
Bintang turun dan menghampiri Frans yang sedang berbincang dengan Vigo kemudian bertanya, "Apakah sudah siap?"
Frans menoleh dan tersenyum, "Ah, kalian sudah datang, ya..."
"Kalian?" Bintang menaikkan alisnya, "Siapa lagi?" Ia kemudian menoleh ke belakang dan melihat Joko sedang berjalan santai.
"Apakah kakek ada mengajaknya? Bukankah kita berencana menutupi kematiannya?" Frans menaikkan alisnya, "Kenapa si bodoh itu ikut?"
"Aku ingin ikut, tak ada kerjaan aku diam di kamar yang tak punya sesuatu yang bisa kulempar-lempar..." Joko melipat tangannya, "Jadi, bolehkah aku ikut?"
"Ya sudah..." Frans menghela napasnya, "Ikut kami..."
***
Keempatnya berjalan santai melewati jalanan markas StarSam yang ramai oleh orang-orang yang sibuk berkeliling, entah itu berpatroli ataupun karena pekerjaan.
Tak sedikit yang menyapa keempatnya karena wajah mereka cukup dikenal orang-orang, kecuali Joko Taru karena dia jarang muncul dan kabar terakhirnya adalah ia tewas dalam serangan ke kota tempat tinggalnya.
"Sial, kenapa tak ada yang menyapaku? Kan aku ini orang terkenal..." Joko memanyunkan bibirnya, memasang wajah kesal karena perlakuan yang ia terima, "Kenapa mereka hanya menyapa kalian saja?"
"Itu karena kau sudah dinyatakan tewas enam bulan lalu..." Frans melipat tangannya, "Jadi, mereka hanya menyapa orang yang masih hidup saja..."
"Heh, apa maksudmu? Aku sudah mati, begitu? Yang ada disini itu siapa, heh?" Joko melirik Frans tajam.
"Arwahnya saja..." Vigo menghela napas, "Lagipula, sebuah keajaiban kau bisa lolos dari bencana itu, dan tak diketahui oleh pasukan RedWhite yang menggeledah Surabaya waktu itu..."
Mereka terus berjalan hingga akhirnya, mereka sampai di sebuah gedung tinggi yang memiliki papan bertuliskan "StarSam".
"Besarnya..." Joko menengadahkan kepalanya, "Tak bisa kupercaya kalau aku akan berdiri di hadapan markas organisasi Hunter terkuat di seluruh dunia!"
Joko tertawa dan melompat-lompat kegirangan, membuat Bintang, Frans, dan Vigo menutup mata karena tingkah memalukan Assassin andalan Indonesia di masa lalu itu.
__ADS_1
***
Keempatnya dibawa ke sebuah ruangan besar oleh seorang Hunter rank A.
Suasana markas sedikit ramai, dan semakin mendekat ruangan besar yang dimaksud, semakin sepi koridornya.
"Kutebak Tom cukup disegani di Amerika..." Vigo tersenyum lebar melihat itu semua.
"Ketua Tom sudah menunggu kalian di ruangan ini..." Ujar Hunter itu kemudian memberi hormatnya dan pergi meninggalkan mereka.
Frans menggaruk kepalanya dan membuka pintu, dibalik pintu itu ada sebuah meja besar yang dikelilingi oleh banyak sekali kursi, yang beberapanya sudah diduduki oleh beberapa orang dengan wajah, yah, mengerikan...
Ada si Tom Cage yang sedang mengetik sesuatu di ponselnya, Esterosa yang sedari tadi memasang wajah menyebalkan, Oga yang memasang wajah ramah, pria dengan pakaian serba hitam sedang duduk dengan kedua kakinya diletakkan di atas meja dan tangan terlipat di depan dada, dan beberapa orang lainnya yang pastinya bukan orang sembarangan.
"Terlambat..." Esterosa berkata, "Apa ini adalah sikap yang pantas diperlihatkan oleh organisasi Hunter terkuat di Indonesia?"
"Cih, nih wanita memang suka memancing perkelahian, ya? Sedari tadi buat kesal saja..." Joko berdecak, membuatnya gatal ingin menarik belatinya dan merobek leher perempuan itu.
Tapi ia harus sadar kalau di sisi perempuan itu ada salah satu Assassin terbaik di seluruh dunia, Hunter yang dijuluki Black Shadow, yaitu Alex Curran.
"Abaikan saja dia, wanita memang sulit diatur..." Ujar Alex dan ia menunjuk kursi di sebelahnya, "Duduk saja dan ikuti pertemuannya..."
Ah, hati Joko terasa membaik karena kata-kata Alex saat ini setelah dipancing emosinya oleh Esterosa.
"Silahkan duduk..." Tom memasukkan ponselnya dan meletakkan kedua tangannya di atas meja, "Ada lebih dari satu hal penting yang ingin kubahas kali ini..."
Frans dan Vigo duduk di sebelah Alex, sementara Bintang dan Joko duduk di sebelah Oga.
"Kabar?" Oga menyikut perut Bintang, "Sakit atau sehat?"
"Biasa saja, aku bahkan masih bisa solo mengalahkan Monster rank S..." Bintang mendengus, "Jangan remehkan fisik seorang Hunter, kawan..."
__ADS_1
Oga tertawa dan ia menepuk pundak Bintang cukup keras, "Kau benar kawan, Hunter tua seperti kita tak boleh diremehkan begitu saja!"
Keduanya tertawa bersama dan Tom Cage hanya menggelengkan kepalanya.
Sementara itu...
"Aku duduk diantara para Hunter kuat dari seluruh dunia! Apa-apaan situasi ini?!" Joko bergetar saat melihat orang-orang kuat yang sedang duduk di satu meja yang sama dengannya.
Baginya, meskipun ayahnya dan Frans masih di rank S, keduanya dihitung telah melakukan kontribusi besar pada kebebasan umat manusia, jadi mereka hampir seperti Hunter rank SS lainnya.
"Kali ini kita akan membicarakan tentang rencana Raid kali ini..." Tom menaikkan ponselnya, "Yen Jiu telah mengirimkan pasukannya ke Hawaii sekali lagi, dan Mir Sveta membawa pasukan FreedomLight ke Kanada."
Wajah Bintang berubah menjadi serius saat mendengarnya, "Gate kembali muncul di Kanada dan Hawaii?"
"Ya, penduduk sekitar Kanada dan kepulauan Hawaii telah melaporkan hal itu dua hari lalu, jadi aku meminta bantuan pada BraveWarrior, FreedomLight, dan PeaceMaker..." Tom meletakkan ponselnya dan menekan-nekan sesuatu di atas meja, dan sebuah layar tercipta di atas meja, "Dan ini adalah peta persebaran pasukan."
PeaceMaker adalah organisasi Hunter yang berasal dari Afrika, dan merupakan gabungan dari seluruh Hunter di benua hitam itu. Ketuanya saat ini dulunya adalah bagian dari StarSam, dan Tom mengirimnya ke Afrika untuk membantu benua itu.
"John Person membagi pasukan PeaceMaker menjadi tiga, yang pertama bergerak di wilayah Samudra Pasifik sambil mengawasi Hawaii dari kejauhan, yang kedua berjaga di dekat Kanada dan Islandia, yang ketiga berjaga di benua sendiri." Tom menjelaskan, ia kemudian menggeser layar lagi.
"Masalahnya, kemunculan Gate di Kanada dan Hawaii benar-benar diluar perkiraan kita semua, jadi John, aku, Yun, dan Mir membuat rencana ini dengan tergesa-gesa." Tom memejamkan matanya, "Kali ini skala Raidnya sudah mencapai skala dunia, satu dua organisasi Hunter tak bisa menanganinya sendiri, perlu bantuan dari banyak pihak."
Semuanya diam, kecuali Oga yang terlihat tenang saja. Melihat semuanya terlihat tegang, Oga terkekeh dan ia berdiri, "Kenapa kalian tegang?"
"Aku tidak tegang!" Joko berdiri, "Aku-!"
"Jaga sikapmu, anak muda sialan!" Bintang menarik jas panjang Joko dan menyuruhnya duduk, "Jawab dengan sopan!"
"Kurasa, kata-kata Oga Ojisan itu benar, kita semua tegang." Alex berkata dan ia menurunkan kakinya, "Sekarang, kita harus memeriksa Kanada sekali lagi." (Ojisan: Jepang: Kakek, Source: PGR)
Tatapan Alex jatuh pada Joko yang sedang duduk dengan wajah terpaksa, "Kau Red Claws, bukan? Aku meminta bantuanmu sebagai sesama Assassin..."
__ADS_1
"Apa?" Joko menaikkan alisnya, "Apa kau mengajakku pergi ke Kanada?"
"Tepat sekali, kita harus melihat situasi Kanada sekarang. Aku yakin pasti ada perubahan situasi disana..."