukannya.
Aku memasang posisiku, dan menarik napasku, sudah cukup aku bingung saat ini, aku harus fokus pada belalang ini...
Fokus...
Fokus...
Oke, perhatianku sepenuhnya pada belalang ini.
Aku menghunuskan pedangku dan melompat ke depan, ke arah Grasshooper Lord yang berdiri tenang kemudian menebaskan pedangku.
Grasshooper Lord menahan pedangku, tapi pedangku sepertinya lebih tajam sehingga memotong kedua capitnya hingga terlepas dari tempatnya. Belalang itu melompat mundur, dan kedua capitnya muncul kembali.
Aku memejamkan mataku, dan membayangkan aku yang diselimuti api, itulah cara agar aku bisa mengaktifkan skill aktif Darah Burung Api tanpa bantuan Zon, yang sekarang tak kuketahui posisinya dimana.
[Skill aktif Darah Burung Api aktif! Meningkatkan semua status sebesar 50% dan mengabaikan segala debuff!]
Aku melesat maju dan mengangkat pedangku tinggi-tinggi, saat sudah ada di depan Grasshooper Lord yang terkejut melihat gerakanku, aku langsung menebaskan pedangku ke bawah, membelah kepala belalang itu. kemudian memenggalnya.
Belalang itu tak berkutik saat kepalanya kupenggal, dan kepalanya jatuh ke atas salju, bersamaan dengan tumpukan jendela informasi yang muncul di depanku.
[Kau membunuh Grasshooper Lord!]
[Hadiah: EXP menuju level 75]
[Level up!]
[Level up!]
[Level up!]
__ADS_1
[Level up!]
[Level up!]
[Title 'Pemburu Makhluk Buas' berevolusi menjadi 'Pembantai Iblis'! Meningkatkan semua status sebesar 100% ketika melawan Monster, Lord, dan Emperor!]
Oh ayolah, 100% adalah angka yang terlalu besar, satu tebasanku bisa menghabisi Monster dengan mudah!
Tapi kalau dipikir-pikir, aku tidak akan bisa membunuh Emperor hanya dengan statusku saat ini, jadi dengan buff yang kudapatkan dari title Pembantai Iblis, mungkin aku bisa bertahan nantinya.
Aku berbalik dan bergerak cepat, menghabisi Monster dengan menebas kepalanya hingga terlepas dari tempatnya dalam satu serangan, dan aku melakukannya dengan cepat.
[Level up!]
Aku menarik Pedang Naga Iblis kemudian bergerak lebih cepat, menebaskan pedangku lebih cepat dan satu persatu kepala serangga terlepas dari tempatnya.
Aku melakukannya dengan cepat, dan tak lama, aku berhenti bergerak kemudian melihat situasi sejenak.
Para Monster kehilangan arah mereka akibat Grasshooper Lord yang tewas, dan mereka kabur.
Semuanya terasa mudah sekali, aku melakukannya lebih cepat dari sebelumnya, dan kuperhatikan teman-temanku masih baik-baik saja, tubuh mereka tidak ada yang terluka sedikitpun.
Aku mendekati mereka dan bertanya, "Bagaimana? Apa kalian kesulitan?"
"Tidak ada, mereka tergolong mudah diatasi." jawab Carroline, "Kami bisa mengatasinya dengan bekerjasama."
Yah, sekarang mungkin mereka mengatasi para Monster dengan bekerjasama, tapi nanti ketika mereka dewasa, aku yakin mereka bisa menghabisi semua Monster tadi dengan sebelah tangan saja.
"Bagaimana denganmu? Kulihat kau menghadapi belalang yang paling besar, apakah dia sudah mati?" tanya Andhika, dan aku mengangguk.
"Ya, aku sudah menghabisinya." jawabku, dan aku menunjuk ke belakang, "Lanjut?"
"Ya! Kita sudah ketinggalan jauh dengan Mr. Joko dan Ms. Esterosa! Kita tidak bisa diam saja!" Vina mengangkat senapannya ke pundaknya, "Ayo cepat!"
Ia berlari duluan, sebelum ia terjatuh terjerembab ke atas salju dan berteriak, "Dingin!"
Aku dan yang lainnya tertawa, sesaat aku merasa tenang sedikit saat mendengar tawa teman-temanku... Yah, rasanya menenangkan sekali...
__ADS_1