
"Saya baru saja menerima kabar dari Alvian, bahwa markas pusat RedWhite kini diserang." Ardika berkata pada pak Oka, "Saya harap anda tetap disini."
"Disini akan berbahaya, karena posisi istana negara yang dekat dengan markas, kurasa kita harus berpindah ke bunker bawah tanah." ujar pak Oka, "Kurasa militer juga harus dikerahkan untuk mengatasi masalah itu."
"Monster yang pak Frans lawan sekarang tak bisa dilawan dengan militer, dengan senjata berat apapun tidak akan bisa membunuhnya..." Ardika memasang wajah serius, ia telah mendengar kabar dari Alvian bahwa separuh anggota organisasi RedWhite telah diratakan oleh Monster itu dan ia menyadari tingkat berbahaya Monster itu.
"Pada tingkat apa Monster itu sebenarnya?" tanya pak Oka kemudian ia membereskan meja kerjanya.
"Menurut laporan Alvian yang juga telah ditambahkan dengan perintah dari Frans untuk melindungi pak presiden, Monster itu telah meratakan separuh anggota organisasi RedWhite, bahkan seorang Hunter rank S yaitu Budi saja tak berani melawannya sendirian, yang artinya Monster itu hanya bisa diatasi oleh para Hunter rank SS saja. Dengan kata lain, tingkat berbahaya Monster itu adalah Disaster." jawab Ardika.
Pak Oka berbalik dan ia menatap Ardika, "Berapa persen kemungkinan Indonesia akan selamat?"
Pak Oka juga mempelajari sedikit tentang dunia Hunter, dan ia tahu seberapa berbahaya tingkat Disaster itu bagi keberlangsungan hidup umat manusia.
"Jika dihitung dengan keberadaan wakil ketua Langit serta teman-temannya digabung dengan ketua Frans dan seluruh Hunter rank S yang ada, mungkin Monster itu akan kabur dengan persentase sekitar 5%..." Ardika memasang wajah kesal.
Ia sudah memperkirakannya tadi berdasarkan pengalaman StarSam saat melawan empat Monster tingkat Disaster dengan empat Hunter rank SS, 5% adalah perkiraan paling tinggi yang bisa ia katakan...
"Tanpa wakil ketua Langit, kurasa kemungkinannya turun drastis, hingga 1%." Ardika menunduk.
Persentase ini adalah persentase tertinggi, paling rendah adalah 0%, dimana RedWhite akan menjadi organisasi Hunter kedua yang hancur setelah BraveWarrior.
"Kita harus percaya pada RedWhite, mereka adalah organisasi Hunter yang kuat, mereka pasti bisa..." pak Oka membawa kopernya dan berjalan, "Ayo, kita harus mengamankan diri dulu."
Ardika mengangguk dan berjalan mengikuti pak Oka menuju bunker.
***
Kecepatan yang gila, yang bahkan Budi yang ada di dekat sana kesulitan melihatnya...
Tyrant Emperor berbalik dan mengayunkan tangannya yang tajam seperti pedang, menebas Rei yang ada di belakangnya dengan kecepatan yang amat tinggi.
__ADS_1
Rei terkejut, tapi ia berhasil melompat mundur dan menghindari tebasan Tyrant Emperor.
Ia sudah terbiasa dengan kecepatan Langit saat bertarung, kecepatan Langit setidaknya hampir mengimbangi kecepatan gerakan Tyrant Emperor itu, jadi Rei mampu menghindari sedikit.
Goresan tipis tercipta di kemejanya, dan Rei berdecak kesal. Biar berhasil menghindarinya, tetap saja ada goresan di kemejanya.
"Aku belum mampu mengendalikannya..." gumamnya, dan Tyrant Emperor melirik Rei tajam.
"Bagaimana mungkin percikan sepertimu bisa bertahan menghadapiku?" tanya Tyrant Emperor sambil mendekati Rei perlahan.
Vina dan Jessica sedikit panik melihat Rei yang hampir saja tewas di tangan Tyrant Emperor, keduanya langsung mengangkat senapan mereka kemudian melancarkan tembakan, yang mengarah langsung ke kepala Tyrant Emperor.
Tyrant Emperor melirik dua peluru yang mendekatinya, ia memundurkan kepalanya dan dua peluru itu melewati depan hidungnya dengan mulus.
Andhika mengangkat pedangnya dan langsung bergerak cepat menuju Tyrant Emperor, menusukkan pedangnya ke tubuh Tyrant Emperor.
Tyrant Emperor melirik Andhika, dan disaat yang bersamaan, Andhika langsung menjatuhkan pedangnya dan berlutut di hadapan Tyrant Emperor.
Entah apa yang terjadi, semua Hunter yang ada di tempat pertarungan langsung jatuh berlutut, semuanya menghadap ke Tyrant Emperor.
Hanya ada dua Hunter saja yang tidak jatuh terduduk, yaitu Rei dan Frans. Keduanya berdiri dengan kesulitan, karena besarnya intimidasi di tempat itu.
"Meskipun kau hanya percikan, dan kau juga hanya manusia biasa, kalian amat hebat bisa menahan intimidasiku, yang bahkan Lord sekelas Fire Bird Lord saja akan kesulitan berdiri..." Tyrant Emperor mendekati Rei, "Dan juga, kenapa kau tidak mengatakan kebenarannya pada teman-temanmu?"
Rei diam, kedua tangannya terkepal kuat dan kedua sarung tangan besinya menyala terang, tatapannya amat tajam.
"Kenapa... Kau bisa tahu itu?" Rei menatap Tyrant Emperor tajam, "Hanya aku saja yang tahu hal itu..."
"Dari pancaran kekuatanmu, juga kekuatan pukulanmu yang hampir setara dengan kekuatan pukulan Wrath Lord..." ujar Tyrant Emperor dan ia menyeringai lebar, "Kau jelas berbeda dari manusia di sekitar sini..."
"Masih banyak yang ingin kukatakan, tapi..." ia melirik ke segala arah, "Nampaknya teman-temanmu telah bangkit sepenuhnya..."
__ADS_1
Andhika berdiri dengan bantuan Keris Raja Singa yang tertancap di tanah, sementara Vina sudah mengarahkan senapannya ke arah Tyrant Emperor. Senja sudah berdiri tegak dengan pedangnya yang sudah menyala terang.
"Bagaimana mungkin... Manusia seperti kalian bisa bertahan di tengah-tengah intimidasiku?" Tyrant Emperor melirik yang lainnya dengan tidak percaya.
"Hanya latihan keras..." Andhika menyeka keringatnya, Senja dan Vina mengangguk.
Latihan panjang dengan Langit mengajarkan pada mereka bahwa mereka masih lemah di hadapannya, jadi mereka berlatih keras, melakukan semua yang mereka bisa hingga melampaui batasan masing-masing.
Satu lawan satu dengan Langit juga telah memberikan pengalaman pada Andhika, Senja, dan Rei dalam melawan musuh yang kuat, terlebih mereka juga sering pergi ke luar negeri untuk mengikuti berbagai Raid, sehingga pengalaman serta insting mereka juga meningkat drastis.
Dari yang awalnya Hunter rank C menjadi Hunter rank S terbaik RedWhite, jelas membutuhkan waktu lama, tidak seperti Langit yang bahkan sebelum bergabung dengan RedWhite sudah memiliki kekuatan yang amat besar.
"Maju!" Andhika berseru, di saat yang bersamaan Senja langsung memisahkan diri dengan Vina, sementara Vina berseru pada kakaknya.
"Kak Jess, ikuti aku! Kita harus mencari tempat yang lebih aman lagi untuk membantu mereka!" seru Vina sambil membawa senapannya.
Jessica mengangguk dan keduanya langsung bergerak menjauh.
Tyrant Emperor melirik keduanya sebagai ancaman, ia mengganti targetnya dari yang awalnya adalah Rei menjadi Celia bersaudara.
Ia bergerak cepat menuju Celia bersaudara, tapi Senja muncul dan menebaskan pedangnya, menghalau gerakan Tyrant Emperor.
Alvin yang dari kejauhan melihat pertarungan telah dimulai lagi, langsung mengangkat senapannya kemudian bergerak celah menuju Tyrant Emperor dan melancarkan rentetan tembakan.
Gravitasi di tempat itu kembali normal, dan Frans mengangkat tombaknya dan bergerak cepat menuju Tyrant Emperor yang sedang ditahan oleh Senja.
Senja beradu pedang dengan Tyrant Emperor, dan ia mulai kesulitan menahan semua tebasan cepat yang dilancarkan Tyrant Emperor, dan satu tebasan mendarat di tubuhnya, menggores armor yang ia pakai.
Ia melompat mundur, kemudian Andhika muncul kemudian menusukkan pedangnya, Tyrant Emperor menghindari tusukan itu kemudian mengangkat tangannya yang berbentuk pedang, "Boleh juga, kalian bukan lagi sekedar manusia biasa!"
Frans muncul dari belakang Tyrant Emperor kemudian mengayunkan tombaknya sambil berseru, "Kami bukan sekedar manusia biasa! Kami adalah Hunter!"
__ADS_1