
Setelah kami mengenang beberapa Hunter hebat di masa lalu di museum, selanjutnya kami diajak ke ruang pelatihan yang terpisah dari bangunan kantor utama markas RedWhite.
Katanya paman Lein, ruang pelatihan biasanya ramai di jam tujuh pagi sampai dua belas siang, kemudian akan ramai lagi jam tiga sore sampai delapan malam. Yang ada di ruang latihan adalah para Hunter yang mencoba senjata api mereka, berlatih memakai senjata api, latih tanding dengan Hunter lainnya, ataupun berlatih senapan dan pistol.
Para Hunter setidaknya menguasai dua tipe senjata, jarak jauh dan jarak dekat. Jarak jauh berupa pistol, senapan, atau granat yang dilempar, dan jarak dekat berupa senjata api berbentuk pedang, tombak, dan sebagainya.
"Aku cukup terkejut kau bisa memakai pistol meskipun kau bukan Hunter, tetapi setelah mengetahui sosok di belakangmu, aku tidak terkejut lagi..." ujar paman Lein, "Jika sudah sampai seharusnya sudah sepi, sedikit orang yang berlatih disana jam segini, mungkin kita bisa mencoba beberapa senjata jarak jauh."
Aku hanya menghela napasku mendengar kata-kata paman Lein, meskipun paman Lein mengatakan tidak heran aku bisa memakai pistol karena kakekku mengajariku cara memakainya, yang sebenarnya adalah kakekku sedikitpun tak pernah mengajariku cara memakai pistol, beliau hanya mengajariku bagian-bagian pistol beserta fungsinya, jadi aku mengoperasikan pistol berdasarkan bagian-bagiannya yang kuketahui.
Tapi yah, apa yang dikatakan paman Lein itu benar, banyak Hunter yang kulihat sejauh ini yang membawa pistol di pinggangnya selain senjata api jarak dekat yang mereka bawa.
Aku pernah melihat paman Frans membawa pistol ketika ia memimpin pasukannya memeriksa Surabaya lima tahun lalu, ketika aku pertama kali bertemu dengannya.
Para Hunter yang kulihat di jalan, di pintu gerbang istana negara, di kantor utama, dan di pintu masuk RedWhite, semuanya membawa pistol, seolah pistol bukan benda langka...
Dulu kakekku berkata, pistol adalah benda langka, karena untuk bisa menggunakannya dalam pertarungan melawan Monster diperlukan peluru yang murni terbuat dari logam Flaming yang mampu menyimpan panas yang diterima dari reaksi yang menyebabkan peluru bisa melesat. Sebab itulah, peluru yang ditembakkan bisa berwarna merah padahal aslinya berwarna hitam.
Perbedaan bahan itulah yang membuat kekuatan pistol yang diisi oleh peluru logam Flaming lebih efektif melawan Monster dibanding memakai peluru biasa yang berbahan timah.
Tetapi sekarang kenapa ada banyak Hunter yang membawa pistol? Memangnya logam Flaming amat murah sampai-sampai banyak orang yang bisa memakai pistol?
"Omong-omong, senjata api yang akan kita coba sekarang memakai peluru karet, jadi aman jika meleset." tambah paman Lein.
Kami terus berjalan hingga keluar dari kantor utama dan berjalan menuju bangunan besar yang kalau kulihat mirip seperti stadion, tapi berukuran lebih kecil.
***
__ADS_1
Stadion itu berbeda dari stadion yang kukenal, di luarnya saja yang mirip seperti stadion, dalamnya adalah ruangan luas. Ada satu ruangan yang lebih kecil yang berada di sisi lain pintu masuk.
Di tengah-tengah ruangan itu ada dua orang yang sedang berhadapan, satunya adalah seorang perempuan muda yang membawa pedang, satu lagi adalah seorang laki-laki tua yang berdiri sambil melipat tangannya ke belakang.
Perempuan itu menusukkan pedangnya ke depan, dan laki-laki tua itu menghindar sedikit. Aku mendengarnya mengatakan sesuatu.
"Gerakanmu mulai berubah, tak kaku lagi seperti dulu..." kurasa aku mendengarnya seperti itu.
Aku bisa mengetahui kalau perempuan itu sudah sering berlatih dan tusukannya sudah cepat, tapi sayangnya kecepatannya masih kalah denganku...
"Pak Vano!" paman Lein berteriak keras, dan lelaki tua itu menoleh ke arah kami berempat, begitu juga dengan perempuan yang tadi memegang pedang.
Wajah perempuan itu terlihat terkejut, ia mendekat kami bersama laki-laki tua itu, dan kami berempat maju.
Kami terpisah beberapa meter dan perempuan itu masih mendekat, dan aku mendekatinya untuk memastikan apakah ia adalah perempuan yang kukenal.
"Senja?" aku berjalan mendekatinya, "Kau masih pendek..."
Kami berdiri berhadapan, dan bisa terlihat kalau aku lebih tinggi dari Senja. Tapi yang lebih penting, dia masih mengingatku...
"Mana kakek Bintang? Apa dia bersamamu?" Senja melirik ke belakangku, "Dimana dia?"
Aku menarik napasku dan menjawab, "Maaf saja, tapi kakekku tidak ikut kali ini."
"Eh? Kemana kakek Bintang? Apa dia sakit perut?" laki-laki tua yang tadi bersama Senja bertanya, "Atau ada hal lain?"
Aku merasa paman Lein mendekat dan ia memberi hormatnya pada laki-laki tua itu, "Pak Vano, apa anda masih sehat?"
__ADS_1
"Ya menurutmu? Apa sekarang aku terlihat sakit atau baik-baik saja?" laki-laki itu memasang kedua tangannya di pinggangnya.
"Yaaa, meski terlihat sehat saja tapi saya harus memastikannya langsung..." paman Lein menggaruk kepalanya, "Jadi, apa dia adalah cucu anda?"
Laki-laki itu menyentuh kepala Senja dan menjawab, "Ya, dia adalah cucuku. Dia adalah anak yang selamat dari kehancuran Surabaya, bersama satu anak lagi..." dan pak Vano itu berpikir, "Siapa ya namanya?"
"Namanya Langit kek, rasanya aku sudah memberitahunya berkali-kali deh..." Senja memasang wajah kusut, "Masa itu saja lupa?"
Pak Vano menggaruk kepalanya dan tertawa kecil, "Yaa, maafkan kakek yang sudah tua ini..."
Sementara pak Vano itu tertawa dan menggaruk kepalanya, paman Lein mengenalkan pak Vano lebih lengkap lagi.
"Oke, kalian harus tahu kalau kakek tua di depan kita ini biasa dipanggil Ksatria Kilat, beliau bernama Vano Irawan. Beliau satu generasi dengan kakek Bintang dan Oga Haruno." paman Lein berkata, "Beri hormat kalian pada beliau..."
Dan sebelum aku, Andhika, dan Rei memberi hormat, Vano sudah mengibaskan tangannya dan berkata, "Tak usah begitu, aku yang sekarang tak perlu dihormati lagi."
"Eh? Apakah anda sudah pensiun?" tanya paman Lein kebingungan.
"Bisa dikatakan begitu, sekarang aku menghabiskan hari tuaku dengan melatih calon Hunter, setelah Vigo meninggal empat tahun lalu." jawab Vano, "Aku belum tahu kondisi Bintang sekarang."
Aku menarik napasku lagi dan berkata, "Kakek Bintang sudah meninggal."
Kurasa, kalimat singkat itu cukup membuat Vano dan Senja terkejut. Keduanya diam dalam waktu lama.
Senja menepuk pundakku dan bertanya, "Apa itu benar?"
"Ya, itu benar. Aku membawa semua peninggalannya..." aku merentangkan kedua tanganku, "Jas hitam ini punya kakekku, dua pedang yang kubawa adalah punya kakekku, dan beliau menitipkan misi yang belum ia capai padaku."
__ADS_1