Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace

Cold Blooded Hunter: Seeker Of Peace
295. Yang selanjutnya terjadi


__ADS_3

"Aku sudah memperingatimu agar pergi, namun nampaknya selain Yao, kau adalah salah satu yang benar-benar ingin menyingkirkanku, begitu?" aku menatap Guerrero yang mengarahkan pistolnya ke dadaku, "Kalau kau menarik pelatuknya, maka tubuhmu akan terpotong menjadi dua."


"Membunuhku atau bunuh diri?"


"Lalu apa pentingnya? Kau sudah tidak diperlukan, dan nampaknya kau juga tidak terlihat seperti manusia lagi..." jawab Guerrero, "Tugasku sebagai Hunter adalah menyingkirkan Monster, sementara tugasku sebagai anggota militer adalah menyingkirkan orang-orang yang berpotensi mengancam dunia, jadi aku hanya melaksanakan tugasku."


Suara pistol terangkat terdengar, dan kudengar kata-kata...


"Kudengar kalau kau membuat kontrak dengan Monster untuk mendapatkan kekuatan besar itu, jadi kami menyimpulkan bahwa kau kemungkinan membawa kehancuran bagi kami alih-alih kedamaian seperti yang biasa kau katakan."


"Oh, jadi jasaku selama ini tak berharga bagi kalian, ya?" aku menurunkan pedangku, namun Miguel masih mengarahkan pistolnya dan kini mengarah ke kepalaku.


"Meskipun kau adalah Hunter rank SSS, kau tetaplah pengkhianat!"


"Sekali pengkhianat maka tetap pengkhianat selamanya!"


DOR!


Aku mengangkat pedangku, kemudian melompat mundur, sesaat kemudian aku mengangkat pedangku dan aku berseru, "Membelah Samudra!"


...


...


...


Beberapa tentara tewas akibat tebasan dahsyatku, dan satu orang yang mengeroyokku yang bernama Shalem terbelah oleh tebasanku.


Aku melayang naik kemudian aku berkata dengan tegas, "Aku peringati sekali lagi, mundur dan jangan pernah kembali. Yang tetap ingin membunuhku, tetap disini dan lakukan usaha kalian. Yang tidak ingin, kembali ke rumah masing-masing."


Suara bisik-bisik terdengar, sebelum beberapa orang membawa tubuh yang sudah tak bernyawa pergi dari tepi pantai, sementara beberapa lagi masuk ke kapal kemudian pergi.


Aku melayang turun kemudian mendarat mulus di atas pasir, menatap kepergian kapal-kapal perang itu menjauh dari Indonesia.


Apakah yang kulakukan sudah tepat?


Kurasa aku harus melakukan beberapa hal lagi...


***

__ADS_1


Tak ada kabar penyerangan di pagi harinya, semua yang terjadi tadi malam terasa tidak pernah terjadi sebelumnya, amat senyap...


Namun yang pasti, militer dunia menjadi waspada pada Indonesia dan mereka tidak akan macam-macam lagi setelah aku melakukan sesuatu semalam itu.


"Apa kau yakin semua ini adalah yang terbaik?" Andhika bertanya sambil mengaduk kopinya, "Menghabisi jenderal besar Spanyol dan India, itu sama sama seperti mendeklarasikan perang."


"Maka dari itu, aku ingin agar kau menyarankan pada dunia agar konferensi militer internasional dilakukan lagi. Aku ingin membahas sesuatu disana." jawabku.


Hanya konferensi militer internasional yang kurasa bisa kugunakan sebagai tempat untuk menjelaskan semua yang sudah terjadi.


Dan aku berencana menjelaskan tentang alasan dibalik Hunter rank SSS yang orang-orang anggap sebagai manusia terkuat selama ini...


"Omong-omong, apa kau sudah tahu?" tanya Andhika lagi.


"Tahu apa?" tanyaku sambil menaikkan alisku.


"Fakta kalau Rei masih hidup."


"Oh itu..." aku meminum kopiku kemudian meletakkan cangkir, "Tentu saja iya. Api yang kutinggalkan di tubuhnya tak pernah mati, itu artinya Rei masih hidup."


"Lalu apa langkah yang akan kau lakukan selanjutnya?"


***


Tahun 2335 adalah tahun yang istimewa selain tahun 2330 yang dianggap sebagai tahun akhir invasi Monster ke bumi.


Konferensi militer internasional kabarnya akan diadakan lagi di tahun itu, namun kali ini yang menjadi tuan rumahnya adalah Indonesia, negara pemilik kekuatan militer terbesar saat ini.


Topik yang akan dibicarakan mengenai masalah Amerika dan beberapa negara besar yang hancur dua tahun lalu itu.


Jenderal Andhika menjelaskan bahwa ia menyarankan seperti itu agar proses pembangunan dunia lebih tertata dan tak ada konflik antar negara akibat putusan konferensi sebelumnya yang masih abu-abu dan terlihat berpihak pada satu pihak saja.


PBB menyetujuinya, sekaligus juga sebagai bentuk keseriusan PBB terhadap masalah yang dihadapi dunia saat ini.


Akibat dari perang dunia ketiga memang tidak sebanyak kerugian perang dunia kedua, namun dampak yang dibawa di masa kini adalah dampak yang ditumpuk dari tiga ratus tahun lalu, jadi bisa dikatakan kalau krisis sekarang disebabkan oleh tumpukan masalah dari masa lalu yang belum diselesaikan.


"Ya, kami sudah sepakat bahwa konferensi militer internasional akan diadakan di Indonesia, tepatnya di Bali." Antonio Vassano berkata.


Antonio Vassano adalah ketua PBB saat ini, dan ia berasal dari Prancis, negara yang sama dengan negara asal Hunter rank SS Esterosa de Esquede.

__ADS_1


"Ya, banyak yang akan kami bahas disana, namun tentunya masih dalam jangkauan militer."


Aku mematikan televisi kemudian menyandarkan punggungku, meski masih muda dan berusia tujuh belas tahun, aku merasa seperti kakekku, rapuh dan mudah lelah...


Ahahaha...


Pluk...


Vina meletakkan kepalanya di atas pahaku kemudian ia menatapku, "Bagaimana?"


"Bagaimana apanya? Aku masih merasa terancam meski aku yang mengeluarkan ancaman itu..."


Ancaman apa? Tentu saja peringatanku pada tiga jenderal yang masih hidup setelah mereka mengeroyokku dua hari lalu.


Aku merasa terancam karena kapanpun Indonesia bisa diserang lagi seperti kemarin, apalagi masalah tidak hanya dari luar Indonesia, tetapi juga dari dalam Indonesia, benar-benar membuat kepala TNI pusing tujuh keliling.


"Lalu sekarang bagaimana?"


"Apa yang harus dilakukan? Tidur mungkin jawabannya..." aku menghela napasku, sebelum aku merasa pahaku semakin berat.


Vina duduk di pahaku kemudian ia menepuk kedua pundakku, "Kau kembali ke militer, itu artinya kau memutuskan akan kembali mengurus berbagai hal-hal rumit seperti sebelumnya."


"Jika masalah seperti ini saja membuatmu kebingungan, lebih baik mundur lagi dari militer dan tidur seperti yang kau katakan."


Aku memejamkan mataku, mungkin yang dikatakan Vina benar. Tidak seharusnya aku kebingungan menghadapi masalah yang saat ini aku hadapi...


Aku yang dulu mudah memutuskan sesuatu bahkan saat permasalahannya baru muncul, lalu aku yang sekarang? Masalah muncul saja aku langsung menyerah...


"Dan juga, sebelumnya kau mengatakan kalau Rei masih hidup, kan? Kenapa kau tidak mencoba menemuinya?" tanya Vina lagi.


Aku membuka mataku pelan dan tersenyum tipis, "Ah, kau benar..."


Tangan Vina bergerak dan melingkari leherku, "Jadi?"


"Pergi bersamaku ke kota 6, mau?"


"Ayo, ke kamar dan berduaan saja akan kuikuti."


"Itu pengecualian."

__ADS_1


Untuk kesekian kalinya, aku iri dengan karakter ciptaanku... :(


__ADS_2