
PLUK!
Kepala Dragon Emperor dengan matanya terbuka lebar jatuh ke atas pasir, aku menendang tubuh Dragon Emperor tanpa kepala kemudian melirik Tyrant Emperor dan Ice Emperor yang berdiri jauh dariku dan Dragon Emperor.
Keduanya menjauh dariku, dan aku melihat keduanya menatapku dengan tatapan tidak percaya.
Yah, mungkin sulit mereka percaya, hanya dalam dua bulan saja aku bisa menghabisi seekor Emperor, jelas mereka terkejut...
Menghadapi tiga Emperor lemah hanyalah hal mudah bagiku...
Aku berjalan mendekati keduanya, Tyrant Emperor terlihat mengangkat pedangnya dan ia melesat ke arahku.
Oke, mungkin aku terlihat sombong, tapi aku sebenarnya bisa menghabisi ketiganya hanya dalam beberapa kali tebasan. Kenapa? Karena kekuatanku lebih besar dibanding kekuatan ketiganya digabung sekalipun...
Sayangnya aku harus menyimpan Energi Gaibku untuk melawan musuh terakhir, yaitu Death Emperor yang mungkin menungguku di dunia lain dengan pasukannya.
Aura dingin kembali muncul, dan Ice Emperor melepaskan duri-duri tajam dari dalam pasir yang semuanya bergerak ke arahku.
Aku mengangkat kedua pedangku dan menebas duri-duri tajam itu, kemudian tak lama Tyrant Emperor mendekat dan pedangnya terangkat.
"Mati!" serunya dan pedangnya bergerak dari atas ke bawah, berniat menebasku, tapi aku bisa melihatnya.
Aku menepis pedangnya kemudian menusuk dadanya dengan Black Flame Soul Katana. Setelah itu, tangan kananku yang memegang Pedang Api Hitam bergerak ke lehernya kemudian memotong kepalanya dengan mudah.
Kepala kurus Tyrant Emperor jatuh ke atas pasir dan aku menendang tubuhnya yang tanpa kepala kemudian melirik Ice Emperor.
Saat ini aku berpikir, apakah mungkin pertarungan saat ini sebenarnya dibuat untuk menyelesaikan pertarungan Ice Emperor dan Flame Emperor yang sebelumnya batal karena Ice Emperor membawa pasukan?
Flame Emperor sebelumnya berkata kalau Ice Emperor pernah menantangnya dan batal terjadi karena Void Emperor muncul dan mengusir Ice Emperor, dan akhirnya pertarungan terjadi saat tersisa Flame Emperor di kubu manusia, tetapi ia dikeroyok.
Satu lawan satu terjadi saat ini, hanya antara aku dan Ice Emperor, aku sudah menghabisi dua pengganggu lainnya...
"Tersisa Flame Emperor dan Ice Emperor, ya?" suara berat terdengar, dan saat kulihat ke atas, sosok berpakaian serba hitam melayang di atas aku dan Ice Emperor.
"Siegfried..." suara seseorang terdengar di telingaku, dan aku menaikkan alisku.
Siegfried? Apakah sosok hitam itu adalah Siegfried?
"Duel akhir antara dua komandan tertinggi pasukan Monster nampaknya sudah tiba..." suara berat kembali terdengar, dan aku yakin kalau yang baru saja berkata adalah sosok hitam itu.
"Sesuai perkiraanku..." Sosok hitam itu menatapku tajam, dan aku merasakan sesuatu yang sudah lama aku lupakan...
__ADS_1
Kengerian yang amat hebat kembali menjalari tubuhku...
Kedua tanganku yang memegang pedang bergetar, aku menguatkan genggamanku pada kedua pedangku dan menatapnya balik dengan tajam, "Siapa kamu?!"
"Aku? Aku bukanlah sosok yang kuat, aku biasa dijuluki Death Emperor..." sosok hitam itu merentangkan kedua tangannya, "Dan sekarang rencanaku tersisa sedikit lagi hingga mencapai titik akhirnya..." Setelah itu ia menghilang seolah tadi ia tidak berdiri disana.
Ice Emperor melepaskan seluruh auranya dan hawa panas Sahara seketika berubah hingga suasana di Sahara mirip seperti hembusan angin dingin di kutub utara dan selatan.
Dingin oyy!!
Aku mengangkat kedua pedangku dan aku melesat cepat ke tempat Ice Emperor berdiri dengan tombaknya yang terarah padaku.
Gerakannya berubah cepat, dari yang awalnya mengacungkan tombak menjadi menusuk. Ia melancarkan tusukan beruntun dengan kecepatan tinggi, aku menghindarinya dengan kecepatan yang sama.
Kurasa menghabisinya tidak akan semudah menghabisi Dragon Emperor dan Tyrant Emperor tadi...
Ice Emperor adalah salah satu dari dua komandan tertinggi pasukan Monster saat pertempuran besar melawan Divine Legion, dimana posisinya dikatakan setara dengan Flame Emperor, sudah pasti kekuatan serta pengalamannya bukan main-main lagi.
Aku harus hati-hati...
Ice Emperor menarik tombaknya dan ia menusuk ke arahku dengan kecepatan tinggi, aku menghindarinya dengan sedikit sulit dan aku berguling di atas pasir kemudian menatap ke arah tusukan itu melesat.
"Hebat..." Ice Emperor menarik tombaknya dan ia menancapkan tombaknya kemudian bertepuk tangan, "Kau menunjukkan kemampuan yang mumpuni di usia yang muda."
Aku berdiri dan menatapnya, "Lalu?"
"Seandainya kita tidak bermusuhan, mungkin kau sudah menjadi seorang raja di dunia ini dan bersanding dengan kami semua..." ia mengangkat tangan kanannya dan sesuatu yang mirip sebuah mahkota keluar dari tangannya, "Dan kau akan memakai benda seperti ini di kepalamu..."
"Gelar itu tidak cocok untukku." aku menghilangkan Black Flame Soul Katana dan menyarungkan Pedang Api Hitam, "Aku lebih senang menjadi seseorang yang bebas."
Bebas dan tak ingin diperintah, sebab itulah aku tidak mau menjadi seorang raja yang senang memerintah bawahannya.
Hanya hukum negara saja yang bisa mengaturku, orang lain tak bisa mengaturku...
"Apa makna bebas itu bagimu?" tanya Ice Emperor, "Bukan hanya sekedar tak ingin diperintah saja, kan?"
Aku memejamkan mataku, entah apa maksud iblis ini mengajakku bicara, tetapi aku yakin itu hanyalah pengalihan semata agar aku tidak fokus bertarung.
"Makna bebas bagiku itu tak terbatas hanya pada tak ingin diperintah saja, tetapi pada rasa ingin tahu kami sebagai manusia."
Manusia-...
__ADS_1
"Hei, kita sedang berselisih, untuk apa kita berbicara santai?!" aku menarik Pedang Api Hitam lagi, "Cukup basa-basinya!"
Ice Emperor hanya tersenyum tipis dan ia mengangkat tombaknya, "Kurasa kau benar..."
"Melawan lima Monster sekaligus kurasa akan berat kali ini..."
Ia melesat cepat ke arahku kemudian ia melancarkan tusukan demi tusukan cepat, yang semuanya bisa kuhindari dengan mudahnya.
Ya, amat mudah...
Gerakannya semakin terlihat lambat di mataku, dan aku yakin bisa mengalahkannya kemudian menghabisinya!
***
PLUK!
Tangan Ice Emperor jatuh ke atas tanah dan ia jatuh ke atas pasir, tombaknya meleleh lagi.
"Gerakan yang bagus, kupuji usahamu..." aku menghunuskan pedangku ke leher Ice Emperor, napasku benar-benar kacau...
Fiuh...
Mengalahkan Ice Emperor tak semudah yang kupikirkan, ia benar-benar berpengalaman dan membuktikan kalau gelar komandan tertinggi pasukan Monster bukan sekedar omong kosong belaka...
"Kekuatanmu benar-benar dahsyat meski kau hanyalah manusia semata..." Ice Emperor menghela napasnya.
"Kurasa kau memang harus berakhir disini." aku mengangkat pedangku dan memotong kepala sang raja es yang abadi itu...
Kini tiga kepala tiga Emperor tergeletak di atas pasir dan menunjukkan bahwa umat manusia berhasil memenangkan pertempuran.
Aku menyarungkan Pedang Api Hitam lagi dan mengumpulkan tiga kepala itu kemudian meletakkannya di tempat yang sama. Aku berencana menunjukkan ini di hadapan semua orang.
Setelah itu, aku duduk dan mengatur napasku...
Pertarungan tadi hanya pemanasan saja...
"Baru jam 1 siang di Indonesia..." aku melirik jam tanganku dan menghela napasku lagi.
Aku berdiri lagi dan mengangkat tanganku, sekarang adalah pertarungan sesungguhnya, pertarungan melawan Death Emperor!
Gate tercipta di depanku, dan aku langsung melompat masuk ke dalamnya, berpindah ke dunia lain tempat Death Emperor sudah menungguku...
__ADS_1