Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
123. Akademi Hunter StarSam


__ADS_3

Pagi di Akademi Hunter StarSam, markas pusat StarSam, New Washington, Amerika Serikat...


Tom menatap layar ponselnya, dimana satu pesan baru saja masuk ke ponselnya.


"Dari Frans..." gumamnya, dan ia melihat pesan itu.


"Tom, Langit dan teman-temannya sudah berangkat ke Amerika kemarin pagi waktu Indonesia, mungkin dia sudah sampai hari ini."


Ia memejamkan matanya, "Meskipun kau berkata begitu, ada masalah pagi ini..."


"Masalah apa, ketua Tom?" sosok dengan pakaian serba hitam dengan belati yang tersarung di belakang pinggangnya muncul di belakang Tom, "Apa ada tugas yang harus saya lakukan?"


Tom memejamkan matanya dan ia berbalik, "Red Claws, kemampuanmu semakin baik dari hari ke hari, tetapi kau tak boleh berbicara ketika menyusup begitu..."


"Jawab saja pertanyaan saya..." ujar Red Claws, "Apa ada tugas?"


"Sederhana, hari ini kau hanya perlu mengajar seperti biasanya..." jawab Tom kemudian ia meringis sedikit, "Itu saja..."


Red Claws menurunkan kesiagaannya dan ia mendengus, "Kukira apa, ternyata hanya tugas mengajar saja..." ia kemudian keluar dari ruangan.


Tom menatap Red Claws dengan tatapan bingung, "Berhari-hari berlalu, dan sifatnya semakin berubah sejak ia menikah dengan Esterosa. Apa sifat wanita itu menular kepadanya?"


Ia mengeluarkan ponselnya lagi, "Dan Langit, Senja, Vina, Andhika, dan Rei akan kuletakkan di kelas 1-A..."


***


"Semuanya, kalian mendapat kelas 1-A, dimana kelas itu berisi banyak anak muda berpengalaman, yang lebih baik dari kalian." ujar Donnie lewat telepon.


Kami kini ada di satu ruangan, yaitu kamarku, Andhika, dan Rei yang berbeda dengan kamar Senja dan Vina. Ya, kami dipisah, katanya sih biar tidak menimbulkan hal yang tidak diinginkan.


Omong-omong, aku tidak akan pernah melupakan Hunter yang membantu kami mendapatkan kamar di asrama akademi, ia mengenalkan dirinya sebagai Leonard Clocker.


Menurut berita seminggu lalu, Leonard Clocker terlibat dalam pertarungan ke California, ia seorang diri melawan puluhan Monster yang berbentuk seperti laba-laba. Dan tadi pagi, aku melihatnya langsung...


Dia diperintahkan langsung oleh Tom untuk mengantar kami ke kamar, dan setelah itu dia menghilang.


"Jadi?" Andhika menaikkan alisnya, "Kemana kita harus pergi? Apa saja yang harus kita bawa?"


"Sedikit saja yang kalian bawa, hanya buku tulis dan pulpen, selebihnya akan kucarikan di perpustakaan, seperti buku pelajaran dan lainnya." ujar Donnie, "Itu saja, kalian harus melatih kemampuan bahasa Inggris kalian disini, aku akan pergi membeli roti, sampai jumpa!" ia kemudian menutup panggilannya.


Aku memasukkan ponselku ke kantong jasku kemudian menghela napas, begitu juga dengan yang lainnya.

__ADS_1


"Berbicara bahasa Inggris? Serahkan saja padaku!" Vina berteriak kemudian mengangkat tangannya, "Ayo, kita pergi ke kelas 1-A!"


***


"Where is class 1-A?" tanyaku pada laki-laki yang setara tingginya denganku. (Dimana kelas 1-A?)


Sementara aku mencari jalan, empat orang temanku sudah diam tanpa suara di belakangku, menunggu jawaban laki-laki itu.


"Ah, you are from Indonesia?" dia melirik medali yang tersemat di jas bagian dada kiriku, "And, you from RedWhite?" (Ah, kalian dari Indonesia? Dan kalian dari RedWhite?)


"Yes, you can say like that..." jawabku dengan terbata, semua kata yang kusebutkan itu, semuanya hanya asal-asalan... (Ya, kau bisa katakan seperti itu...)


"Okay, i will guide you to class 1-A..." ia berjalan duluan, "Follow me..." (Oke, aku akan menuntun kalian menuju kelas 1-A... ikuti aku...)


Kami berlima berjalan mengikuti laki-laki itu menuju tempat yang kami tuju, dan ternyata, kelas yang kami tuju hanya beberapa meter dari posisi kami tadi bertanya, bahkan lima menit pun tidak ada berjalan kami sudah sampai di tujuan.


"Okay, here is class 1-A..." laki-laki itu menunjuk sebuah papan di atas pintu, "If you..."


Bla bla bla bla bla, aku tidak paham...


"Are you understand?" tanya laki-laki itu.


Kami serempak menjawab, "Yes, i am understand."


"Apanya serahkan padamu? Mengatakan good morning saja tidak bisa..." kesal sekali rasanya aku, sampai ingin membelah kepala Vina dengan pukulanku.


"Yaaa maaf, aku tadi gugup..." Vina menggaruk kepalanya, sementara Senja sudah menarikku menjauh dari Vina. Andhika dan Rei sudah masuk lebih dulu, sepertinya...


Ketika kami masuk, suasana yang sama seperti kelas di sekolah kami dulunya menyambut kami, membuatku sedikit teringat masa laluku di sekolah.


Kulihat di kelas tak terlalu banyak muridnya, dan ada beberapa kursi yang kosong di belakang, jadi kami berjalan ke belakang dan duduk berjejer di belakang. Dari dekat jendela yaitu aku, di kananku adalah Andhika, Senja, Vina, terakhir adalah Rei.


Jam di kelas masih menunjukkan jam tujuh lebih sepuluh pagi, dan aku meletakkan buku serta pulpenku di atas meja, siap dengan pelajaran yang akan dimulai jam tujuh lebih lima belas menit.


"Status."


[Nama: Langit Satria


Level: 46


Usia: 12 tahun

__ADS_1


Jenis kelamin: Laki-laki


Pekerjaan: Flame Emperor


Title: Pejuang Sejati, 3+


HP: 1575/1575


STR: 255


INT: 80


VIT: 63


DEX: 62 (+250)


DEF: 66 (+100)


LUCK: 20


Stamina: 235/235


Bonus poin: 12


Skill pasif: (Raja Api: Lv. 5) (Pria Api Kejam: Lv. 2)


Skill aktif: (Sprint: Lv. max) (Pedang Api: Lv. max) (Pukulan Kehancuran: Lv. 2) (Darah Burung Api: Lv. 3) (Semburan Api: Lv. 1) (Seruan amarah: Lv. 1) (Tarian Kaisar Api: Lv. 5) (Lv. 50)


Equip: White Shirt (B) Black Scale Coat (S) Black Long Pants (B)]


"Disini kurasa tidak akan banyak meningkatkan kemampuanku..." aku menjatuhkan kepalaku ke atas meja, merasa kalau kemampuanku bertarung akan menumpul tak lama lagi...


Lima menit kemudian, kurasa...


Suara pintu terbuka terdengar dan aku mengangkat kepalaku untuk melihat orang yang akan menjadi pengajarku sekarang.


Pintu terbuka dan seorang laki-laki dengan rambut memutih sedikit serta memakai pakaian serba hitam, dengan sesuatu di belakang pinggangnya, lalu membawa buku dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya memegang ponsel yang menempel di telinganya. Wajahnya...


"Hmm, Langit, bukankah wajahmu dan wajah guru kita hari ini sama?" kudengar orang bertanya, tapi aku tak ingin menjawabnya, karena perhatianku sudah terfokus pada orang yang kini berdiri di depan kelas.


"Yo guys, good morning everyone!" orang itu mengangkat tangan kanannya yang masih memegang ponsel, "How are you today? Are you ready for study?!"

__ADS_1


Dia... Berbeda dari yang kukenal... Yang kukenal memiliki sifat yang sedikit pendiam, bukan ceria begini...


"Ready, Mr. Joko!" semua orang serempak menjawab, kecuali aku...


__ADS_2